
🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑
Brugh...
Tiba-tiba suara keras memecah keheningan.Dara,Putri Dewi dan Aksa menoleh ke arah suara itu.Terlihat pintu rumah itu terlepas dari engselnya.Dara sigap bersembunyi di balik tubuh Aksa.Sedangkan Putri Dewi mencoba mendekati sosok yang berada di luar rumah itu.
"Siapa kamu ?!?"
Tak berselang lama,seorang lelaki muncul di hadapan mereka.
"Hari ?!?" pekik Aksa.
"Hari ???" ucap Dara tak percaya jika Hari ada di hadapannya.
"Aa ganteng ???"ucap Putri Dewi terlihat sangat heran atas kedatangan lelaki itu.
Hari masuk ke dalam rumah itu dan menatap lekat ke arah Dara.
"Dara..."ucapnya lirih.
"...kamu selamat ? Saya sangat khawatir Ra." ucapnya sembari menarik tubuh Dara ke pelukannya.
Aksa dan Putri Dewi kaget melihat reaksi Hari yang begitu khawatir pada Dara.
"Hey...!!! Lepaskan dia !!!"ucap Aksa sedikit emosi.
Hari menatap ke arah Aksa dan tersenyum.
"Terima kasih Sa."
"Untuk apa ?!?" tanya Aksa yang bingung melihat sikap Hari.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan Dara."
Dara mencoba melepaskan diri dari pelukan Hari.Ia memandang wajah Hari begitu lekat.
"Dari mana kamu tahu jika saya ada di sini Ri ?"
"Kamu tak perlu tahu Ra.Yang penting sekarang kamu berada di tempat yang aman dan bersama orang yang baik."
Aksa kesal sekali melihat momen mesra yang diciptakan Dara dan Hari.Hingga ia mencari-cari cara untuk mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Hey...lebih baik kamu perbaiki pintu rumah saya !!! Bertamu tak punya sopan santun sekali."
"Maaf Sa,saya panik.Hehe..."
"Kamu cemburu Sa ?" goda Putri Dewi.
"Kamu ini jangan mengada-ngada ! Mau saya masukan ke dalam botol ? Lalu saya buang ke laut hitam ?!?"
"Maafkan saya,Aksa tampan.Hehe..."
__ADS_1
Hari melepaskan pelukannya namun tangannya tak lepas menggenggam tangan Dara.Firasat buruknya menjadi kenyataan.Namun beruntung Aksa tak terlambat menyelamatkan Dara.
Kini hatinya merasa tenang walaupun tak sepenuhnya.Hari merasa bahagia bisa melihat kembali Dara dalam keadaan selamat.
"Sudah,jangan dipandang seperti itu terus Ri..." ucap Putri Dewi yang memergoki Hari masih menatap Dara.
Hari tersenyum,sedangkan Dara terlihat salah tingkah.Wajahnya jadi merah merona.
"Lepaskan tangan saya Ri."
Hari pun melepaskan genggamannya.
"Maaf..."
Aksa menarik Dara dan membawanya ke belakang rumah.Meninggalkan Hari dan Putri Dewi.
"Bagaimana ini ? Makhluk itu semakin menjadi-jadi saja.Dia begitu menginginkan Dara." ucap Putri Dewi begitu cemas.
"Tak sepenuhnya makhluk itu yang bersalah.Bu Sumi lah yang memulai kekacauan ini.Seandainya ia tak melakukan perjanjian dengan makhluk itu mungkin kejadian ini tak akan terjadi."
"Lalu kita harus bagaimana sekarang ? Kita tak mungkin terus bersembunyi dari Sumi dan makhluk laknat itu."
Hari menghela nafas dan memandang Putri Dewi.Dari sorot matanya ia terlihat menyimpan banyak kata namun ia tak bisa mengungkapkannya.
"Kamu yang dapat memusnahkan makhluk itu dan saya akan membantumu."
"Saya ?"
"Iya,jika kekuatan kita digabungkan,kita bisa mengalahkan makhluk itu.Tapi..."
"Saya dan kamu akan hilang selamanya dari dunia ini."
Putri Dewi terbelalak mendengar penjelasan Hari.
"Saya tahu,setelah saya membantu Dara saya akan hilang dan pergi ke tempat yang seharusnya.Tapi kamu,kenapa mau mempertaruhkan nyawamu untuknya ? Bukan kah kamu bercita-cita ingin menjadi pasangan sejatinya ? Hidup bahagia bersamanya Ri ?"
