
3 hari Tagara lalui dengan berlatih keras bersama Qia. Hal itu cukup membuatnya kelelahan. Dia tak pernah melakukan hal seperti ini, jangankan berlatih bela diri atau menembak, berkebun saja dia tak bisa. Itulah mengapa hidupnya hanya menjadi pecundang yang tak berguna.
"Jika begini saja kau sudah kelelahan, apa yang sebenarnya kau lakukan dulu disaat kau masih hidup?" tanya Qia mengeluhkan sikap Tagara yang selalu menginginkan istirahat disaat-saat berlatih mereka.
"Dulu aku lebih suka tidur, makan yang banyak dari hasil mencuri sisa-sisa umbi yang tidak terambil saat masa panen," jawab Tagara enteng.
"Astaga ... pasti kau sulit bergerak jika hanya makan dan tidur saja," ledek Qia.
"Ya. Begitulah aku," akui Tagara.
"Lalu? Apa lagi yang kau lakukan dimasa hidupmu?"
"Terkadang aku memancing tapi aku jarang mendapat ikan. Bahkan ikan saja tidak mau memakan umpanku," kata Tagara dengan tatapan menerawang.
Demi apapun, sekarang Qia menahan gelak.
"Jadi, kau beruntung dalam hal apa?" selidik Qia disela-sela dirinya yang hampir terbahak.
"Tidak ada. Itu sebabnya aku dijuluki si pecundang."
"Kasihan sekali nasibmu. Tapi mungkin saja kau begitu bukan karena nasib, melainkan karena kau sendiri yang tidak berusaha untuk merubah kehidupanmu."
"Aku sudah mencoba, tapi keadaan seperti tidak berpihak padaku. Apa yang ku lakukan selalu gagal. Menjadi petani, peternak atau apapun, aku selalu tidak dikaruniai keberuntungan. Jangan kau pikir aku tidak mencoba itu semua, aku sudah mencobanya tapi selalu tak berhasil." Mata Tagara tampak berkaca-kaca, dia membayangkan masa-masa sulitnya.
"Kau bilang, kesempatan hidupmu di 49 hari dalam tubuh Andres tidak akan kau sia-siakan, maka dari itu kau harus membuktikannya. Selama ini kau hanya berusaha menjadi seperti orang-orang disekelilingmu yang menjadi petani dan peternak. Mungkin passion mu memang bukan di bidang itu. Kau mungkin lebih beruntung di bidang bela diri," kata Qia menyemangati.
"Tapi ini sulit. Bagaimanapun aku bukan Andres yang bisa unggul dalam segala hal," kata Tagara.
"Belum apa-apa kau sudah mengeluh. Andres dulunya juga tidak bisa bela diri. Apa kau pikir dia menguasai ilmu itu sejak lahir? Dia juga berlatih agar mahir!" kata Qia membuka pemikiran Tagara.
"Benar juga."
"Dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Karena apa? Karena ada niat dan usaha untuk mencoba."
"Saat ini aku sudah mencoba dan berniat, tapi kenapa aku tidak bisa?" Lagi-lagi Tagara mengeluh.
"Berhentilah mengeluh. Kau tidak mungkin langsung bisa. semua butuh proses tergantung kau benar-benar yakin atau tidak."
__ADS_1
"Apa aku bisa?" Tagara tak yakin dengan dirinya sendiri.
"Tagara, predikat pecundang mungkin sudah melekat dalam dirimu, tapi yakinlah bahwa kesempatan kedua yang diberikan padamu ini adalah jalan untuk kau membuktikan bahwa kau bisa menjadi lebih baik. Kau bukan pecundang, kau juga bisa jika kau mau berlatih lebih giat lagi. Tanamkan tekad didalam dirimu. Apa kau mau mati lagi sebelum 49 hari karena terkena serangan musuh Andres?"
Tagara menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tentu saja tidak," jawabnya mantap.
"Maka dari itu, kau harus melindungi dirimu sendiri sekaligus raga Andres yang saat ini kau tumpangi," ujar Qia.
"Baiklah. Aku akan berusaha lebih giat lagi," kata Tagara penuh tekad.
Qia tau, bukan hanya kebiasaan Tagara dimasa lalu yang harus diubah. Tapi juga pikiran pria itu yang harus didoktrin tegas, agar bisa menghilangkan kekecewaan dalam dirinya yang sudah terlanjur terbentuk dan menganggap dirinya sendiri sebagai pecundang.
