[ZEROLINE] ZERO DIMENSION Part 1

[ZEROLINE] ZERO DIMENSION Part 1
Chapter 9


__ADS_3

Pada hari berikutnya. Hope Brilian dan Arthur Nameless sudah berada di penjara tingkat keenam. Penjara tingkat keenam bukan hanya berisikan tahanan perang saja, penjara itu juga berisikan penjahat-penjahat yang sangat kejam dan brutal. Akan tetapi mereka semua bisa dikalahkan oleh Sang Agung dalam sekali pertarungan.


Hope Brilian yang lebih beruntung berada didalam ruangan dapur daripada Arthur Nameless yang harus mengantarkan setiap makanan kepada setiap tahanan. Arthur Nameless juga harus menghadapi setiap godaan wanita yang akan merayunya. Kelemahan Arthur Nameless adalah wanita.


“Jadi kamu agak kurang beruntung, Arthur.”


“Lalu apa masalahnya?”


“Iya juga. Akan tetapi kamu akan mendapatkan banyak rintangan, sebab penjara ini tidak memisahkan laki-laki dan wanita. Jadi mungkin kamu pasti mudah dirayu oleh wanita seksi, benarkan?”


“Sok  tahu! Aku tidak akan tertarik dengan hal itu! Dan semua makanan ini pasti akan diantar ke setiap penjara.”


“Ingat, ya. Setiap tahanan hanya bisa diberikan makanan setiap satu kali sehari saja. Jadi jika ada tahanan yang mengatakan kalau dia tidak mendapatkan jatah makanan, maka kamu akan dihukum berat sama Yang Mulia.”


“Iya. Dari tadi kamu berbicara terus saja, Hope. Bagaimana dengan makanannya apa sudah jadi atau belum?”


“Tentu saja, sudah! Tinggal sedikit lagi.”


“Baiklah. Aku akan menunggu diluar.”


Hope Brilian sedang menyiapkan makanan dan memperindah makanan tersebut dengan beberapa tambahan bahan-bahan, seperti sayuran. Walaupun dia sedang berada di tempat yang buruk, tetapi dia tidak ingin menghasilkan makanan yang juga buruk.


Setelah menyiapkan makanan untuk para tahanan yang jumlahnya lumayan banyak, kemudian dia memberikan satu-persatu kepada Arthur Nameless. Arthur Nameless langsung membawa makanan tersebut kepada para tahanan denga bergerak cepat.


“Hati-hati! Jangan sampai makanan itu jatuh semuanya!”


“Iya!”


Dia berjalan cepat menuju setiap penjara, agar dia bisa membereskan pekerjaannya itu dengan cepat dan lalu istirahat sampai hari berikutnya. Akan tetapi dia tidak tahu kalau dia harus melewati tantangan yang telah dikatakan oleh Hope Briliant.


“Sialan! Mengapa?


“Kami tidak sadar kalau Tuan Jenderal tampan ini membawakan kami makanan. Apakah makanan itu semua untuk kami?”


Dia dihadang oleh tiga wanita yang terlihat memikat dan cantik didepan matanya. Dia tidak tahu kalau pada saat itu semua tahanan sedang waktu bebas mereka artinya mereka boleh keluar dari penjara untuk selama satu jam saja.


Sementara itu. Hope Briliant telah membereskan dua raksasa yang ingin menyerangnya. Dia tidak menduga kalau waktu bebas para tahanan dipercepat oleh penjaga tahanan.


“Siapa yang melakukannya? Apakah dia?”


Hope Briliant menduga kalau waktu bebas para tahanan dipercepat oleh seseorang yang berniat jahat kepadanya atau sedang bermain dengan dirinya. Hanya ada satu orang saja yang bisa melakukan hal tersebut, yaitu Xesa Demonstra. Sebab dia memegang kunci setiap penjara.


“Xesa! Apakah ini ulah kamu?”


