
Mereka berlima tampak saling berbaris, menjaga satu sama lain, tak terkecuali ina dan ale yang masih setia bergandengan.
"ck, dimana sih anjir, jauh banget loh sumpah benderanya"ucap kevin yang memimpin di depan.
"ck, nggak usah kebanyakan ngeluh deh lo"ucap ale.
"ssst kita lagi di hutan, nggak usah ribu"ucap clara.
"eh eh, itu bukan sih, bendera kita warna putih kan yah"ucap ina antusias.
"iyah weh itu, coba deh sana ambil na, ada panahnya juga"ucap kevin.
"oke"jawab ina dengan sangat beraninya berjalan menghampiri pohon yang sudah tertancap bendera berwarna putih.
Kakinya mulai berjinjit ketika bendera yang ingin ia ambil begitu tinggi, tangannya saja tak bisa memegang bendera itu walau hanya ujungnya saja.
"ji, bantuin gih"ucap kevin.
Dengan cepat aji berjalan menghampiri ina yang sedang berjuang keras mengambil bendera tersebut.
"awas, biar gue aja"ucap aji ketus.
Dengan kesal ina melangkah mundur, membiar si micin itu yang mengambil benderanya.
Tanpa perlu banyak waktu aji berhasil mengambil bendera tersebut dan mengangkatnya bangga.
Namun, tiba-tiba saja sebuah ranting jatuh mengagetkan mereka berlima, clara, kevin dan ale berlari ke jalur tadi, sedangkan ina dan aji berlari ke arah yang salah.
"hhhhh.....hhhhh......,ngagetin banget sumpah"ucap ina seraya membungkukkan badannya.
Kepalanya mendongak, mendapati aji yang juga sedang membungkukkan badannya.
"kok lo doang? Yang lain?"ucap ina di akhiri dengan wajah terkejutnya.
"kita kepisah? Demi apa"ucap ina yang sudah ancang-ancang ingin menangis.
"heh, nggak usah nangis napa, ini di hutan, jangan aneh-aneh deh lo"ucap aji yang masih saja menggunakan intonasi orang judes.
"yah terus gimana"ucap ina kebingungan sendiri, mana sama si ajinamoto pula.
"tari saman di sini, yah balik lah"ucap aji.
"lo yakin bisa nyari jalan?"tanya ina mengedarkan pandangannya, yang ada hanya kegelapan, terlebih senter kelompoknya di pegang oleh clara dan kevin.
"enggak juga sih"jawab aji enteng.
"ih lo mah sumpah, keadaan begini aja masih sempet-sempetnya ngeselin"ucap ina menjitak kepala aji keras.
"sakit bego"
"yok"ucap aji seraya menggenggam erat tangan ina.
"nghak usah pe..."
"lo mau kesasar sendiri di sini?"ucap aji menbuat nyaliny menciut.
Dengan sangat hati-hati mereka berjalan menyusuri hutan, berharap bisa kembali lagi ke jalur kelas.
Sudah beberapa menit mereka masih saja mencari jalur yang benar, berjalan dengan sabar.
Gedubrakkk
__ADS_1
Mendemgar orang terjatuh membuat langkah aji terhenti memutar tubuhnya cepat, mendapati ina terjatuh dengan posisi mengenaskan.
"pfffttt" tawa aji tertahan ketika ina menatapnya tajam.
"lo tuh nggak punya hati beneran yah sumpah, cewek jatoh bukannya di bantuin malahan haha hihi kek orang gila"ucap ina ngambek.
"iyah-iyah sorry, lo jatohnya kek orang ilang soalnya"
"nah kan, awas, nggak usah bantuin gue"ucap ina menampik tangan aji yang hendak menolongnya.
Berdiri dengan tertatih-tatih, namu usahanya gagal ketika sadar jika kakinya terkilir.
"mamah, hiks....hiks..."tangis ina pecah begitu saja, apalagi dia sedang berada di hutan, dia takut di tinggal sendirian di sini.
Terlebih si ajinamoto itu orangnya tegaan, mana mungkin cowok seperti itu punya niat menggendong ina.
"eh nggak usah nangis dong, cuman keseleo doang"ucap aji ikut jongkok guna membantu ina.
"keseleo doang kata lo? Kalo gue nggak bisa jalan gimana hah"ucap iba nyolot.
"dih, cuma kesandung batu kali bukan kegiles mobil, nggak usah lebay deh"ucao aji yang masih saja menyebalkan.
