
Sepanjang pelajaran Afifah hanya terdiam membisu tak sepatah katapun keluar dari mulut nya,
Kesya mendekati Afifah,
"Fif," ujar Kesya
Afifah mendongakkan wajah nya,
"Kesya," ujap nya,
Kesya tersenyum,
"Kamu punya masalah?" tanya Kesya
Afifah hanya menggeleng,
"Fifah!" Panggil seseorang dari luar,
"Ana," jawab Afifah
"Di suru ke kantor guru tuh," ujar nya dan segera pergi,
Afifah menatap Kesya
"Ada apa ya Sya, jantung ana berdebar." Afifah mendenggus,
"Kamu penasaran? Cepat ke kantor," perintah Kesya,
Dengan segera Afifah berjalan menuju ruang guru,
Skip,
Afifah masuk ke dalam kantor didapati nya sosok Ammar juga berada di sana,
"Assalamualaikum," ucap Afifah
Ustadz Ustman tersenyum,
"Afifah, ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu dan Ammar," ujar ustadz Ustman mempersilahkan Afifah duduk.
"Ada apa ya ustadz?" tanya Afifah, sambil duduk dengan jarak yang tak begitu jauh dengan Ammar,
"Tentang lomba pidato kemarin, ternyata kamu dan Ammar menang dan akan di kirim untuk perwakilan kota kita," jelas ustadz Ustman,
Ammar melirik ke arah Afifah,
(Yaallah, apa lagi rencana mu?) tanya Ammar dalam hati nya,
Afifah diam membisu,
(Ingin slalu dekat dengan Ammar, itu memang keinginan Fifah, tapi tidak setelah kejadian kemarin) Afifah tersenyum kecut,
"Jadi ustadz harap, malam ini kalian bisa mempersiapkan segala nya, waktu kalian di sana 3 hari dua malam," jelas ustadz Ustman kembali,
Ammar menghela nafas nya,
"Ustadz, ana awwalan," ucap Ammar,
"Tafadhol," ustadz Ustman mempersilahkan,
"Ana juga ustadz," sambung Afifah,
Ustadz Ustman hanya mengangguk dan mempersilahkan kedua nya,
Ammar berjalan mendahului Afifah,
__ADS_1
(Mar, dengan langkah yang sedekat inil, mengingatkan Fifah, dengan masalalu yang pernah ada di antara kita,) Afifah tersenyum,
Ammar menoleh kebelakang sejenak, dengan segera Afifah menundukkan pandangan nya, Ammar hanya menatap Afifah dengan wajah kesal dan melanjutkan langkah nya,
(Fif... ana mau marah, marah dengan keadaan kamu yang memutuskan untuk menjalani hubungan dengan orang lain, Fif, apa rencana Allah sebenar nya?) Ammar masuk ke dalam asrama putra,
Afifah hanya diam dan melanjutkan langkah nya, karna asrama putri berjarak jauh dengan asrama putra.
Ammar menjatuhkan diri nya ke ranjang,
"Mar, antum kenapa di panggil ke kantor tadi?" tanya Fauzan penasaran,
"Masalah lomba pidato," jawab Ammar singkat,
"Putri ada yang lolos gak?" sambung Dzaky,
"Afifah," jawab Ammar singkat,
Dzaky hanya diam dan pergi entah kemana,
"Hmmm, Dzaky cemburu tuh sama antum Mar," Fauzan tersenyum jail,
(Ana yang seharus nya cemburu Zan,) Ammar mengangguk,
"Lucu ya," ucap Ammar,
"Hhh, iya." jawab Fauzan,
"Btw, gimana hubungan antum sama Kesya?" tanya Ammar yang terlihat penasaran,
"Aman, lima bulan lagi kita tamat bulan depan kita bakal ujian semester ganjil, waktu liburan itu bakal ana gunain buat nazor Kesya," Fauzan tersenyum kecil,
Ammar mengangguk sambil memasukkan beberapa pakaian kedalam tas nya,
(Andai seperti itu hubungan ana dan Fifah Zan, pastilah ana akan menjadi orang yang paling bahagia, karna bisa memiliki bidadari secantik Afifah, se cerdas Afifah,) Ammar terpaku.
~♡~
Tidak butuh waktu lama untuk seorang Afifah mandi hanya sepuluh menit saja, Afifah mengenakan gamis bewarna hitam berpaduan dengan jilbab segi bewarna pink, Afifah cantik? itu pasti.
