
Seluruh siswa berrkumpul di tempat ini, surganya sekolahan, yap mana lagi kalo bukan kantin, di tambah ini istirahat pertama, semua siswa pasti kehabisan energi, termasuk juga ina dan ale, mereka berdua tampak sedang melahap siomay mang eno, tak lupa juga es tes manis yang menjadi minuman favorit ina.
"abis ini pelajaran apa sih na"tanya ale seraya menyeruput es tehnya.
"prakarya, nape, mau bolos lu"ucap ina seraya memasukkan siomaynya ke dalam mulut.
"ih bukan, gue masih kapok anjir di marahin sang kanjeng emak gue, nih yah, gue denger-denger katanya ada kerja kelompok, dua anggota tapi"ucap ale panjang kali lebar.
"yah baguslah, lo sama gue sekelompok"ucap ina menyudahi acara makan siomaynya dengan menyeruput es teh.
"ih nggak gitu tau, kata tetangga gue, yang milihin bu wiji anjir"ucap ale sok was-was.
"yah, semoga aja gue sekelompok ama indah, aamiin ya allah"ucap ani seraya meraup mukanya dengan kedua tangan.
"dih, ngeselin lu"
"cabut yok ah"ucap ina bangkit dari duduknya, diikuti oleh sahabatnya.
Keluar dari kantin, di sambut oleh koridor yang menghadap lapangan basket langsung, terlihat beberapa siswi sedang melihat cowok bermain basket.
Ina sempat menangkap sosok ajinamoto sedang asik berlari mengincar bola, keringatnya mengucur deras, menetes perlahan akibat pergerakannya yang lincah.
"liatin doi mulu lo"ucap ale seraya menyenggol pelan bahu ina, membuat yang punya melengos kesal.
"najis"ucap ina ketus.
"najis-najis juga doi lo tuh"goda ale menjadi-jadi, sahabatnya itu memang sering sekali menjodoh-jodohkannya dengan ajinamoto, entah apa faedahnya.
Brukkkk
Sebuah bola basket melayang tepat mengenai kepala ina, membuat yang punya meringis sakit.
Sial, nih micin pasti sengaja nih. Batin ina, tatapannya memanas menatap musuhnya yang sedang menatapnya juga.
Di ambilnya basket yang tak berada jauh darinya.
Langkahnya semakin cepat ketika dirinya sudah berada di dekat ajinamoto.
"lo kalo nggak suka sama gue nggak usah sengaja ngelempar bola basket ke kepala gue, lo kira nggak sakit, sakit anying, kalo otak gue geser gimana hah, lo mau tanggung jawab"ucap ina dengan emosi yang menggebu-gebu.
"otak lo udah geser, yah bagus dong kalo geser lagi ke awal mula letak otak lo, harusnya lo berterimakasih sama gue"ucap aji tak kalah nyolot.
"terimakasih sama lo, cih, otak lo di mana sih hah, merah nih"ucap ina seraya menunjukkan jidatnya yang sedikit membenjol.
"gue nggak sengaja juga"
"cih, nggak sengaja, nggak sengaja tapi ngelemparnya nafsu banget"ucap ina, tak sadar jika mereka berdua sudah menjadi tontonan siswa.
"bolanya aja kali yang suka sama lo"
"heh ajinamoto"ucap ina seraya mendorong dada aji kuat, namun sepatunya yang licin akibat batako yang sudah berlumut membuatnya menubruk tubuh aji.
__ADS_1
Sedangkan yang di tubruk tubuhnya tak bisa seimbang dan berakhir jatuh secara bersamaan, posisinya aji di bawah sedangkan ina di atas.
Kepala ina menubruk dada bidang milik ajinamoto, kedua tangannya memegang erat pundak aji, dirinya masih syok, apalagi banyak pasang mata yang menatap mereka.
"bubar bubar, INA, AJI, NGAPAIN KALIAN HAH"ucap seorang guru bk, membuat mereka berdua tersadar dan berdiri dengan perasaan was-was.
Mampus, ini semua gara-gara micin titik nggak pake dot kom. Batin ina
Ck, tuh hembodi kek setan sumpah. Batin aji.
Mata mereka saling bertatapan, bukan tatapan biasa, melainkan tatapan penuh amarah.
