
Jordan akhirnya mendorong kursi roda milik Tagara keluar dari gedung tersebut. Masih dengan sikap yang sama-sama diam, mereka akhirnya memasuki mobil milik Jordan.
"Kau mencurigai ku?" tanya Jordan.
Tagara tak menampik hal itu didalam hatinya, tapi seperti yang tadi dia tekadkan jika dia tak mau mengatakan itu secara terus-terang pada Jordan saat ini juga. Tagara menahan diri untuk mengungkapkan kecurigaannya pada sahabat Andres tersebut.
"Tidak. Kenapa kau berpikiran begitu?' Tagara balik bertanya.
"Ah, syukurlah. Aku pikir kau mencurigaiku."
"Memangnya kalau aku mencurigaimu, kau mau apa?" tanya Tagara lagi.
Jordan menatap Tagara lamat-lamat. "Kau harus percaya padaku, Andres. Aku tidak terlibat apapun yang menyangkut soal kecelakaanmu," katanya.
"Ya sudah," jawab Tagara santai. Dia menggeleng samar akan ujaran Jordan yang seakan meyakinkannya. Apa dia harus percaya hanya dari sebuah omongan jika gelagat Jordan saja terlihat mencurigakan?
Dipertengahan jalan, Tagara dikejutkan oleh sepeda motor yang tiba-tiba memepet mobil mereka.
"Hei, siapa mereka?" Tagara menanyakan hal itu pada Jordan yang tampak kalut.
"Aku tidak tau." Jordan menyahut sekenanya, sebab perhatiannya juga harus terbagi pada jalanan dimana dia mengemudikan mobilnya sendirian diantara para pemotor yang sepertinya sengaja untuk menghadang kepergian mereka.
"Sial. Siapa mereka!" Jordan menepikan mobilnya, membuat Tagara bertanya-tanya.
"Hei, kenapa malah menepi? Harusnya kau tetap mengemudi dan lari dari kejaran mereka!" protes Tagara atas tindakan Jordan.
"Apa kau tak lihat mereka terus memaksa untuk berhenti. Mereka terus menggedor kaca jendela mobil. Aku tidak bisa fokus mengemudi jika mereka terus menghalangi pandanganku!" jawab Jordan keras.
"Lalu, sekarang bagaimana?"
"Apa lagi? Kita lawan mereka, Andres!"
"Aku?" Tagara menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kau dan aku. Kita bisa mengalahkan mereka dengan teknik biasa," ujar Jordan yang mulai melepas sabuk pengamannya.
"Tapi aku lumpuh, Jordan!" kata Tagara mencoba mencari celah agar tidak melawan semua orang yang berniat menyerang mereka.
"Kau sudah tidak lumpuh lagi, Andres! Apa kau lupa!"
__ADS_1
Astaga, Tagara tak ingat jika Jordan mengetahui jika dia bisa berjalan. Sekarang pilihannya hanya ada dua. Tampak bodoh dimata Jordan karena tak bisa melawan, atau justru berusaha menyelamatkan diri dengan kemampuan bela diri yang belum mumpuni.
"Baiklah." Tagara merasa degupan jantungnya semakin berdetak cepat. Tapi mau tidak mau dia memang harus menghadapi hal seperti ini cepat atau lambat.
Tagara melihat Jordan yang sudah keluar dari mobil dan disaat bersamaan Jordan juga menghalau serangan bertubi-tubi dari para pengendara motor yang jumlahnya tidak Tagara ketahui sebab dia tidak sempat menghitung.
Tagara keluar juga dari mobil dan disaat yang sama dia langsung mendapatkan pukulan mentah dari salah seorang diantara penghadang jalannya itu.
Bugh ...
Tagara terhuyung, ini terlihat memalukan karena orang yang memukulnya tampak lebih kecil dari tubuh yang saat ini dia kendalikan.
Tagara ingin membalas memukul menggunakan ilmu bela diri yang sempat dia pelajari dari Qia, tapi belum sempat bergerak, dia sudah lebih dulu menerima tendangan di punggungnya dari arah belakang. Hal itu menyebabkan Tagara terduduk di aspal jalanan.
"Andres! Apa yang kau lakukan!" Jordan bertanya disela-sela kegiatannya membalas pukulan-pukulan yang ditujukan padanya. Jelas dia heran melihat Andres yang dikenalnya tampak lemah seperti ini.
"Ayo bangkit, Andres! Balas mereka!" kata Jordan kemudian.
Tagara merasa bahwa dia benar-benar memalukan. Belum bisa membalas yang satu, sudah mendapat tendangan lagi dari satu yang lain.
Tagara berusaha bangkit, lalu seperti ada dorongan didalam dirinya saat dia kembali merasa dipermalukan seperti ini. Tagara tak mau dianggap pecundang. Dia bukan lagi pecundang. Buktinya tadi dia bisa berujar bijak saat di perusahaan milik Andres.
