
"Dia melupakan banyak hal. Aku sudah mengonfirmasinya," ucap seseorang dalam sebuah sambungan seluler.
"Apakah dia amnesia?" tanya lawan bicaranya diseberang panggilan.
"Ku rasa tidak, dia masih mengingatku, tapi ada hal-hal yang tidak dia ingat."
"Apa kau yakin jika dia memang tidak mengingatnya? Maksudku ... apa ini bukan rencananya untuk menyelidiki sesuatu terkait kecelakaannya waktu itu? Bisa saja dia berpura-pura lupa."
"Aku yakin. Dia bahkan terlihat seperti orang bodoh."
"Baguslah, itu artinya dia tidak akan mengingat, bahwa dulu dia pernah mencurigai mu."
"Tentu saja, aku akan memanfaatkan kondisinya yang seperti ini. Sepertinya dia akan mudah ku pengaruhi."
"Kalau begitu, jalankan rencanamu dengan baik agar tujuan kita tercapai."
Panggilan itu pun terputus, sebuah senyuman pun terbit disatu sudut bibir Agatha.
"Maafkan aku, Andres. Ternyata melenyapkanmu tidak semudah itu, jadi sekarang aku akan bermain halus dan tidak perlu mengotori tanganku lagi," batinnya.
Awalnya Agatha sangat terkejut mendengar kabar Andres yang sadar dari komanya. Dia takut Andres menuntutnya karena sudah memiliki bukti untuk menjatuhkannya. Itulah mengapa dia tidak langsung menemui Andres saat tau jika pria itu pulih. Namun, setelah menyelidiki lebih jauh, Agatha bersyukur karena Andres tersadar dalam keadaan melupakan banyak hal, termasuk kecurigaan terhadapnya.
"Kalau dengan cara kasar kau tidak lenyap juga, maka aku akan menggunakan cara baik-baik untuk membuatmu hancur, Andres," tekad Agatha.
...****...
Qia melihat Andres yang tampak biasa saja. Tidak ada tanda-tanda pria itu mau menceritakan padanya mengenai apa yang sudah terjadi.
Qia tidak tau apa yang pria itu pikirkan, tapi dia penasaran apa yang terjadi setelah Andres dan Agatha pergi semalam.
"Tuan, apakah semalam Tuan pulang larut?" tanya Qia memberanikan diri. Dia memang tak mengetahui hal itu, karena pukul 5 sore jam kerjanya sudah berakhir dan dia pulang dari kediaman Andres.
"Tidak, sehabis makan malam aku langsung pulang."
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Qia dengan raut khawatir.
"Tak ada." Tagara tidak seterbuka Andres yang bisa menceritakan segala hal pada Qia, apalagi dia juga belum tau mau mempercayai Qia atau tidak. Yang dia nilai adalah Agatha baik padanya dan tuduhan Qia terhadap Agatha tidak berdasar jadi itu tak patut dia pikirkan.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan." Qia meninggalkan ruangan itu dengan wajah lesu. Dia semakin yakin jika sebenarnya yang sekarang duduk di kursi roda itu bukanlah Andres, walau entah bagaimana, rupa dan fisik mereka tampak sama persis.
Tagara mengembuskan nafas kasar. Dia sebenarnya juga bingung harus mempercayai siapa disini. Tapi yang jelas, dia sudah tau bahwa hidup Andres dikelilingi oleh orang-orang yang tidak bisa ditebak.
"Agatha baik, Qia juga baik." Tagara memikirkan siapa yang patut dia percaya. Jordan bilang Agatha adalah gadis yang baik dan Tagara sudah melihat jika ujaran itu benar adanya. Sedangkan Qia, apakah Tagara juga harus menanyakan tentang Qia pada Jordan?
"Saat ini yang ku percayai hanya Jordan," batin Tagara. Dia juga tak tau kenapa dia mempercayai pria yang mengaku sebagai sahabatnya itu. Entahlah dengan Keenan. Sepertinya kakak Andres itu juga begitu menyayangi adiknya.
"Semua orang berkamuflase menjadi baik didepanku. Tapi aku harus pintar mencari tau sifat mereka sebenarnya, sebelum 49 hari berakhir dengan sia-sia," gumam Tagara.
Sudah 2 hari terlewat dan kini tersisa waktu 47 hari lagi. Tagara berharap sebelum harinya habis maka dia sudah mendapatkan jawabannya dan menghukum pelakunya.