Jam menunjukkan pukul 07:15 WIB,
dengan segera Afifah menuju mobil yang telah di sediakan mahad untuk kepergian nya bersama Ammar,
Afifah terpaku melihat Ammar yang juga memakai kemeja bewarna hitam, begitu pula dengan Ammar yang hanya diam membisu entahlah, ini semua terjadi tanpa di sengaja,
Dengan segera Ammar membuyarkan lamunan nya, dan segera masuk ke dalam mobil, entah ada apa dengan Ammar ia lebih memilik di bangku paling nelakang,
Afifah yang melihat sikap dingin Ammar hanya terdiam seribu bahasa.
Perjalanan kali ini lumayan panjang, tanpa sadar Afifah tertidur dengan pulas nya,
Ammar memperhatikan wajah Afifah,
(Kamu itu cantik nya memang bener-bener alami Fif, bukti nya saat kamu tidur justru kamu malah semakin cantik,) tanpa sadar Ammar tersenyum,
"Laukannal hubbu kalimat taktubu latantahat aqlamie, walakinal hubbu riehun tahub, ( kalaulah cinta adalah kalimat yang harus di tulis niscaya telah habis tinta pulpen ku, akan tetapi cinta adalah udara yang terus berhembus).
Afifah membuka mata nya dengan segera Ammar berpura-pura tidur,
Afifah menoleh ke belakang sambil tersenyum,
"Kalaulah di dada itu masih ada setitik hati yang masih dapat menerima kehadiran Fifah dalam hidup Ammar, pastilah Fifah akan menjadi orang yang paling bahagia Mar," ujar Afifah,
"Apa?" tanya Ammar ketus saat membuka mata nya,
__ADS_1
Dengan segera Afifah membalikkan badan nya,
(Yaallah, gimana ini) Afifah memegangi dada nya yang mulai berdegup tak beraturan,
"Ana gak ngomong apa-apa," jawab Afifah ketus,
Ammar hanya tersenyum melihat tingkah Afifah,
"Udah sampai Fifah mau keluar," ucap Afifah ketus,
Akan tetapi Allah berkata lain, hampir saja Afifah terjatuh, untunglah Ammar menarik nya kembali ke dalam mobil, tatapan Afifah bertemu dengan tatapan Ammar yang begitu dekat,
Afifah memejamkan mata nya,
(Afifah ga bisa buka mata yaallah, karna setiap kali Fifah liat tatapan tajam Ammar, Fifah serasa jatuh kedalam hati Ammar) ujar Afifah dalam hati nya,
Ammar mengalihkan pandangan nya,
(Entah kenapa Fif, setiap aku ngeliat kamu hati ini ingin tersenyum).
Ammar melepaskan Afifah,
"Afwan," ucap nya ketus dan segera meninggalkan Afifah,
"Ammar," tukas Afifah mengikuti langkah Ammar yg begitu cepat,
Ammar tak mempedulikan perkataan Afifah, tetap saja Ammar berjalan dengan langkah panjang,
"Ammar!" Afifah menghentikan langkah nya sambil melempar batu berukuran kecil ke arah Ammar,
Ammar menatap Afifah dengan tatapan sinis dan menghampiri nya,
"Maksud kamu apaan?" bentak Ammar,
"Tau ah," Afifah mendenggus kesal,
"Kalau ana kenapa-napa gimana," Ammar merasa kesal,
"Bodo amat Fifah ga peduli," Aifah mengalihkan pandangan nya,
"Saya disini," bentak Ammar,
"Fifah tau," ketus Afifah
"Terus apa yang kamu lihat di atas?" tanya Ammar dengan nada tinggi,
"Bukan urusan Ammar," celoteh Afifah,
Perdebatan terus terjadi di antara mereka,
"Gaje," ucap mereka bersamaan,
Spontan kedua nya terdiam, seperti nya ada ingatan di masa lalu,
"Ana awwalan,"
Ammar melanjutkan langkah nya, sementara Afifah hanya terdiam,
(Yaallah, apa ini ana ingin melupakan bukan mengingat,tapi kenapa rasa nya semakin nyaman saat Fifah berada di dekat ana?) Ammar tersenyum.
~♡~
Bersambung....
Semakin ingin melepas justru semakin dekat, apa ini????
__ADS_1
Mohon krisan nya