"Jangan Dekati Aku."

"Jangan Dekati Aku."
BAB 16


__ADS_3

FLASHBACK ON


Mulai hari itu,Danu terpaksa menjadi pengikut Bu Sumi.Itu karena Bu Sumi mengancam Danu,jika ia tak menuruti semua perintahnya maka nyawa ke dua orang tuanya dan sang adik akan jadi taruhannya.


"Sial...!!!" ucap Danu begitu emosi.


Tiba-tiba muncul sosok nenek dengan rambut tergerai panjang dan putih.Nenek itu pun menghampiri Danu.


"Siapa yang sial Nak ?" tanya nenek itu sambil menepuk pundak Danu.


Danu pun menoleh ke arah belakang dan di dapatinya sosok wanita tua dengan wajah yang menyeramkan.Kedua bola matanya hitam legam.Senyumnya menyeringai.Darah segar mengucur tepat dari jantungnya.


Danu begitu terkejut.Ia berusaha untuk lari namun ia sadar jika ia sekarang telah menjadi bagian dari mereka, makhluk tak kasat mata.


"Ma...maaf Nek..."


"Tak usah ketakutan seperti itu.Aku tak akan memakanmu..."


Berangsur wajah si Nenek berubah lebih baik.Ia mulai menampakan wajahnya semasa hidup dulu.


"Sedang apa kau ada di sini ? Apa kau pengikut baru si wanita laknat itu ?" tanya si Nenek.


"Wanita laknat ?"


"Iya wanita laknat yang bernama Sumi."


Danu menghela nafas panjang dan mencoba menjelaskan pada hantu wanita tua itu.


"Saya terpaksa menjadi pengikut wanita itu Nek.Saya menjadi tumbal pesugihan yang ia lakukan.Padahal hari ini seharusnya saya berada di pelaminan bersama dengan wanita yang saya cintai." lirih Danu.


"Bagaimana bisa kau berurusan dengan wanita jahat itu ? Di mana kau mengenal Sumi ?"


"Itu..."


Perkataan Danu terhenti ketika tiba-tiba Bu Sumi muncul di hadapan mereka.


"Apa kalian sedang berkenalan ?" tanya Bu Sumi dengan sinis.


"Mau apa kau muncul tiba-tiba begitu wanita laknat ?" ucap si Nenek.


"Aku hanya ingin mengingatkan pada kalian berdua agar jangan sedikit pun ada niat untuk pergi dari tempat ini.Jika itu terjadi maka orang-orang yang kalian kasihi akan meregang...NYAWA...!"


"Tak usah mengancamku seperti itu Sumi.Aku ini sudah tua lagi pula setua ini Aku tak bisa berjalan jauh.Kakiku sudah sakit sekali.Sepertinya penyakit encok ku ini semakin parah saja."


Danu yang mendengar ucapan si Nenek terlihat heran.Kenapa di saat seperti itu si Nenek masih bisa bersikap konyol pada Bu Sumi.


"Terserah kau saja wanita tua bangka..."


"Sepertinya enak sekali jika kau membelikan ku martabak bangka yang ada di ujung jalan ini Sumi." ucap si Nenek semakin tak jelas.


Bu Sumi jengah melihat sikap si Nenek.Akhirnya ia pergi begitu saja dari hadapan mereka berdua.Kepergian Bu Sumi membuat si Nenek tertawa.Danu yang melihat itu pun heran.


"Kenapa Nenek malah tertawa seperti itu ?"

__ADS_1


Namun si Nenek tak menjawab pertanyaan Danu.Ia pun pergi meninggalkan Danu yang masih heran melihat sikap wanita tua itu pada Bu Sumi.


"Sikapnya seperti bukan pada orang asing.Apa jangan-jangan Nenek itu ada hubungan dekat dengan Bu Sumi ?" gumam Danu.


Sejak saat itu Danu menjalani harinya yang begitu kelam.Membantu mencari mangsa sebagai tumbal pesugihan Bu Sumi.Entah sudah berapa puluh nyawa manusia yang Danu dapatkan.


Danu masih memiliki harapan semoga kelak ia bisa lepas dari Bu Sumi dan kembali ke tempat pulang yang sebenarnya.


FLASHBACK OFF


 


Dara masih saja menangis di pelukan Danu.Danu berusaha menenangkannya.Ia menepuk pelan punggung Dara.


"Sudahlah Ra,jangan terus menangis seperti itu.Ini semua bukan salahmu.Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri."


"Tapi jika waktu itu Aku tak mengenalmu,jika waktu itu kita tak bertemu mungkin kamu masih hidup hingga saat ini.Keluargamu tak akan merasakan kesedihan mendalam karena kehilangan mu Mas..."


Danu mencoba melepas pelukan Dara dan menatap dalam-dalam wajahnya.


