49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif

49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif
3. Visual yang sempurna


__ADS_3

Tagara berdiri dari kursi rodanya, dia memandang cermin yang memantulkan wajahnya disana. Bukan, ini bukan wajahnya melainkan wajah milik Andres.


Baru sekarang Tagara memiliki kesempatan untuk bercermin sejak kepulangannya sore tadi ke rumah ini. Itupun setelah Jordan meninggalkan kediamannya beberapa saat yang lalu.


Menurut Tagara, wajah ini cukup tampan. Dengan tubuh tinggi dan gagah, alis tebal, tulang hidung yang tinggi, serta bibir penuh yang terlihat menawan. Tagara tau jika dia menempati tubuh pria yang sempurna. Berbeda dengan sosoknya dulu yang sedikit pendek dan gemuk. Tagara juga hidup sebagai pecundang.


Setelah mengetahui sedikit banyak tentang Andres, Tagara yakin jika Andres bukanlah seorang pecundang sepertinya. Hanya saja, dari semua yang terjadi pada Andres, Tagara menyimpulkan jika ada pihak yang tidak menyukainya. Itu terbukti dari keadaan yang kini menimpa Andres, dia harus duduk di kursi roda, juga koma selama satu tahun di Rumah Sakit.


Tidak heran memang, selain tampan, Andres juga memiliki kekayaan. Meski kini, yang Tagara ketahui ialah Andres telah bangkrut bersamaan dengan perusahaan eletronik nya yang juga collaps. Tapi, visual pria bernama lengkap Andres Wu ini memang sempurna.


"Apa sebenarnya pemilik tubuh ini belum mati?" Tagara berbicara pada bayangan wajah Andres yang terpantul di cermin yang sedang ditatapnya.


"Apa arwahnya ada? Apa dia dapat melihat jika sekarang tubuhnya ini dirasuki olehku?" gumam Tagara kemudian.


Tagara berpikir, jika Andres masih hidup, maka dia hanya akan duduk di kursi roda karena dia lumpuh, sedangkan jika tubuh ini dikendalikan oleh Tagara, maka tubuh ini bisa berjalan kesana-kemari dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi, apakah aku bisa untuk mengungkap semuanya? Membuktikan kalau aku bisa membantu Andres, agar aku tidak dicap sebagai pecundang terus menerus? Aku tidak mau ketika roh ku sudah pergi ke dunia setelah kematian dan aku masih dianggap sebagai pecundang disana!"


Tagara bertekad akan membantu Andres mengungkap siapa yang menyakitinya. Tidak peduli apakah sebenarnya Andres masih hidup atau sudah mati. Yang jelas, Tagara harus menyelesaikan misi ini, kesempatan hidup yang diberikan padanya meski dia harus hidup di tubuh milik orang lain. Tagara tak mau di hidup yang sekarang dia hanya akan tetap menjadi pecundang. Dia harus membuktikan jika dia mampu menjadi lebih baik meski waktunya hanyalah 49 hari.


...****...


Hari kedua, Tagara mendapati seorang wanita muda yang datang ke kediamannya. Dia adalah Qia, asisten rumah tangga yang dipekerjakan untuk mengurusi semua keperluannya.


"Selamat datang kembali di rumah yang baru, Tuan Andres." Qia menunduk hormat pada Tagara, wajahnya tampak sendu yang Tagara tidak mampu mengartikan apa yang  sedang dipikirkan oleh wanita itu.


"Ya, bekerjalah dengan baik," ujar Tagara datar.


Qia mengangguk, namun dia terus menatap Tagara dengan tatapan yang aneh.


"Ada apa?" tanya Tagara melihat sikap Qia yang tampak mencurigakan.

__ADS_1


"Ma–maaf, Tuan." Qia segera berlalu dari hadapan Andres alias Tagara.


Entah kenapa Tagara merasa ada yang disembunyikan oleh Qia, tapi dia juga tidak yakin. Tagara mulai memikirkan bagaimana caranya dia mencari tau dalang dari semua kejadian yang menimpa Andres, dia bingung harus memulai darimana. Dia terlahir dengan otak pas-pasan yang sulit mengeluarkan ide, tak heran jika di kehidupan sebelumnya dia hanya menjadi pecundang.


"Ayo berpikir!" Tagara memukul kepalanya, dia harus memecahkan semua teka-teki ini sebelum waktunya habis.


"Waktu berjalan terus, sementara aku tidak melakukan apapun!" katanya menggerutu.


Tagara berdiri dari kursi rodanya, lalu berjalan pelan menuju jendela, dia melihat sebuah mobil yang cukup mewah, perlahan berhenti dipinggir pekarangan rumah sederhana yang kini ditempatinya. Tak lama, seorang wanita turun dari dalam transportasi tersebut.