Dia berteriak sangat keras kearah atas. Akan tetap dugaannya salah besar, dia tidak tahu jika orang yang melakukan hal tersebut adalah Falcon Wersten.


“Ini terlihat menyenangkan.”


Falcon Wersten sengaja melakukan hal tersebut untuk membalas dendam kepada dua orang tersebut atau bisa dibilang dia ingin melihat mereka berdua tersiksa di penjara tingkat keenam. Dan juga dia telah mendapat izin dari Xesa Demonstra.


Sementara itu. Di Desa Revange terlihat ada keramaian di tengah desa. End Draking yang telah bangun dari tidurnya dan langsung pergi kearah keramaian setelah mendengar sedikit keributan tersebut. Karena dia penasaran apa yang terjadi, jadi dia ingin memeriksa keramaian tersebut.


“Apa yang terjadi, kepala desa?”


“End, kamu sudah bangun, ya. Bagaimana dengan malam pertama kamu di desa ini?”


"Sangat menyegarkan menghirup udara malam dan merasakan suasana malam yang lembut dielus udara yang tenang.”


“Baguslah. Kamu terlihat sangat senang.”


“Dan lalu...”


“Kami mendapatkan kabar duka dari Istana bahwasanya ada penduduk kami yang sedang bertugas telah tewas. Salah satu dari penduduk kami adalah Ayahnya Mina.”


“Aku turut berduka mendengar hal itu. Bagaimana keadaan Mina setelah mendengar hal itu?”


“Kamu pasti akan tahu, jika kamu memeriksanya.”


“Kamu memperbolehkan aku menjenguknya.”


“Iya.”


“Baiklah.”


End Draking pergi mengunjungi rumahnya Mina Vinali untuk memeriksa keadaannya dan juga sekali memeriksa keadaan ibunya yang masih sakit. Setelah sampai didepan rumahnya Nina Vinali, dia melihat banyak orang berada didepan pintu dan juga Nina Vinali yang duduk dengan ekspresi yang tidak enah dilihat olehnya.


Karena merasa kasihan dan juga berduka, dia mendekati Nina Vinali dan lalu mengatakan kalau dia juga berduka atas kematian suaminya Nina Vinali.


“Seharunya aku tidak ingin bicara. Aku juga turut berduka atas kematian suami kamu, Nina.”


“Terimakasih banyak, End. Padahal kamu adalah orang asing tetapi kamu masih merasa kasihan kepadaku.”


“Aku merasa kasihan kepada kalian berdua apalagi dengan kamu, Nina. Kamu yang masih sakit-sakitan, tetapi kamu terlihat sangat tegar mendengar kabar tersebut.”


“setelah mendengar kabar kematiannya, aku tidak merasakan sakit di tubuhku tetapi semua rasa sakitnya langsung berpindah kedalam diriku.”


“Dan lalu bagaimana keadaan Mina setelah mendengar kabar tersebut?”


“Dia masih tidak percaya dengan kabar tersebut. Dia mengurung dirinya didalam kamar.”


“Hmm.... Sebaiknya apakah aku harus menenengkannya?”

__ADS_1


“Silahkan...”


Ënd Draking mengusap kepala Nina Vinali dan lalu masuk kedalam rumah. Dan kemudian dia mengetuk pintu kamarnya Mina Vinali dan ingin berbicara kepadanya.


"Hai, Mina. Bolehkah, aku masuk?”


“Tuan Draking, apakah itu anda?”


“Iya.”


“Maaf, saya ingin sendirian saja.”


“Baiklah. Tapi sebelum itu, aku ingin mengatakan kalau rasa sakit itu akan terus sakit jika kamu tidak ingin menerima rasa sakit tersebut. Tetapi jika kamu menerima rasa sakit tersebut, kamu tahu apa itu rasa sakit dan juga itu akan menghilang begitu saja.”


“Anda tahu dari mana?”


“Karena aku pernah mengalaminya, dan itu adalah kata-kata terakhir dari mendiang kakakku.”


“Benarkah. Anda tidak berbohong.”


