
Tagara tidak mau siapapun curiga pada gelagatnya. Walau bagaimanapun, semua orang mengetahui jika dia adalah pria lumpuh. Mau tak mau, dia harus berlagak membutuhkan orang lain, termasuk Qia yang bekerja di kediamannya.
Karena sudah berjanji untuk jalan-jalan sore dengan Agatha, Tagara pun harus menyiapkan dirinya. Dia akan mandi dan berpenampilan rapi untuk menyetarakan dengan penampilan Agatha. Untuk itulah, sekarang dia harus memanggil Qia, meminta perempuan itu membantunya meski sebenarnya Tagara bisa melakukan semuanya sendiri.
Qia membantunya melepas pakaian, membuat Tagara sedikit risih dengan hal itu. Seumur hidupnya dulu, dia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh orang lain apalagi oleh lawan jenis. Hingga akhirnya, Tagara harus meninggal di usia 29 tahun karena organ tubuhnya direnggut paksa oleh orang-orang yang tidak berhati.
Mungkin dilain kesempatan, jika bisa, Tagara ingin bisa hidup kembali sebagai dirinya sendiri untuk membalas dendam terhadap orang-orang itu. Bisakah?
"Apa kakakku tidak pulang semalam?" tanya Tagara pada Qia untuk mengalihkan pemikirannya terkait masa lalunya yang tak beruntung.
Qia mengangguk samar. "Tuan Keenan memang tidak pernah menginap disini sejak membeli rumah ini, Tuan," jelasnya.
Tagara mengernyit. Apakah rumah ini memang hanya dibeli untuk dirinya saja? Sedangkan Keenan tinggal ditempat lain? Atau justru karena kesibukannya di Pabrik, membuat pria itu memilih tidak pulang?
"Aku tidak mengingatnya," ujar Tagara mengakui pada Qia.
"Pasti ada banyak hal yang Tuan Andres lupakan. Maaf, tapi anda tidak terlihat seperti Tuan Andres yang biasanya," ujar Qia menyadarkan Tagara bahwa perempuan itu agaknya mencurigainya.
Tagara menatap Qia lama, dia merasa perempuan ini mengenal sosok Andres dengan cukup dekat. Apa iya? Dan, apakah Tagara bisa mempercayainya?
"Kenapa kau bisa menyimpulkan begitu?" tanya Tagara.
Qia menggeleng lemah, dia juga langsung menundukkan kepala.
"Koma selama satu tahun membuatku melupakan beberapa hal yang sempat terjadi. Maukah kau membantuku?" Entah kenapa kalimat itu yang keluar dari bibir Tagara sebagai Andres, dia mencari alasan, tapi dia tau bahwa dari ucapannya tadi mengartikan bahwa dia ingin Qia membantunya.
"Apa Tuan mempercayaiku?"
"Entahlah. Aku tidak tau siapa yang patut ku percaya," kata Tagara terus terang.
"Apa Tuan mencurigai ku?" Qia bertanya sembari membuka celana panjang yang Tagara kenakan di tubuh Andres. Perempuan itu terlihat tidak canggung sama sekali.
"Tidak juga," jawab Tagara salah tingkah. Justru dia yang merasa gelagapan karena bantuan Qia.
"Lalu, Tuan Andres mau aku membantu dari hal apa?"
Tagara mengehentikan tangan Qia yang hendak membukakan kain penutup terakhir ditubuhnya. "Yang ini, aku bisa sendiri," cegah Tagara.
Qia mengangguk pelan, wajahnya tampak memerah.
"Aku bisa sendiri, keluarlah," ujar Tagara membuat Qia berbalik badan untuk pergi mengikuti keinginan pria itu.
"Qia?"
Panggilan Tagara membuat perempuan itu kembali menoleh.
"Ya, Tuan?"
__ADS_1
"Apa dulunya aku juga harus kau mandikan? Maaf, aku melupakan hal itu juga."
"Y--yah," jawab Qia pelan.
Tagara mengibaskan tangannya sebagai isyarat Qia boleh pergi sekarang. Namun, satu hal yang Tagara dapat simpulkan disini yaitu Andres dan Qia pasti cukup dekat dalam interaksi keseharian mereka.
Selesai mandi, Tagara mendapati Qia menunggunya di dalam kamar. Perempuan itu juga sudah menyiapkan keperluannya.
"Apa Tuan yakin akan pergi dengan Nona Agatha hari ini?" Qia bertanya sembari menyisir rapi rambut Tagara.
"Yah. Memangnya kenapa?"
"Tidak ada apa-apa."
Entah kenapa lagi-lagi Tagara merasa ada yang Qia sembunyikan.
"Kau tau sesuatu mengenai hubungan terakhirku dengan Agatha?" tanya Tagara akhirnya. Dia berharap jawaban Qia dapat memberinya secercah harapan atau titik terang untuk membantunya memecahkan problem ini.
Qia tampak ragu-ragu, namun sesaat kemudian dia mengangkat kepalanya untuk menatap ke dalam manik mata Tagara.
"Terakhir, anda mengatakan bahwa anda mencurigai Nona Agatha."
Mata Tagara membola saat mendengarnya. "Benarkah? Apakah aku juga harus mencurigai tunanganku sendiri?" tanyanya tak percaya.
Qia berjalan menjauh. Dia memunggungi Tagara disana dan menatap ke luar jendela.
"Katakan saja."
"3 tahun yang lalu, tepatnya saat anda divonis lumpuh setelah kecelakaan pertama yang menimpa Anda, Anda mengatakan padaku bahwa Anda mencurigai Nona Agatha."