"Siapa dia?" batin Tagara. Dia yakin wanita itu mau mengunjunginya karena di daerah ini hanya ada rumahnya yang dikelilingi pohon teh.


Sebenarnya Tagara pun tidak tau kenapa dari sekian banyak rumah, Keenan harus membeli rumah di pelosok seperti ini. Apa mungkin uangnya yang memang hanya cukup membeli rumah dipinggiran seperti ini? Entahlah.


Tak lama, terdengar suara Qia memanggil sembari mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan, ada nona Agatha datang," ujarnya dari luar kamar.


Mau tak mau, Tagara membuka pintu dan melihat Qia masih dengan raut wajah yang sama, wajahnya terlihat murung bahkan lebih sendu dari awal pertemuan Tagara dengannya tadi.


"Dimana dia?" Tagara bertanya pada Qia.


"Di depan."


"Kenapa tidak menyuruhnya masuk?" tanya Tagara heran. Dia pikir seharusnya tunangannya itu disambut dengan baik, tapi kenapa Qia tidak mempersilahkan wanita itu masuk?


"Uhm, maaf Tuan. Dulu Tuan pernah berpesan jika Nona Agatha datang maka harus menunggu diluar."


"Aku pernah bilang begitu?" Tagara memastikan.


Qia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang Tagara tau bahwa setelah ini dia harus banyak menanyai Qia terkait apa saja aturan yang dibuat oleh Andres.

__ADS_1


"Baik, antar aku menemuinya sekarang," ujar Tagara kemudian.


Qia mendorong kursi roda yang Tagara duduki, mengarahkan itu ke arah pintu depan dan Tagara langsung melihat wanita yang bernama Agatha itu. Dia tampak cantik, anggun dan segala kesempurnaan tampak padanya. Gayanya glamor dengan senyum yang menggoda.


"Andres! Maafkan aku baru tiba dan menjengukmu hari ini," ujar Agatha yang langsung membungkuk, lalu memeluk tubuh Andres yang duduk di kursi roda.


Qia terlihat membuang muka, sementara Tagara bingung harus merespon Agatha seperti apa. Terlebih, dia tidak tau hubungan macam apa yang dulu terjalin antara Andres dan Agatha, meski mereka bertunangan tapi interaksi mereka seperti apa, Tagara tak mengetahuinya?!


"Aku merindukanmu, Andres. Akhirnya kau sadar dari koma." Agatha terus menerus bersuara menunjukkan betapa bersyukurnya dia melihat Andres yang kembali pulih.


"Ya, ya, aku juga merindukanmu," jawab Tagara berusaha bersikap wajar. Wajar kan jika sepasang kekasih melemparkan kata rindu? Begitu pemikiran Tagara.


"Benarkah? Kau juga rindu padaku?" Agatha melebarkan senyumannya. Dia kembali mendekap tubuh Andres dengan erat.


"Saya permisi dulu, Tuan!" celetuk Qia yang rupanya masih berada disana sejak tadi. Tagara meliriknya sekilas, Qia terlihat bersungut-sungut dan masuk ke dalam rumah. Sepertinya wanita itu ada masalah karena sejak tadi tidak menampilkan wajah bahagia. Aneh.


Seperginya Qia, Agatha memegang kedua sisi wajah Andres dengan senyum yang masih terkembang.


"Kau tau, aku langsung pulang dari luar negeri begitu mendengarmu sudah sadar dari koma. Selama ini aku menunggumu sadar tanpa lelah. Aku selalu berdoa kau akan bangun dan sehat kembali," kata Agatha mencurahkan isi hatinya.


Sebenarnya Tagara bingung harus merespon Agatha seperti apa, tapi dari sikap wanita ini dia bisa menilai jika Agatha menyayangi Andres disaat pria itu masih ada. 


"Tapi aku lumpuh, apa kau tidak masalah dengan itu? Aku juga sudah bangkrut, aku tidak punya apa-apa," kata Tagara.


Agatha mencebik, dia tampak merajuk. "Kenapa kau bicara begitu? Selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan kondisimu, kan? Bahkan kau bangkrut sekalipun aku masih ada disisimu untuk menemanimu. Aku begitu senang, Andres. Jangan menuduhku yang tidak-tidak," kata Agatha.


"Maaf, aku hanya bertanya. Aku tidak bermaksud menuduhmu, kenapa kau harus tersinggung?" tanya Tagara yang tak mengerti bagaimana cara menghadapi wanita.


"Sudahlah, jangan dibahas. Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama? Aku akan mengajakmu jalan-jalan dulu nanti sore. Kau mau?"


Tagara langsung menganggukkan kepalanya, lagipula dia juga mau menanyakan pada Agatha beberapa hal. Siapa tau dia akan mendapatkan petunjuk dari wanita itu, pikirnya.

__ADS_1


...TBC …....


__ADS_2