Tagara berdiri dari duduknya kemudian memandang ke luar jendela. Dia bertekad untuk mendapatkan siapa pelakunya. Tapi dia juga sadar jika dia tak mempunyai bekal apapun untuk memulai penyelidikannya.
"Tuan ..."
Entah kapan Qia masuk lagi ke kamarnya, tapi sekarang wanita itu tampak tidak terkejut sama sekali saat melihat Tagara yang tidak duduk di kursi rodanya.
"K-kau ..." Tagara kehabisan kata-kata. Sebenarnya Qia memang sengaja memergoki dia saat dirinya sedang berdiri seperti saat ini.
Tagara pias, namun dia tak bisa mengelak lagi kali ini.
"... siapa kau? Kau bukan tuan Andres!" tuding Qia kemudian.
Tagara menundukkan kepala. Skakmat, dia tak dapat menjawab tuduhan Qia yang benar adanya.
"Aku tau kau meragukan kebenaran yang ku katakan. Dari yang ku lihat, sepertinya kau menganggap Agatha wanita baik, sehingga kau pasti merasa ucapanku kemarin hanyalah omong kosong," ujar Qia blak-blakan.
"Ya, dia memperlakukanku dengan baik."
"Karena dia sudah lelah menggunakan cara yang tidak baik, jadi dia mau memanfaatkan ketidaktahuanmu saat ini."
"Benarkah?" Alis Tagara menyatu, menunjukkan keraguannya pada ucapan Qia.
"Kau boleh saja tidak mempercayaiku, aku juga tidak memaksamu untuk percaya padaku. Tapi jika Agatha mengajakmu menikah, buatlah perjanjian pranikah dengannya," usul Qia.
"Kenapa?"
__ADS_1
Qia menarik satu sudut bibirnya. "Karena Tuan Andres tidak benar-benar jatuh miskin dan sepertinya Agatha mengetahui itu."
Sontak saja pernyataan Qia membuat wajah Tagara terkejut. Apalagi ini? Kenapa Qia tau mengenai hal ini?
"Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?"
"Karena semua surat aset milik Tuan Andres dititipkan padaku, sejak dia mencurigai Agatha yang sudah bertunangan dengannya."
Tagara semakin syok dengan hal ini, terlebih setelah mengatakan hal itu Qia menunjukkan surat-suratnya didepan matanya. Apa selama ini Qia bukan asisten rumah tangga biasa? Kenapa Andres menitipkan semuanya pada wanita ini? Sepercaya itukah Andres padanya? Begitulah pemikiran Tagara sekarang.
"Bisakah kita saling terbuka sekarang? Aku tau kau tidak mungkin langsung mempercayaiku. Tapi yakinlah bahwa tujuan kita sama yaitu mencari dalang dari semua kejadian yang menimpa Tuan Andres," lanjut Qia.
Tagara melihat uluran tangan Qia yang menunggu untuk dijabat olehnya. Dia ragu, tapi melihat mata wanita itu yang tampak meyakinkannya maka dia bisa menilai jika Qia adalah orang yang bisa dia percaya.
"Aku Tagara. Kesempatanku hanya 49 hari dan sudah 2 hari terlewati tanpa ada titik terang sama sekali."
Qia tak terkejut sama sekali. Dia sudah menduga hal semacam ini memang ada dalam kepercayaannya.
"Baiklah, kita akan menuntaskan misinya," jawab Qia tenang sembari berjabat tangan dengan Tagara.
"Hemm..." Tagara mengangguk, satu pertanyaan kemudian terlontar dari mulutnya. "Apa aku bisa mempercayai Keenan dan Jordan?" tanyanya.
"Entahlah." Qia mengendikkan bahu. "Saudara ataupun sahabat tidak pernah terlalu dekat dengan Andres selama ini," ujarnya.
Mata Tagara membola. "Aku sudah terlanjur mempercayai Jordan," katanya.
"Aku tau. Kau mempercayainya atas dasar apa?"
"Mungkin karena dia mengaku sebagai sahabatku."
Qia tertawa pelan. "Kau polos atau bodoh? Sepertinya kau tidak cocok berada di tubuh Tuan Andres," katanya mengakui.
Tagara sebenarnya tak suka dengan pernyataan Qia yang terang-terangan mengejeknya, tapi dia di masa lalu memanglah bodoh, itu sebabnya dia menjadi pecundang seumur hidupnya.
"Jangan dipikirkan." Qia menepuk pundak Tagara. "Aku hanya bercanda, aku akan membantumu menyelesaikan semua ini, Tagara," katanya dengan senyum penuh keyakinan.
...TBC......
__ADS_1