
suasana terasa semakin memanas antara kedua pasangan suami isteri itu.
amanda mulai merasakan akan adanya tanda-tanda bencana dalam kehidupan rumah tangganya.semakin lama suaminya albert semakin memojokkannya,bahkan tak perduli lagi dengan keberadaanya sebagai isteri di dalam rumahnya.
"albert sayang,apa yang terjadi denganmu.mengapa kau semarah itu padaku?sayang,aku memang sibuk.tapi bukan berarti aku melupakan tanggung jawabku sebagai istrimu,dan juga terhadap anak-anak.dan aku pikir aku sudah cukup menjadi ibu,dan isteri yang baik."
"sudah cukup amanda!aku mulai muak mendengar semua kebohonganmu."
"tapi albert,,"
amanda mencoba menyela perkataan suaminya.
"sudah diam,,,aku tak ada waktu lagi untuk berdebat dengan orang sepertimu!!"
nada suara albert semakin memuncak.dengan tatapan penuh kebencian,ia berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan amanda sendirian yang tengah berdiri mematung,dan di penuhi kegalauan.
bertahun-tahun hubungannya dengan albert memang sudah tidak seharmonis dulu saat pertama mereka baru menikah.
amanda melihat banyak yang berubah dari pria yang pura-pura di cintainya itu.dulunya albert selalu memanjakannya,dan mengikuti segala keinginannya.namun seiring berlalunya waktu,suaminya semakin keras terhadapnya.
kecemasan mulai menggerogoti hati amanda.
"albert,aku takkan membiarkanmu memperlakukanku sesuka hatimu.semakin lama kau semakin berani menentangku. dan aku tidak akan membiarkanmu memperlakukanku seperti ini.pasti albert punya alasan di balik perubahan sikapnya itu dan aku tau,alasan satu-satunya adalah anak sialan itu.ya,santiago.dia pasti sering mempengaruhi ayahnya untuk menyingkirkan ku dari kehidupan mereka."
dengan tergesa-gesa,amanda masuk ke kamar santiago tanpa permisi,ataupun mengetuk pintu kamar itu lebih dulu.
"dasar anak sialan,kaulah penyebab dari semua masalah yang seringkali muncul dalam rumah tanggaku.
apa kau tau,kau hanyalah parasit dalam hidupku dan juga kehidupan albert.harusnya kau malu,sudah sedewasa ini,tapi kau masih hidup menempel bersama ayahmu.
mengapa kau tidak pergi saja dari kehidupan kami santiago?"
dengan mata yang memerah menahan tangisan dan sakit hatinya amanda menyemprotkan kata-kata yang menyulutkan kemarahan anak tirinya itu.
"dasar wanita ******.seharusnya kau yang malu.apa kau lupa amanda,ayahku menikahimu hanya karena dasar kasihan,melihatmu bersama anak-anakmu yang terlunta di jalanan tanpa makanan sedikitpun.jadi kau dan anak-anakmu lah yang menjadi parasit di kehidupan ayahku.
amanda,jangan lupa kalau aku adalah satu- satunya putra dari albert de sanchez.dan kau tidak bisa membuang ku dari kehidupan ayahku.aku bukan lagi santiago kecil yang bisa kau perlakukan seenaknya seperti dulu.kau bahkan menyiksaku selama bertahun-tahun,bahkan mencoba memisahkan aku dari ayah kandungku sendiri!"
mulut amanda menganga mendengar kalimat yang dengan lantang dan berani keluar dari mulut pemuda itu.
anak yang selama ini di anggapnya penakut dan sering di perlakukan kasar olehnya,sekarang sudah berani menghadapinya.
__ADS_1
"kau,,,,kau,,"
"diam amanda.sekarang,silahkan keluar dari kamarku!!"
santiago mendorong amanda keluar dari pintu kamarnya,lalu ia mengunci pintu itu dari dalam.kemarahan amanda dan dendamnya terhadap santiago semakin membara.
semua yang terjadi hari ini,sungguh di luar dugaannya.
ayah dan anak itu benar-benar telah memojokan dirinya,bahkan melupakan kapasitas dirinya di tengah-tengah keluarga itu.amanda kembali naik ke kamarnya dengan perasaan jengkel,dan kebencian yang tak tertahan.
***
sang mega telah menampakkan wajahnya di ufuk timur.pagi-pagi benar,santiago sudah bangun dan mulai mengemasi barang-barangnya.
hari ini,ia dan juga ayahnya akan kekota.hari libur kampus akan segera berakhir,dan sudah waktunya santiago kembali ke kontrakannya di kota untuk melanjutkan studinya.
"selamat pagi santiago,apa kau sedang berkemas-kemas?jika sudah selesai,bagaimana kalau kita sarapan bersama pagi ini.mungkin amanda sudah selesai menyiapkan sarapan,dan setelah itu kita akan segera berangkat."
tuan albert merangkul putranya,dan mengajaknya ke ruang makan.dari jauh sudah tercium bau masakan yang lezat di dapur.
