49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif

49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif
15. Ada yang disembunyikan


__ADS_3

Sebelum sore, Qia sudah kembali ke kediaman yang kini ditempati Tagara. Dia melihat Tagara tengah berlatih meninju di sebuah samsak yang digantungkan dalam ruangan paling belakang di rumah itu.


"Kemampuanmu sudah lebih baik," puji Qia melihat gaya Tagara memukul disana.


Hal itu lantas menyadarkan Tagara bahwa Qia sudah kembali.


"Kau sudah pulang? Bagaimana perjalananmu?" tanyanya.


Qia menipiskan bibir. "Perjalananku aman, tidak ada orang yang memepet kendaraan yang ku gunakan," jawabnya.


Tagara terkekeh. Dia jadi teringat kejadian semalam dimana mobil Jordan dikepung oleh banyak pengendara motor.


"Apa ada yang datang saat aku pergi tadi?"


"Tidak ada."


"Jordan juga tak datang?"


Tagara menggeleng.


"Ku pikir dia masih menghindarimu sampai keadaan kembali kondusif. Aku yakin dia sadar bahwa kau akan mencurigainya." Qia berasumsi.


"Kau benar." Tagara berjalan mendekat, mengambil sebotol air yang terletak dimeja lalu meminumnya. "Tapi yang masih membuatku bingung adalah kenapa Jordan terkesan melindungi Agatha semalam," paparnya melanjutkan.


Qia mengendikkan bahu. "Mungkin mereka ada hubungan," jawabnya tak yakin.


"Mereka sepasang kekasih, begitu?"


"Bisa jadi." Qia tidak terlalu memikirkan hal ini sebelumnya, tapi pertanyaan dari Tagara cukup membuatnya ikut berpikir, sebenarnya Jordan dan Agatha itu ada hubungan apa?


"Lalu kenapa Agatha ingin aku melamarnya lagi?" Tagara menggaruk kepalanya yang Qia yakin sebenarnya tidak gatal.


"Sudah ku bilang kan, dia mau memakai cara halus. Sepertinya dia mau memasuki hidup Andres lebih dalam lagi kemudian mendepaknya secara baik-baik." Sebuah senyum hambar Qia sunggingkan.


"Aku mengerti sekarang, Agatha mau menguasai harta Andres saat mereka sudah resmi menikah. Begitu, kan?"


"Mungkin." Qia sendiri tak tau apa yang direncanakan Agatha, tapi sejauh ini pemikirannya dengan ujaran Tagara tadi hampir mirip.


"... lalu dia akan mendepak Andres setelah memastikan jika Andres benar-benar sudah jatuh miskin," lanjut Tagara dengan pemikirannya.


"Kali ini, ku akui otakmu cukup encer," olok Qia tapi itu berhasil membuat senyum semringah muncul diwajah Tagara, bukan, itu wajah Andres.


Qia menatap pemandangan itu dengan wajah sendu. Dia merindukan suaminya.

__ADS_1


"Kau kenapa?" Tagara menangkap raut Qia yang terlihat bersedih.


"Tidak ada." Qia berbalik badan, siap untuk pergi, tapi Tagara menangkap tangannya.


"Boleh aku jujur?" tanya Tagara.


"Apa?"


"Sejak saat melihatmu dirumah ini, aku selalu penasaran kenapa wajahmu selalu sendu saat melihatku. Kau juga tampak marah setiap Agatha mengunjungiku."


"Mungkin karena aku mengingat Andres, Tagara."


"Aku tau. Tapi yang ku maksud disini adalah kenapa kau tampak sangat bersedih. Sedekat apa hubunganmu dengan Andres? Lalu, kenapa kau bisa langsung tau jika aku bukan Andres? Bahkan Keenan yang kakak kandung Andres saja tidak mengetahui jika aku bukanlah Andres yang sebenarnya."


"Itu karena aku jauh lebih mengenal Andres dari siapapun," jawab Qia terus-terang.


"Kau dan Andres ada hubungan?" tebak Tagara.


"Ku pikir itu bukan urusanmu," acuh Qia.


"Bukan bermaksud ikut mencampuri yang bukan urusanku, hanya saja aku juga penasaran kenapa kau terlihat sudah biasa dan tidak canggung saat membukakan seluruh bajuku, uhm ... maksudku baju Andres."


Qia melotot mendengarnya. Apa sebenarnya yang ada dipikiran Tagara sekarang? Apakah hal me sum?


"Bisakah kita tak membahas hal semacam itu?" tanya Qia. "Aku akan menyiapkan makan malam untukmu, setelah itu aku akan langsung pulang."


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu lagi karena jam kerjaku hampir habis," jawab Qia.


...****...


Selepas Qia menyediakan makan malam untuk Tagara, dia pamit undur diri dari hadapan pria itu. Tapi, dia berpapasan dengan Keenan yang memasuki pekarangan rumah.