"Mencintai tak harus memiliki dan saya akan melakukan apapun demi Dara walaupun nyawa taruhannya."
"Hari..."
Putri Dewi bisa merasakan ketulusan Hari.Dara begitu beruntung memiliki sahabat baik seperti Hari.
Amanat yang Ki Arang berikan padanya harus segera selesai.Dan di saat itu lah Putri Dewi pun akan pergi selamanya dari Dara.
"Baiklah,kita akan melawan makhluk itu bersama-sama.Semoga apa yang kita usahakan tak sia-sia.Saya ingin melihat Dara bahagia walau tanpa kehadiran kita."
Hari mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Putri Dewi.
"Sepakat..."
Putri Dewi menjabat tangan Hari dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀🥀🍀
Di suatu tempat...
"Bodoh sekali kau Sumi...!!!"
"Maafkan saya."
Makhluk itu meluapkan amarahnya pada Bu Sumi.Tinggal selangkah lagi ia akan mendapatkan Dara,namun Aksa telah membawanya pergi.Bu Sumi hanya bisa tertunduk.Tak berani menatap makhluk itu.
"Maaf,saya dikelabui oleh lelaki itu.Karena kedatangannya tepat setelah saya membaca mantra untuk memanggilmu.Dan tak ada keraguan sedikitpun hingga akhirnya saya percaya dan memberikan Dara padanya."
"Cari dia secepat mungkin...!!! Batas waktumu hanya sampai bulan purnama besok malam.Jika kau tak menemukannya,nyawamu yang akan jadi tumbal terakhirku...!!!"
Bu Sumi terus saja tertunduk.Dalam hatinya ia merasa kesal dan marah pada Dara.Sedikit lagi ia akan mendapatkan yang ia mau,tapi Aksa menggagalkan rencananya.
"Baiklah, sekarang saya akan pergi untuk mencarinya."
Bu Sumi pun beranjak meninggalkan tempat itu.Sepanjang perjalanan Bu Sumi terus saja memikirkan bagaimana caranya untuk mengetahui keberadaan Dara dan Aksa.
"Aku harus segera menemukan wanita sialan itu."
Bu Sumi berhenti tepat di bawah pohon beringin yang rindang.Dia memejamkan matanya dan komat-kamit membaca sebuah mantra.Tak berselang lama muncul asap hitam dan asap itu berubah menjelma menjadi seorang lelaki tinggi,berparas tampan dengan rambut yang gondrong sebahu.
"Mau apa kau memanggilku ?" tanya lelaki itu.
"Aku punya tugas penting untukmu." jawab Bu Sumi.
Raut wajahnya begitu datar saat mendengar jawaban dari wanita itu.
"Tak usah berbasa-basi,langsung katakan saja apa mau mu."
"Sedikit lagi Aku akan mendapatkan apa yang ku mau.Tapi semua rencanaku itu gagal karena seseorang yang tak ku kenal membawa pergi Dara dariku.Makhluk itu marah dan menginginkan Dara secepatnya dan tugasnya kau harus mencari Dara dan membawanya kembali padaku."
"Berikan Aku tugas yang lain saja."
Lelaki itu menolak perintah Bu Sumi.Raut wajahnya yang datar berubah jadi cemas.Bu Sumi pun tertawa dan menghampiri lelaki itu lebih dekat.
"Duniamu dan dunia Dara kini telah berbeda.Apa jangan-jangan kau masih mencintainya ?"
"Cari saja orang lain untuk melakukan hal itu, Sumi..."ucap lelaki itu dan berjalan pergi meninggalkan Bu Sumi.
"Baiklah jika itu mau mu.Tapi adikmu akan menemani Dara menjadi tumbal persembahan terakhirku..."
Langkah lelaki itu berhenti seketika.Ia menoleh ke arah Bu Sumi.Ia mengepalkan tangannya.Menahan amarah yang ingin sekali ia luapkan pada Bu Sumi.
"Baiklah,Aku akan menuruti kemauan mu...!"
Bu Sumi tersenyum penuh kemenangan.Ia tak perlu susah-susah membujuk lelaki itu.Hanya dengan menyebut-nyebut adiknya saja,lelaki itu menuruti keinginan Bu Sumi.
"Selesaikan tugasmu dengan baik dan bawa dia secepatnya padaku..."
__ADS_1
🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑
Bersambung...