"Jangan Dekati Aku."

"Jangan Dekati Aku."
BAB 3


__ADS_3

πŸŽ‘πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸŽ‘


Bu Sumi masih berada di dapur.Menyelesaikan pesanan kue milik Bu Ratna.Ia sedang membentuk adonan menjadi bulat sebesar bola pingpong.Tak lupa di dalamnya di beri isian gula merah.


Wusshhh...


Tiba-tiba angin bertiup kencang.Gorden jendela dapur pun bergerak.Api tungku juga terlihat semakin membesar.Bu Sumi tak menghiraukan angin itu.Ia tetap fokus membuat kue berwarna hijau itu.


Kriieett...


Pintu belakang rumah Bu Sumi terbuka.Seperti ada seseorang yang mendorong pintu itu dari luar.


"Siapa...?"


Bu Sumi beranjak dari duduknya.Ia berjalan menuju pintu itu.Bu Sumi membuka pintu itu namun dilihatnya tak ada siapapun di luar sana.Bu Sumi memutuskan untuk kembali masuk.Namun betapa kagetnya ia,saat melihat kue buatannya menghilang sebagian.


"Perasaan kue-nya ditaruh di sini.Tapi kenapa tak ada ?"


Bu Sumi mencari kue itu.Namun ia tak menemukannya.


Dibalik bilik kamar Dara,Putri Dewi terkekeh melihat Bu Sumi yang kebingungan.


"Hihihi...maaf ya Bu.Saya yang sudah menghilangkan kue klepon itu.Sebagian sudah ada di dalam perut saya."


Hantu itu pun memakan kue klepon itu tanpa rasa bersalah.Bu Sumi berjalan menuju teras dan menemui Dara yang baru saja pulang dari Rumah Pak RT.


"Ra,kamu yang ngambil kue Ibu ya ?"


Dara pun tak paham dengan pertanyaan yang Bu Sumi lontarkan padanya.


"Kue apa Bu ?Saya kan baru pulang dari rumah Pak RT.Masa Ibu lupa ?Kan Ibu yang nyuruh ?"


Bu Sumi menepuk jidatnya.Ia baru ingat jika tadi memang dia yang menyuruh Dara untuk pergi ke rumah Pak RT.


"Terus siapa dong yang ambil kue Ibu ?"


"Hantu kali Bu."


Putri Dewi tiba-tiba tersedak.Ia menepuk-nepuk dadanya pelan.


"Pasti ada yang seseorang yang membicarakan yang tidak-tidak tentang saya.Dasar kurang asem."ucapnya.


Dara pun curiga jika kue itu di ambil oleh Putri Dewi.Ia segera masuk rumah dan berjalan menuju kamarnya.Saat masuk dilihatnya sang Putri sedang duduk di kasur lipat sambil membaca buku novel.


"Putri,kamu yang ambil kue buatan Ibu ?"


Putri Dewi mendongak menatap wajah Dara.


"Kamu itu bicara apa Ra ? Ma...mana mungkin hantu seperti saya makan makanan manusia.Ada-ada saja."


ucap Putri Dewi berkilah.


"Hm,iya juga ya.Tapi mana mungkin tikus ngambilnya banyak-banyak ?"


"Bisa saja.Mungkin tikus itu mau bagi-bagi sama tetangganya."


Dara geleng-geleng kepala mendengar jawaban hantu itu.Ia pun pergi meninggalkan Putri Dewi.Dara berjalan menuju ke luar rumahnya.


"Beruntung dia bisa menerima alasanku."


Putri Dewi beranjak dan mengikuti Dara.Namun saat keluar kamar, Putri Dewi merasakan sesuatu yang tak biasa dari kamar Bu Sumi.Badannya terasa panas,padahal jaraknya dengan kamar Bu Sumi cukup jauh.


"Ada sesuatu di kamar itu.Hawanya negatif sekali.Tapi apa ya ?"