“Benar. Jadi bisakah kamu keluar?”


“Baik, aku akan keluar.”


Mina Vinali keluar dari kamarnya dan lalu memelukku dengan sangat kuat. Aku melihat ekspresi wajahnya yang masih menahan rasa sedih atas kabar buruk tersebut. Aku langsung menemukannya dan mengatakan sesuatu kepadanya.


“Ayah kamu pasti akan gembira melihat kamu yang tegar atas kepergiannya. Apakah dia meninggalkan sesuatu kepadamu?”


“Orang itu hanya membawakan jepitan rambut. Kata orang itu, ayah akan memberikan aku jepitan rambut tersebut ketika dia pulang. Akan tetapi dia telah….”


“Ah…”


Mina Vinali menangis karena mengingat perkataan orang tersebut dan jepitan rambut yang berbentuk bunga biru yang akan diberikan oleh ayahnya, tetapi ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu.


Nina vinali mendatangi mereka dengan berjalan menggunakan tongkat. Karena dia masih terlihat sakit, dia masih kesusahan berjalan dengan normal. Dan lalu mengatakan kepada End Draking.


“Terimakasih, Tuan End.”


“Aku tidak berbuat apa-apa.”


“Walaupun anda hanya orang asing, tetapi anda perduli dengan kami, apakah anda merencanakan sesuatu?”


“Maaf? Aku tidak merencanakan sesuatu hal yang tidak baik. Aku hanya lebih mengkhawatirkan kamu yang masih sakit-sakitan.”


“Maaf, aku hanya salah sangka saja.”


“Tidak apa-apa.”


Nina Vinali yang awalnya mencurigai End Draking lagi karena sepertinya dia terlalu dekat dengan keluarganya. Akan tetapi curiganya sudah hilang, karena End Draking memikirkan keadaan dirinya yang masih sakit-sakitan dan juga tidak bisa berbuat apa-apa.


“Silahkan.”


End Draking keluar dan meninggalkan ibu dan anak itu yang sedang membicarakan tentang kabar tersebut. Dia akan masuk lagi ketika sudah dipersilahkan masuk atau keadaan didalam sudah tenang. Dan juga dia akan menanyakan sesuatu yang sedikit menyinggung perasaan.


Diluar rumah. Dia ikut berbicara dengan beberapa penduduk desa yang juga merasa kehilangan dan duka yang dialami oleh Nina Vinali. Penduduk Desa sudah menganggap orang-orang yang telah tinggal lama di desa tersebut merupakan keluarga besar walaupun tidak sedarah.


“Tuan Dokter, apakah mereka akan baik-baik saja?”


“Mereka sudah menerimanya, termasuk Mina. Dan juga berhentilah memanggilku sebagai seorang dokter!”


“Tapi anda yang telah menyembuhkan Nina. Kami melihat Nina sudah bisa berjalan walau Cuma sekitar rumahnya saja.”


“Memang dia sudah bisa berjalan, tetapi kekuatan tubuhnya masih belum memungkinkan untuk melakukan kegiatan fisik yang berat maupun yang lemah.”


“Obat apa  yang dipakai oleh anda, Tuan?”


“Biasanya orang sakitnya parah seperti Nina tidak akan sembuh jika diberi obat dari minyak Deamon Fairy itu.”


“Di daerahku. Ada orang juga pernah mengalami rasa sakit yang dialami oleh Nyonya Nina. Akan tetapi rasa sakit itu bisa disembuhkan dengan obat herbal yang dapat mudah ditemukan.”


“Jadi obatnya apa? Agar jika ada kejadian yang sama seperti ini, kami bisa menghadapinya.”


“Benar. Kami tidak perlu pergi atau menyewa seseorang untuk mengambil Deamon Fairy.”


“Sebelum aku menjawab pertanyaan kalian, bisakah kalian menceritakan asal usul Deamon Fairy itu apakah benar Tanama itu dari surga?”