"hallo ayah,santiago,mari kita sarapan bersama.aku sudah menyiapkan sarapan lezat untukmu dan juga ayah.aku tau kau akan kembali ke kota hari ini.jadi,aku bangun pagi-pagi,dan segera menyiapkan ini semua."
piring yang tertata rapi, dan rangkaian bunga yang indah serta hidangan lezat telah tersaji di atas meja makan.
"di mana ibumu diana?"
tuan albert membuka percakapan di antara mereka sambil menuangkan saos pada piringnya.
"ibu dan regina masih tidur ayah.jadi,akulah yang menggantikan pekerjaan ibu di dapur.sebentar lagi mereka pasti bangun."
diana,santiago,dan juga tuan albert menikmati sarapan pagi itu sambil berbincang-bincang.sesekali terdengar tawa mereka akibat candaan tuan albert.
"diana,aku titipkan ayah padamu selama aku di kota tolong rawat dan jaga dia dengan baik.aku tau kau gadis yang baik diana,dan aku yakin kau tidak akan mengecewakan ayah."
"tenanglah santiago,kau bisa mengandalkan aku.segeralah selesaikan kuliahmu dan serahkan ayah padaku kau tak usah kuatir."
santiago menaruh harap penuh kepada salah satu saudara tirinya itu.diana agak berbeda dari adiknya regina.
sikap diana lebih lembut dari pada regina.dan diana sama sekali tidak mewarisi kesombongan ibunya.untuk itulah santiago yakin kalau diana akan menjaga ayahnya dengan sangat baik.?
"apa kalian bertiga tidak ingin mengajakku dan regina sarapan bersama?sepertinya kalian terlihat akrab dan lebih segar pagi ini."
__ADS_1
terdengar suara amanda yang datang menghampiri ruan makan.tuan albert tidak berkata sepatah katapun atau menyapa istrinya.ia tak menghiraukan amanda sama sekali.ia lebih memilih menikmati sarapan lezatnya dari pada harus menyapa Amanda.
begitu juga dengan santiago.
"ibu,regina,kalian sudah bangun?ayo sarapan bersama kami."
diana dengan lembut mengajak ibunya duduk makan bersama.
"oh tidak diana, terimakasih.rupanya aku sedang tidak nafsu makan pagi ini karena ada sesuatu di sini yang membuatku kehilangan nafsu makanku."
kalimat sinis kembali terlontar dengan nada kasar dari mulut amanda di depan santiago dan suaminya.
tiba-tiba,,,
"braaakkk...!!!"
sebuah piring terbang melayang di depan amanda dan jatuh pecah di lantai berhamburan penuh beling.
amanda tersentak kaget.tubuhnya gemetar,matanya melotot menatap suaminya yang duduk di depannya.
"albert,kau benar-benar sudah keterlaluan!berani sekali kau melakukan ini padaku!!"
seperti seekor singa betina,amanda menahan geramnya di depan tuan albert.diana dan santiago saling bertatapan.diana sangat gugup,ia mendekati ibunya dan membujuknya.
"aku keterlaluan katamu Amanda?bukankah dirimu yang jauh lebih buruk dariku,kau bangun kesiangan dan sama sekali tidak mengerjakan tugasmu di rumah ini.dan kau datang merusak sarapan pagiku.di depan semua orang di dalam rumah ini kau menginjak-injak harga diriku sebagai kepala keluarga di sini!!"
tubuh tuan albert gemetar.tangannya mencengkram sendok yang tak sadar di pegangnya sejak tadi.wajahnya memerah dan ia menatap amanda seperti ingin menelannya.
"ayah,sudahlah ayah.kendalikan emosi ayah ingat hipertensi ayah bisa-bisa kambuh lagi yah,ayo duduklah."
santiago menghampiri ayahnya memegang pergelangan tangannya dan mengajaknya duduk.
diana mengambil segelas air putih lalu memberikannya kepada tuan albert.ia menarik nafas dalam-dalam.
"diana,tolong ambilkan obat ayah di laci meja kamarnya.sepertinya darah tinggi ayah kambuh."
mendengar itu,amanda langsung pergi dari situ meninggalkan mereka yang sibuk mengurusi tuan albert.
"tarik nafas dalam-dalam ayah,dan cobalah untuk menenangkan pikiran ayah.kita akan menunda perjalanan kita hari ini."
"tidak santiago,ayahmu ini baik-baik saja.segera sesudah ayah agak baikan kita akan berangkat siang ini.ayah sudah tak tahan berada di rumah ini.ayah ingin menenangkan pikiran ayah dengan ikut bersamamu ke kota."
__ADS_1
sarapan pagi itu tak lagi berlanjut.semuanya dikacaukan oleh ulah amanda.tuan albert meminum obatnya,lalu ia beranjak dari ruang makan .ia di papah oleh diana dan santiago menuju kamarnya dan membaringkan dirinya untuk kembali menenangkan pikirannya.