"HEH, JAWAB IBU"teriak guru bk membuat mereka berdua kaget, seluruh siswa yang tadi sempat menonton drama tadi membubarkan diri untuk memilih aman.
"kepeleset tadi bu"jawab ina singkat.
"tadi ibu nggak budek yah ina, kamu sama aji ribut apa tadi"ucap guru bk dengan name tag yulianti.
"itu bu, aji ngelempar bola basket ke saya bu, benjol nih bu"ucap ina seraya menunjukan benjolannya yang tak terlalu menonjol.
"benar begitu aji"
"saya nggak sengaja bu"ucap aji menunduk hormat.
"ck, kalian berdua ini, selalu saja berantem, bersihin perpustakan"ucap bu yuli, kemudian berjalan meninggalkan ina dan aji.
"gara-gara lo ajinamoto"
"heh, gue nggak bakal caper kalo lo nggak ngelempar bola basket ke kepala gue, sakit anjir"
"ina, aji"ucap bu yuli membuat mereka kaget.
"baik bu"ucap mereka, kemudian segera berlari menuju perpustakaan.
...◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...
Di balik rak yang menjulang tinggi, ina sedang sibuk menata buku bagian atas menggunakan bangku yang tersedia di perpus, sedangkan aji, dia sedang sibuk mengepaki buku yang sudah sobek.
"🎶ku menangis......
Membayangkan....
Betapa kejamnya dirimu atas diriku...
Kau duakan cinta ini....
Kau pergi bersamanya
Hooooooo......uwoooooo
Ku menangiiiisssss"
__ADS_1
"awas, nanti cicak di perpus pada mati lagi"sindir aji, membuat ina menatapnya tajam.
"bagus dong, gue dapet pahala, kumenangiiiiiiis.......uhuk uhuk uhuk"
"mampus, keselek kan lu, sukur"
"ajinamoto, micin perusak otak, huuuu"
"marina uv white, mencerahkan kulit dari dalam"
"lebih bermanfaat gue lah, lah elo, ngerusak otak, generasi micin"
"nggak ada micin masak apa-apa nggak akan enak"
"dih, nggak usah pake micin kali, garem ama gula udah paling de bes"
"dih, manis lah ogeb"
"dih.."
"ekhem ekhem"dehaman seseorang membuat keduanya menoleh, mendapati penjaga perpus sedang menunjuk poster bertuliskan di larang berbicara.
Keduanya hanya menunjukkan senyum pepsodentnya
Di saat dirinya sedang sibuk berjinjit ria karna atas lemari terlalu tinggi untuk dia gapai, kakinya tiba-tiba saja kesleo, membuat keseimbangannya untuk berdiri di atas tumpukan meja dan kursi yang tinggi goyah.
"YAK"teriak ina ketika dirinya runtuh bersamaan dengan satu kursi yang menjadi pijakannya tadi.
Dirinya pasrah jika jatuh tersungkur ke lantai dan berakhir di tertawakan oleh aji.
Gedubrak gedubrak
Kok? Kursinya udah jatuh, gue belum jatuh?. Batin ina heran.
Dengan was-was kedua matanya terbuka, matanya bertubrukan dengan mata ajinamoto, hingga dia langsung tersadar dari lamunannya.
Tubuhnya di turunkan oleh aji secara pelan-pelan, membuat ina gugup sendiri.
"makasih/badan lo berat"ucap ina dan aji secara bersamaan.
"nggak jadi bilang makasih gue"ucap ina berjalan menuju bangku yang tadi jatoh, mengambilnya cepat.
Namun tangannya di cegah oleh si micin.
"lo beresin buku yang itu aja, gue yang di atas"ucap aji datar.
"nggak usah, gue bisa sendiri"
"gue nggak tanggung jawab yah kalo lu jatuh dua kali, badan lo berat soalnya"ucap aji berjalan menuju kardus yang tadi sempat ia kemasi, tanpa niat memaksakan bantuannya.
"sekali micin yah tetep micin, nggak ada otak karna udah rusak"gumam ina kesal, menatap tajam aji yamg sedang sibuk memilih buku yang sudah sobek-sobekan.
__ADS_1