A2 Kekasih Halalku

A2 Kekasih Halalku
~Ahh!~


__ADS_3

Sudah beberapa hari Ammar bersikap dingin kepada Afifah, bicara hanya seperlunya saja.


Hari ini mereka akan pergi untuk reuni kelas tak ada pembahasan apapun sepanjang perjalanan, sungguh ini benar-benar membuat Afifah kesal rasanya ingin sekali ia menerkam Ammar hidup-hidup.


Ammar memarkirkan mobil dan segera masuk kedalam ruangan, sementara Afifah hanya bisa mendenggus kesal dan segera turun dari mobil.


BRAK ...


"Aww!" Afifah memegang keningnya yang terasa sakit karena baru saja bertabrakan.


"Maaf!" ucap seorang pria.


Afifah mendongakkan wajahnya.


"Dzaky ...." ucapnya sambil tersenyum di balik cadar.


Ammar yang 'tak sengaja melihat itu seakan-akan terbakar api cemburu, secara spontan ia menarik tangan Afifah dan berlalu dari hadapan Dzaky.


"Sakit tau!" Afifah menghempaskan tangan Ammar.


"Ngapain kamu sama Dzaky?" tanya Ammar dengan tatapan mematikannya itu.


Bukannya takut Afifah justru malah tersenyum.


"Kenapa? Kamu cemburu ya?" Afifah menaikkan sebelah alisnya.


Ammar mendenggus kesal sambil membelakangi Afifah.


"Wajar aku cemburu, aku suami kamu!" tukas Ammar.


Afifah yang mendengar penuturan Ammar tersenyum dan langsung memeluk Ammar secara tiba-tiba.


"Fif lepas!" sarkas Ammar.


"Enggak!" bantah Afifah yang semakin mempererat pelukannya.


Ammar membalikkan badannya secara spontan.


"Fif ... aku cemburu liat kamu dekat-dekat dengan orang lain ...." ucap Ammar.


"Aku juga cemburu Mar, liat kamu dekat-dekat sama Milan!" Afifah menahan tangisnya.


"Aku gak dekat-dekat Fif! semua terjadi tanpa di sengaja!" jelas Ammar.


"Begitu juga dengan yang kamu lihat tadi! itu juga tanpa di sengaja Mar!" tukas Afifah.


"Aku liatnya gak gitu Fif!" timpal Ammar.


"Aku liat kamu sama Milan juga gitu Mar!" ucap Afifah dan berlalu pergi.


"Afifah!" teriak Ammar sembari mengejarnya.


Afifah masuk kedalam mobil dan menutup pintu dengan keras.


"Fif! acara belum di mulai!" Ammar mencoba menjelaskan.


Namun tak ada respon apapun dari diri Afifah.

__ADS_1


"Fifah ...." panggil Ammar kembali.


"Yaudah kamu pergi sendiri!" jawab Afifah sambil menahan emosinya.


Ammar mencoba menahan emosinya dan lebih memilih untuk masuk juga kedalam mobil.


"Fif maaf ...." ujar Ammar sembari menghapus air mata yang membasahi wajah Afifah.


Sementara itu Afifah hanya diam dalam isak tangis.


"Udah jangan nangis lagi ...." ucap Ammar sambil menarik Afifah kedalam dekapannya.


"Fif... aku gak bermaksud kasar!" ucap Amnar kembali.


Tapi, Afifah masih saja diam membisu.


"Sayang ... maaf ya!" kini satu kecupan mendarat di kening Afifah.


"Kamu jahat Mar!" bentak Afifah.


"Sayang ...." Ammar kembali memeluk Afifah.


"Kenapa kamu diami aku berhari-hari? apa salah aku?" kini tangisnya semakin pecah.


"A--aku ...," Ammar diam membisu seakan tak mampu lagi bicara.


"Kamu kenapa?" tanya Afifah kembali.


"Aku pengen kita punya momongan!" Ammar memejamkan matanya.


