
🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑
Butuh waktu cukup lama untuk Aksa sampai ke kampung Panyawangan.Ia melajukan motor bebeknya dengan kecepatan sedang.Aksa tak bisa memacu motornya lebih kencang lagi karena jalan itu berbatu dan juga menanjak.
Sepanjang perjalanan Aksa merasa ada energi-energi yang mengikutinya.Namun Aksa tak menghiraukannya.Ia tetap fokus mengendarai kendaraan roda dua itu.
Setelah menempuh perjalanan jauh selama 4 jam,akhirnya Aksa sampai di pasar Panyawangan.Ia berhenti di sana dan menanyakan rumah kontrakan pada orang-orang yang berada di sana.
Aksa menghampiri seorang gadis yang tengah duduk di kedai es kelapa muda.
"Maaf Neng,saya mau tanya.Di daerah ini ada rumah kontrakan kah ?"
Gadis itu berpikir sejenak hingga akhirnya ia menjawab pertanyaan Aksa.
"Oh,ada Pak.Dari sini bapak lurus saja terus nanti bapak belok kanan.Di sana ada kontrakan milik Bu Wati.Patokannya di depan rumah itu ada pohon lengkeng yang rimbun."
"Oke,terima kasih ya Neng."
"Iya Pak, sama-sama."
Aksa kembali melajukan motornya dan pergi menuju rumah kontrakan milik Bu Wati.Tak berselang lama Aksa pun sampai di rumah kontrakan itu.Aksa memarkirkan motornya tepat di depan rumah Bu Wati.
Baru saja ia turun dari motornya, sosok wanita paruh baya keluar dari rumah itu.Seorang wanita dengan penampilan sederhana,rambutnya sebahu,tubuhnya cukup berisi dan berkaca mata tebal.
Aksa segera menghampirinya untuk menanyakan tentang pemilik rumah itu.
"Maaf Bu,Bu Wati-nya ada ?"
"Apa Pak ?"
"Saya cari Bu Wati,Ada ?"
"Maaf kalau bicara yang jelas Pak.Bapak cari siapa ?"
Aksa mengernyit heran.Dia merasa ada yang tak beres dengan wanita yang ada dihadapannya itu.
"Saya...cari...Bu...Wati...!" ucap Aksa dengan nada yang lebih tinggi.
"Oh,cari Bu Wati.Itu saya."
Bu Wati tersenyum dan menampakkan deretan giginya yang dihiasi dua gigi emas.
"Ternyata telinganya kurang merespon suaraku yang merdu ini." batin Aksa.
"Ada keperluan apa Pak datang ke sini ?"
"Saya...mau...mengontrak...di rumah...Ibu...!"
Namun raut wajah Bu Wati terlihat seperti orang yang kebingungan.Ia membetulkan kaca matanya yang terlihat longgar.
"Disini tak ada yang jualan otak Pak."
Aksa berusaha menahan emosinya.Ia tetap sabar menghadapinya.
"Sayaaa...mauuu...ngontraaak...di siniii...Buuu...!!"
__ADS_1
"Oh,mau ngontrak.Bilang dari tadi atuh Pak.Ayo ikut saya buat lihat-lihat rumahnya.Kebetulan kontrakannya sedang kosong."
Bu Wati mengajak Aksa masuk ke rumah kontrakan itu.Aksa pun mengikuti wanita itu.
"Beruntung,Aku ini lelaki penyabar..."gumam Aksa sambil mengelus dadanya.
Bu Wati membawa Aksa berjalan ke belakang rumahnya.Di sana ada rumah berwarna hijau muda yang cukup besar.Bu Wati membuka pintu rumah itu.Ia pun mempersilahkan Aksa untuk masuk ke dalam dan melihat-lihat.
"Kamar mandinya di dalam Pak.Airnya air sumur.Tapi sumurnya tak pakai mesin sedot air,jadi airnya harus ditimba Pak."
"Iyaa...Buu...tak apaa...!!"
Setelah melihat keadaan rumahnya,akhirnya Aksa memutuskan untuk tinggal di rumah itu.Aksa pun membayar uang sewa untuk beberapa hari ke depan.
"Ini kuncinya Pak,eh ada satu lagi yang belum saya sampaikan."
"Apaa...?"
"Kata orang-orang,di sini ada hantunya Pak.Makanya banyak yang tak betah tinggal di sini."
Saat mendengar ucapan Bu Wati reaksi Aksa biasa saja.Dan itu membuat Bu Wati jadi heran.
"Tak apaa Buu...! Yang pentiiing merekaa tak mengganguu...!!
"Baiklah kalau begitu,berteman baiklah dengan mereka.Anggap saja mereka tetangga.Hehe..."ucap Bu Wati tersenyum.
Bu Wati pun pergi pamit pada Aksa.Ia membiarkan Aksa melihat-lihat rumah itu.
"Mau banyak hantunya juga tak apa.Yang penting Aku harus bisa membawa Dara pergi dari wanita itu."
Hari mulai senja.Matahari telah tenggelam di ufuk barat.Aksa bersiap untuk melaksanakan shalat maghrib di mesjid yang tak jauh dari rumah kontrakannya.
Ia memakai baju koko dan sarung serta peci putihnya.Dan tak ketinggalan Aksa memakai kumis palsu sebagai penyamarannya.Ia khawatir jika tiba-tiba Hari muncul di hadapannya atau bertemu dengan orang yang ia kenal.
