
Tagara mengatakan pada Qia mengenai rencananya untuk mengunjungi perusahaan elektronik milik Andres. Mendengar itu, tentu saja Qia terkejut.
"Sudah ku katakan kau sebaiknya tetap di rumah, Tagara. Kenapa kau memutuskan sesuatu tanpa bertanya lebih dulu padaku?" protes Qia.
"Aku tidak mau membuang-buang waktu lagi, Qia. Lagipula aku mulai mencurigai Jordan sekarang," paparnya.
Qia menarik nafas dalam, kemudian dia menatap Tagara dengan tatapan memaklumi. Qia tau Tagara tak memiliki banyak waktu. Qia hanya khawatir karena kemampuan Tagara untuk melindungi dirinya sendiri belum sampai pada tahap yang cukup.
"Baiklah. Kau boleh pergi, tapi dengarkan ucapanku baik-baik."
"Apa?" tanggap Tagara menyimak.
"Jangan pernah percaya pada siapapun yang nanti kau temui. Termasuk Jordan, jangan menganggap kata-katanya adalah kebenaran."
"Tentu saja," jawab Tagara yakin.
"Sekarang aku ingin bertanya padamu. Kenapa tiba-tiba kau bisa mencurigai Jordan?" tanya Qia.
"Aku tidak tau. Tapi dia mengatakan bahwa perusahaan Andres bangkrut karena koma yang dialami selama 1 tahun. Bukankah kau bilang perusahaan itu sebenarnya tidak bangkrut?"
"Ya. Jadi kau mencurigainya karena itu."
"Hum, seharusnya jika Jordan benar-benar sahabat untuk Andres dia juga mengetahui soal perusahaan itu, kan? Kenapa Jordan malah tak tau dan disini justru Andres menitipkan semua surat asetnya padamu."
"Mungkin Andres hanya belum sempat bercerita pada Jordan. Tapi, entahlah ... mungkin Jordan memang patut dicurigai, siapa yang tau akan hal itu," jawab Qia tak acuh.
"Maka dari itu, ayo kita lihat apakah dia pengkhianat atau bukan," kata Tagara.
Qia terkekeh sekilas. "Kau tampak yakin sekali untuk mengungkap semua teka-teki ini," ledeknya.
"Aku sudah tidak sabar menghapus gelar pecundang yang melekat padaku. Aku juga ingin membantu Andres agar hidupnya lebih baik lagi."
"Kita bahkan tidak tau apa sejatinya Andres masih hidup atau sudah mati," ujar Qia yang wajahnya berubah sendu.
Tagara menepuk pundak Qia. "Kau harus yakin jika dia akan kembali menaungi raganya sendiri. Dulu dia hanya divonis koma, bukan meninggal. Sedangkan aku yang sudah mati saja masih bisa berada disini jadi kemungkinan Andres masih hidup pasti ada asal roh nya bisa menemukan raga yang saat ini ku tempati," ujar Tagara terdengar bijak.
__ADS_1
"Woa ... tumben kata-katamu seperti orang pintar," kata Qia sambil terkekeh.
Tagara ikut tertawa. "Aku tidak mau selamanya menjadi bodoh. Sesekali aku harus berlagak pintar meski aku tidak tau ucapan yang ku katakan bermakna atau tidak," ujarnya.
Qia melongo, kemudian mereka refleks tertawa kencang bersama.
"Baiklah, kalau begitu kau harus menyiapkan diri untuk mengunjungi perusahaan. Mungkin akan ada banyak pihak yang terkejut melihat kedatanganmu, karena para pekerja disana tidak mengetahui kabar tentang Andres. Kabar terakhir mengenai Andres adalah dia kecelakaan lalu koma."
"Kalau begitu semua orang harus tau jika Andres masih hidup."
"Ya. Untuk itu persiapkan dirimu karena ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Terutama, kita tak mengetahui siapa musuh Andres yang sebenarnya. Musuh Andres bisa saja bukan 1 atau 2 orang, mungkin bisa lebih dari itu dan mereka menginginkan kematian Andres yang raganya kini kau tumpangi."
Mendengar itu, nyali Tagara sedikit ciut. Tapi semua keputusan sudah dia ambil. Dia sendiri yang mengajukan pada Jordan untuk melihat perusahaan tersebut, jadi dia juga harus berani mengambil konsekuensinya.
"Kau pasti bisa, Tagara!" batin Tagara bertekad dengan kuat. Meski begitu, rasa takutnya memang lebih dominan ketimbang keberaniannya.
...****...
Pagi-pagi sekali, mobil Jordan sudah terparkir rapi dipekarangan rumah yang ditempati Tagara. Dia mau menjemput Tagara yang dia kira adalah Andres.