Putri Dewi perlahan mendekati kamar itu.Semakin dekat semakin kuat kekuatan negatif itu.Baru saja ia akan menembus bilik kamar itu,dari dalam seperti ada seseorang yang mendorongnya.Putri Dewi pun jatuh tersungkur.

__ADS_1


"Ah,sakit..."


Putri Dewi mengaduh dan dilihatnya dari celah pintu kamar itu keluar gumpalan asap hitam.Putri Dewi berusaha bangkit dan mundur perlahan.Gumpalan asap itu kini membentuk sosok hitam besar.Mirip seperti hantu Genderuwo.Badannya berbulu,matanya merah dan kuku tangannya pun memanjang.


Putri Dewi berusaha mengumpulkan kekuatannya.Ia meningkatkan kewaspadaannya,bisa saja makhluk itu menyerangnya lagi.Makhluk hitam itu menyeringai,menatap Putri Dewi seperti melihat mangsa yang lezat.


Tanpa aba-aba makhluk itu menyerang Putri Dewi.Tangan dengan kuku yang tajam itu hampir saja mengenai wajah Putri Dewi namun entah kenapa makhluk itu tiba-tiba menggeliat kesakitan.Makhluk hitam itu menyentuh lehernya sendiri.Seperti ada seseorang yang tengah mencekik makhluk itu.


"Kenapa makhluk itu ?"


πŸ€πŸ₯€πŸ€πŸ₯€πŸ€πŸ₯€πŸ€πŸ₯€πŸ€πŸ₯€πŸ€πŸ₯€πŸ€πŸ₯€πŸ€


Dara yang berada di atas pohon jambu merasa jika bulu kuduknya berdiri sedari tadi.Ia pun merasa heran,padahal cuaca sedang cerah dan angin pun bertiup tak terlalu kencang.


"Ada apa ya ? Tapi ini rasanya seperti awal bertemu dengan Putri Dewi.Apa jangan-jangan di pohon ini ada penunggunya ?"


Dara memandang ke segala arah.Ia takut jika ada hantu di dekatnya.


"Iya di situ ada penunggunya Ra."ucap Hari yang tiba-tiba muncul.


Dara menatap sebal lelaki itu.Sikapnya itu membuat Hari tertawa.


"Tumben jam segini kamu sudah pulang ? Bolos kerja ya ?"


"Kerjaan saya sudah beres,jadi lebih baik saya pulang lebih awal.Daripada harus diam di kantor."


Dara pun turun dari pohon itu dan memberi Hari satu buah jambu biji yang sudah matang.


"Terima kasih Ra."


Dara dan Hari duduk di bata teras rumah Dara.Mereka berdua menikmati buah jambu yang manis itu.Hari pun memecah keheningan yang ada diantara mereka.


"Ra,siapa wanita berkebaya hitam itu ?"


"Dari mana kamu tau Ri ? Saya tak pernah bicara apapun tentang hantu itu padamu."


"Sebenarnya saya ini bisa melihat makhluk seperti mereka."


"Sejak kapan ?"


"Dari saya kecil Ra."


Dara terus menatap Hari.Ia tak menyangka jika lelaki yang ada dihadapannya itu mempunyai kelebihan yang begitu spesial.


"Kalau begitu kamu bisa tau tentang kehidupan masa lalu Putri Dewi ?"


"Tidak,saya hanya bisa melihat wujudnya saja.Tidak dengan kehidupannya."


Disela obrolan mereka, tiba-tiba Putri Dewi muncul.


"Pasti kalian sedang membicarakan saya kan ?"ucap Putri Dewi sambil berkacak pinggang.


"Kalau iya,memangnya kenapa ? Tak boleh ?"tanya Dara.


"Silahkan saja karena makhluk seperti kami merasa senang jika manusia membahas kami.Kami merasa punya tempat untuk bisa menunjukkan wujud kami."ucap Putri Dewi.


