
"gantian, lo dari tadi ngegame mulu anjir"ucap ina kesal sendiri, dahinya sudah di ganti oleh hansaplas, jadi dia tidak menjadi bahan tertawaan orang lain.
"yah kan emang setengah-setengah, gimane sih lo, emang kalo gue ngegame mau ngapain, mau ngobrol sama ini"ucap aji seraya mengangkat gelas kopinya.
"itu lebih bagus sih"ucap ina.
"yeee, marina uv white passwordnya"
"ajinamoto, micin perusak otak"
"sayang sekali anda gagal mendapatkan hadiah berupa ketikan seorang aji saputra sampe selesai"ucap aji.
Hal itu sukses membuat ina melotot kaget.
"ulang-ulang"
"oh tidak bisa, ini bukan gosokan lotre yang ada tulisannya coba lagi"
"dih, di iklan-iklan tipi aja boleh di ulang kok"
"kan di tipi, di gue yah beda"ucap aji tak mau kalah.
"semerdeka lo dah, cepetan ketik ah"ucap ina.
Tangannya bergerak mengambil hpnya yang tergeletak tak berdaya di meja cafe.
Ibu jarinya bergerak menyalakan data guna mengusir kegabutannya dengan cara bermain sosmed.
7 panggilan tak terjawab
10 pesan dari 5 chat.
Ale-ale
Na, lo kemana, gue maen ke rumah lo kok nggak ada
Kata tante vani lo lagi kerja kelompok
Sama aji kah
Atau kerja kelompok yang lain?
^^^Me^^^
^^^Kerja kelompok sama aji^^^
^^^Di cafe white^^^
Drrrtttt drrttt drttttt
Di lihatnya hp yang menampilkan panggilan video oleh ale, mau tak mau dirinya harus mengangkat agar sahabatnya itu tak ngoceh panjang lebar saat hari senin tiba.
"paan"
^^^"Dih, sombong lu, mentang-mentang lagi berduaan sama si aji"^^^
Di liriknya aji yang tampak tak mendengarkan apa-apa, padahal suara ale kelewat cempreng, ck, bisa-bisanya dia lupa membawa headset.
"jan keras-keras bego, gue lagi nggak make haedset"ucap ina kesal dengan teman satu-satunya itu.
^^^"uppss, aji denger dong, astaga, ajiii jagain temen gue yah, dia emang sensian, tapi dia manja kok kalo udah deket lama"^^^
Ucap ale begitu keras, membuat aji menatap ina sekilas, kemudian melanjutkan acara mengetiknya.
"lo jadi temen malu-maluin aja anjir kerjaannya, dah ah sono, telponan sama dafa aja"ucap ina segera menekan tombol telpon berwarna merah.
...◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...
"assalamualaikum mah"ucap ina ketika dirinya memasuki rumah yang tak begitu besar dan tak begitu kecil juga.
"waalaikumussalam sayang, mandi dulu gih sana, sholat, abis itu makan, kamu pasti laper kan"ucap vani tersenyum penuh kasih sayang.
"oke mah, aku ke atas dulu yah"ucap ina di angguki oleh mamahnya.
Kakinya melangkah cepat menaiki tangga demi tangga, hingga akhirmya dia sampai juga di depan kamarnya.
__ADS_1
Tanpa babibu dia langsung memasuki kamarnya, menjatuhkan tubuhnya ke kasur kesayangannya.
Pikirannya tak bisa lupa dari kejadian tadi, di saat dirinya melewati smp yang dulu sempat menjadi tempat dirinya menimba ilmu, di sana juga tempat dirinya menemukan cinta pertamanya....bintang.
Ia berharap kelak bisa bertemu dengan cowok itu lagi, ina ingin sekali menyatakan persaaannya.
"bener yah kata orang, cinta pertama itu cinta yang paling berkesan seumur hidup, walaupun cuma cinta monyet, tapi nyatanya gue masih aja mikirin bintang, bintang mana tau gue hidup apa nggak, tau nama gue ajah enggak"ucap ina tersenyum, sedetik kemudian senyumnya luntur.
Pikirannya mulai berkelana kesana kemari, berpikir bagaimana jika bintang sudah memiliki kekasih di luar negri, apa ina sanggup untuk move on, entahlah.
...◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...
Hari ini dia sudah berada di depan rumah neneknya yang bertempat di tangerang, tanpa babibu ina langsung turun dari mobil orang tuanya.
Hal itu membuat vani dan riko menggeleng pelan melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
"cepet mah, nenek pasti kangen sama aku"ucap ina yang sudah berdiri di depan pintu rumah neneknya.
"kamu ini, pede sekali, ngga mungkin nenek kangen sama kamu, palingan kangennya sama papah"
"liat aja nanti, pasti nenek lebih kangen ina"ucap ina berbangga ria.
Tok tok tok
"nek, yuhuuuuu, assalamualaikum, uhuyyyy"ucap ina.
"sayang, yang bener ah, nggak sopan"ucap vani sukses membuat ina tersenyum malu.
"iyah mah"
"assalamualaikum nek, kek"ucap ina lebih baik dari tadi.
"waalaikumussalam"jawab nenek ina dari dalam rumah.
Ceklek
"ina, cucu nenek yang paling cantik, udah gede ajah yah"ucap neneknya seraya berjalan memeluk ina erat.
"masa sedengkul mamah terus"saut riko, di balas dengan kekehan kecil.
"kangen dong sayang"ucap nenek tersenyum.
"lebih kangen ina atau papah?"tanya ina lagi.
