49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif

49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif
14. Menemui seseorang


__ADS_3

Qia menelepon seseorang yang tidak lain adalah orang kepercayaan Andres di perusahaan. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah tempat rahasia.


Qia tidak mengatakan hal ini pada Tagara, sebab dia merasa Tagara belum bisa mengambil keputusan dengan bijak. Sikap Tagara yang cenderung plin-plan dan tidak berkomitmen cukup merumitkan bagi Qia. Andai yang berada di raga itu adalah jiwa Andres yang sebenarnya, maka dia takkan se-repot ini, sebab Andres memiliki jiwa pemimpin yang tinggi.


Akan tetapi, Qia tetap bersyukur karena dengan dikendalikan oleh Tagara, raga Andres jadi dapat berjalan dan melakukan pergerakan yang lain, meski sebenarnya Qia juga tak yakin Tagara dapat melindungi raga itu dengan kemampuan bela dirinya yang terbatas.


"Kau mau kemana, Qia?" Tagara menanyai Qia yang bersiap untuk pergi, dia melihat jam dan ini belum saatnya jam kerja Qia berakhir.


"Aku permisi sebentar, ada hal pribadi yang mau ku urus."


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Tagara merujuk pada kondisinya.


"Makananmu sudah ku siapkan, kau bisa berjalan dan melakukan semuanya dengan baik. Aku hanya sebentar," jawab Qia.


"Kalau tiba-tiba Jordan atau Agatha datang kesini, bagaimana?"


"Perlakukan mereka dengan biasa. Lakukan hal-hal yang membuat mereka tidak curiga. Jangan biarkan mereka tau bahwa kau bukan Andres."


Tagara sebenarnya tidak siap jika Qia meninggalkannya seorang diri dirumah itu. Kendati dia sudah tau bahwa dia tidak dapat merasakan sakit, tapi tetap saja jiwanya yang penakut akan bingung jika tiba-tiba saja dia harus mendapat serangan mendadak dari musuhnya.


"Aku pergi."


"Hei, tunggu dulu!" cegat Tagara. Dia pun berdiri dari kursi rodanya.


"Apa lagi?" tanya Qia.


"Apa yang harus ku katakan pada Agatha jika aku bertemu dengannya secara tak sengaja? Begini, misalnya dia mendatangiku ... apa aku harus menanyakan padanya terkait hal semalam dimana aku sempat mendengar suaranya di perusahaan?"


Qia memutar bola matanya jengah. "Jangan mengatakan apapun, kau tutupi dulu semua rasa curigamu terhadapnya. Ah, Tagara... hal seperti itu seharusnya tak perlu kau tanyakan padaku. Kau bisa berpikir lagi dengan lebih bijak," katanya mulai kesal.


Tagara manggut-manggut patuh, dan Qia pun pergi dengan bersungut-sungut.


"Kalau saja bukan wajah Andres yang ku lihat saat dia bicara, mungkin aku sudah memukul kepalanya biar dia pintar," gumam Qia sembari terus berjalan ke luar rumah.


...***...

__ADS_1


"Ini, Nyonya ..."


Qia menerima berkas-berkas yang membutuhkan persetujuan Andres tersebut, menelitinya dengan baik, kemudian membubuhkan tanda tangannya disana.


"Saya sudah bertemu Tuan Andres kemarin," ujar orang yang ditemui Qia hari ini. Dia lah yang membawakan semua berkas tersebut ke hadapan Qia.


"Ya. Aku tau." Qia menyahut singkat.


"Tapi beliau tampak berbeda. Apa Tuan Andres masih sakit dan dalam masa pengobatan?" tanya pria itu kemudian. Dia adalah office boy yang kemarin menunjukkan jalan pada Tagara. Tidak salah memang, penilaian Tagara padanya benar jika dia adalah orang kepercayaan Andres disana.


"Rein, jangan membahas hal yang bukan ranahmu. Cukup urus perusahaan, berikan berkas penting, lalu laporkan hal-hal yang mencurigakan padaku," pungkas Qia.


Pria yang dipanggil dengan nama Rein itu menatap Qia dengan tatapan kesal. Dia bahkan berdecak lidah sekarang.


"Terlepas dari tugas yang ku emban di perusahaan itu, aku tetap mempedulikan kondisi kakak iparku, apa aku salah jika aku menanyakan keadaannya?" keluh Rein kemudian, dia melupakan ujaran formal yang sebelumnya dia pakai untuk Qia.


"Sudahlah." Mata Qia tampak menerawang dan berkaca-kaca.


"Apa yang kau sembunyikan dariku, Kak?" tuntut Rein. "Aku adikmu. Kau dan Kak Andres bahkan mempercayakan perusahaan itu ditanganku, tapi kenapa aku tidak boleh tau apa masalah yang saat ini kau hadapi?" desaknya.


"Jadi siapa? Apa Kak Andres memiliki saudara kembar?" Senyuman kecut tersungging di sudut bibir Rein.


