49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif

49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif
7. Berlatih


__ADS_3

Mulai sekarang, Tagara berusaha untuk mempercayai Qia. Selain dari wanita itu, dia tidak akan mudah mempercayai. Mengenai Jordan, Qia meminta Tagara bersikap biasa saja, terbuka seperti biasanya tapi tidak menceritakan mengenai jati dirinya yang sesungguhnya.


"Baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha waspada pada semua orang yang ku temui," tekad Tagara.


Qia kembali menyimpan semua surat aset milik Andres. Dalam hati, dia tidak tau jika Andres yang sebenarnya masihlah hidup atau justru sudah mati. Hal ini sebenarnya turut menggangu pikirannya, hanya saja dia meyakinkan diri bahwa kedatangan Tagara dalam raga Andres mungkin sebuah jawaban untuk mempermudah rencana mereka.


"Aku pikir aku beruntung karena mendapat kesempatan hidup sekali lagi, tapi ternyata menjadi orang lain tidak semudah itu," gumam Tagara.


Qia cukup mendengar ujaran pria itu, dia pun merespon singkat.


"Terkadang kita merasa hidup kita yang paling buruk. Kita juga menginginkan menjadi orang lain hanya dengan melihat kehidupannya lebih baik dari yang kita jalani, padahal jika kita menjalaninya ... kita belum tentu mampu seperti dia."


"Kau benar. Dulu aku seorang pecundang, memandang hidup orang lain seolah lebih diberkati daripada hidupku."


"Lalu apa sekarang kau masih merasa begitu, setelah hidup di raga Andres?"


"Aku masih merasa sama. Bahkan sebelumnya kau menganggapku bodoh. Kau benar, tidak ada yang bisa ku lakukan dengan tubuh ini," katanya pesimis.


Qia menarik satu sudut bibirnya. "Kau adalah yang terpilih, untuk itu jangan terus menganggap dirimu seorang pecundang. Kau harus membuktikan jika kau mampu sebab kesempatan tidak akan datang 2 kali," ujarnya bijak.


Tagara mengulas senyum, dia cukup merasa tenang dengan kalimat Qia yang terkesan mensupport-nya. Berbanding terbalik saat dulu dia hidup hanya menjadi cemoohan orang-orang sekitarnya.


"Kau lahir di tahun berapa?" tanya Qia.


"1957," jawab Tagara.


"Kau cukup tua. Sekarang tahun 2022," kata Qia.


"Yah, semuanya sudah serba bagus. Aku bahkan baru melihat model pakaian modern yang kini ku kenakan. Juga alat komunikasi yang begitu canggih."


"Kau mempunyai perusahaan elektronik jika kau lupa," peringat Qia.


"Bukan aku, tapi itu milik Andres."


"Maka dari itu, belajarlah menjadi Andres yang sebenarnya."


Tagara mengangguk. Qia membantunya menjadi sosok Andres yang tidak mudah ditindas. Andres pandai bela diri, memanah, bahkan dia juga bisa menembak. Sekarang Tagara tau ternyata Andres bukan hanya memiliki visual yang sempurna, tapi dia juga memiliki banyak keahlian lagi selain kecerdasan yang juga mumpuni.


"Aku merasa tidak cocok hidup ditubuh Andres, dia dan aku adalah umpama yang berbanding terbalik. Kau bilang Andres itu pintar, sementara aku bodoh," keluh Tagara.


Qia tak bisa menahan tawanya, meski wajah Tagara tampak lesu, tapi ini seperti hiburan tersendiri buatnya. Kapan lagi dia bisa melihat wajah Andres yang biasanya garang menjadi selemah ini? Ini semua karena Tagara yang menguasai tubuh itu hingga ekspresi yang dikeluarkan Tagara pada wajah Andres tampak lucu dimata Qia.


"Maka dari itu, kau harus membuktikan jika kau juga bisa seperti Andres. Jangan sia-siakan kesempatan ini, kapan lagi orang akan menilaimu sebagai pria pintar, kaya dan tampan."

__ADS_1


"Tapi yang mereka ketahui sekarang aku adalah pria lumpuh dan miskin karena jatuh bangkrut."


"Kau benar." Qia setuju dengan ujaran Tagara kali ini. "Bungkam mereka dengan kekayaaan yang kau miliki di waktu yang tepat nanti," tuturnya.


"Jadi untuk sekarang aku harus tetap berpura-pura miskin?"


"Ya, karena hanya kita berdua saja yang tau bahwa aset itu masih ada."


"Keenan?"


"Dia juga tak tau."


Tagara terdiam, dia mau menanyakan pada Qia apa yang harus dia lakukan setelah ini.


"Pertama-tama, kau harus meyakinkan mereka semua, jangan sampai ada yang mencurigai mu seperti aku yang tau jika kau bukanlah Andres."


