"Jangan Dekati Aku."

"Jangan Dekati Aku."
BAB 1


__ADS_3

🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑


-Maret,1995-


🍀🖤🖤🖤🖤🖤🍀


Ini adalah kisah seorang wanita bernama Andara Utari Gita.Gadis berkulit kuning langsat,hidung tak terlalu mancung dan rambutnya yang hitam lurus.Ia tinggal di sebuah kampung bernama kampung 'Panyawangan'.Di sana ia dikenal sebagai seorang perawan tua.Karena di usianya yang menginjak usia 33 tahun Andara belum mendapatkan pasangan hidup.


Andara kini hanya tinggal berdua dengan sang Ibu yang bernama Sumi.Wanita paruh baya yang diusianya kini masih terlihat cantik dan awet muda.Semua begitu kagum dengan Bu Sumi.Karena kecantikannya itu banyak lelaki yang mendekatinya.Wajahnya seperti gadis usia 20 tahun.Tak jarang lelaki berstatus bujang pun menyukai Bu Sumi.


Karena hal itu banyak ibu-ibu yang tak menyukai Bu Sumi.Karena suami mereka terlihat sering menggoda Bu Sumi saat sedang berjualan.Semua itu berimbas pada Dara.Ia selalu jadi objek caci maki ibu-ibu itu.


Namun Dara tak pernah ambil pusing,ia tak pernah menanggapi perkataan buruk dari tetangganya itu.


Dara lebih fokus membantu Ibunya.Seperti pagi ini,Dara akan pergi belanja ke pasar untuk membeli bahan-bahan kue basah.Dara pun bersiap-siap .Ia memakai atasan berwarna merah muda dan bawahan rok selutut dengan motiv polkadot hitam putih.Tak lupa Dara menyisir rambutnya yang hitam lurus dan membiarkannya tergerai indah.


Setelah selesai,Dara menghampiri Bu Sumi yang berada di dapur.


"Ibu,mana uang belanjanya ?"


Bu Sumi yang tengah menyalakan kompor minyak tanah pun mendongak menatap Dara.Ia berdiri dan mengambil 2 lembar uang pecahan 20 ribu yang bergambarkan burung cendrawasih.Bu Sumi memberikan uang itu pada Dara.


"Ra,ini uangnya.Jangan sampai belanjaannya ada yang terlupa."


"Iya Bu."


Dara menerima uang itu dan memasukannya ke dalam tas selempang hitam miliknya.Ia pun berpamitan dan pergi mengambil sepedanya.Karena jarak dari rumah ke pasar cukup jauh,Dara selalu berangkat memakai sepeda onthel-nya.Sepeda peninggalan sang Ayah yang selalu ia rawat dengan baik.


Dara menaiki sepeda itu dan mulai menggowes perlahan.Ia harus berhati-hati karena jalanan terlihat basah karena hujan semalam.Kubangan air terlihat di sepanjang jalan itu.Lumpur tebal menempel di kedua ban sepeda miliknya.


"Astaga,Aku harus mencuci sepedaku setelah Aku pulang nanti."


Dara menggerutu melihat sepeda miliknya kini begitu kotor.Ya,mau bagaimana lagi.Jalan itu adalah jalan satu-satunya.Kampung Dara adalah kampung yang cukup terpencil.Belum banyak orang yang membangun rumah di sana.Akses jalan pun tak sebagus di desa sebelah.


Dara melewati beberapa rumah warga.Kebetulan di salah satu rumah itu para ibu-ibu tengah berkumpul sembari menjemur biji cengkeh hasil panen mereka.


Mereka pun menatap sinis pada Dara.


"Hati-hati Bu,sekarang di kampung kita ada wanita nakal.Selalu menggoda suami orang."ucap seorang dari mereka.


"Iya Bu,apa mungkin kecantikannya itu ia dapat dengan menggunakan ilmu hitam ?Aneh sekali,diusianya yang sudah setengah abad namun wajahnya masih seperti gadis belia."