"Raganya diisi oleh jiwa yang lain."


Rein terkesiap. Dia menatap Qia lamat-lamat. "Kau serius, Kak?" tanyanya.


"Ya. Untuk apa aku berbohong. Sejak awal aku tau jika itu bukan Andres, suamiku."


Rein tampak mengesah panjang. Sedikit banyak dia mencoba mengerti apa yang Qia rasakan sekarang. Apalagi pernikahan Andres dan kakaknya masih terbilang baru dan itu adalah pernikahan yang tersembunyi. Tentu mereka menikah setelah Andres berpisah dari Agatha karena merasa tidak cocok satu sama lain.


Saat itu, Andres belum mengalami kelumpuhan. Kebahagiaan mereka hanya berlangsung satu minggu. Setelah itu, Andres mengalami kecelakaan dan divonis lumpuh. Andres menjadi pria vegetatif yang sulit melakukan apapun. Bukan hanya berjalan, Andres bahkan jauh lebih parah karena banyak syaraf yang rusak ditubuhnya.


Andres mulai mencurigai jika Agatha adalah dalang dibalik kehidupan tragis yang dialaminya, karena dia pernah mendengar percakapan Agatha lewat saluran telepon dengan seseorang.


Sadar jika hidupnya dikelilingi oleh orang-orang jahat, Andres yang awalnya mau mengumumkan soal pernikahannya pada khalayak, akhirnya memilih menyembunyikan pernikahan itu demi melindungi Qia dari sasaran orang-orang itu.

__ADS_1


Bisa dikatakan, jika saat ini perusahaan itu memang ditangani oleh Qia secara tak langsung. Tepatnya, sejak Andres mengumumkan bahwa dia telah jatuh bangkrut dan perusahaannya di jual pada pihak asing. Andres juga mempercayakan semua dibawah kendali Rein, adik iparnya yang tak lain adalah saudara lelaki Qia.


"Agatha kembali mendekati Andres, dia mengira itu adalah Andres. Sepertinya dia mau bermain cara halus sekarang," kata Qia menjabarkan pemikirannya pada sang adik.


"Ya. Karena yang orang-orang tau, Agatha masihlah tunangan Kak Andres dan dia memanfaatkan hal itu." Rein berspekulasi.


"Apa kau melihat ada orang lain yang patut dicurigai di perusahaan?"


"Sampai saat ini, perusahaan berjalan dengan baik-baik saja. Tidak ada yang mencurigakan tapi Agatha seringkali hadir disana seolah-olah dia masihlah tunangan Andres dan merasa berhak keluar masuk perusahaan."


Qia tidak habis pikir dengan tingkah Agatha, inilah yang membuat Andres harus mengatakan bahwa perusahaan itu bukan lagi miliknya, melainkan sudah dijual pada pihak asing, mereka pikir dengan begitu Agatha akan tau malu untuk datang kesana terus karena menyadari perusahaan itu bukan milik Andres lagi. Nyatanya Agatha tetap kesana dengan tidak tau malunya, sepertinya dia memang mau menyelidiki dari orang-orang dalam mengenai kepemilikan perusahaan tersebut.


"Aku pernah mendengar percakapan Agatha dengan para pekerja disana. Dia mengatakan tidak percaya bahwa perusahan itu kini dimiliki oleh Keluarga Lie, alasannya karena dia tidak pernah melihat salah satu keluarga Lie datang kesana hanya untuk memantau perusahaan," papar Rein.


"Jadi, menurutmu bagaimana? Apa aku harus menunjukkan diriku didepan publik, agar Agatha sadar bahwa perusahaan itu memang sudah berpindah nama atas Dasya Lie?"


Rein menggeleng. "Jangan dulu muncul dengan identitasmu yang asli, Kak. Biar aku saja yang mengecohkan dia."


"Maksudmu?"


"Aku akan muncul disana dengan identitas baru. Bukan sebagai OB lagi, tapi sebagai Reinhard Lie yang sebenarnya."


Qia mengesah pelan. "Tapi ini akan beresiko, Rein. Kau akan terlibat terlalu jauh sedangkan Andres hanya menginginkan kau untuk mengelola perusahaan secara diam-diam."


"Hanya ini cara terakhir, Kak. Agar Agatha berhenti mendatangi perusahaan terus. Aku tidak mau suatu saat dia mendapatkan info yang diinginkannya disana."


Qia tampak berpikir sejenak, sampai akhirnya dia menganggukkan kepala.


"Baiklah. Tapi siapkan dirimu untuk pertarungan yang sebenarnya."


"Hmm," sahut Rein mengangguk. "Bagaimana dengan dia? Maksudku, jiwa yang ada ditubuh kak Andres sekarang?" tanyanya.


"Aku sudah melatihnya banyak hal, ku harap dia bisa melindungi raga Andres saat masa itu datang. Masa dimana orang-orang jahat yang sebenarnya akan muncul secara terang-terangan."


...TBC ......

__ADS_1


__ADS_2