
🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑
Setelah selesai makan malam,Dara memutuskan untuk beristirahat di kamarnya.
"Bu,Aku tidur duluan ya."
"Iya Ra,tidurlah.Ibu masih mau di sini."
Dara mengangguk dan beranjak dari duduknya.Ia berjalan menuju kamarnya.Rumah Dara bukan rumah yang terbuat dari batu bata.Rumah Dara hanya berdinding bilik bambu.Lantainya hanya ubin dari semen tanpa keramik.Kamar Dara hanya berukuran 2 meter × 2 meter.Hanya cukup untuk kasur lantai dan lemari kayu ukuran kecil.Dengan satu jendela,sebagai ventilasi.
Kriieett...
Dara membuka pintu kamarnya.Namun saat ia memandang ke arah kasur lipatnya terlihat seorang wanita tengah duduk di sana.Wanita cantik dengan gaya berpakaian seorang putri kerajaan zaman dulu.
Ia memakai kebaya dari bahan beludru warna hitam dengan bros tersemat di kanan bajunya.Dipadu dengan bawahan rok dari kain batik bermotif.Rambutnya ia sanggul dan cincin tersemat di jari manisnya.
"Siapa kamu ?!? Kenapa ada di kamar saya ?!?".
Wanita itu pun mendongak menatap wajah Dara.Ia pun tersenyum.
"Saya adalah penunggu kalung yang kau pakai itu."
Dara reflek menyentuh kalung yang ia pakai.Namun Dara tak percaya dengan apa yang wanita itu katakan.
"Kamu bohong !!! Pasti kamu pencuri ya ?!?"
Raut wajah wanita itu seketika berubah.Wajahnya yang cantik perlahan berubah menjadi putih pucat.Di keningnya terlihat luka yang mengeluarkan darah.Matanya yang indah berubah menjadi hitam legam.Tiba-tiba aroma amis darah segar tercium oleh Dara.
Dara pun kaget dan ketakutan melihat sosok menakutkan itu.Ia ingin sekali keluar dari kamarnya.Namun kakinya begitu sulit ia gerakan.Seperti ada yang menahan kedua kakinya.Dara pun mencoba berteriak memanggil Bu Sumi,namun suaranya tiba-tiba menghilang.
Sosok wanita itu mulai mendekati Dara.Tubuhnya melayang dengan senyum menyeringai.Dara semakin ketakutan.Ia hanya bisa menangis dan memejamkan matanya.Namun sosok wanita itu berubah menjadi gumpalan asap dan masuk ke dalam liontin kalung Dara.
Dara merasakan kalungnya bergetar.Ia membuka kedua matanya dan dilihatnya sosok menakutkan itu menghilang.
"Kemana wanita itu ?"
Dara memandang liontin kalung yang ia pakai.
"Apa ia benar masuk ke dalam liontin ini ?"
Liontin itu seketika bercahaya,dan asap putih keluar dari liontin itu.Dara hanya bisa diam,tercengang melihat hal yang tak masuk akal itu.Asap itu pun berubah menjadi sosok wanita tadi.
"Apa kau masih tak percaya ?"
"Saya mohon,jangan ganggu saya..."
"Saya tak akan mengganggumu.Malah saya akan menolongmu."
Dara mengernyit heran pada ucapan wanita itu.
"Apa yang kamu maksud ?"
"Tak usah tanyakan itu,nanti juga kau akan tau."
Dara kini berkutat dengan pikirannya.Ia bingung dengan apa yang ia lihat.Ia merasa sedang bermimpi.Seumur hidupnya baru kali ini ia bisa melihat makhluk tak kasat mata.
"Jangan melamun seperti itu Dara.Apa kau ingin saya merasukimu ?"ucap wanita itu dengan senyum menyeringai.
"Tidak...tidak mau.Tapi sebenarnya kamu siapa ?"
"Dulu di daerah ini berdiri kokoh sebuah kerajaan bernama kerajaan Panyawangan.Dan Saya adalah seorang putri kerajaan itu.Nama saya Putri Dewi Asti Cakrawati.Panggil saja Dewi."
"Putri ?"
__ADS_1
Putri Dewi pun tersenyum.Ia merasa bahagia bisa keluar dari liontin itu dan bertemu dengan Dara.
"Baiklah kalau begitu,mulai hari ini kau akan menjadi temanku.Berbahagialah...kapan lagi kau bisa berteman dengan putri kerajaan yang cantik sepertiku."ucapnya dengan bangga.
Dara menghela nafas panjang.Pasrah dengan apa yang terjadi di malam itu.
"Lebih tepatnya berteman dengan makhluk halus."batin Dara.
Dara beranjak dari tempat ia berdiri sedari tadi.Ia melangkah menuju kasur lipatnya itu.
"Kau mau tidur ?"
"Tentu saja Putri,saya sudah mengantuk sedari tadi."
Dara membetulkan posisi bantalnya dan menyelimuti tubuhnya.
"Lalu,saya harus tidur dimana ?Kasur ini terlihat tipis sekali.Apa tak ada ranjang seperti di tempat tinggalku dulu Ra ?"
"Ini rumah saya Putri,dan di sini tak ada barang mewah seperti kepunyaan mu.Jadi lebih baik sekarang nikmati saja tidur di kasurku yang tipis ini."
"Baiklah..."
Putri Dewi pun menuruti perkataan Dara.Ia merebahkan tubuhnya di kasur lipat itu.Ia terpaksa melakukannya karena terus diam di dalam liontin membuat tubuhnya terasa sakit dan pegal.Kini keduanya telah terlelap dan menikmati mimpi mereka.
🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀
Keesokan harinya...
Dara sudah bangun sedari subuh tadi.Namun saat ia bangun Putri Dewi sudah tak tampak.Dara mencari ke setiap sudut rumahnya,namun ia tak menemukan sosok wanita itu.