Afifah yang mendengar itu spontan tersenyum dan langsung memeluk Ammar erat-erat.


Ammar yang mendengar jawaban Afifah tersenyum.


"Aku sayang banget sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu ... maafin aku Fif!" ucap Ammar sambil membelai wajah istrinya.


Dan kini keduanya terhanyut dalam pelukan.


~♡~


Sudah hampir dua minggu Afifah merasa mual. Begitulah setiap hari yang ia rasakan. Ammar yang merasa bingung dengan keadaan istrinya memutuskan untuk membawanya ke dokter.


"Yuk ke dokter ...," ajak Ammar kepada Afifah yang sedang membaringkan badannya di sofa.


"Gak mau," tolak Afifah manja.


"Ayo sayang ... cepetan, kalau kamu kenapa-napa gimana?" kini Ammar mulai menarik-narik tangan Afifah agar ia mau bangkit.


Namun Afifah tetap menggelengkan kepalanya. Sontak Ammar langsung meraih tubuh Afifah dan menggendongnya.


"Ammar turuni!" Afifah memberontak.


Namun tak ada gunanya, Ammar tetap saja menggendong tubuh mungil Afifah hingga tiba di mobil yang terparkir tepat di halaman rumah mereka.


"Sayang ... kita ke dokter ya ...." ucap Ammar sembari menurunkan Afifah dan menciumnya.


Afifah terdiam membisu.

__ADS_1


Tidak ada pembicaraan apa pun sepanjang perjalanan. Afifah lebih memilih untulk memejamkan matanya.


Ammar yang melihat keanehan Afifah hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Sambil sesekali tersenyum simpul ketika menatap wajah Afifah.


45 menit berlalu kini mobil mewah milik Ammar terparkir di sebuah rumah sakit.


Afifah membuka matanya secara perlahan.


"Aaaaa!" teriak Afifah secara spontan karena mendapati wajah Ammar yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Kenapa sih?" tanya Ammar bingung seraya menjauhkan wajahnya dari hadapan Afifah.


"Kamu ngapain dekat-dekat aku? Kamu gak khilaf kan?" tanya Afifah sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Ammar yang mendengar penuturan Afifah tersenyum jail.


"Emangnya kalau Aku khilafin Kamu kenapa?" tanya Ammar santai.


Kini Afifah hanya diam membisu, rasanya bibirnya sudah tak mampu untuk berbicara.


"Emang nya gak boleh kalau suami khilafin istrinya?" Ammar tersenyum jail sambil menatap Afifah.


"Udah turun gih!" seru Afifah sambil membuka pintu mobilnya.


Secara spontan Ammar langsung menutup kembali pintu yang di buka Afifah. Afifah yang merasa kesal langsung menatap Ammar dengan sinis.


"Kenapa sayang?" tanya Ammar sambil menatap kembali tatapan mematikan yang diberi Afifah.


"Ammar, udah ...." ucap Afifah sambil menghenduskan nafasnya.


"Yaudah yuk periksa ...." ajak Ammar sambil membukakan pintu mobil untuk Afifah.


Afifah hanya tersenyum dan segera menggandeng tangan Ammar.


Kini keduanya telah berada di suatu ruangan untuk memeriksa keadaan Afifah.


"Istri saya kenapa Dok?" tanya Ammar merasa khawatir.


Dokter perempuan itu tersenyum kepada Afifah dan Ammar.


"Sakit manja ...." jawab Dokter tersebut.


"Maksudnya?" tanya Ammar kebingungan.


"Istri nya hamil." jawab Dokter tersebut singkat.


Ammar yang mendengar itu secara spontan memeluk Afifah.


"Ammar ...." rengek Afifah yang merasa malu.


"Ya sudah saya tinggal dulu ...." ujar Dokter tersebut sambil tersenyum.


Kini Ammar merasa kikuk sementara Afifah merasa kesal dengan kelakuan Ammar. Namun, tetap saja Ammar melanjutkan pelukan itu.


~♡~

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2