Mereka berlatih lagi untuk menembak sasaran. Syukurnya rumah sederhana yang kini Tagara tempati sebagai Andres adalah rumah yang jauh dari pemukiman warga, jadi tidak akan ada yang tau jika dia tengah berlatih tembak-menembak, kecuali ada orang yang datang berkunjung ke rumah tersebut.
Mereka mengakhiri sesi latihan itu menjelang sore dan disaat yang sama Tagara mendengar suara mobil yang berhenti didepan rumah.
"Seseorang datang. Bagaimana ini?" Tagara panik, sementara Qia tampak lebih tenang. Dia sudah terbiasa menghadapi hal-hal semacam ini.
"Jangan panik, duduklah di kursi rodamu."
Tagara menempati kursi rodanya, kemudian Qia mendorong pria itu untuk ke depan rumah. Rupanya Keenan yang datang berkunjung, dia biasa melakukan ini setiap pekan untuk mengantarkan bahan makanan ke rumah yang ditempati sang adik.
"Andres? Kau sedang apa? Kenapa tampak berkeringat sekali?" tanya Keenan ketika melihat sang adik.
Tagara melirik Qia sekilas, dia berharap wanita itu yang menjawab pertanyaan Keenan, minimal mengalihkan perhatian kakak dari Andres tersebut. Akan tetapi, Qia justru hanya diam tak bereaksi.
"A-aku tadi habis ... habis ... berolahraga," jawab Tagara random dengan gelagat gugup.
"Olahraga?" Dahi Keenan berkerut dalam, tampak sekali dia heran dengan jawaban Andres.
"Ya. Ku pikir, meskipun aku tidak bisa berjalan tapi berolahraga tidak ada salahnya, kan?"
Wajah heran dari Keenan perlahan memudar, menjadi tampang yang biasa. "Ya, olahraga seperti apa yang kau lakukan?" tanyanya, dia tak yakin jika Andres bisa olahraga dengan keadaan duduk di kursi roda seperti itu.
"Aku hanya berjemur," jawab Tagara yang lagi-lagi menyahut dengan asal.
"Berjemur? Di siang hari yang terik?"
__ADS_1
Qia yang berdiri dibelakang kursi roda Tagara hanya bisa menahan tawanya, karena jawaban Tagara benar-benar menunjukkan kebodohannya. Hanya saja, dia berusaha meredam keinginannya untuk tertawa didepan Keenan yang selalu tampak serius.
"Ya, aku tidak bisa apapun selain itu," jawab Tagara cuek.
Keenan menggeleng-gelengkan kepalanya, tak biasanya Andres adiknya bisa berkata se-absurd ini. Bukan hanya kalimatnya saja yang tak jelas, bahkan prilakunya yang berjemur di panas terik juga tidak seperti Andres yang biasanya.
"Ya sudah, lakukan apapun yang kau rasa bermanfaat. Aku hanya mau mengantar stok makanan untukmu," kata Keenan merujuk pada bungkusan yang dibawanya.
"Terima kasih, Kak."
"Ya. Aku langsung pergi."
"Kapan kau menginap disini, Kak?" Tagara berbasa-basi. Sejak awal, dia sebenarnya curiga kenapa Keenan tidak ikut menempati rumah sederhana yang kini menjadi huniannya. Meski Keenan beralasan jika pabrik tak bisa ditinggal, tapi tetap saja Tagara merasa janggal dengan hal ini.
"Kapan-kapan," jawab Keenan mengendikkan bahunya.
"Ya sudah." Tagara tak mau memaksa. Lagipula, jika ada Keenan dia takkan bisa berlatih dengan bebas.
Seperginya Keenan, Tagara kembali bertanya pada Qia.
"Apa sebelum ini Andres tak pernah mencurigai Kakaknya?"
"Entahlah. Tapi dia tak pernah mengatakan soal Keenan. Sepertinya dia tak curiga."
"Apa Keenan tidak membantu mencari tau siapa dalang yang menyebabkan Andres terluka dan koma?"
"Ku dengar Keenan sudah melaporkan kecelakaan itu pada polisi, tapi untuk hasil akhirnya aku tidak mengetahui."
"Mencurigakan," celetuk Tagara kemudian.
"Ya, maka dari itu jangan mempercayai siapapun."
"Tapi kau memintaku mempercayaimu?" tanya Tagara.
Qia menatap malas pada Tagara. "Kecuali aku," tambahnya sambil memutar bola mata jengah.
...TBC .......
__ADS_1