
Saat menginjakkan kaki di perusahaan tersebut, banyak mata yang memandang Tagara dengan tatapan kaget. Ada yang sampai melotot tak percaya saat melihat kehadirannya, juga ada yang refleks berdiri dari kursi kerjanya.
"Tuan Andres?!"
Beberapa dari mereka bahkan berseru dengan wajah kaget yang tidak bisa ditutupi.
Seorang pria paruh baya, menghampiri Tagara dengan gelagat panik dan tergesa-gesa.
"Tuan Andres, senang dapat melihat anda kembali dalam keadaan sehat," ujar pria itu yang Tagara tentu tak tau namanya.
"Ya. Terima kasih," ujar Tagara sebagai Andres. Dia harus bersikap tenang, tidak boleh terlihat bodoh. Setidaknya itulah pesan yang Qia sampaikan padanya sebelum dia berangkat bersama Jordan pagi ini.
Tagara tak tau siapa orang di perusahaan ini--yang mengetahui jika dia--masihlah pemilik yang sebenarnya. Siapa kiranya yang Andres percayai untuk mengelola semua ini tanpa namanya? Entahlah, Tagara pusing memikirkannya.
"Pak Choi, siapa yang sekarang menjadi pemilik Perusahaan elektronik ini?" tanya Jordan. Disanalah Tagara tau jika pria paruh baya tersebut bernama Pak Choi.
"Perusahaan ini sekarang dimiliki pihak asing, Tuan."
"Aku tau. Tapi siapa nama pemiliknya?" Jordan seakan lebih penasaran dari Tagara. Tampaknya dia juga ingin tau, atau justru menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan yang dulu diketahuinya sebagai milik sahabatnya, Andres.
"Perusahaan ini sekarang dimiliki oleh keluarga Lie."
"Keluarga Lie?" ulang Jordan sembari menatap Tagara. Tagara menggeleng sebagai respon, padahal tak seharusnya dia memberi isyarat semacam itu.
"Ya. Kabarnya Keluarga Lie yang membelinya dari Tuan Andres."
Jordan langsung menatap Andres. "Kau menjual perusahaan ini pada keluarga Lie?" tanyanya.
Tagara yang tak tau apapun, akhirnya menghindar dengan mengajak Jordan ke lantai yang lain untuk kembali melihat-lihat.
"Bisakah kita membahasnya nanti? Tidak enak jika dilihat dan didengar banyak orang disini."
Padahal, Tagara sendiri tak tau kenapa Jordan harus sekaget itu ketika mendengar nama keluarga Lie. Tagara juga tak tau apa hubungan antara Andres dan keluarga tersebut, hingga nama itu terseret sebagai pihak pembeli perusahaannya yang dikabarkan telah bangkrut.
"Apa ini hanya akal-akalan saja? Menyebut nama salah satu keluarga yang padahal perusahaan ini tak pernah dijual?" batin Tagara bertanya-tanya.
Tidak jauh berbeda begitu mereka naik ke lantai atas, disana Tagara ditatap dengan mata-mata para pekerja yang bingung dan tampak terkejut.
"Mereka pasti tak menyangka kau masih hidup, Andres," bisik Jordan yang masih dapat didengar Tagara.
"Seharusnya mereka tak perlu terkejut jika berita kematianku belum pernah diumumkan atau disiarkan di kanal berita manapun," jawab Tagara realistis.
__ADS_1
Tapi rupanya hal itu membuat Jordan menatap Tagara dengan sorot aneh. Disinilah Tagara merasa ada yang disembunyikan oleh pria yang mengaku sebagai sahabat Andres tersebut.
"Kenapa? Kau tau sesuatu?"
"Ti-tidak," jawab Jordan yang terlihat gugup.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan apapun padaku, tapi seperti yang tadi ku katakan, jujur akan lebih baik walau itu menyakitkan."
Tagara tersenyum miring menyadari kosa-katanya yang lagi-lagi terdengar seperti orang bijak. Itu menunjukkan jika jati dirinya sebagai pecundang tidak berlaku lagi sekarang. Entah kenapa sejak menggunakan tubuh Andres, sepertinya membuat rasa percaya diri dalam diri Tagara tumbuh begitu saja, sehingga menyebabkan dia mampu berkata layaknya orang pintar.
Tapi, Tagara tak yakin jika itu dia ucapkan sebagai dirinya sendiri maka akan tetap terdengar bijak juga.
Sepertinya, raga Andres memang menguntungkan Tagara, buktinya orang-orang mau mendengarkan setiap kosa-katanya dengan baik dan tidak mengabaikannya. Padahal dimasa hidupnya dulu, jangankan mendengarkannya, meliriknya saja enggan dilakukan orang lain.
...****...
"Kalau kau sudah puas melihat-lihat dan berkeliling disini, ada baiknya kita pulang saja, Andres," ajak Jordan.
Tagara mengangguk setuju, lagipula dia sudah jenuh duduk terus di kursi roda, kakinya terasa pegal dan ingin diluruskan.
Seseorang yang mendampingi mereka berkeliling di perusahaan itu adalah pria muda berseragam office boy. Dia mengarahkan jalan keluar untuk Tagara dan Jordan dari sayap kiri perusahaan.
