
"nih"ucap ina seraya meletakkan pesanan aji dengan sangat tidak ikhlas.
"nggak ada racunnya kan"tanya aji ngada-ngada.
"mau gue racunin? oke, bentar gue beli racun tikus dulu"ucap ina berniat ingin keluar kelas lagi, namun tangannya buru-buru di tarik oleh ajinamoto.
Hal itu tak luput dari pandangan ina, dengan cepat ia segera menghempaskan tangan ajinamoto.
"paan, nggak mau racun tikus? Maunya racun kutu?"ucap ina seraya menatap kesal cowok yang duduk santai di depannya.
"gitu aja marah, sensian lo"
"emang, gue emang sensian, jadi nggak gue racunin makanan lo?"
"bercanda doang kali"
"beneran juga nggak papa sih, ikhlas gue mah duit jajan dari emak gue berkurang buat ngeracunin lo"
"astagfir, kamu ini berdosa banget"
"astagfir, kamu lebih berdosa banget"balas ina lebih nyolot.
"btw pulang sekolah kerja kelompok"ucap ina
"gue ada latihan futsal abis pulang sekolah"
"yah terus, gue harus haha hihi di pinggir lapangan nontonin lo gitu"
Pletakk
"nggak gitu bloon"ucap aji setelah sesi menjitaknya terlaksanakan.
"sakit bego lu mah"ucap ina seraya mengelus jidatnya dengan pelan.
"besok aja, hari ini gue nggak bisa"ucap aji.
"oh tidak bisa, besok gue mau jenguk nenek gue di luar kota"
"pamer lo?"ucap aji seraya menatap ina.
"iyah pamer, kenapa? Lo iri, baguslah, berarti gue pamer ada manfaatnya"ucap ina songong.
"dih, pokoknya hari ini gue nggak bisa"
"dan pokoknya besok gue nggak bisa, pulang sekolah pokoknya titik nggak pake dot kom"ucap ina segera berjalan meninggalkan bangku aji, membiarkan si ajinamoto menggeram kesal.
...◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...
Bel pulang sekolah berbunyi.
Menyuruh paksa agar para murid segera bubar dari kelasnya, hal itu tak luput dari ina dan juga ale.
Namun acara pulangnya tertunda ketika ardi, cowok yang oonnya nggak ketulung itu tidak bisa menjawab soal matematika yang di berikan bu ita tadi.
"semakin lama menjawab, semakin lama pulang"ucap bu ita segera duduk dari bangkunya, merapihkan bukunya bersiap untuk pulang.
Hal itu membuat semua siswa kelas XI Mipa 5 gaduh sendiri, saling menyalahkan ardi, padahal mah emang salah ardi, sok-sok an haha hihi di kelas sama temen sebangkunya.
Giliran di tunjuk udah kek udang mati, diem aja di depan kelas.
"oke, ale, bantu ardi"ucap bu ita memberi kesempatan.
"ck, gue mah bisa, soal bocah sd gitu"ucap ale sok sombong, padahal jawaban hasil nyalin milik ina, dan ina hasil nyalin punya indah.
Dasar, tak patut di tiru yah readers.
__ADS_1
"kamu ngomong aja, biar ardi yang nulis"ucap bu ita.
Setelah ngoceh nggak jelas karna ardi tak paham-paham, akhirnya soal terakhir selesai juga, ardi dan ale di persilahkan duduk.
"lain kali kalo nggak paham nggak usah haha hihi, tanya sama temen yang tau, paham ardi"ucap bu ita tegas.
"paham bu"jawab ardi mulai haha hihi lagi di belakang.
"yang lain juga yah"
"iyah bu"ucap siswa kelas kompak.
"yasudah, kalian boleh pulang"ucap bu ita sukses membuat senyum cerah seluruh siswa mipa 5 merekah, termasuk ina dan ale, terlebih hari ini cuaca begitu panas walaupun sudah jam 3 sore.
"ayok"ucap ina ketika tadi berpisah ria dengan ale.
"ayok apa"ucap aji bingung.
"nemplok di dinding, yah kerja kelompok lah anjir"ucap ina kesal.
"gue ada latihan futsal"ucap aji berdiri dari duduknya, berjalan cepat meninggalkan ina.
"oh nggak boleh gitu, pokoknya hari ini kerja kelompok"ucap ina menyusul aji cepat.
"gue ada latihan futsal hembodi, minggu depan tanding"
"nggak usah latihan aja udah pasti kok"
"pasti apa"tanya aji yang pasti sudah tau jawabannya, dia pura-pura tidak tahu saja.
"pasti kalah"ucap ina tertawa pelan.
"ayok micin, kerja kelompok"ucap ina menarik tangan aji dengan sekuat tenaga.
Langkah aji berhenti, membuat ina mau tak mau ikut berhenti, mata aji menatap tangannya yang masih di genggam oleh ina, beralih menatap ina dengan wajah datarnya.
...◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...
Matanya menatap malas pada cowok yang sedang asik berlari dengan mata yang tak lepas dari pergerakan bola.
"ck, MICINNNNN"teriak ina bosan sendiri.
Teriakan ina tadi sukses membuat aji gagal untuk memasukan bola ke dalam gawang, mengeluarkan decakan sebal seraya menatap tajam ina yang sedang duduk di temani tas-tas cowok yang sedang latihan futsal.
