A2 Kekasih Halalku

A2 Kekasih Halalku
~Why?~


__ADS_3

"Yaudah ... Ayah, Bunda, kami pergi dulu ya ...." Ammar dan Afifah segera berpamitan untuk pindah kerumah baru mereka.


Keduanya masuk kedalam mobil, kini mobil bergerak dengan perlahan.


"Afifah mau bayi ...." goda Ammar.


Seketika raut wajah Afifah berubah.


"Ammar!" teriaknya dengan wajah memangsa.


Sementara Ammar hanya terkekeh melihat tingkah laku istrinya ini.


"Iya sayangku ...." Ammar menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan kebiasaan ngeledek dong!" Afifah terlihat semakin kesal.


"Iya sayang nanti kita buat adek ya ...." kini Ammas semakin meraya Afifah.


Afifah tak mempedulikan Ammar ia hanya memainkan bola matanya.


"Sayang ...." panggil Ammar.


Bukannya menjawab Ammar, justru Afifah malah memejamkan matanya, sekilas Ammar memandang wajahnya.


"Yaelah malah tidur." Ammar mendenggus kesal.


Empat jam perjalanan berlalu kini keduanya telah tiba di rumah baru mereka, Ammar yang melihat Afifah masih tertidur pulas langsung meraih tubuhnya untuk di bawa kekamar.


"Ammar lepas!" teriak Afifah yang tiba-tiba membuka matanya.


"Sttt ... jangan teriak-teriak!" ucap Ammar sembari meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir mungil milik Afifah.


Kini Afifah hanya diam membisu, wajah Ammar terlihat lebih tampan dalam keadaan seperti ini.


Ammar membuka pintu dengan perlahan, dan segera menguncinya dari dalam.


"Kok di kunci?" Afifah mengernyitkan dahinya.


"Biar ga ada yang ganggu ...." Ammar tersenyum jail.


Deg ...


Seketika jantung Afifah mulai berdetak tak beraturan.


'Ammar mau apa?' Afifah hanya diam tak berkutik sedikitpun.


"Sayang ...." Ammar menghampiri Afifah.


"Aku cuma becanda kemarin," elak Afifah.


"Tapi aku serius sayang ...." sambung Ammar.


Afifah hanya diam membisu tak ada jawaban apapun keluar dari mulutnya.


"Santai aja lah Fif! aku juga becanda kok!" Ammar segera keluar dari kamar, namun sepertinya raut wajah Ammar berubah penuh kekecewaan. Afifah menghembuskan nafas lega sembari merebahkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


Sementara Ammar hanya berdiam diri di luar ruangan sambil menatap langit yang bertaburan dengan bintang. Rasanya sudah cukup lama ia menunggu Afifah menawarkan dirinya namun ... ternyata hanya sebuah lelucon belaka, sungguh menggemaskan.


[Mar ... kamu gak tidur?] Ammar hanya diam ketika mendapat pesan itu.


[Sayang ... udah malam!] kembali satu notifikasi masuk ke gadget Ammar, masih dengan keadaan yang sama Ammar hanya diam tak merespon.


"Ammar ...." ucap Afifah yang tiba-tiba telah berada di belakang Ammar.


Ammar membalikkan badannya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Ammar datar.


"Yuk tidur!" ajak Afifah.


Ammar tak merespon ucapan Afifah tanpa perkataan apa pun Ammar langsung pergi meninggalkan Afifah masuk kedalam rumah.


~♡~


Pagi kembali menyapa tampak Afifah tengah sibuk mempersiapkan sarapan untuk pagi ini.


"Fif, aku pergi dulu ...." ucap Ammar dingin.


"Gak mau sarapan dulu?" tawar Afifah sembari menghampiri Ammar.


Sementara Ammar hanya memancarkan tatapan dinginnya, Afifah tak berpikir panjang untuk hal ini ia hanya berpikir bahwa Ammar hanya ingin membalas kejahilannya beberapa hari lalu.


"Ya udah nanti siang aku anteri makanan aja ya ke asrama ...." ujar Afifah.


Tak ada jawaban apapun dari Ammar ia hanya pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun, sementara Afifah hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami.


~♡~


Di tempat yang berbeda Ammar tengah duduk di ruangannya,entah apa yang tengah ia pikirkan wajahnya begitu muram seakan-akan tak ada kehidupan pada dirinya.


"Permisi!" seorang wanita cantik masuk kedalamnya, itu adalah Milan.


Ammar hanya terdiam menatap apa yang dilihatnya.


Perlahan Milan mendekatinya hingga akhirnya ia duduk tepat di hadapan Ammar, jujur saja sebenarnya Ammar merasa jengah dengan keadaan seperti ini namun 'tak mungkin ia mengusirnya.


"Ada apa?" tanya Ammar dengan tatapan dinginnya.


Milan tersenyum sembari menyodorkan sebuah undangan pernikahan di meja Ammar, Ammar menatap undangan itu perlahan.


"Kamu mau nikah sama siapa?" tanya Ammar.