"Iya betul sekali yang kamu ucapkan Putri.Apalagi jika manusia itu merasa takut.Rasa takut itu menjadi kekuatan bagi jin dan makhluk sejenisnya.Dengan rasa takut manusia,mereka bisa menampakan wujudnya atau melakukan hal seperti menggerakkan benda-benda kecil.Seperti menjatuhkan buku atau menggeser kursi."jelas Hari.


"Aa Hari pintar sekali ya.Tak seperti Dara yang hanya tau tentang membuat kue."ejek Putri Dewi.


"Ya tentu saja saya tak tau.Saya hanya mengenal jenis makhluk halus yang wujudnya nampak dan bisa dilihat semua manusia."


Hari dan Putri Dewi mengernyit heran.Mereka tak paham atas ucapan Dara.


"Makhluk seperti apa itu Ra ?"tanya Hari.

__ADS_1


"Itu adalah makhluk yang bernama lelaki pemberi harapan palsu.Diawal dia begitu manis namun lama-kelamaan dia mundur perlahan dan menghilang seperti hantu.Tak terlihat lagi batang hidungnya."


Krik...krik...krik...


Hari dan Putri Dewi kini saling tatap.Berbicara dengan batin mereka.


"Apa dia korbannya ?" tanya Putri Dewi pada Hari.


"Entahlah..."


πŸ€πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€


Dari dalam rumah terdengar Bu Sumi memanggil-manggil Dara.


"Ra...Dara..."


"Iya Bu.Dara disini."


Dara pun pamit pada Hari karena Bu Sumi memanggilnya.


"Ya sudah,saya ke dalam dulu Ri.Nanti kita bisa ngobrol lagi sama si Putri menyebalkan ini." ucap Dara sambil menatap kesal ke arah Putri Dewi.


"Iya Ra,masuklah..."


Dara pun pergi ke dalam rumah.Kini hanya ada Hari dan Putri Dewi.


"Putri, saya pulang dulu.Tak enak dengan tetangga.Saya terlihat seperti sedang berbicara sendiri."


"Apa saya boleh ikut ?Saya bosan di rumah Dara terus."


"Boleh,lagi pula di rumah tak ada siapapun."


"Asyik..."


Hari beranjak dan mengajak Putri Dewi untuk singgah ke rumahnya.


"Ayo masuk."


Hari membuka pintu rumahnya dan ia masuk diikuti oleh Putri Dewi.Saat masuk ke dalam,terlihat banyak foto tergantung rapi di dinding rumah itu.Foto masa kecil Hari bersama orang tuanya.


"Lucu sekali anak laki-laki ini."ucap Putri Dewi sembari melihat foto yang ada dihadapannya.


Hari hanya tersenyum dan menghampiri hantu itu.


"Hm,bagaimana kalian membuat ini ?kenapa ada gambar mu dan juga keluargamu di kertas sebesar itu ?"


"Itu namanya foto.Itu adalah hasil jepretan dari sebuah kamera."


"Kamera itu apa ?"


"Kamera itu adalah sebuah benda yang bisa menangkap sebuah objek."


Putri Dewi hanya bisa menyimak tanpa mengerti sedikitpun.Hantu itu pun beralih ke arah lemari kaca yang tak jauh dari kamar Hari.Dilihatnya banyak foto dan benda hias seperti bunga dan piring cantik.Namun matanya tertuju pada sebuah pedang yang terasa tak asing baginya.Ukiran di pedang itu begitu sama dengan pedang milik seseorang.


"Pedang itu milikmu ?"tanya Putri Dewi sembari menunjuk ke arah pedang itu.


"Itu pedang turun temurun.Dulu pedang itu dimiliki oleh seorang raja yang pernah berkuasa di wilayah ini."


Putri Dewi masih saja menatap pedang itu.Amarahnya tiba-tiba muncul merasuki hatinya.


"Pedang itu yang dipakai untuk membunuh Ibunda..."


πŸŽ‘πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸŽ‘


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2