"Apa yang harus ku lakukan?"


"Belajar."


"Belajar?" ulang Tagara.


"Ya. Kau belajar bela diri dan menembak."


"Percuma saja ada aku," kata Qia mengendikkan bahu acuh tak acuh.


Mata Tagara membola. "Kau bisa melakukan semua itu?" tanyanya.


"Yah, aku bahkan bisa memanah seperti semua yang Andres lakukan. Apa kau meragukanku?"


"Tidak ..." Tagara mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku percaya. Mari kita mulai," lanjutnya bersemangat.


Hari itu, Qia mengajarkan Tagara melakukan berbagai dasar-dasar bela diri. Taekwondo, karate, bahkan judo dan kungfu bisa dilakukan oleh Qia. Tagara sampai terheran-heran melihatnya.


"Berhenti menunjukkan wajah bodohmu itu," kekeh Qia melihat ekspresi Tagara. Dia bukan bermaksud mengejek, hanya saja, dia tak bisa menahan tawa setiap melihat wajah Andres yang biasanya serius jadi tampak bodoh hanya karena dikendalikan oleh Tagara.


"Berhenti juga mengatakan jika aku bodoh," kata Tagara.


Qia tak menggubris. Dia meminta Tagara memasang kuda-kuda, lalu memperhatikan sikap tubuh pria itu.


"Ya, sudah lebih baik," ujar Qia setelah berkali-kali Tagara melakukan kesalahan hanya dari sikap berdiri nya saja.


"Uhm, bagaimana dengan Jordan? Sejak awal dia mengetahui kalau aku sehat dan bisa berjalan, karena dia yang pertama kali menemukanku di ruang perawatan di Rumah Sakit waktu itu," kata Tagara menjelaskan.

__ADS_1


Qia berpikir sejenak. "Tak masalah. Jika dia termasuk salah satu orang yang ternyata menginginkan kehancuran Andres, biar saja dia mengetahui jika sebenarnya Andres tidak selemah yang mereka pikirkan."


Tagara mengulas senyum. Dia senang Qia tak menyalahkan kecerobohannya waktu itu yang sudah langsung mempercayai Jordan begitu saja.


"Selain Agatha, siapa lagi yang pernah Andres curigai?" tanya Tagara pada Qia.


Qia menggeleng. "Belum ada nama lain, tapi aku dan Andres yakin bahwa Agatha tidak mungkin bergerak sendirian."


"Ya, dia pasti bersekongkol dengan seseorang."


Qia tertawa. "Kau bisa berpikir sekarang?" ledeknya.


"Aku memang bisa berpikir, meski pemikiranku lebih sering meleset," akui Tagara.


Qia menepuk-nepuk pundak Tagara dengan akrab. "Setelah ini kita berlatih menembak," katanya tenang.


"Me-menembak?" Tagara tampak gelagapan. Mendadak telapak tangannya terasa berkeringat.


"Jangan gugup. Kau harus bisa memegang senjata karena setelah ini kita tidak tau apa yang akan terjadi padamu. Kedepannya, kau bahkan harus membawa senjata kemanapun kau pergi," terang Qia.


Tagara pucat. Dia bahkan tidak bisa membedakan mana pistol asli atau palsu. Kecuali pistol mainan, Tagara tak pernah memegang senjata yang bisa mengeluarkan peluru.


"Andres dikelilingi oleh orang-orang yang baik didepannya, tapi dibelakangnya bisa saja ada orang yang ingin menusuknya. Jadi, kau harus lebih berhati-hati saat berada dalam raganya," peringat Qia.


Lagi-lagi Tagara hanya bisa mengangguk. Meski sebenarnya dia takut dengan hal semacam ini. Dia menelan ludah dengan susah payah. Ini seperti film-film action, pikirnya. tapi sekarang dia harus menghadapi berbagai macam wajah yang tidak dia ketahui apa maunya.


"Kalau boleh aku tau, apa sebenarnya yang diinginkan oleh orang-orang yang ingin mencelakai Andres?" tanya Tagara.


Qia menipiskan bibir. "Apalagi jika bukan harta dan kekuasaan," katanya.


"Andres adalah pria yang tampan, tapi kenapa Agatha mau mencelakainya dan berpura-pura menyayanginya? Apa Agatha tidak tertarik pada Andres?" tanya Tagara lagi dengan pemikirannya.


"Entahlah, tapi mungkin dia lebih tertarik dengan harta Andres," ujar Qia sembari mengendikkan bahunya.


...Tbc ......


Mampir juga ke novel on going ku yang lain.



Forever Hate You (Adult)


Mencintai Adik Sambung (Teenlit)

__ADS_1



__ADS_2