"Bandingkan saja dengan anaknya.Anaknya terlihat lebih tua dari Ibunya."


"Iya,itu aneh sekali."


Dara yang mendengar itu bersikap acuh.Tak peduli dengan semua stigma mereka.Dara berusaha untuk tak membalas semua ocehan mereka.Hanya buang-buang waktu,pikirnya.


🍃🍀🍃🍀🍃🍀🍃🍀🍃🍀🍃🍀🍃🍀🍃


Setelah menempuh jarak cukup jauh akhirnya Dara sampai di pasar itu.Dara pun turun dari sepedanya dan menuntun sepeda itu.Ia pergi menuju tempat berjualan Mak Dasimah.Dia adalah kerabat dekat Dara.


Dara sampai di lapak Mak Dasimah dan ia menyimpan sepedanya di sana.


"Wilujeng enjing Mak..."sapa Dara pada wanita berusia 70 tahun itu.


"Neng,pagi sekali datangnya ?Mau belanja apa ?"


"Biasa Mak,saya mau beli bahan-bahan kue punya Ibu."

__ADS_1


"Hati-hati Neng,jalannya becek.Semalam hujannya deras."


"Iya Mak,ya sudah saya mau belanja dulu."


Dara pergi meninggalkan Mak Dasimah.Ia pergi mencari tepung,telur dan bahan lainnya.Tak perlu waktu lama,Dara telah mendapat semua bahan yang ada di daftar belanja.Ia pun memutuskan untuk pulang.


Dara berjalan ke lapak Mak Dasimah, sembari melihat-lihat barang dagangan milik para pedagang.Ia mendadak berhenti di depan lapak seorang pria tua.Kakek itu menjual barang seperti cincin,kalung dan jam tangan.


Dara melihat-lihat dan matanya tertuju pada kalung dengan liontin berbentuk hati berwarna merah.


Ia pun mengambil kalung itu.


"Cantik sekali kalung ini."


"Apa kau suka dengan kalungnya Cu ?"


"Iya,ini harganya berapa ?"


"Jika kau suka,ambil saja.Kebetulan Kakek mendapat rezeki lebih."


"Benarkah ?Baiklah Aku akan ambil yang ini.Terima kasih ya Kek,semoga Kakek mendapat gantinya lebih dari ini."


Kakek itu tersenyum pada Dara.


"Semoga kalung itu bisa membantu semua kesulitanmu." batin Kakek.


Dara begitu senang mendapat kalung itu.Ia pun memasangkan kalung itu ke lehernya.


Namun ia merasa ada yang aneh setelah memakai kalung itu.


"Kenapa dada Aku jadi adem ya ?"gumamnya.


Tapi Dara tak ambil pusing.Ia segera pergi ke lapak Mak Dasimah.Dara mengambil sepedanya dan segera pulang.


"Iya Neng,hati-hati dan langsung pulang ya.Titip salam untuk Ibumu."


"Iya Mak."


Dara memasukan semua barang belanjaannya ke dalam ranjang sepeda itu.Ia pun naik dan menggowes sepeda kesayangannya itu.Kembali Dara harus melewati jalan tanah yang penuh lumpur.Ia merasa malas sekali melewati jalan itu.


Cukup lama ia harus menggowes sepedanya.Itu karena ia membawa banyak belanjaan dan membuat bebannya semakin berat.Ditambah lagi lumpur yang menempel di ban sepeda membuat pergerakannya menjadi lambat.


Sesampainya di rumah,Dara segera membawa belanjaan itu ke dalam rumah.


Bu Sumi pun muncul dari dalam kamarnya.


"Kenapa kamu lama sekali belanjanya Ra?"


"Maaf Bu,jalanan becek penuh lumpur.Jadi Aku harus menggowes pelan sepedaku."


"Oh,begitu.Ya sudah istirahatlah,pasti kamu lelah."


"Iya Bu."