"BOSENNN TAU AH, AJINAMOTOO!!!!"teriak ina satu kali lagi, membuat teman futsal aji menertawakannya dan aji.
"lucu banget sih pacar lo"ucap salah satu teman aji.
"pacar lo ji? Gemes, buat gue yah"ucap teman satunya lagi.
"ambil aja sono, bila perlu gue packing yang paling keren buat lo, ikhlas gue"ucap aji.
"sembarangan lo, gitu-gitu juga pacar lo anjir"ucap temannya terkekeh pelan.
"lanjut ah"ucap aji mengalihkan pembicaraan.
"ck, tuh micin kek nggak ada rasa kasiannya gitu yah sama gue, 1% pun nggak ada"ucap ina kesal sendiri.
Matanya menatap seluruh ruangan futsal, menemukan sebuah bola, membuatnya tertantang untuk memainkannya.
"main bola mah gampang, tinggal tendang-tendang doang, nggak usah latihan-latihan kek tuh micin"ucap ina songong.
Kakinya bergerak menendang bola tersebut hingga berjalan beberapa meter darinya.
"kok nggak jauh sih ish"ucap ina kesal sendiri, berjalan mengambil bolanya cepat.
__ADS_1
Kakinya bergerak menendang bola tersebut lagi, mencobanya berulang kali hingga bolanya melenceng masuk ke lapangan futsal.
"mampus, pake acara masuk situ pula"gumam ina.
"ambil nggak yah, ambil lah"ucap ina, kakinya melangkah cepat, melewati beberapa cowok yang sedang asik bermain bola.
Di saat dia menemukan bolanya di dekat gawang, dia segera berlari menghampiri bola itu, tangannya langsung saja mengambil bola itu.
"AWAS HEMBODI"teriak aji ketika bola mengenai dahinya dengan begitu nafsu.
Tubuhnya yang tak seimbang membuatnya jatuh dengan posisi menghadap ke atas.
"awwww, sakit"ucap ina seraya memegangi dahinya yang berdenyut.
"pffft pfftttt bwahahahahahaha, sukur"ucap aji yang udah kek setan lepas.
"awwww, mamah"ucap ina, matanya mulai berkaca-kaca ketika tangan yang tadi menyentuh dahinya terdapat darah.
"mamah, ina berdarah huwaaaaa"ucap ina, tangisnya semakin pecah ketika aji menertawainya paling keras.
"pacar lo anjir, bukannya di tolongin malas di ketawain"ucap temannya yang sama-sama ikut tertawa.
"lo juga ketawa bego"ucap aji menjitak kepala temannya itu.
Kakinya melangkah mendekati ina, mengambil posisi jongko karna ina sedang duduk.
"halah berdarah doang nangis"ucap aji yang sukses membuat ina menatapnya tajam.
"sakit bego, lo tuh yah emang kerjaannya bikin gue gini, kemaren pake bola basket, sekarang bola sepak, besok-besok bola apalagi hah"ucap ina ngamuk.
"bola kasti gimana"ucap aji malah meledek ina.
"lo tuh yah, AJINAMOTO"ucap ina seraya menjambaki rambut aji dengan begitu nafsu.
"awww, sakit bego, lepasin heh"ucap aji seraya memegamgi tangan ina agar menjauh dari rambutnya.
"enggak, gue udah berdarah gegara lo, sebagai balasannya rambut lo harus rontok"ucap ina semakin menjadi-jadi.
"hembodi, sakit bego"ucap aji dengan sekuat mengkin menarik tangan cewek itu, hingga berhasil.
Namun naasnya, tubuh aji jatuh ke belakang dengan tangan ina yang masih ia genggam.
Hal itu membuat lagi dan lagi ina jatuh di atas tubuhnya, pandangan mereka bertemu beberapa detik hingga ina buru-buru berdiri dan pura-pura membersihkan lukanya.
"modus lo ah"ucap ina segera pergi menuju tempatnya tadi saat dia duduk.
"aww, gue iri tolong"ucap temannya itu sengaja menggoda aji.
"paan sih, gue balik dulu, lanjut hari minggu"ucap aji berjalan meninggalkan lapangan futsal.
"ayok"ucap aji seraya menenteng tasnya, hal itu membuat ina segera bangkit dari duduknya, berjalan beriringan dengan aji.
Mata aji tak sengaja menatap dahi ina yang masih mengeluarkan darah walaupun tak banyak.
Langkahnya berhenti membuat ina bingung sendiri, dengan cepat aji mengambil dasi pramukanya tadi, berjalan mendekati ina.
"mau ngapain lo cin"ucap ina was-was, namun yang di ajak bicara hanya diam, tak ada niat ingin menjawab ucapan ina.
Tangannya bergerak membersihkan darah yang tak terlalu banyak itu menggunakan dasi pramukanya, lalu kakinya melangkah lebih dekat membuat ina mundur.
"diem"ucap aji tegas.
Dalam sekejap dahi ina telah di lilit oleh dasi milik aji, membuatnya seperti pahlawan indonesia waktu perang.
"gue nggak ada hansaplas, jadi pakenya itu, jangan lupa nanti balikin ke gue"ucap aji memutar tubuhnya, melanjutkan jalannya.
__ADS_1
"nggak usah di copot, soalnya tadi darah lo keluar banyak"ucap aji yang sangat jelas jika itu berbohong.
Namun ina dengan bodohnya percaya-percaya saja dengan ucapan si micin itu.