Tagara menatap tak percaya dengan apa yang dia lakukan. Dia memindai tangan yang dia gunakan untuk memukul, tampaknya tangan ini memang kokoh bahkan Tagara tidak merasakan sakit saat meninju lawannya.
"Aku tidak merasakan sakit!" batin Tagara baru menyadarinya. Bahkan saat tadi dia dipukul hingga terhuyung, sejatinya dia tak merasakan kesakitan.
Bermodal pengetahuan tentang hal khusus yang dimilikinya, akhirnya Tagara memberanikan diri menuju kumpulan musuh yang lain. Setidaknya ada 5 orang lagi disana, yang juga melawani Jordan namun tak kunjung bisa dilumpuhkan.
"Kyakkk!!" Tagara menuju mereka dan tidak peduli dengan pukulan yang akan diterimanya. Lagipula, dia takkan merasa sakit jadi dia pikir dia akan menghajar mereka semua.
Jika tadi Tagara tampak takut, sekarang dia tampak sangat berani. Jordan sampai terheran-heran melihatnya.
Dan hanya dalam waktu beberapa menit, semua orang yang ada disana tersungkur dibuat Tagara.
Tagara terkekeh melihatnya, lebih-lebih lagi menertawai dirinya sendiri yang ternyata sehebat itu. Dia bangga pada dirinya sendiri yang kini punya keberanian hanya karena dia tau bahwa dia takkan merasai sakit.
"Andres! Kau hebat!" puji Jordan. Pria itu mengacungkan jempolnya pada Tagara dan mengajak Tagara untuk kembali memasuki mobil.
Jordan menatap penuh selidik pada Tagara sekarang.
__ADS_1
"Kau bahkan tidak luka sedikitpun. Apa kau belajar ilmu kebal?" tanya Jordan.
Tagara tertawa lagi. Dia masih saja ingat bagaimana tindakannya yang diluar nalar.
"Tapi gerakanmu tadi tampak aneh. Apa nama bela diri itu tadi? Ku pikir kau sedang melawak," kata Jordan, dia ikut terkekeh karena Tagara tak kunjung menghentikan tawanya.
Tagara tak menggubris ujaran Jordan, biar saja Jordan mau mengatai gerakannya yang lucu dan aneh yang penting dia senang karena ternyata dia tidak merasakan sakit.
Mobil kembali berjalan, hingga Jordan mengantarkan Tagara hingga ke kediamannya di pelosok.
Tagara sudah tak sabar untuk mengatakan pada Qia mengenai kelebihan yang baru dia ketahui hari ini. Jika tadi mobil mereka tak diserang, mungkin Tagara takkan pernah tau jika dia memiliki kemampuan kebal seperti itu.
"Terima kasih kau sudah mengantarku hari ini," ujar Tagara. Dia menatap Jordan serius, kejadian penyerangan tadi kembali membuat Tagara gamang apakah Jordan memang salah seorang yang terlibat dalam kecelakaan Andres atau tidak, sebab pria itu tampak dipukuli juga tadi. Sepertinya orang-orang tadi tau jika Andres telah kembali ke rutinitasnya setelah setahun koma dan mau mencelakainya lagi. Mereka semua tak tau jika sekarang jiwa Tagara yang ada ditubuh Andres.
"Sama-sama. Kau juga sudah melindungiku tadi," jawab Jordan.
Andres menyaksikan mobil Jordan yang perlahan menjauh, lalu dia berbalik badan.
"Astaga!" Tagara memegangi dadanya karena terkejut mendapati Qia yang sudah berdiri disana.
"Apa yang kau dapatkan hari ini?" tanya Qia.
"Aku melihat perusahaan milik Andres. Itu besar dan megah."
"Lalu?" Qia tidak puas hanya mendapat laporan seperti itu setelah sekian waktu Tagara pergi.
Tagara lalu menceritakan soal dia yang mendengar suara Agatha, juga soal Office Boy yang mengarahkan jalan mereka. Tak lupa Tagara juga mengadukan pada Qia mengenai kemampuan barunya yang tidak bisa merasakan sakit.
Dari sekian banyak yang Tagara ceritakan pada Qia. Qia tampak tak terlalu terkejut. Yang justru menarik perhatian Qia adalah kemampuan Tagara yang kebal terhadap pukulan.
"Bagus, kalau begitu kita harus mencobamu dengan yang lain. Kau bilang kau tidak merasakan sakit, bukan?"
"Ya, aku tidak merasakan sakit," jawab Tagara pongah.
"Kalau begitu, kita tes untuk menembakmu. Apakah kau akan langsung mati atau justru tidak merasakan apa-apa."
"Apa??!"
...TBC ......
__ADS_1