Bu Sumi membawa belanjaan itu ke dapur,sedangkan Dara kembali ke depan rumah untuk membersihkan sepedanya.


"Kotor sekali."


Dara mulai mencuci sepedanya.Ia menggosok ban itu dengan sikat agar bersih kembali.Saat ia sedang asyik membersihkan sepedanya,Hari tetangga sebelahnya menyapa.

__ADS_1


"Lagi apa kamu Ra ?"tanya Hari.


"Apa kamu tidak lihat ?Aku sedang mencuci sepeda ku.Jalanan hari ini penuh lumpur karena hujan semalam."


"Iya,semalam hujannya begitu deras.Rumahku jadi banyak yang bocor."


"Hari, kenapa kamu tak berangkat kerja ?"


"Aku sedang malas Ra.Banyak sekali wanita yang menggodaku."


Dara yang mendengar jawaban Hari,hanya geleng-geleng kepala.Hari adalah sahabat Dara.Pria yang usianya lebih muda 5 tahun dari Dara.Orang tua Hari selalu melarangnya untuk bertemu dengan Dara.Namun Hari tak pernah menggubris larangan mereka.


"Akhirnya selesai juga."


Dara telah selesai membersihkan sepeda ontel itu.Hari beranjak dari duduknya dan tanpa sengaja melihat kalung yang dipakai oleh Dara.


"Ra,kalungnya bagus sekali.Pemberian seseorang kah ?"


"Oh,ini pemberian dari seorang pedagang di pasar.Tadinya Aku mau membelinya,tapi Kakek itu malah memberikan kalung ini padaku dengan cuma-cuma."


Hari melihat ada yang aneh dengan kalung itu.Seperti ada energi yang tersembunyi di dalam liontin merah itu.Namun Hari tidak menceritakan hal janggal itu pada Dara.Ia pikir itu hanya perasaanya saja.


☘️🥀☘️🥀☘️🥀☘️🥀☘️🥀☘️🥀☘️🥀☘️


Dara merasa waktu berlalu begitu cepat.Hingga tak terasa jika malam telah tiba.Ia dan Bu Sumi kini tengah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


"Ibu mau masak apa ?"


"Ibu mau masak ikan bumbu kuning kesukaan kamu Ra."


"Hm,pasti itu enak Bu."


Dara membantu menggoreng ikan itu,sedangkan Bu Sumi bertugas untuk menghaluskan bumbu untuk ikan itu.Namun saat Bu Sumi mengupas bawang,tak sengaja pisau itu melukai jari telunjuknya.


"Aduh..."


Dara yang melihat itu begitu kaget dan segera menghampiri ibunya.


"Ibu,kenapa jarinya terluka ?"


"Ini kena pisau Ra.Tapi ini tak apa.Ibu akan mengobatinya."


"Biar Aku saja yang mengobati tangan Ibu."


"Tak apa Ra,biar Ibu saja.Kamu terusin masaknya ya..."


Bu Sumi pergi menuju kamarnya.Dara melanjutkan memasak ikan itu.Tak berselang lama ibunya kembali ke dapur dengan jari telunjuknya yang telah dibalut perban.Bu Sumi kembali membantu Dara memasak.Hingga akhirnya masakan Dara dan Bu Sumi matang.


"Bagaimana rasanya Bu,enak ?"


"Enak Ra,hanya kurang bumbu sedikit saja."


Mereka pun duduk disebuah tikar,di depan tungku api.



Menikmati makanan ditemani hangatnya api dari tungku pembakaran.Suasana yang tak akan didapatkan diperkotaan.Dara menikmati hal itu.Baginya bahagia tak harus mewah.Bisa makan bersama dengan ibunya itu sebuah kebahagiaan yang terkira bagi Dara.Walaupun hidupnya sederhana, yang penting ibu selalu ada untuknya.


🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑

__ADS_1


Jangan lupa dukung novel baruku 🤗🤗😁


Dan semoga kalian suka 🤗🤗🤗


__ADS_2