"Selamat sore, Tuan." Qia menyapa Keenan dengan sopan.


Keenan tidak pernah tau mengenai hubungan Qia dan Andres, termasuk pernikahan Adiknya. Dia hanya tau jika waktu itu Qia melamar sebagai Asisten Rumah Tangga di kediaman Andres sesaat setelah Andres dinyatakan lumpuh. Keenan pikir, menerima Qia tak ada salahnya sebab Andres memang membutuhkan banyak bantuan dari seorang seperti Qia.


"Sore." Keenan menyahut kaku, sikapnya itu sebelas dua belas dengan sikap Andres yang sebenarnya. Hanya saja, Andres masih memiliki sedikit selera humor, sedangkan Keenan sepertinya hidup dengan penuh keseriusan. Qia juga tak terlalu mengenal pribadi pria yang sejatinya adalah kakak iparnya tersebut.


Qia hendak pamit pulang pada Keenan sebab jam kerjanya telah berakhir, tapi Keenan malah menanyakan sesuatu hal pada Qia.


"Bagaimana keadaan Andres?"


Qia menoleh pada pria tersebut. Wajah Keenan lebih dingin ketimbang Andres, Qia bahkan tidak dapat menyelami mata pria itu sangking kakunya sikap Keenan.

__ADS_1


"Tuan Andres mulai membaik. Dia juga mulai menerima keadaannya lagi," jawab Qia seadanya. Sebenarnya dia mengarang. Tentu saja.


"Oh. Baguslah." Keenan menarik nafas panjang. "Bagaimana dengan kakinya? Apa ada kemajuan?"


"Maksudnya?" Qia berlagak bodoh, jelas-jelas dia tau bahwa Andres yang berada didalam sana tidak mengalami kelumpuhan, bahkan dia dapat berjalan dengan baik layaknya orang biasa.


"Bukan apa-apa. Aku hanya mendengar selentingan cerita mengenai Andres yang sudah bisa berjalan, jadi aku hanya mau memastikannya saja," jawab Keenan.


Dahi Qia mengernyit dalam, namun buru-buru dia bersikap biasa saja.


"Sejauh pantauan saya yang setiap hari berinteraksi dengan Tuan Andres, dia belum bisa berjalan. Dia membutuhkan banyak bantuan dari saya untuk berbagai aktivitas yang ingin dilakukannya," jelas Qia.


"Padahal aku berharap jika Andres segera bisa berjalan. Aku membutuhkan bantuannya untuk memantau pabrik juga," kata Keenan dengan wajah kuyu.


Qia tidak terlalu memusingkan perkataan Keenan, dia langsung pergi setelah mengatakan bahwa pekerjaannya telah selesai.


Seperginya Qia, Keenan masih berdiri menatap punggung wanita itu yang berjalan menjauh. Dia merasa ada yang sengaja Qia sembunyikan darinya.


Tak jauh berbeda dari Keenan, Qia pun demikian. Perasaannya mengatakan jika ada sesuatu yang Keenan ketahui mengenai Andres yang dapat berjalan. Apa Jordan memberitahu Keenan? Pikir Qia. Jika ditelisik lagi, Jordan mungkin memang patut dicurigai, tapi untuk apa dia mengatakan pada Keenan bahwa Andres sudah tidak lumpuh? Atau Keenan juga termasuk dalam daftar orang yang mencurigakan?


"Andres?" Keenan masuk rumah, lalu menyapa adiknya yang tampak duduk di dekat meja makan sembari melamun.


Tagara sudah mendengar kedatangan Keenan saat pria itu masih terlibat obrolan dengan Qia, maka dari itu dia berlagak duduk di kursi roda seperti biasanya.


"Kau kesini?" sapa Tagara pada pria yang adalah kakak kandung Andres tersebut.


"Ya. Aku mau melihat keadaanmu."


Tagara mematut senyum tipis.


"... ku dengar kau bisa berjalan," lanjut Keenan sembari berjalan mendekat pada tubuh sang adik.


"Darimana kakak tau aku bisa berjalan?" Tagara bertanya, entah kenapa instingnya mengatakan ada yang tidak beres sekarang.


"Jadi itu benar?" Keenan malah balik bertanya.


"Aku masih duduk disini, Kak. Itu tandanya aku belum bisa berjalan," ujar Tagara merujuk pada kursi rodanya.


Keenan menipiskan bibir. "Apa itu artinya info yang ku dengar tidak benar? Mengenai kau yang bisa berjalan?" tanyanya kemudian.


"Kalau aku boleh tau, dari siapa kakak mendengar kabar bahwa aku bisa berjalan?"


Keenan terdiam lama, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sepertinya info itu yang salah. Sudahlah, yang penting kau masih baik-baik saja meski kau belum bisa berjalan, Andres."


...TBC ......


__ADS_2