
"Aku pikir, aku tidak jadi mencurigai Jordan," ungkap Tagara pada Qia setelah mereka selesai latihan menembak lagi hari ini.
Sontak saja Qia melotot saat mendengarnya. "Maksudnya?" tanyanya tak paham.
"Tadinya, saat kami masih berada di perusahaan Andres, aku sangat curiga pada Jordan. Jelas-jelas aku mendengar suara Agatha, tapi dia bilang dia tidak mendengarnya, gelagatnya pun terlihat aneh. Dia juga mendesakku agar aku segera pergi dari sana. Tapi, ketika dijalan tadi, dia juga dipukuli oleh para pengendara motor yang menghadang kami. Dia terlihat melindungi aku disaat aku belum memiliki keberanian untuk melawan mereka," jelas Tagara panjang lebar.
Qia menipiskan bibir melihatnya. "Coba kau pikir, bisa saja semua itu sudah diatur agar kau tidak mencurigainya?" katanya sembari mengendikkan bahu.
Tagara mencoba berpikir sesuai dengan ujaran Qia, tapi yang dia temukan dipikirannya hanyalah Jordan yang membantunya, juga memuji jika dia hebat dengan jurus barunya.
Tagara menggeleng. "Aku rasa tidak. Jordan membantuku, tadi."
Qia mengusap kasar wajahnya sendiri. "Bagaimana aku bisa melepaskanmu sendirian diluar sana, sementara kau tidak bisa membedakan mana lawan dan mana kawan. Kau gampang mencurigai, tapi kau juga mudah mempercayai."
"Jadi menurutmu bagaimana? Apa kau sendiri bisa menilai siapa lawanku yang sebenarnya?" tuntut Tagara.
"Tentu saja. Aku bisa dengan yakin mengatakan bahwa Jordan adalah salah satu orang yang terlibat!" tukas Qia mantap.
"Seyakin itu? Tapi dia memujiku hebat tadi!"
Qia melongo, sesaat kemudian dia geleng-geleng kepala. "Kau percaya padanya hanya karena sebuah pujian yang dia berikan padamu? Begitu?"
Tagara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak juga," jawabnya.
"Jadi, apa kesimpulanmu tentang Jordan?"
"Tidak tau. Tapi aku tidak jadi mencurigainya."
Qia gemas sendiri melihat Tagara yang entah polos entah bodoh ini. Qia sampai menepuk jidatnya sendiri.
"Kau seharusnya tidak plin-plan, Tagara. Aku pastikan jika Jordan adalah salah satu musuh dalam selimut. Jadi, mulai sekarang kau jangan sampai menceritakan apapun padanya, termasuk latihan bela diri yang kita jalani sampai hari ini."
Tagara manggut-manggut. "Tapi musuh dalam selimut maksudnya apa? Aku tidak memakai selimut jika tidur," ungkap Tagara.
__ADS_1
Qia berdecak lidah mendengarnya. "Sudahlah, lama-lama stok kesabaranmu akan habis untuk menghadapimu. Untung saja wajahmu itu adalah wajah Andres, jika tidak ... mungkin aku tidak segan untuk memukulmu!" akuinya dengan gemas.
...****...
Sementara di tempat lain, Jordan mengesah panjang saat dia bertemu dengan Agatha.
"Tidak seharusnya kau berada di perusahaan Andres, Agatha. Dia bisa mencurigaiku!"
"Kau sendiri yang salah, kau tidak bilang mau kesana padaku. Aku kesana untuk menyelidiki soal perusahaan itu karena aku yakin bahwa perusahaan itu belum pernah dijual Andres pada keluarga Lie."
"Terserah kau saja, yang jelas aku tidak bisa melindungimu lagi, Agatha. Aku tidak mau terlibat dengan rencana kalian. Andres itu sahabatku!" tukas Jordan keras.
"Sahabat katamu?" Agatha tertawa mencibir. "Jika kau benar-benar menganggap Andres sebagai sahabatmu seharusnya kau tidak melindungiku. Lagipula, posisiku di hidupmu jauh lebih tinggi daripada posisi Andres yang hanyalah sahabat."
"Maka dari itu, berhentilah mengulah. Jangan lagi membuat masalah dengan mencelakainya. Kau tau kan, apa yang sudah terjadi padanya sampai hari ini. Sekarang dia bahkan terlihat seperti orang bodoh, Agatha."
Agatha malah tertawa kencang merasa ujaran Jordan sangatlah lucu.