Milan tersenyum,


"Ini undangan pernikahan kita Mar, masa iya kamu lupa sama janji kamu ... lagian ya Mar nunggu Kamu itu lama banget untuk mempersiapkan segalanya, makanya Aku persiapin aja sendiri, gimana Kamu suka?" tanya Milan dengan nada manjanya.


Afifah yang tengah berada di tempat itu secara sengaja langsung menjatuhkan bekal makanan yang sengaja di bawa untuk Ammar.


"Fifah!" Ammar terperanjat dari duduknya.


"Dia siapa Mar?" tanya Milan bingung.

__ADS_1


"Dia istri Aku! maaf kalau Aku belum pernah cerita soal ini tapi ... ini lah kenyataannya sekarang, Aku sudah memiliki istri dan Aku sangat mencintainya!" tutur Ammar sembari menghampiri Afifah.


Afifah menatap Ammar sinis,


"Fif!" ujar Ammar.


"Aku mau pulang Kamu gak usah jemput Aku, faham!" ucap Afifah dingin.


"Tapi Fif ...," Ammar mencoba menahan Afifah.


"Mar udahlah! Aku ngerti kenapa Kamu bersikap dingin sama Aku sejak kemarin malam, Milan alasannya kan? sekarang Aku tau dulu Kamu menikahi Aku karena berpikir bahwa Milan gak bakal kembali lagi! tapi, sekarang Milan ada di sini dan Aku yakin Kamu menyesal karena telah menikahi Aku ...," kini emosi mulai menguasai diri Afifah.


"Fif, kamu salah!" sergah Ammar.


"Diam Mar! diam!" bentak Afifah.


"Kamu dengar Aku sebentar aja ....," Ammar menghembuskan nafasnya, tak tahu lagi bagaimana ia harus menjelaskan hal ini.


"Aku gak mau dengar apa-apa lagi dari mulut Kamu! semuanya dusta! semua hanya sebatas kata! gak ada satupun yang pantas di percaya!" bentak Afifah.


Kini kekesalan terpancar dari wajah Ammar entah apa yang tengah dibicarakan Afifah, sedikitpun ia tidak mengerti.


"Cukup Fif! sekarang kamu pulang! tanyakan kepada Allah dosa apa yang kamu lakukan hari ini!" Ammar menutup pintu begitu keras.


"Dia nyuru Aku pergi dan lebih memilih berdua-duaan di dalam dengan wanita itu?" Afifah mendenggus kesal.


Sementara Ammar kembali duduk di kursinya.


"Mar maaf! karena Aku Kamu jadi bertengkar sama istri Kamu, Aku kira Kamu belum menikah sekali lagi maaf!" ujar Milan dan segera meninggalkan ruangan Ammar.


Setiap rumah tangga pasti akan di goyahkan dengan permasalahan, karena seperti itulah hukum kehidupan, hanya orang-orang hebatlah yang dapat mempertahankan keadaan seperti itu. Keadaan dimana situasi mengatakan berpisahlah maka masalah 'tak akan pernah menghampirimu kembali dan hanya hati-hati yang memiliki kesabaran saja lah yang akan bertahan sebab ia tahu jika ia pergi maka keadaan akan semakin sulit bukan membaik.


Jam telah menunjukkan pukul 12.00 kini saatnya Ammar pulang kerumah, rasa bersalah berselimut pada dirinya, rasanya ingin sekali ia meminta maaf kepada Afifah saat ini juga.


Dengan segera Ammar meninggalkan lokasi asrama untuk menuju rumahnya yang 'tak begitu jauh dari mahad ia mengajar.


Hanya dalam waktu tiga puluh menit Ammar telah tiba di rumahnya dengan segera ia masuk kedalam rumah di dapatinya Afifah tengah tertidur dengan air mata yang tengah mengalir dari kedua pelupuk matanya.


"Sayang ...." bisik ammar lembut.


Afifah membuka matanya di dapatinya Ammar tengah tersenyum kepada dirinya.


Dengan segera Afifah mengalihkan pandangannya, dan beranjak pergi.


"Tunggu!" Ammar merik tangan Afifah hingga wajah keduanya saling bertemu.


Tak ada jawaban apapun dari Afifah ia hanya diam tanpa sepatah katapun.


"Kamu boleh salah faham dengan hal apa pun tapi cobalah untuk mencari kebenaran dari kesalah fahaman itu! Kamu boleh mengatakan apapun yang kamu lihat! tapi jangan pernah sekalipun Kamu berpikir bahwa Aku tengah bermain cinta dengan wanita lain! karena Aku tidak akan pernah mengkhianati janji suci pernikahan Afifah!" Ammar berbisik di telinga Afifah.


Namun Afifah tak mempedulikan hal itu dengan segera ia melepaskan genggaman Ammar dan pergi begitu saja.


~♡~


Bersambung ....

__ADS_1


Note: kalian boleh salah faham dengan apapun yang kalian lihat, tapi ... cobalah untuk mencari kebenaran dari kesalah fahaman itu☺


__ADS_2