Aku tidak tahu tanaman itu seperti apa, karena aku belum pernah melihat tanaman tersebut. Jadi apa salah dengan menanyakan pertanyaan tersebut dan juga pasti ada hubungan dengan “surga”.


“Memang benar, tanaman itu dari surga sebab khasiat yang diberikannya sangat ampuh bahkan lebih baik dari teknik penyembuhan tingkat atas. Akan tetapi pertumbuhan tanaman tersebut berada di tempat yang berbahaya dan mengerikan.”


“Oleh karena itulah, kami harus menyewa beberapa pertualang yang berpengalaman dengan bayaran mahal hanya untuk tanaman tersebut.”


“Mengapa kalian tidak beli saja dari pedagang?”


“Tanaman yang langka lebih langka daripada nyawa seseorang tidak akan dijualnya.”


“Baiklah. Terimakasih, aku akan tulis tentang tanaman itu didalam catatanku.”


Dia mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam bajunya yang sebenarnya dia hanya mengambil buku catatan dari dimensi penyimpanan. Dia melakukan hal itu, agar orang-orang tidak tahu akan kekuatannya tersebut.


Setelah hari mau gelap, semua orang sudah meninggalkan rumah Nina Vinali. Hanya ada End Draking yang belum bisa meninggalkan rumahnya Nina Vinali, karena dia belum memeriksa kondisi kesehatannya Nina Vinali dan juga menanyakan hal sesuatu.

__ADS_1


“Jadi mereka semua sudah pergi. Bagaimana dengan kamu, End?”


“Aku akan memeriksa kondisi kamu lagi. Walaupun kamu sudah terlihat sehat, tetapi tubuh fisik kamu terlihat belum sehat sepenuhnya.”


“Bukankah kamu bisa melakukannya pada saat tadi?”


“Aku ini adalah tipe orang yang pelit memberikan ilmunya pada orang lain, selain orang yang aku percayai.”


“Jadi maksud kamu… Jika masih banyak orang di sini, pasti ada beberapa pertanyaan dan juga permintaan mengajarkan mereka tentang hal medis.”


“Jangan menduga bahwa aku tidak ingin menjawab pertanyaan mereka, tetapi pertanyaan mereka pasti akan jatuh ke kehidupan pribadi. Jadi aku .asih tidak niat menjawab pertanyaan tersebut.”


“Baiklah. Itu terserah kamu.”


“Kalau begitu bisakah kita mulai pemeriksaan di kamar kamu.”


“Ok.”


Didalam kamarnya, Mina Vinali tertidur diatas kasur karena dia kelelahan setelah berbicara dengan teman-teman seumurannya tadi. Aku tidak tahu bagaimana anak-anak tersebut mengembalikan kebahagiaannya dalam kesedihannya.


“JKita tidak usah membangunkannya. Jadi kamu memeriksa aku dibawah lantai saja, bagaimana?”


“Tidak apa-apa.”


Seperti kayak kemarin, dia memeriksa kondisi kesehatannya Nina Vinali dengan memeriksa bagian kening dan juga pernapasan jantungnya dan nadinya. Setelah memeriksa kondisi kesehatannya Nina Vinali, dia mendapatkan sebuah kabar baik untuk Nina Vinali.


“Jadi kondisi kamu sudah membaik dan kayaknya besok sudah sembuh. Akan tetapi kamu masih harus minum obat herbal ini untuk mencegah penyakit ini kembali lagi.”


End Draking memberikannya satu obat herbal berbentuk tablet kepada Nina Vinali. Nina Vinali agak bingung dengan bentuk obat yang baru dilihatnya. Jadi dia mempertanyakan bagaimana cara meminum obat tersebut.


“Apakah ini obat? Setahuku obat berbentuk seperti cairan, tetapi ini bentuk padat. Bagaimana cara meminum obat ini? Apakah harus dikunyah?”


“Tidak. Kamu hanya harus menelan langsung obat herbal ini kedalam tenggorokan kamu dan sambil minum air agar obat itu langsung masuk kedalam tenggorokan.”