"kamu dong"ucap neneknya sukses membuat ina tersenyum bangga.
"wleee, nenek lebih sayang sama ina daripada papah"ucap ina sombong.
"kamu ini, masih kaya bocah aja yah"ucap riko seraya mengacak rambut ina pelan.
"yaudah ayok masuk"ucap neneknya, membuat ina dan kedua orangnya ikut masuk.
"kakek mana nek"tanya ina, pasalnya dari tadi dia tak melihat kakeknya.
"di belakang, biasa, lagi ngurusin malika, yang di besarkan seperti anak sendiri"jawab neneknya sukses mengundang tawa mereka bertiga.
"nenek ini bisa aja"ucap ina.
"sana liat, si malika udah segede apa"ucap neneknya membuat ina dengan senang hati menghampiri kakeknya.
Malika yang di maksut nenek itu adalah pohon kaktus, kakeknya sangat mencintai pohon kaktus, sehinggak banyak sekali pohon kaktus yang tumbuh di halaman belakang, dan malika adalah kaktus hadiah dari ina untuk kakeknya waktu ulang tahun dulu.
"kek"panggil ina.
Sedangkan kakek yang merasa terpanggil memutar tubuhnya, senyumnya mengembang ketika mendapati cucunya sedang berdiri di dekatnya.
"ina"ucap kakek, dengan cepat ina langsung memeluk kakeknya dengan sayang.
"kamu udah besar aja yah, dulu perasan kamu masih asik cari capung di sini sama kakek"
"kakek mah"ucap ina tersenyum malu.
"INAAAA"teriak mamahnya, dengan cepat ina melepaskan pelukannya.
"iyah mah"ucap ina seraya tersenyum menatap kakeknya, berjalan menuju ruang tengah.
__ADS_1
"tolong kamu beli yang mamah catet di kertas ini"ucap vani menyerahkan kertasnya pada ina.
"di toko depan?"tanya ina.
"ya iyalah, emangnya di mana lagi, di luar negri"ucap vani, ina yang mendengar ucapan mamahnya itu langsung mendengus kesal, membuat nenek dan juga papahnya tertawa pelan.
"kamu ini vani, masih aja suka gitu"ucap neneknya.
"yaudah ina pergi dulu"ucap ina menyalami vani, riko, dan neneknya.
...◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌...
"tepung terigu udah, mentega udah, keju udah, eumm apa lagi yah"gumam ina seraya mengabsen belanjaan yang ia taruh di keranjang belanja berwarna merah.
"ahh, pewarna makanan rasa pandan"ucap ina berjalan seraya mengamati setiap rak, berharap menemukan pewarna makanan.
Dan yap, dia ketemu, dengan cepat ia berjalan menghampiri rak tersebut.
"ck, tinggi pula"gumam ina kesal.
Dengan terpaksa tangannya menggapai perwarna makanan yang masih tersedia banyak itu, kakinya berjinjit guna menambah tinggi badannya berharap dapat mencapai perwarna itu.
Dan hap, tiba-tiba tangan seseorang mengambil pewarna makanan itu dengan gampangnya, membuatnya berhenti berjinjit, karna mengira jika orang itu membantunya.
"makas..."ucap ina menggantung ketika pewarna itu di lempar ke keranjang belanja milik oran itu.
Gue pikir mau nolongin gue. Batin ina kesal.
Matanya dengan cepat mendongak, ingin tau siapa yang mengambil barang yang sama dengannya.
"micin"ucap ina kaget, bisa-bisanya si ajinamoto sampe daerah sini.
"ini lo? Beneran, lo bukan setan kan"ucap ina tak percaya, tangannya meraba-raba wajah aji, takut saja jika di depannya itu setan.
"ck, paan sih lo"ucap aji ketus, berjalan meninggalkan ina yang sedang terbengong-bengong.
"bisa-bisanya orang kaya gitu idup"gumam ina heran.
Tersadar jika dia belum mengambil pewarna makanan dari rak, kakinya melangkah cepat menghampiri aji yang berada di depannya.
Dan yap, dia berhasil memblock jalannya aji, dengan cepat tangannya mengambil pewarna yang ada di keranjang aji, menaruhnya ke keranjang miliknya.
"makasih ajinamoto"ucap ina tersenyum bangga.
Berjalan cepat meninggalkan aji, takut cowok itu keburu sadar.
"ini punya gue"ucap aji mengambil lagi pewarnanya.
"nggak bisa gitu dong, itu pewarna gue".
"kata siapa?"tanya aji.
"kata gue lah, sini ah"ucap ina bergerak ingin mengambil pewarna itu, namun tangan aji buru-buru memegang dahinya guna mencegah agar ina tak mendekat.
"ish, lo ngambil lagi kan bisa"
"kenapa harus gue? Lagian ini yang ngambil gue"
"yah tapi kan sekali-kali kek lo nolongin gue"
"nggak"tolak aji tegas.
"ajinamoto micin perusak otak, buat gue yah pewarnanya"
"kenapa gue harus ngasih ke lo"
"karna gue nggak nyampe buat ngambil pewarna yang di situ"ucap ina yang terpaksa menurunkan gengsinya.
"terus, lo nyolong punya gue?"ucap aji.
"apa susahnya sih ngasih ke gue terus lo ngambil lagi"
"ck, nih"ucap aji membuang mukanya malas ketika ina tersenyum senang.
"aaaa, makasih micin"ucap ina mengambil pewarna itu, dan segera menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
__ADS_1