"NEGERI DI BALIK PELANGI"

"NEGERI DI BALIK PELANGI"
kembali ke kota


__ADS_3

setelah kondisi tuan albert berangsur membaik,ia bangun dan mengajak santiago untuk segera berangkat ke kota.


diana membantu membawakan barang-barang mereka ke dalam mobil, lalu santiago dan ayahnya berpamitan kepada gadis itu.


"baiklah diana,kami berangkat dulu sampai nanti."


"hati-hati di jalan,dan semoga kuliahmu cepat selesai.sukses dalam studimu santiago."


diana melambaikan tangannya.ia berdiri di halaman,sambil menatap mobil yang di kendarai santiago menghilang dari pandangannya.


di dalam mobil tuan albert tertidur.ia di pengaruhi obat yang di minumnya,dan juga pikirannya yang terlalu lelah.


waktu terus berlalu,hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah mewah yang di kontrakan tuan albert untuk tempat tinggal putranya selama ia kuliah di salah satu fakultas kedokteran di kota itu.


jam menunjukan pukul enam petang.santiago membuka pintu pagar rumah,dan memarkir mobilnya tepat di teras depan rumah.


"ayah,lihat mawar-mawar itu.mereka berbunga,dan bunganya tampak sangat segar.padahal aku meninggalkannya dalam waktu yang sudah cukup lama.bagaimana bisa mereka bertahan hidup tanpa ada yang merawatnya?"


jarinya menunjuk ke arah beberapa pot mawar yang ada di teras.santiago memang penggemar bunga,apalagi mawar.


baginya mawar adalah keanggunan da cinta.sejak kecil ia sangat mengagumi mawar.


"nak,kau sama persis seperti mendiang ibumu.ia juga sangat memuja mawar.dan ayah tak menyangka kau juga menyukai mawar."


beberapa tangkai mawar sangat rimbun dan bunganya mekar dengan indah.santiago mengelus kelopak mawar itu.


"akulah yang merawat tanaman ini sampai kau pulang."


mereka terkejut mendengar suara seseorang dari belakang pagar.seorang gadis bergaun merah panjang, dengan rambut ikal yang hitam lebat berdiri di sana.


"maaf, anda siapa?"


gadis itu masuk ke teras rumah sambil mengulurkan tangannya kepada tuan albert dan juga santiago.


"kenalkan aku sisilia. dan aku tetanggamu.aku tinggal tepat di depan rumah ini,di seberang jalan sana."

__ADS_1


sisilia menunjuk ke arah rumah tua yang letaknya tak jauh dari kontrakan itu,dan tepat di seberang jalan.


"aku albert,dan ini putraku santiago."


dengan ramah santiago menyalami sisilia.mereka berjabatan tangan.


"mengapa tangan gadis ini begitu dingin?"


gumam santiago dalam hatinya.tuan albert mengajak gadis itu duduk di kursi teras dan membiarkannya mengobrol dengan putranya.


"silahkan lanjutkan obrolan kalian,aku akan masuk ke dalam untuk membuatkan teh."


dengan beberapa barang di tangannya,tuan albert masuk ke dalam rumah dan membiarkan santiago bersama teman barunya di luar.mereka pun terlibat pembicaraan.


"ayo anak-anak,silahkan menikmati teh panas dan kue kering ini."


tak berapa lama ayah santiago telah kembali dengan membawa nampan yang berisi beberapa cangkir teh dan juga kue.


"terimakasih tuan albert,tapi aku sedang terburu-buru.dan maaf aku tidak bisa berlama-lama lagi,karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan.aku harus kembali ke rumah sekarang."


tanpa menunggu tuan albert selesai bicara,sisilia langsung pergi begitu saja dan menghilang di kegelapan depan rumahnya.


"santiago,mengapa gadis itu langsung pulang tanpa mencicipi teh buatan ayah?"


"entahlah yah,mungkin sisilia sedang terburu-buru .makanya ia langsung pulang.kalau begitu,mari kita nikmati berdua teh buatan ayah dan kue lezat ini."


ayah dan anak itu menikmati nikmatnya kue pie dan teh yang ada di meja.mereka bercanda sambil mengobrol sampai lupa waktu malam mulai berangsur larut.