“Oh… Baiklah. Aku akan ambil air putih dulu.”


“Aku saja yang akan mengambil air putihnya. Kamu duduk saja dan tunggu di sini.”


“Ok.”


Aku mengambilkan air putih untuk minum obat. Setelah mengambil air putih, lalu aku memberikannya kepada Nina Vinali.


“Ini airnya.”


“Terimakasih banyak. Jadi aku tinggal minum obat ini sambil minum air putih, kan.”


“Iya.”


Dia meminum obat tersebut sambil minum air putih. Dan kelihatannya tidak ada masalah dengan hal itu. Setelah meminum obat tersebut, Nina Vinali bertanya apakah obat yang tadi minum berkhasiat atau tidak.


“Apakah obat tadi itu berkhasiat atau tidak?”


“Jika kamu berpikir kalau obat itu tidak berkhasiat, maka kamu hanya harus menunggu saja.”


“Aku tidak mengerti.”


Nina Vinali tidak begitu mengerti dengan perkataannya End Draking tersebut. Walaupun dia tidak begitu mengerti, dia percaya dengan obat yang diberikan kepadanya.


“Jadi bolehkah aku bertanya?”


“Bertanya tentang apa?”


“Mohon maaf jika ini sangat menyinggung perasaan kamu sekarang.”


“Tidak apa-apa.”


“Apa pekerjaan suami kamu, Nyonya Nina?”


“Sebenarnya pekerjaan dia adalah seorang petani. Tapi sebulan yang lalu dia direkrut oleh seseorang dari Istana dan memintanya sebagai seorang prajurit untuk sementara waktu. Tugasnya itu adalah sebagai Penjaga gerbang bagian belakang Istana Kerajaan. Itu yang ditulisnya dalam surat.”


“Oh…”


“Memang ada apa? Apakah kamu ingin menjadi aku sebagai istri kamu lagi?”


“Maaf, ya. Jika mereka tahu aku akan menikah lagi, aku akan mati dalam sekejap.”


“Jadi kamu termasuk seorang suami takut dengan istri.”


“Tidak salah dan tidak benar juga.”


“Hahaha….”


Kami berdua tertawa dan tersenyum setelah berbicara pembicaraan tersebut. Aku khawatir kalau perasaannya akan tersinggung jika aku menanyakan pertanyaan tersebut, tetapi dia tidak apa-apa dengan pertanyaan tersebut.


Tapi jika aku mengatakan kalau aku adalah orang yang membunuh suaminya. Apakah dia akan mempercayai perkataan tersebut atau tidak. Jika iya, dia akan sangat marah besar dan pasti menjauhkan aku dari anaknya bahkan penduduk desa ini juga. Jadi sebaiknya untuk sekarang aku tidak harus mengatakan kalau aku adalah orang yang membunuh suaminya.


Pada keesokan harinya. Aku pergi meninggalkan desa tersebut dan juga meninggalkan sebuah kertas surat didepan pintu rumahnya Nina Vinali. Kertas surat tersebut hanya berisi resep obat untuk menyembuhkan penyakitnya. Walaupun penyakitnya sudah sembuh total, tetapi tidak salah memberikannya resep obat. Dan juga aku telah memberitahu kepergian aku kepada kepala desa.


Mina Vinali berdiri didepan rumahnya sambil memegang kertas surat yang ditinggalkan oleh End Draking kepadanya. Dia ingin sekali mengucapkan selamat tinggal kepada End Draking, tetapi End Draking telah meninggalkan desa Revange pada pagi hari sekali.


“Ibu, apakah dia akan balik lagi?”

__ADS_1


“Ibu tidak tahu apakah dia akan balik lagi ke sini atau tidak? Karena dia adalah seorang pertualang. Jadi kemungkinan besar dia tidak akan kembali lagi. Tapi dia meninggalkan hadiah untuk kamu, kan.”


“Iya.”


__ADS_2