"Aku tak menyesal pernah mengenalmu.Aku tak menyesal pernah bertemu denganmu.Aku juga tak menyesal pernah mencintaimu.Kini keadaanku bukan kesalahanmu.Ini semua karena ke egoisan Bu Sumi.Seandainya Bu Sumi tak menuruti hawa nafsunya mungkin semua ini tak kan terjadi."


"Dan semua itu karena kesalahan Ayah dan Ibuku Mas..." ucap Dara sambil terisak.


Entah apa yang harus Danu perbuat.Ia pun bingung harus berkata apa agar Dara berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Sebenarnya Aku membawamu ke sini karena perintah wanita jahat itu Ra..."


Dara yang tengah terisak seketika mendongak menatap wajah Danu.Ia kaget mendengar pengakuan lelaki itu.


Danu menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya pertanda jika apa yang Dara katakan adalah benar.


"Tapi kenapa Mas...?!?"


"Aku terpaksa Ra,jika Aku tak menuruti perintahnya orang tua dan adikku akan jadi tumbal berikutnya."


Hati Dara semakin terasa sakit saat mendengar penjelasan Danu.Bukan hanya Danu,ternyata keluarganya pun akan jadi korban jika Danu membantah perintah wanita jahat itu.


"Maaf Mas..."ucap Dara semakin terisak.


Danu kembali memeluk erat wanita yang begitu ia cintai itu.Memeluknya,hanya itu yang bisa Danu lakukan.


"Saat ini tinggallah di sini bersamaku.Dan Aku tak akan rela melihatmu dijadikan tumbal oleh Sumi.Besok pagi-pagi sekali kita akan pergi jauh dari sini."


Dara mendongak, menatap wajah Danu.


"Tapi bagaimana jika Ibu menemukan kita Mas ?"


"Kamu tak perlu memikirkan itu.Biar itu jadi urusan ku.Lebih baik sekarang kamu istirahat agar besok tenagamu bisa pulih kembali Ra."


Dara mengangguk menuruti perintah Danu.Lelaki itu mengantar Dara ke dalam kamar dan membiarkannya istirahat.Tiba-tiba muncul sesosok Nenek tua dan ia menghampiri Danu.


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan wanita itu ?"

__ADS_1


Danu menoleh dan di lihatnya si Nenek yang sedang mengunyah daun sirih.


"Tentu saja Aku akan menyelamatkan cucumu ini Nek.Mana mungkin Aku membiarkan Sumi menjadikan Dara sebagai tumbal."


Si Nenek tersenyum dan menepuk pundak lelaki itu.


"Tak usah khawatir,Aku akan membantumu.Aku akan membawa ke tiga teman Dara yang masih berada di dalam hutan terlarang.Mereka akan membantu kita untuk melawan wanita laknat itu."


"Lebih baik Nenek menjaga Dara di sini.Biar Aku yang mencari mereka."


"Jangan Cu,Aku khawatir jika Sumi datang tiba-tiba.Kekuatanku tak sebesar kekuatanmu.Lebih baik Aku yang mencari teman-teman Dara."


Danu pun mengangguk dan membiarkan si Nenek pergi mencari keberadaan Putri Dewi,Hari dan Aksa.


"Semoga kali ini rencanaku berhasil..." batin Danu.


- Di hutan terlarang -


Putri Dewi,Hari dan Aksa terlihat tengah duduk di hadapan api unggun.Wajah mereka terlihat begitu cemas.


"Sekarang kita harus bagaimana ?" tanya Putri Dewi.


"Entahlah,kekuatan kita pun belum kembali.Lagi pula kita harus mencari Dara kemana lagi.Hutan ini begitu luas." ucap Hari.


Aksa hanya diam tak mengucapkan sepatah kata pun.Ia merasa sangat bersalah atas hilangnya Dara.


"Sa,apa lebih baik kita ke tempat tujuan kita saja ? Daripada kita hanya berdiam di sini." ucap Hari.


"Ya,lebih baik begitu.Kita akan ke tempat itu.Di sana kita bisa meminta pertolongan dari seseorang." jelas Aksa.


Tanpa pikir panjang mereka pun segera melanjutkan perjalanan walaupun hari masih gelap.


wusshhtt...🍃🌫️🍃🌫️🍃


Tiba-tiba semilir angin kencang menyapa mereka.Membuat dedaunan jatuh dari rantingnya.


"Waspada,ada sosok yang akan datang."ucap Aksa begitu pelan.


Tak lama muncullah si Nenek tua dengan pakaian putih dan rambutnya yang menjuntai hingga ke tanah.


"Mau pergi kemana Cu ?"


Langkah mereka bertiga pun terhenti dan menatap sosok wanita tua itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.


"Siapa kau ?!?" tanya Aksa.


Hantu nenek tua itu malah tertawa dan berusaha mendekati Aksa.


"Aku akan membawa kalian ke suatu tempat.Lebih tepatnya untuk melenyapkan makhluk itu..."


"Makhluk ?!?" ucap serempak mereka.


🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2