"nak,sudah waktunya kita makan.sejak tadi siang,kita belum makan apa-apa.ayah akan membuatkan mu salad,lalu kita makan bersama."


"ayah benar.lagipula perutku sudah mulai keroncongan.tapi aku harus mandi dulu,setelah itu kita makan."


santiago merangkul ayahnya.setelah itu mereka masuk ke dalam rumah,untuk menyiapkan apa yang mereka butuhkan malam itu.


***

__ADS_1


langit malam sangat kelam,bintang pun tak nampak di angkasa.hanya suara mobil yang terdengar melewati area di sekitar tempat tinggal santiago.


sepertinya,tuan albert tengah tertidur pulas di kamarnya,dan ia lupa mematikan tv.santiago masuk ke kamar itu mematikan tv lalu menutupi ayahnya dengan selimut tebal.ia pun keluar menuju teras lalu duduk di kursi sambil mengamati sekitar rumahnya.


"sejak kapan sisilia tinggal di rumah tua itu? padahal sudah hampir delapan tahun aku tinggal di tempat ini,tapi aku belum pernah melihat gadis itu.siapa dia sebenarnya?apakah dia pemilik rumah tua,ataukah ia hanya mengontrak di situ.aku lupa menanyakannya."


beberapa pertanyaan mulai mengganggu pikirannya.matanya tertuju ke arah rumah tua di depannya.rumah itu gelap tanpa ada cahaya sedikitpun di sana dan beberapa pohon besar tumbuh dengan daun yang sangat rimbun di pekarangan.


"mengapa sisilia tidak menyalakan lampu rumahnya?apa ia sedang tidak ada di rumah,ataukah ia lupa menyalakan lampu?"


rasa penasaran menghinggapi pikirannya.santiago mulai mengantuk ia pun berdiri dari tempat duduknya dan hendak masuk ke dalam rumah.tiba-tiba seekor kucing hitam melompat keluar dari dalam pagar menuju ke arah jalan raya.


ia terkejut melihatnya.dengan cepat kucing itu berlari menuju rumah sisilia.


"dari mana kucing itu datang?dan mengapa ia melompat keluar dari pagar rumah ini?"


perlahan santiago membuka pagar halaman rumah,lalu menuju ke jalan raya.ia menengok ke kanan dan ke kiri,tak ada siapapun di sana.bahkan mobil tak satupun yang melintas di jalan itu.suasana di jalan raya orchid tempatnya tinggal memang terbilang sangat sepi.jarang ada mobil yang melintas di sekitar tempat itu.


Dengan langkah pasti ia menuju ke halaman rumah tua.rumah itu sangat gelap,dan bulu kuduk santiago mulai merinding.dengan cepat ia membalikan tubuhnya bermaksud hendak kembali pulang ke rumahnya.tapi,


"santiago,kau belum tidur rupanya.apa yang kau lakukan di sini?"


santiago terkejut mendengar suara seseorang di belakangnya.dengan cepat ia melihat ke belakang.


"si...si..sisilia,kau di sini?"


betapa herannya pemuda itu saat melihat sisilia sudah berdiri tepat di belakangnya dengan tubuh kaku,wajah pucat,dan rambutnya yang berantakan sebagian menutupi wajahnya.


santiago bersikap seolah ia tak merasakan apa-apa.ia mencoba memberanikan dirinya menghadapi sisilia meskipun rasanya tulang-tulangnya seperti mau lepas dari tubuhnya.


"oh iya sisilia,aku baru saja melihat seekor kucing berlari keluar dari halaman rumahku.dan aku juga lihat,ia lari menuju rumahmu.untuk itulah aku mengejarnya sampai ke sini."


sisilia tersenyum kaku.


"kucing hitam itu milikku,namanya agata.agata memang suka berkeliaran.agata,,agata,,!""

__ADS_1


dengan cepat kucing itu muncul dari balik semak-semak,dan melompat ke pelukan sisilia membuat santiago tercengang melihatnya."


__ADS_2