
🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑
Kini Dara, Putri Dewi,Hari dan Aksa pergi meninggalkan rumah itu.Mereka sepakat untuk pergi ke tempat yang lebih aman.Namun perjalanan mereka harus di tempuh dengan berjalan kaki.Kekuatan Putri Dewi,Hari dan Aksa pun tiba-tiba melemah.
"Capek sekali..." keluh Putri Dewi.
"Kita baru saja jalan 3 meter bukan 3 mil...!"ucap Aksa.
"Aneh sekali,kenapa kita tidak bisa menggunakan kekuatan kita ?" ucap Hari begitu heran.
"Sepertinya tempat ini dominan dengan energi negatif.Aura penunggu hutan ini sangat kuat." jelas Aksa.
"Sebenarnya kita mau kemana ? Bukankah rumah yang kita tinggali kemarin aman ?" tanya Dara.
"Untuk saat ini memang aman Ra,tapi entah besok atau lusa.Bisa saja Sumi mengirim makhluk suruhannya untuk mencari keberadaan kita." jawab Aksa.
Setelah membujuk Putri Dewi,mereka berempat kembali meneruskan perjalanan ke tempat yang mereka tuju.Dengan berjalan kaki butuh waktu lama untuk sampai ke tempat itu.Mereka menyusuri jalan setapak yang di penuhi tanaman merambat berduri.
"Aduh,"
Tiba-tiba Dara mengeluh kesakitan.Dara memegang lengan kanannya.Hari bisa melihat lengan Dara yang berdarah.
"Pasti itu kena duri Ra." ucap Hari.
Hari dengan sigap menutup luka Dara dengan sapu tangannya.
"Romantis sekali..." ucap Putri Dewi.
"Begitu saja kamu bilang romantis.Saya bisa lebih romantis dari dia...!" ketus Aksa.
Setelah Hari selesai menangani luka Dara,mereka berempat melanjutkan perjalanan.Entah sudah berapa jauh jarak yang mereka tempuh.Namun tempat yang mereka tuju belum kunjung terlihat.
Hari pun semakin gelap.Matahari tak lagi terlihat.Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.Mereka berjalan menuju ke arah sungai.Sepanjang perjalanan Hari dan Aksa mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun.
Sesampainya di sana,Dara dan Putri Dewi duduk lemas di atas batu pinggir sungai.Dara mencuci mukanya yang sedari tadi basah karena keringatnya.
"Hati-hati Ra,nanti kamu jatuh." ucap Aksa.
"Iya." jawab Dara sambil masih memainkan air sungai itu.
Mereka berempat pun sibuk dengan aktivitas masing-masing hingga mereka tak sadari jika ada seseorang yang mengawasi mereka dari jauh.
"Dara,maafkan Aku.Terpaksa Aku harus melakukan ini padamu."
Lelaki itu pun melihat kondisi sekitarnya.Ia harus memastikan keadaan aman untuknya agar bisa mengelabui Aksa dan Hari.
Setelah semua terlihat aman, lelaki itu dengan secepat kilat mendekati Dara dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Aarrghh..." Dara berteriak sekencang mungkin.Namun lelaki itu bergerak begitu cepat meninggalkan tempat itu.
"DARA...!!!" teriak Putri Dewi yang terkesiap melihat Dara dibawa oleh orang misterius.
__ADS_1
Hari dan Aksa menoleh ke arah Putri Dewi.Mereka tak melihat keberadaan Dara di sana.Namun Putri Dewi menunjuk ke arah sebrang sungai.Lelaki itu membawa Dara entah kemana.
"Sialan...!!!" ucap Aksa emosi.
Mereka bertiga mencoba mengejar Dara dan lelaki itu.Namun mereka tertinggal begitu jauh.
"Kamu benar-benar tak melihat wajah orang itu ?!?" tanya Aksa pada Putri Dewi.
"Tidak Sa, kejadiannya begitu cepat sekali." jawabnya dengan gemetar.
"Kita tak akan bisa mengejar Dara.Kekuatan kita menghilang." ucap Hari.
Aksa mengacak-ngacak rambutnya.Dia terlihat begitu panik dan khawatir.Begitu juga dengan Putri Dewi dan Hari.Mereka bertiga hanya bisa diam dalam kekalutan yang mereka rasakan.
Putri Dewi seketika terduduk lesu dan menangis sejadi-jadinya.Mereka semua tak menyangka jika hal itu akan terjadi pada Dara.
"Dara..."
🌫️🥀🌫️🥀🌫️🥀🌫️🥀🌫️🥀🌫️🥀🌫️🥀🌫️
Dalam hitungan detik,Dara dan lelaki itu sampai di sebuah gubuk.Cahaya obor yang tak terlalu terang membuat keadaan gubuk itu tampak remang-remang.
"LEPASKAN...!!!" ucap Dara sembari memukuli badan kekar lelaki itu.
"...mau apa kamu !!!"
Lelaki itu pun menghempaskan tubuh Dara ke tanah.Hingga membuat Dara mengaduh kesakitan.Lelaki itu berlalu dari hadapan Dara dan menyalakan dua obor lagi agar cahaya di gubuk itu lebih terang.Dan agar ia bisa melihat dengan jelas wajah Dara.
