A2 Kekasih Halalku

A2 Kekasih Halalku
~Deg~


__ADS_3

Afifah terbangun dari tidurnya, terlihat Ammar memegang tangannya dengan sangat erat.


"Mar," Afifah menyentuh lembut wajah Ammar,


Ammar membuka matanya, sambil menatap arloji yang berada di tangan kanannya.


"Solat subuh yuk!" Ammar menarik tangan Afifah menuju kamar mandi.


Tak ada penolakan dari Afifah, bahkan tak ada jawaban apapun Afifah hanya mengikuti apa yang di lakukan Ammar.


Keduanya terhenti di depan pintu,


"Awwalan," perintah Ammar,


"Enggak, kamu aja duluan," lerai Afifah,


"Sayang.." Ammar mendekatkan wajah nya tepat di depan batang hidung Afifah.


Deg..


'Mar, jangan sedekat ini!' batin Afifah berteriak kencang.


Ammar tersenyum jail, mungkin dia tahu apa yang Afifah rasakan sekarang,


Cup..


Tanpa ba bi bu lagi Afifah langsung masuk ke dalam kamar mandi, melihat kelakuan konyol Afifah tersebut rasanya ingin sekali Ammar terus menggodanya.


Lima menit kemudian Afifah keluar, tampak jelas raut wajahnya datar.


"Sayang.." Ammar memainkan matanya.


"Ammar!" Afifah berdecak kesal,


Ammar yang melihat itu hanya tersenyum jail,


Afifah duduk di ujung kasur,


"Yuk," Ammar mengajaknya solat berjamaah,


Afifah hanya mengangguk, dan segera berdiri di belakang Ammar.


Tidak butuh waktu lama hanya sepuluh menit kurang lebih, kini Ammar menatap wajah Afifah sedalam mungkin.


'Ammar kenapa sih?' Afifah menundukkan wajahnya,

__ADS_1


"Bantui bunda deh," Afifah mencoba beranjak dari duduknya, namun dengan sigap Ammar langsung menariknya, kini tepat sudah Afifah terjatuh dalam pangkuan Ammar.


Begitu dekat jarak tatapan mereka karena Afifah mendongakkan wajahnya.


"Sekarang aku percaya kalo bidadari dunia itu ada," Ammar tersenyum, sungguh indah senyuman itu di mata Afifah.


"Ammar!" Afifah mendelikkan matanya,


Jujur rasanya Afifah ingin berlari dari dekapan Ammar saat ini, namun dekapannya begitu kuat.


"Mar, aku mau bantui bunda!" kini Afifah terlihat semakin kesal.


Tapi apa Ammar peduli? tidak. Justru Ia malah mengangkat tubuh Afifah dan menjatuhkannya di kasur kembali.


"Jangan mencoba-coba untuk menghindar dari ku sayang, Bunda akan mengerti, tetaplah disini bersamaku, aku membutuhkan mu." Ammar berbisik di telinga Afifah.


Begitu lembut bisikkan Ammar, kini hati Afifah merasa tenang.


"Tapi Mar," Afifah mencoba bangkit, namun Ammar justru menaruh wajahnya tepat di hadapan Afifah.


"Ganti panggilan itu, aku suami mu sekarang," Ammar mendekatkan tatapannya sehingga dengan spontan Afifah langsung memejamkan matanya.


'Ammar! jangan gini terus Fifah gak bisa apa-apa' kini jantung Afifah berdegup sangat kencang, bahkan tak beraturan.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa mu," Ammar membangkitkan dirinya.


Dengan segera Afifah beranjak, apakah Ammar akan membiarkan Afifah pergi begitu saja? tentu tidak. Kini Ammar kembali menariknya kedalam pelukannya.


'Ammar, begitu jail kah diri mu." jujur saja saat ini rasa nya Afifah sangat ingin mencakar-cakar wajah tampan Ammar.


"Degupan itu semakin kuat, aku merasakannya, sampai seperti itukah Fif, rasa gugup yang berada di dalam benak mu?" kini Ammar justru menciumnya.


Afifah terdiam seribu bahasa, entah mengapa sikapnya menjadi seperti ini saat Ammar telah sah menjadi miliknya.


"Afifah Ammar, makan yuk!" Bunda berdiri tepat di ambang pintu,


Melihat kejadian itu dengan segera Bu Ikha meninggalkan mereka berdua.


Afifah menatap lekat wajah Ammar dan segera melepas pelukan Ammar,


"Fif," panggil Ammar.


Afifah mendekati Ammar,


"Tunduk dikit," pinta Afifah

__ADS_1


"Mau ngapain?" Ammar bertanya heran,


"Aku mau ngomong sesuatu, please," kini Afifah tampak memohon, bukan karena Afifah pendek Ia menyuruh Ammar menunduk, namun karena Ammar begitu tinggi.


"Apa?" Ammar sedikit mrmiringkan kepalanya,


"Aku mencintai mu," bisik Afifah lembut, dan segera pergi.


Ammar tersenyum melihat kepergian Afifah, kini jantungnya yang mulai berdegup aneh.


Afifah duduk diiringi Ammar yang ikut duduk di sampingnya.


"Aku lebih mencintai mu," Ammar kembali berbisik di telinga Afifah.


Bu Ikha menaikkan sebelah alisnya sambil menatap suaminya itu.


"Sayang.. Bunda sama Ayah pergi ya kami ada acara," ujar Pak Dhani seraya menggandeng tangan istrinya itu.


Kini hanya Ammar dan Afifah yang berada di tempat itu, Afifah menatap Ammar yang kini sedang terlihat menikmati makanannya itu.


"Cinta ku untuk mu benar ada nya dan cinta mu untuk ku benar besarnya, tapi.. hidup ku untukmu jauh lebih besar adanya." entah terpengaruh apa Afifah bisa mengucapkan kata seperti itu.


Ammar menatap Afifah,


"Sayang.. sebesar apapun rasa yang ada di hati mu untuk ku, percayalah hati ini hanya milik mu," Ammar menarik Afifah kedalam pelukannya.


Tenang rasanya berada dalam dekapan Ammar, inilah yang Afifah rasakan sekarang.


"Sayang.." entah hal apa yang kembali merasuki Afifah sehingga Ia mengucapkan hal ini,


"Saya," Ammar menatap tajam mata Afifah,


"Aku takut kehilangan kamu," Afifah menatap Ammar dengan sriyus,


Ammar kembali tersenyum dan menjatuhkan Afifah kedalam pelukannya,


"Kamu gak bakal pernah kehilangan aku, walaupun hati kamu bukan lagi milikku, tapi aku pastikan kamu akan benar-benar kehilangan diri ini saat maut menghampiri." dekapan Ammar begitu erat.


Kini keduanya terhanyut ke dalam kemesraan itu.


~♡~


Bersambung...


Jika benar-benar cinta dan saling menjaga maka tidak akan ada yang sanggup memisahkan kecuali takdir yang sudah Allah tetapkan😊❤

__ADS_1


__ADS_2