•Ajinamoto•

•Ajinamoto•
[19]•Hembodi!!!


__ADS_3

"perhatian-perhatian, ibu dan bapak yang cantik dan juga ganteng, mohon perhatikan saya sebentar"ucap ina berdiri di depan kelas dengan tumpukan kertas di tangannya.


Namun semua teman kelasnya tampak acuh tak mengindahkan perintah ina yang jelas-jelas sangat keras suaranya.


"heh curut semua anying, gue ngomong anjir, lo pada malah ngacangin gue, kit ati gue anjir"ucap ina kesal sendiri.


"apaan"tanya edo.


"bu siti nyuruh gue buat bagiin kertas ini"


"emang itu kertas apaan, undangan sembako?"ucap ardi ngasal, hal itu sukses mengundang gelak tawa semua siswa kelas.


"ih ardi bego lu ah, ini kertas itu buat ngisi data kalian, soalnya bakal di salin buat di jadiin kartu ujian kita"ucap ina tak sengaja melirik aji yang tampak tak memperhatikannya.


"weh weh, kok cepet banget yah, tau-tau kita udah mau lulus njir"ucap kevin begitu keras membuat seisi kelas mampu mendengarnya.


"iyah anjir sumpah, awas kalian semua nanti kalo kangen sama gue ye"ucap ardi berpede ria.


"huuuuuuu"sorak seluruh siswa kelas.


"pede lu ah"ucap ale.


"eh kalian pada diem anjir, nih gue bagiin atu-atu"ucap ina berjalan menuju bangku paling jauh dari pintu.


Membagikannya ke belakang lalu kedepan, begitu seterusnya, hingga tinggal bangku aji yang belum ia kasih kertas itu.


"nih, isi, jangan maen pubg terus"ucap ina meletakkan kertas itu sekaligus menggebrak meja aji.


hal itu sukses membuat aji terkejut setengah mampus, menatap tajam ina yang juga sedang menatapnya tajam, seperti ada aliran listrik yang menyambungkan tatapan mereka berdua.


"isi jangan di makan"ucap ina memilih untuk segera berjalan menuju bangkunya.


"lucu banget sih lo berdua, kek orang mau bunuh satu sama lain"ucap ale tertawa pelan.


"bacot"


"yeeee, marina uv white"ucap ale segera mengisi pertanyaan yang tertulis di kertas itu.


Hingga 20 menit telah berlalu, ina langsung bangkit dari duduknya, meminta kertas itu kembali untuk di serahkan kepada bu siti.


"eh nomor telepon di isi nggak sih"tanya clara pada tera.

__ADS_1


"nggak usah lah, nggak penting ini"jawab tera.


"sini kertasnya"


"bentar na, eum....nah udah, nih"ucap tera di susul oleh clara.


"udah belom, lelet banget sih lo"ucap ina melirik aji yang sedang sibuk menulis di kertas tersebut.


"nggak sabaran lo, bentar sih"ucap aji ketus.


"setengah jam lo ngapain aja, ngitung semut yang lagi jalan?"ucap ina songong.


"nih, cerewet amat sih lo"


"suka-suka gue lah, mulut-mulut gue, kok lo yang sewot"


"masalahnya mulut lo itu nyinyirin gue"


"kok gue nggak ngerasa nyinyirin lo sih, lo nya aja yang pede"


"idih, nggak sadar diri"


"ck, dasar micin"ucap ina segera keluar dari kelas untuk mengumpulkan kertas ini di meja bu siti.


...◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...


Ina menatap ke atas dengan senyum tulusnya, perlahan rintik huja mulai turun membasahi jalan beraspal di depan ina.


Oh iyah dia sedang berada di halte bus, menunggu bintang yang tak kunjung menjemputnya, mungkin ada urusan mendadak.


Tangannya menengadah membuat rintik hujan yang jatuh di sekitarnya membasahi tangannya, rasanya begitu segar dan bebas.


Ina yang merasa bosan memilih untuk mengedarkan pandangannya, matanya memutuskan untuk fokus pada satu objek, di sana terlihat aji dan leta yang sengaja membiarkan tubuhnya basah karna air huja, walau pandangan ina tak terlalu jelas akibat hujan, tapi dirinya yakin jika mereka berdua sedang tertawa senang.


Senyum ina mengembang dengan sangat terpaksa, ingin sekali ina menggantikan posisi leta saat ini.


Astaga, gue mikirin apa sih, nggak, gue nggak boleh jadi pho. Batin ina seraya menggeleng pelan.


Entah kenapa tatapannya tak ingin putus dari objek tersebut, hingga leta mendorong aji ke tengah jalanan mereka saling tertawa apalagi ketika aji menari di tengah jalan.


Bodoh memang otak ina, kenapa harus menatap mereka jika tak ingin sakit hati, dengan cepat ia menatap ke arah lain.

__ADS_1


Matanya membulat sempurna ketika ada sebuah truk yang berjalan dari arah kiri, namun aji dan leta tak menyadarinya di tambah tidak ada orang di dekat nya yang memang sejak tadi meneduh seorang diri.


Tanpa aba-aba ina berlari keluar dari  perlindungannya tanpa takut bajunya basah kuyup, matanya semakin membulat ketika jarak truk dengan aji tak begitu jauh.


"MICINNNNN AWASSSSS"teriak ina sekeras mungkin.


Namun bukannya menyadari ada truk yang siap-siap ingin menabraknya, letan dan aji malah menoleh ke arah ina setelah itu menoleh ke arah trus dengan begitu terkejutnya.


Bagaikan waktu yang di perlambat, ina berlari menuju tengah jalan sekuat tenaganya.


Kedua tangannya segera memeluk tubuh aji dan menyeretnya ke tepi jalan.


Namun sayangnya ina tak bisa menjaga keseimbangan dan berakhir terjatuh bersama aji, dengan kepala yang membentur pinggir jalan.


"hembodi, HEMBODIIII"teriak aji panik ketika ina menutup matanya, tak ketinggalan leta yang ikut menyadarkan ina.


"hembodi, bangun hembodi"ucap aji panik sendiri.


"kak, ya allah, kak aji cepetan bawa kakak ini ke rumah sakit"


"pake apa ta"ucap aji yang sudah mengeluarkan air matanya.


"pake motor kak, cepetan, nanti leta nyusul"


...◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...


Dengan langkah penuh emosi, bintang berjalan tanpa minat menatap sekelilingnya, langkah kakinya begitu tegas seolah memberitahu jika dia sedang panik.


"pasien bernama marina di ruangan mana mba"ucap bintang tak sabaran.


"kamar melati nomor seratus tiga puluh"


Dengan cepat bintang berlari mengacuhkan orang-orang yang sedang menatapnya heran, kepalanya sesekali menengok kanan mencari keberadaan kamar tujuaannya.


"hhhh.....hhhhh...."nafas bintang begitu terdengar sangat tidak teratur.


Matanya menatap nanar ruangan di depannya, yang bertuliskan ruang melati nomor 130.


"lo pasti cowok yang udah buat ina nangis kan, hah"ucap bintang menarik kerah aji dengan emosi.


"bego banget sih lo jadi cowok, bisa-bisa lo nyia-nyia in sepupu gue"ucap bintang.

__ADS_1


Kepala aji yang tadinya menunduk kini terangkat cepat, matanya menatap tak percaya cowok di depannya.


"sepupu?"tanya aji tak percaya.


__ADS_2