Namun dahi Tagara langsung berkerut begitu sampai didekat ruangan yang cukup tersembunyi disana. Dia mendengar suara yang tidak asing. Sepertinya dia mengenal suara tersebut.
Tagara melirik Jordan, pria itu seperti mengalihkan perhatian Tagara dengan mendorong kursi rodanya lebih cepat. Tagara menyadari ada yang tidak beres. Dia meminta Jordan melambatkan dorongannya.
"Aku mendengar suara Agatha," kata Tagara.
"Kau bercanda? Tidak mungkin Agatha ada disini." Jordan jelas mengalihkan.
"Di ruangan itu, yang baru saja kita lewati."
Kali ini tatapan Tagara tidak lagi menatap pada Jordan, dia beralih pada sang office boy dan pria itu seolah memberi isyarat padanya bahwa yang dia katakan tadi benar. Agatha ada disana. Office boy itu mengangguk padanya sebagai kode.
Disinilah Tagara berpikir cepat, otaknya seakan dipaksa untuk bisa menyadari situasi dengan tanggap dan peka.
Tagara pikir, Office boy inilah yang mengarahkan jalan mereka, itu artinya pria itu sengaja agar Tagara memergoki Agatha disana. Apa tujuannya? Dan siapa sebenarnya office boy ini? Begitulah pemikiran Tagara.
"Aku mau mengeceknya ke ruangan itu, Jordan." Tagara berkata tenang namun menekankan.
"Tidak usah. Kita hanya perlu segera pulang."
__ADS_1
"Kau mau mendorong kursi rodaku kesana atau aku yang akan berjalan sendiri ke ruangan itu?" sergah Tagara.
Tagara sendiri tak yakin dia seberani itu, namun entah kenapa rasa penasarannya membuatnya berani mengambil keputusan tersebut, padahal dia tidak tau apa hal yang akan dia hadapi setelah membuka ruangan yang ada disana.
Jordan menyengir kuda. "Andres, ku pikir kau bermimpi dan sepertinya kau sangat merindukan Agatha, maka dari itu kau merasa mendengar suaranya, aku tidak mendengar apapun," katanya memberi pengertian.
Andres menatap sang office boy, dia tau orang ini akan berpihak padanya jika dilihat dari arah jalan yang sengaja ditunjukkan pada mereka.
"Kau mendengar ada suara wanita disana tadi?" tanya Tagara pada sang OB.
Office boy itu menggeleng, namun dia berkata pelan. "Aku tidak yakin, tapi jika ingin membuktikannya, anda bisa mengecek sendiri ke ruangan itu," katanya dengan satu kali kedipan mata pada Tagara.
Tagara yakin pria ini adalah orang kepercayaan Andres di perusahaan. Dengan statusnya yang hanya office boy, maka dia takkan dicurigai, pikirnya.
"Baik, kita kesana!" Tagara hendak bangkit dari kursi rodanya, karena Jordan tidak juga bergerak.
"Apa yang kau lakukan, Andres? Seseorang bisa saja tau jika kau dapat berjalan," bisik Jordan menyadari pergerakan Tagara.
"Kau mengulur waktuku, aku tidak sabar denganmu!" kata Tagara yang menatap Jordan dengan sorot tajam.
Seketika itu juga Jordan yakin bahwa kini dia dicurigai. Akhirnya dia membawa kursi roda Tagara ke ruangan sebelumnya--yang tidak tertutup rapat--pasti orang yang ada didalamnya juga sempat mendengar perdebatan Tagara dengan Jordan, hingga menyebabkan ruangan itu kini hening tanpa suara.
"Buka pintunya," titah Tagara.
Dengan perlahan tapi pasti, Office boy itu mendorong pintu dan ternyata disana tidak ada siapapun.
"Kau lihat? Disini tidak ada siapapun." Jordan bersuara. Dia terlihat mengesah nafas panjang yang Tagara artikan bahwa Jordan memang menyembunyikan sesuatu daripadanya.
"Hei, kau ... bisakah kau periksa semua ruangan ini? Aku yakin mendengar suara Agatha disini," kata Tagara memerintah sang office boy itu.
"Baik, Tuan."
Tapi, pergerakan office boy itu terhenti kala Jordan mencegah langkahnya. "Tidak perlu. Kita bisa lihat ruangan ini kosong, kenapa membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting," katanya.
Tagara mendengkus pelan, dia melirik office boy yang bahkan tak dia ketahui namanya itu dan pria muda itu mengangguk lagi sebagai kode terhadap Tagara.
Tagara tak paham apa arti dari isyarat yang diberikan sang office boy kali ini. Tapi, dia punya sebuah kesimpulan dalam hatinya yaitu Jordan pasti terlibat dalam segala sesuatu yang menimpa Andres.
"Kita kembali saja," kata Tagara akhirnya. Disitulah dia dapat melihat Jordan yang menghela nafas lega.
Tagara takkan menyatakan kecurigaannya pada Jordan secara terang-terangan. Dia akan mengumpulkan semua kecurigaannya menjadi satu, lalu menguliti Jordan jika memang semuanya sudah terbukti. Kita akan menunggu tanggal mainnya, Jordan, begitulah isi kepala Tagara sekarang.
__ADS_1
...TBC ......