"Kemana wanita itu ?"gumam Dara.
Dara pun beranjak ke dapur untuk membantu Bu Sumi membuat kue basah pesanan pelanggan.Di dapur terlihat Bu Sumi sedang memarut kelapa tua yang Dara beli kemarin.
"Ibu pasti mau bikin kue klepon."
"Oh."
Sikap Dara berubah saat Bu Sumi menyebutkan nama Yudi.Dia adalah mantan kekasih Dara.Dulu Yudi pernah menyukainya.Namun Dara menolaknya karena suatu alasan.Kini saat ia mendengar kabar jika Yudi akan menikah,entah kenapa hatinya begitu sedih.Namun ia sadar jika semua itu adalah keinginannya.
Bu Sumi yang menyadari sikap Dara,merasa tak enak hati padanya.Ia pun mengganti topik pembicaraan mereka.
"Oh iya Ra,tolong ayak tepung terigunya ya.Sekalian bikin adonannya."
"Iya Bu."
Dara mengambil tepung terigu yang ada di kantong kresek berwarna biru.Ia membuka bungkus tepung itu dan mulai mengayaknya secara perlahan.
Diluar rumah Putri Dewi tengah asyik melihat anak-anak sedang bermain tali yang terbuat dari anyaman karet gelang.Ia begitu antusias melihat permainan itu.
"Di zaman saya dulu belum ada permainan seperti itu.Sepertinya itu menyenangkan sekali."ucapnya.
Namun pandangannya kini teralihkan pada seorang pria yang tengah menyalakan motor bebeknya.Pria tinggi,tubuhnya yang tegap dan rambutnya yang klimis menarik perhatian Putri Dewi.
Putri Dewi beranjak dari tempat ia berdiri dan kini berjalan dengan anggun ke arah pria itu.Pria itu adalah Hari.Dia akan bersiap berangkat bekerja.Jarak menuju tempat kerjanya cukup jauh karena berada di kampung sebelah.Hingga ia harus berangkat lebih pagi agar tak terlambat.
"Pagi Aa."sapa Putri Dewi pada Hari.
Hari menoleh ke arah wanita itu,namun ia merasakan hawa yang tak biasa dari wanita itu.
"Dia bukan manusia ?"
Putri Dewi menyadari sikap aneh Hari.Ia pun tersenyum pada lelaki itu.
__ADS_1
"Kenapa Aa ?Baru lihat ya ada wanita secantik saya."
"Iya kamu cantik,tapi sayangnya kamu bukan manusia."
Putri Dewi pun tersenyum.Sejak awal ia tahu jika Hari bisa melihat yang tak mampu dilihat oleh orang lain.Dan karena itu lah Putri Dewi tak segan untuk mendekatinya.
"Kenalkan nama saya Putri Dewi Asti Cakrawati."
"Nama saya Hari,salam kenal.Tapi maaf saya tak bisa mengobrol lama denganmu.Saya harus berangkat kerja Putri."
"Baiklah,hati-hati ya Aa..."
Hari pun tersenyum.Ia menaiki motornya dan melaju pergi meninggalkan Putri Dewi.
"Tampan sekali dia tapi sayang dia seorang manusia."gumam Putri Dewi.
Tanpa Putri Dewi sadari,Dara memperhatikannya sedari tadi.
"Centil juga hantu itu.Mentang-mentang dia cantik."
Dara pun pergi ke sumur di belakang rumahnya.Ia harus mengambil air untuk keperluan minum dan memasak.Saat Dara sedang menimba air sumur itu,tiba-tiba muncul Putri Dewi dari dalam sumur itu.
Dara pun berteriak dan melepaskan tali timba itu.
"Aargghhh..."
Bu Sumi yang berada di dapur keluar dan menghampiri Dara.
"Kenapa kamu teriak-teriak gitu Ra ?"
"Tak apa Bu,ini barusan ada kecoa."ucap Dara berkilah.
"Ibu kira kamu jatuh ke dalam sumur Ra.Bikin Ibu jantungan saja."
Bu Sumi pun kembali ke dalam rumah.Sedangka. Dara kini melotot ke arah Putri Dewi.
"Maaf Ra,saya kira kamu tak akan sekaget itu."
"Yang namanya muncul tiba-tiba apapun itu ya bikin kaget lah."
Putri Dewi pun terkekeh melihat reaksi Dara yang begitu terkejut.Dara kembali melanjutkan mengambil air sumur itu.Putri Dewi duduk di bangku kayu tak jauh dari tempat Dara.
"Ra,Hari itu kekasihmu ya ?"
"Bukan.Kenapa Putri berpikir seperti itu ?"
"Ya,saya bisa membaca isi hatinya.Sepertinya dia menyukaimu."
"Ah,mana mungkin.Saya ini sudah tua,sedangkan Hari masih muda.Dia bisa mendapatkan wanita yang lebih muda dari saya.Lagi pula saya dan Hari hanya sahabat."
"Apa salahnya dengan hubungan beda umur ?Kamu cocok jika bersanding dengan Hari.Lagi pula saya akan membantumu jika ibumu akan..."
Putri Dewi seketika berhenti bicara dengan membungkam mulutnya.Dara pun menoleh ke arah wanita itu.
"Jika ibuku apa ?"
"Hm,jika...jika ibumu tak merestui kalian Ra.Begitu..."
"Oh."
Putri Dewi segera pergi meninggalkan Dara.Ia kembali ke kamar dan membaca buku-buku novel yang ada di kamar itu.
"Untungnya saya tak salah bicara,karena Dara tak akan begitu saja percaya pada apa yang saya ucapkan."
__ADS_1
🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑
Bersambung...