"Terlepas dari apapun yang terjadi padanya sampai hari ini, itu semua terjadi karena ulah kalian, Agatha."
Agatha hanya menatapi kuku jarinya dengan cuek, tidak mengindahkan peringatan yang Jordan berikan kepadanya.
Jordan pergi dari hadapan Agatha, kemudian Agatha tersenyum licik.
"Jika Andres bodoh bukankah itu lebih baik? Semua rencanaku akan berjalan dengan lancar dengan membodohinya."
Agatha langsung mengambil ponselnya, dia menghubungi seseorang dan ingin mendiskusikan lagi mengenai Andres.
"Hai," sapa seseorang dari seberang sana.
"Hai. Jordan baru saja menemuiku. Dia bilang Andres mencurigainya sekarang karena tak sengaja mendengar suaraku di perusahaannya, tapi aku sudah meminta beberapa pemuda untuk menghadang kepulangan mereka dan ku harap Andres tidak akan mencurigai Jordan lagi."
"Apa kau yakin? Aku rasa Andres tak mungkin percaya begitu saja jika dia sudah mencurigai Jordan sebelumnya."
__ADS_1
"Sudah ku bilang Andres yangs sekarang itu tampak bodoh, dia pasti akan langsung mempercayai Jordan lagi," jawab Agatha yakin.
"Tapi, setelah ku pikir-pikir, biar saja Andres menuduh Jordan. Itu akan membuat posisi kita aman," ujar seseorang dari seberang panggilan. Dia terdengar memberi usul.
"Kau gila? Bagaimanapun juga Jordan itu adalah kakakku. Aku tidak mungkin menumbalkannya demi keamanan kita."
"Bukan menumbalkannya, tapi itu hanya untuk mengalihkan perhatian Andres agar dia tidak mencurigaimu lagi."
Agatha tampak berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk meski orang disebarang panggilan tak bisa melihat tindakannya itu.
"Kau setuju, kan? Paling tidak sampai Andres kembali menujukkan jati dirinya. Sebab dia sudah berani keluar dari rumah untuk melihat perusahaan. Ada kemungkinan perusahaan itu memang tidak pernah dijual."
"Ya, aku setuju. Aku akan memastikan lagi soal kekayaan Andres jika situasinya mulai kondusif."
Agatha memutuskan panggilan itu kemudian dia larut dengan pemikirannya sendiri.
"Baiklah, Andres. Jika kau sudah terlanjur mencurigai aku maka aku akan membuat kesepakatan padamu. Aku akan mengalihkanmu dari hal yang kau curigai. Saatnya kita bertemu lagi, Sayang," gumam Agatha pada dirinya sendiri.
Agatha mulai memikirkan siasat dan rencana yang mungkin akan membuat Andres takluk dikakinya.
"Meski rencana mencelakai Andres telah gagal lagi, tapi setidaknya itu membuat Andres yang sekarang jadi kehilangan kepintarannya. Dia bisa ku kecoh dengan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya."
Agatha yakin jika rencananya benar-benar matang, maka dia akan membuat tujuannya tercapai. Tentunya dia harus membuat Andres bertekuk-lutut dulu, barulah dia bisa membuat Andres tidak bisa mengelak darinya lagi. Semua harta pria itu bisa Agatha miliki bersama kekasihnya yang sebenarnya.
Bukannya Agatha tidak tertarik pada ketampanan dan kekuasaan Andres, tapi menurutnya pria itu terlalu kaku, dingin dan monoton. Lagipula, Agatha sudah terlanjur menaruh hati pada pria lain dan mencintai pria itu. Sebab itulah dia hanya menginginkan harta dari Andres tanpa melibatkan perasaan.
Agatha tau kekasihnya was-was, takut kalau-kalau Agatha terjerat pesona Andres, tapi tentu Agatha tidak tertarik sama sekali. Apalagi Andres yang sekarang tampak bodoh.
"Saat Andres pintar saja aku tidak tertarik untuk bermain rasa dengannya, apalagi sekarang," kata hati Agatha.
Agatha tidak pernah tau jika yang sekarang ada ditubuh Andres bukanlah Andres yang sebenarnya melainkan itu adalah Tagara. Dia juga tak pernah tau bahwa bukan hanya dia yang memiliki siasat, tapi Tagara pun akan menyusun rencana bersama Qia untuk menghancurkannya.
...TBC ......
__ADS_1