"mau ngapain lo"ucap ina ketika aji menyentuh kakinya.
"nyanyi, bantuin lo lah bloon"ucap aji kesal sendiri.
"awww"rintih ina ketika kakinya di tarik paksa oleh si micin, tangannya reflek memegang bahu aji kuat.
"lo kalo bantuin gue yang ikhlas dong, gu...."
"coba berdiri"ucap aji.
Dengan perasaan kesal, ina segera bangkit dari duduknya, berdiri dengan perlahan, berharap dirinya bisa jalan lagi.
Dan karna aji berada di depannya, dia reflek memeluk aji karna takut jika dia jatoh untuk kedua kalinya.
"sakit"rengek ina dengan mata yang berkaca-kaca.
"ck, cengeng, ayok sini"ucap aji.
"ngapain"tanya ina.
"ngecat pohon, lu nanya terus kek dora sumpah, yah gendong elo lah, emangnya lo bisa jalan sendiri?"
"yah santai dong masnya"
"gue bukan mas-mas gopud"jawab aji.
"udah ngeselin, nggak punya rasa kasian, tegaan, idup lagi"gumam ina.
"lo mau gue tinggal di sini"
"yah jangan dong anjir"
"yaudah cepetan"ucap aji yang sudah memasang posisi membungkuk.
"pelan-pelan yah jalannya"ucap ina.
"lo udah di bantuin, nawar lagi"
"sumpah dah, ada yah orang kek lu"ucap ina ikut terbawa emosi.
__ADS_1
"ada, ini gue idup"ucap aji ngasal.
Tangan ina reflek memukul pelan pundak aji, berharap mereka segera sampai di perkemahan.
Sudah sangat lama mereka berjalan, namun yang di temukan hanya kegelapan yang seakan tak ada ujungnya.
"micin, keknya kita istirahat di sini dulu deh, gue tau lo capek gendong gue, maaf yah, gue berat pasti"ucap ina.
"iyah, lo emang berat, padahal badan kek lidi gitu, tapi beratnya subahanallah, keberatan dosa keknya sih inimah"
"kan, lo tuh emang ngeselin deh sumpah"ucap ina.
Dengan hati-hati aji menurunkan ina tepay di bawah pohon yang tak begitu besar.
Dirinya segera mengumpulkan kayu yang berserakan di sekitarnya, menyalurkan api tari korek gas yang berasal dari saku seragam pramukanya.
"lo bawa korek ji, bisa-bisanya lo baw..."
"nggak usah banyak ngomel deh lo"sela aji lagi dan lagi, membuat ina yang moodnya sedang buruk mendengus sebal.
"gue doain jodoh lo persis kek sifat lo"ucap ina ketus.
"elo dong"jawab aji melirik ina sekilas.
"dih kok gue, gue sama lo masih mendingan gue yah"
"gue rasa sama aja deh, apa jangan-jangan kita jodoh yah na"ucap aji yang sudah duduk di pinggir ina, menikmati api unggun buatannya.
"ogah banget gue jodoh sama lo"
Krusuk krusuk krusukkk
Bunyi dedaunan membuat ina kaget dan reflek memeluk aji.
"ji lo denger, gue takut ji"ucap ina makin mengeratkan pelukannya.
"paling cuma tikus na, udah nggak papa, kawasan sini masih aman kok"ucap aji menenangkan cewek di sampingnya.
"dingin"gumam ina yang tak kunjung melepaskan pelukannya.
"masih dingin?"tanya aji baik-baik.
"heem"jawab ina.
"siniin tangan lo"ucap aji seraya mengambil kedua tangan ina, menggosoknya berulang kali, kemudian meniupnya.
Hal itu aji lakukan berulang kali agar membuat badan ina menghangat, tanpa sadar senyun ina mengembang dengan mata yang menatap aji.
"udah angetan?"tanya aji yang di balas anggukan oleh ina.
Tiba-tiba saha aji menjauhkan jarak duduknya dengan ina, membuat cewek tersebut kebingungan.
"lo ngantuk kan, sini tidur"ucap aji seraya menepuk pahanya.
"lo?"tanya ina.
"gue mah tidurnya gampang, udah sini"ucap aji.
Tanpa perlawanan ina langsung saja menidurkan dirinya di paha milik aja, menjadikannya sebagai bantal.
"makasih btw"ucap ina menatap aji dari bawah.
__ADS_1
"iyah"jawab aji seraya mengelus pelan rambut ina.