Setelah selesai bersiap,Aksa pun berangkat.Namun saat berjalan menuju ke mesjid, tak sengaja Aksa melihat seorang wanita memakai sepeda lewat depan rumah Bu Wati.Wanita itu terlihat membonceng hantu wanita berkebaya hitam.
"Lama sekali kamu mengayuh sepedanya Ra.Apa tak bisa lebih cepat ?"ucap Putri Dewi.
"Jika kamu mengeluh terus,lebih baik kamu turun saja Putri !"
Aksa terheran-heran melihat pemandangan yang ada dihadapannya.Melihat seorang wanita dan hantu wanita tengah bertengkar.
"Apa itu Dara ?"gumamnya.
Aksa begitu antusias ingin menghampiri wanita itu namun adzan Maghrib telah berkumandang.Ia pun mengurungkan niatnya dan berbalik arah,berjalan menuju ke mesjid.
Sesampainya di sana terlihat imam telah bersiap memimpin shalat maghrib.Aksa segera berdiri di barisan makmum yang terdiri dari beberapa bapak-bapak.
Setelah selesai sholat,Aksa segera meninggalkan mesjid.Ia berencana untuk pergi ke rumah Dara.Ia begitu penasaran pada keadaan Dara.Walaupun Lela sudah menceritakan semua padanya,namun Aksa tak bisa percaya begitu saja pada kuntilanak itu.
Sesampainya di rumah,Aksa bergegas mengunci pintu dan berganti pakaian.Setelah itu Aksa menuju ke kamarnya.Di sana Aksa duduk bersila di atas sebuah tikar.
Aksa mulai memejamkan kedua matanya.Ia mencoba berkonsentrasi.Tak berselang lama,roh Aksa keluar dari raganya.
"Ini saatnya...Aku harus bisa menyingkirkan makhluk itu dan melindungi Dara."
__ADS_1
Roh Aksa pergi menghilang.Dalam waktu persekian detik ia sampai di depan rumah Dara.Aksa bisa merasakan aura negatif begitu kuat bersemayam di rumah itu.
"Sepertinya kekuatan makhluk itu begitu kuat.Rumah ini diselubungi energi hitam pekat."
Baru saja Aksa akan melangkahkan kakinya,ia mendengar suara menyeramkan dari arah belakangnya.
"Mau apa kau datang kemari...?"
Dilihatnya ada sosok hitam besar tengah menatap tajam ke arahnya.
"Aku akan memusnahkanmu..."
FLASHBACK OFF
"Terus ?" tanya Dara yang begitu penasaran.
"Ya begitu lah.Mana mungkin saya ceritakan semuanya.Itu bisa menghabiskan waktu 7 purnama."jawab Aksa.
Raut wajah Dara berubah sedih.Ia ingat pada Bu Sumi.Wanita yang begitu ia sayangi begitu tega berbuat jahat padanya.
"Tak usah memikirkan wanita jahat itu Ra."ucap Putri Dewi.
"Tapi,dia yang sudah merawat dan membesarkan saya.Waktu kecil dulu,dia yang membela saya dari anak-anak nakal.Dia yang selalu membelikan apapun yang saya inginkan.Dia yang selalu menjagaku di saat saya sakit.Dia yang selalu memeluk saat saya sedih."ucap Dara dengan sedih hingga ia tak mampu membendung air matanya.
Aksa dan Putri Dewi hanya saling pandang.Mereka mengerti perasaan Dara saat ini.Kecewa,sedih dan takut bercampur jadi satu.
"Tapi saya bahagia,ternyata Ayah dan Ibu kandung saya masih hidup.Mereka pasti begitu kehilangan karena Bu Sumi membawa paksa saya dari mereka."
"Bersabarlah sebentar lagi Ra.Kita harus memusnahkan makhluk itu terlebih dahulu.Jika kita sekarang bertemu dengan ke dua orang tuamu,saya takut makhluk itu akan menyerang mereka juga."ucap Aksa.
"Iya betul apa yang dikatakan lelaki pura-pura tampan ini.Lebih baik kita di sini dulu dan menyelesaikan semua kekacauan ini." ucap Putri Dewi.
Aksa menatap tajam ke arah hantu wanita itu.Putri Dewi membalas tatapan tajam lelaki itu.
"Dasar hantu konde tak tahu sopan santun...!"
"Dasar lelaki tukang gombal...!"
Mereka berdua malah bertengkar seperti anak kecil yang sedang memperebutkan sebuah mainan.Dara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.
Bersambung...
🎑🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🎑
Maaf up-nya sangat,sangat,sangat telat 😅
Saya hampir saja putus asa,karena daya halu yang berkurang dan kesibukan yg lumayan padat.Tadinya mau saya stop nih ceritanya.Tapi kasian Putri Dewi belum pulang dengan sempurna, terombang-ambing di dunia 😀
Dara juga masa mau jadi perawan tua terus,dia kan butuh kacih cayang 😒😒
Hari juga kasian dia gak nongol2 😆 merasa terbuang...author-nya gk bener 😅
Terima kasih untuk like dan dukungannya 🤗🤗🙏🙏
Ditunggu kritik dan sarannya 🤗🤗
__ADS_1