"Hmm ..." Jordan pun membantu mendorong kursi roda Tagara. Meski yang dia tau adalah Tagara bisa berjalan, tapi sesuai kesepakatan mereka hal itu tetap akan dirahasiakan dari khalayak ramai.
"Memangnya kau mau apa di perusahaan yang bukan milikmu lagi, Andres?" tanya Jordan setelah mobil itu membelah jalanan menuju perusahaan.
"Tidak ada, hanya melihat-lihat saja, sekaligus mau tau perkembangannya. Aku juga mau orang-orang yang masih mengenaliku disana tau jika aku masih hidup."
"Oh ..." Hanya itu kata yang keluar dari bibir Jordan.
"Apa ada yang salah?" Tagara menatap Jordan dengan tatapan menyelidik. Dia memang tidak bisa membaca intuisi seseorang, tapi Jordan terlihat mencurigakan sejak dia mengajak pria itu ke perusahaan. Apa ini hanya perasaannya saja?
"Tidak ... tidak ada yang salah."
Tagara mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menikmati perjalanan mereka dengan tenang.
Sampai beberapa saat kemudian, Tagara cukup terkejut mendapati bangunan yang tinggi menjulang. Itu adalah perusahaan elektronik milik Andres Wu. Tagara sampai takjub saat melihat betapa besar gedung tersebut.
__ADS_1
"Kau tidak malu menunjukkan wajahmu disini, Andres?" Celetukan Jordan membuat Tagara sadar dari ketakjubannya.
"Maksudmu?"
"Kau sudah bangkrut, lalu masih berani menunjukkan diri disini, ku pikir itu sebuah tindakan yang salah."
"Yang penting aku tidak pernah korupsi saat memimpin perusahaan ini." Tagara tak percaya dengan ujarannya sendiri yang terdengar percaya diri.
"Yah, kau benar," jawab Jordan.
"Kau sendiri yang mengatakan jika aku bangkrut karena keadaan kesehatanku yang tidak memungkinkan untuk mengelola perusahaan ini lagi. Aku koma selama setahun dan tidak ada yang bisa menggantikan aku untuk menghandle semuanya, benar begitu kan?"
Jordan mengangguk ragu. Itu memang yang dia ucapkan pada Andres, pikirnya.
"Lalu kenapa harus malu? Aku tidak menyakiti siapapun." Tagara tentu tak mau bersembunyi terus. Orang-orang harus tau jika pemilik perusahaan yang asli masihlah hidup.
"Maafkan aku, Andres, sebenarnya perusahaan ini bangkrut bukan setelah kau koma, tapi sebelum kau koma ... waktu itu kau sendiri yang sudah menyatakan kebangkrutan mu, kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tidak bisa mengelolanya lagi," akui Jordan pada akhirnya.
Tagara terdiam, dalam pikirannya mengatakan bahwa akhirnya Jordan mengakui juga. Tagara mencocokkan hal ini dengan yang Qia jelaskan padanya, bahwa sebenarnya Andres tidak benar-benar bangkrut, hanya menyatakan kebangkrutan untuk melindungi aset-asetnya.
"Kenapa kau tidak bilang padaku sejak awal?" tanya Tagara.
"Aku hanya berusaha menutupi kekuranganmu yang tidak mampu mengelola perusahaan meski saat itu kau masih baik-baik saja."
"Kau bilang kau sahabatku, bukan? Seorang sahabat harus jujur mengakui meski itu akan menyakitkan," ujar Tagara bijak. Wow, lagi-lagi dia tak menyangka bisa berkata demikian.
"Ya, aku tau. Maafkan aku, Andres." Wajah Jordan menunjukkan penyesalannya. Tagara jadi merasa jika selama ini Jordan hanya tidak diberitahu banyak hal oleh Andres, dengan demikian Jordan benar-benar tak tahu menahu mengenai apa yang terjadi, tapi bukan berarti Jordan adalah pengkhianat yang sebenarnya. Tapi, apa iya?
Mendadak, Tagara mengingat ucapan Qia semalam yang mengingatkannya untuk tidak mudah percaya pada siapapun. Termasuk kalimat Jordan yang tidak boleh Tagara anggap sebagai kebenaran. Bisa saja ini hanya kamuflase dan Tagara merutuki dirinya sendiri yang selalu tidak peka dalam banyak hal. Padahal, jika saja dia pintar sedikit, mungkin dia bisa menebak situasinya. Ah, sial.
"Kalau kau benar-benar mau melihat-lihat perusahaan yang dulu kau kelola, baiklah, aku akan mengantarmu ke dalam," ujar Jordan kemudian yang langsung menyadarkan Tagara kembali pada kenyataan.
"Ah, ya, tentu saja."
...TBC ......
__ADS_1