"Aku mengatakannya padamu?"
Qia menganggukkan kepalanya secara berulang. "Itu sebabnya aku heran saat anda memprotes sikapku yang tidak meminta Nona Agatha masuk rumah saat berkunjung tadi. Seingatku, Anda sendiri yang tidak mau dia mendekat pada hunian yang anda tempati," jelasnya.
"Atas dasar apa aku bisa mengatakan hal semacam itu padamu?" Tagara bertanya kembali.
Qia hanya menggeleng samar. Sepertinya sulit untuk dia mengatakan terkait pertanyaan Tagara yang kali ini.
"Kenapa kau tidak mau mengatakannya padaku?" desak Tagara.
Qia terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia mengesah pelan lalu bersuara kembali. "Aku akan mengatakannya jika Anda jujur, siapa anda sebenarnya," tuturnya pelan.
Kelopak mata Tagara melebar. Dia tidak menyangka kalimat itu yang meluncur dari bibir Qia. Apakah Qia tau jika dia bukanlah Andres?
"Aku sangat mengenal Tuan Andres, kalaupun dia amnesia setelah koma satu tahun, dia tidak akan melupakan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukannya. Tapi, Anda? Anda melakukan hal diluar kebiasaan Tuan Andres."
Bibir Tagara sudah terbuka untuk menyangkal tuduhan Qia, tapi perempuan itu kembali melanjutkan kalimat.
__ADS_1
"... sejak melihat tatapan anda padaku pagi tadi, aku langsung tau jika kau bukanlah Tuan Andres. Gelagatmu, juga caramu memerintahku. Kau terlalu bisa ku baca meski kau menggunakan tubuh Tuan Andres untuk kau naungi. Ah ya, satu lagi, aku paling tahu jika Tuan Andres adalah kidal, dia lebih sering menggunakan tangan kirinya, sedangkan kau tidak ..." tukas Qia menohok Tagara yang baru tau soal ini.
"Siapa kau sebenarnya, Qia?" Akhirnya Tagara menyuarakan rasa ingin tahunya.
Qia membalik tubuh, menatap Tagara dengan senyuman tipis. Tipis sekali.
"Pergilah hari ini dengan Nona Agatha, agar kau tau siapa dia dan bisa menilai apakah ucapanku tadi jujur atau tidak. Jika kau sudah mempercayaiku, maka aku akan jujur padamu," jelasnya dengan kalimat nonformal.
"Baik. Aku akan segera pergi dengannya dan membuktikan siapa yang patut ku curigai disini. Mengenai tuduhanmu tadi, yang mengatakan jika aku bukanlah Andres, itu adalah tuduhan tak berdasar... karena buktinya, aku memanglah Andres!" kata Tagara menyangkal ucapan Qia sebelumnya.
"Silahkan saja!" Qia tersenyum, lalu pergi meninggalkan Tagara yang sudah siap diatas kursi rodanya.
...****...
Tagara diajak naik ke sebuah mobil yang juga mengantar Agatha untuk menjemputnya sore ini. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan, Agatha justru terlihat manja padanya.
"Apa Qia membohongiku?" batin Tagara. Dia ingin sekali membuktikan siapa yang sebenarnya mengkhianati Andres hingga menyebabkan pria itu celaka berkali-kali.
"Ada yang kau pikirkan?" tanya Agatha dalam perjalanan mereka.
"Tidak. Aku hanya senang dapat keluar dari rumah itu," jawab Tagara.
"Benarkah? Kau senang pergi bersamaku?" Agatha tampak riang gembira.
"Ya. Kita mau kemana?"
"Ke Danau teratai."
"Tempat seperti apa itu?" tanya Tagara yang memang tak tahu menahu mengenai tempat yang Agatha maksudkan.
"Kau melupakannya?" Agatha tertawa sekilas. "Itu tempat dimana kau pernah melamarku dulu," jelasnya.
"Benarkah? Kenapa aku melupakannya ya," ujar Tagara disertai tawa untuk menutupi ketidaktahuannya.
"Ya, disana kau pernah melamarku. Karena kau sudah koma setahun lebih, aku mau hari ini kau kembali melamarku. Mengulang momen manis itu," tutur Agatha dengan senyuman penuh.
"Aku tidak membawa cincin. Dan apakah kau benar-benar mau menikah dengan pria sepertiku?" tanya Tagara merujuk pada keadaannya.
"Cincinnya ada padaku," kata Agatha menunjukkan cincin bermata safir. "Kau pernah memberikannya dulu, jadi tidak perlu cincin baru. Cukup cincin yang sama dengan momen yang sama dan diulang kembali."
"Baiklah," jawab Tagara pasrah. Sebenarnya dia tidak tau harus menjawab apa. Kadang kebodohannya kembali datang menguasai diri.
"Bagus." Agatha mendekap tubuh Tagara dalam mobil yang terus berjalan dengan dikemudikan oleh seorang sopir berkepala plontos. "Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi, kita akan menikah setelah ini," lanjutnya dengan mata berbinar.
Tagara hanya mengangguk, sebenarnya dari segi mana dia harus mencurigai Agatha. Kenapa Qia mengatakan bahwa Andres pernah mencurigai perempuan ini? Entahlah, Tagara belum bisa menemukan jawabannya.
...TBC .......
__ADS_1
Dukung karya ini dengan tinggalkan jejak komentar agar bisa terus berlanjut.🙏