"Mas Danu...?!?"
"Dara..."
Tanpa berkata apapun,Dara memeluk tubuh lelaki yang ada dihadapannya itu.Dara menangis histeris di pelukan Danu.
"Maafkan Aku Ra..."
"Harusnya Aku yang minta maaf Mas.Gara-gara Ibu,kamu harus pergi begitu cepat."ucap Dara dengan terbata-bata.
Danu membalas pelukan Dara.Memeluknya begitu erat.Hatinya begitu sakit saat mengingat kejadian itu.Di mana saat itu adalah hari yang harusnya menjadi hari yang begitu bahagia baginya dan Dara, namun semua berubah karena kedatangan tamu yang tak diharapkan.
FLASHBACK ON
Januari,1991
- Desa Batu Mega -
Malam itu,Danu melakukan pengajian sebelum hari pernikahannya.Rumahnya begitu ramai dengan kedatangan sanak saudara dan para tetangganya.Acara pun berjalan lancar dan penuh khidmat.Wajah bahagia menghiasi raut wajah Danu dan kedua orangtuanya.
"Semoga pernikahanmu besok lancar Nak." ucap sang Ibu.
"Aamiin...doakan juga agar Aku dan Dara bisa segera memberi Ibu dan Ayah seorang cucu." ucap Danu.
__ADS_1
"Kamu ini,menikah saja belum."
Danu tertawa mendengar ucapan ibunya itu.
Satu persatu tamu pun berpamitan,mereka izin pulang dan akan kembali esok hari untuk mengantar Danu ke rumah pengantin wanita.Setelah semua tamu pulang,Danu memutuskan untuk tidur lebih cepat karena kelelahan setelah seharian membantu menyiapkan acara pengajian.
Danu pun pergi ke kamarnya,namun saat ia masuk terlihat sosok hitam besar tengah berdiri di depan jendela kamarnya.Matanya yang merah menyala membuat Danu bergidik ngeri.
"Astaghfirullah..."
Baru saja Danu akan keluar kamar,makhluk itu menarik kaki Danu hingga ia tersungkur.Belum sempat ia berteriak, makhluk itu membuat Danu tak bersuara.Ia mencoba berteriak sekencang mungkin,namun tak sedikitpun suara yang keluar dari tenggorokannya.
Danu begitu ketakutan melihat sosok makhluk itu.Untuk pertama kalinya ia melihat makhluk menyeramkan seperti itu.Danu pun berusaha melepaskan genggaman tangan makhluk itu,namun semua sia-sia.Entah kenapa tubuhnya begitu lemas.
"Kau tak akan bisa pergi dariku...
Kau adalah tumbal yang Sumi persembahkan untukku..." ucap makhluk itu.
Perlahan energi dalam tubuhnya menghilang.Nafasnya tersengal-sengal.Danu bisa melihat lengannya yang mengecil.Pandangannya semakin gelap seiring nafasnya yang semakin tercekat.
Danu berusaha berdzikir dalam hatinya.Memohon pertolongan Tuhan.Namun takdir berkata lain.Nyawanya melayang.Roh Danu keluar dari raganya.Danu bisa melihat jasadnya yang tergeletak di lantai.Menyisakan tubuh yang kering.Hanya tulang belulang yang terbalut kulit.
"Mulai hari ini,kau adalah pengikut ku.Kau akan membantu Sumi untuk mencari tumbal persembahan untukku..."
Suara tawa makhluk itu menggema memenuhi rumah itu.Tak membuang waktu lama makhluk itu membawa roh Danu pergi dari rumah itu.Ia membawa Danu ke sebuah gubuk di tengah hutan.
Setibanya di sana Danu begitu terkejut melihat ada sosok yang begitu ia kenal.
"I...Ibu...?!?" ucap Danu.
Ya,wanita itu adalah Bu Sumi.Yang seharusnya menjadi calon mertua Danu.Ia masih tak paham dengan apa yang ia alami.Begitu juga dengan keberadaan Bu Sumi di tempat itu.
"Kamu kaget Nak ?"
"Sedang apa Ibu ada di sini ?!?"
"Pertama-tama maafkan calon mertuamu ini.Maaf jika Ibu menggagalkan semua rencana indahmu.Tapi ini sudah menjadi takdirmu.Takdir menjadi tumbal persembahan untuk tuan ku."
Danu seketika terduduk lemas saat mendengar perkataan Bu Sumi.Ia tak menyangka jika ibu dari kekasihnya itu telah menumbalkan jiwanya.
"Tega sekali kau melakukan ini Bu...!!!"
Bu Sumi hanya tertawa mendengar perkataan Danu.
"Tak usah membenciku seperti itu.Karena kau tak akan tau penderitaan ku yang pernah ku alami dulu.Dan semua itu karena kesalahan Dara...!!!"
"...ini semua pantas untuk membalas semua rasa sakit ku di masa lalu."
🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑
Bersambung...
__ADS_1