
Kecewa, itulah yang tengah dirasakan Afifah sekarang, ingin marah namun dengan siapa Ia harus marah, tak ada yang dapat disalahkan ini adalah keputusan Dzaky sendiri.
"Fah, makan yuk." ajak Bu Ikha kepada Afifah,
"Iya Bun, duluan aja Fifah belum lapar." Afifah kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Bu Ikha hanya terdiam tak sepatah katapun keluar dari mulutnya dengan keadaan Afifah sekarang.
[ halo...] sapa Bu Ikha dari telepon, entah dengan siapa Ia berbicara.
Jujur Afifah merasa sangat penasaran dengan siapa Bundanya itu berbicara.
[ mungkin lusa ana bisa ta'arufan] ujar seseorang dari telepon itu.
"Ta'aruf, siapa yang mau di ajak nikah?" Afifah semakin penasaran dengan perbincangan itu.
[ yasudah, kami akan tunggu kehadiran keluarga,] Bu Ikha mengakhiri perbincangan itu.
Dengan segera Afifah duduk di kursi makan, tampak jelas jika pertanyaan tengah menghantui dirinya.
"Lho Fifah, bukannya tadi gak mau makan?" Bu Ikha bertanya sedikit bingung.
"Iya Bun, Fifah tiba-tiba lapar," Fifah tersenyum kikuk.
Bunda hanya mengangguk bingung dengan jawaban Afifah itu.
'Kenapa si Fifah si,' Bu Ikha terus memperhatikan Afifah yang terus tersenyum tanpa alasan itu.
"Kamu kenapa?" tanya Bunda,
"Bun, tadi Bunda telponan sama siapa sih, kok bahas ta'aruf?" tanya Afifah dengan wajah polosnya itu.
"Kepo banget sih," Bunda tak menjawab pertanyaan itu.
Jelas Afifah merasa kesal,
"Bun, kalo Fifah tanya tu di jawab dong." Fifah mengercutkan bibirnya.
Bukannya maran Bunda justru tersenyum melihat tingkah putrinya yang satu ini,
"Bun, jawab Fifah." Afifah terus mendesak.
Dengan santai Bu Ikha meninggalkan Afifah begitu saja.
"Lho, kok di tinggal sih." Afifah beranjak dan mengikuti Bundanya itu.
"Kamu ngapain sih ngikuti Bunda terus?" Jujur saja kelakuan Afifah itu sangat mengesalkan, siapa sih yang suka diikuti kemanapun Ia pergi.
__ADS_1
Afifah tak peduli bahkan tak satu pertanyaan pun terjawab dari bibirnya itu,
'Rasain, suru siapa Fifah nanya gak di jawab.' Afifah bersorak dalam hati.
"Fifah!" Bu Ikha merasa sangat kesal.
"Makanya jawab pertanyaan Fifah," jawabnya singkat.
"Tunggu besok pertanyaan kamu bakal terjawab." jelas Bu Ikha mengunci pintu kamarnya.
Afifah terpaku,
"Maksud Bunda apa ya?" gumamnya,
Kini Afifah semakin penasaran dengan apa yang akan teejadi esok.
~♡~
Pagi menghampiri, dengan segera Afifah beranjak dari tidurnya untuk segera mandi.
"Fifah!" teriak Bunda dari lantai bawah.
"Ya, Bun!" sahut Afifah.
"Cepetan mandinya, ada tamu ni." ujar Bundanya itu.
"Tamu?" tanya Afifah pada dirinya sendiri.
Cukup lima belas menit saja Afifah telah menyelesaikan ritualnya itu, dengan segera Afifah memasang jilbabnya tentu saja dengan cadarnya itu.
Afifah menuruni deretan anak tangga dengan santai, entah siapa tamu yang akan di temuinya itu.
"Afifah," ujar Bu Ikha.
Afifah tersenyum sambil memperhatikan sosok pria yang membelakangi dirinya itu.
"Siapa sih?" Afifah semakin penasaran.
Spontan pria itu menatapnya.
Afifah terdiam,
'Ammar' batinnya bersorak.
"Sini duduk," Bunda mempersilahkan Afifah.
"Ada apa ya bun?" tanyanya dengan kepolosannya itu,
__ADS_1
"Fifah, buka cadarnya." perintah Pak Dhani.
"Buat apa?" tanya Fifah.
Jujur Afifah tau maksud semua ini, namun dengan sengaja Ia melakukan semua ini agar Bundanya merasa kesal, hitung-hitung membalas perbuatan Bundanya kemarin.
Ammar tersenyum simpul melihat kelakuan calon istrinya itu.
"Fifah." Bunda mendenggus kesal.
"Bunda kesel kan," ledek Afifah sambil membuka cadarnya itu.
Senyuman nan indah dan mempesona terpancar dari bibir mungilnya itu.
Ammar menundukkan wajahnya.
'Manis banget sih senyumnya, ini sih bikin galfok,' Ammar membatin.
"Fif, pakai aja deh cadarnya." pinta Ammar,
Tubuh Ammar spontan rasanya ingin membeku.
"Lho, kenapa?" Afifah terlihat bingung, namun segera memakai cadarnya kembali.
"Kamu bikin gagal fokus," Ammar tersenyum malu.
Tampak jelas jika Afifah tengah tersenyum dari balik cadarnya itu.
Bukannya semangkin memperbaiki keadaan, justru Ammar terlihat semakin gugup dengan keadaan ini.
"Jadi gimana Pak, apa ana di terima?" tanya Ammar meyakinkan.
"Fifah," Pak Dhani menatap putrinya itu.
Afifah menatap mata Ammar, tampak kecanggungan mulai menghampiri Afifah sekarang, apa yang harus di jawabnya, ingin menerima namun Ia teringat akan perkataannya, ingin menolak namun rasa itu masih utuh, Afifah hanya diam Ia tau ini adalah jawaban untuk selain kata iya.
"Fifah diam, berarti Fifah mau." ujar Pak Dhani.
"Yaudah berarti tinggal nentuin tanggal pernikahan kan," sambung Fifah,
Tentu semua mata tertuju padanya,
Sontak Afifah langsung menundukkan wajahnya, malu itulah yang tengah Ia rasakan.
"Iya Fif," jawab Ammar,
Afifah tersipu dengan jawaban Ammar.
__ADS_1
Sejam lebih mereka memperbincangkan masalah itu, kini Ammar harus segera kembali karena saat ini, Ia harus mengajar di madrasah juga.
~♡~