
Kini hari pernikahan antara Ammar dan Afifah semakin mendekat, perasaan haru, bahagia, canggung semakin mendekat.
[Pernikahan di percepat?] Bu Ikha bertanya kaget saat menerima telpon itu.
Afifah yang mendengar itu tentunya menjadi lebih canggung, entah bagaimana perasaannya sekarang.
"Fah, magrib nanti siap-siap ya," ujar Bundanya.
Deg..
Jantung Afifah mulai berdegup kencang, benarkah Ammar akan menjadi miliknya? kini berbagai pertanyaan-pertanyaan mulai menyelimuti dirinya.
"Fifah cepetan!" perintah Bundanya.
"Eh, iya Bun," Afifah segera beranjak dari duduknya.
Hari semakin sore wajah Afifah mulai dirias, kini sehelai kain menutupi parasnya yang jelita itu.
Biarlah Ammar yang membukanya nanti setelah selesai akad.
Waktu terus berlalu, kini tiba saat yang di tunggu-tunggu, seorang penghulu duduk di hadapan Ammar, sedangkan Afifah berada di dalam kamarnya.
Kini selesai sudah ijab tersebut, Ammar mengucapkannya dengan begitu lancar, terdengar suara adzan berkumandang, Ammar memilih untuk solat berjama'ah di mesjid terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Afifah.
Sementara Afifah terus berada di dalam kamarnya perasaan canggung terus menyelimuti dirinya.
Dilihatnya berbagai Dairy terletak di sebelah ranjangnya, apa yang harus Afifah lakukan sekarang? tentu Ia akan merasa sangat malu jika Ammar melihat isinya.
Afifah ingin mengambil semua note itu, namun tiba-tiba Ammar masuk kedalam kamarnya, spontan Afifah terpaku.
Ammar mendekati Afifah sambil melempar senyumnya.
__ADS_1
Sementara Afifah hanya menundukkan wajahnya.
Ammar menaikkan pandangan Afifah seraya membuka cadar yang dikenakan Afifah,
Afifah tersenyum melihat apa yang di lakukan Ammar saat ini. Dengan segera Afifah mengecup tangan Ammar sementara Ammar membalasnya dengan ciuman.
'Afifah malu!' batin Afifah berteriak kencang.
Ammar terus menatap Afifah yang sedari tadi terlihat bingung.
"Fif," Ammar memegang kedua sisi wajah Afifah, sambil mengarahkannya kepada tatapannya.
"Iya," jujur saja Afifah sangat ingin memejamkan matanya saat ini, terlebih dengan tatapan Ammar yang begitu tajam dan terlalu dekat.
'Udah deh, Fifah mati aja, gak sanggup Fifah sama tatapannya itu' Afifah mencoba untuk tersenyum manis walaupun jantungnya seakan berhenti berdetak.
'Yaampun, kok malah senyum sih Fif,' Ammar membalas senyuman Afifah.
Kini keduanya saling bertatap wajah tak ada sepatah katapun yang terucap dari keduanya.
Aaaaaa..
Tiba-tiba saja lampu mati, spontan Afifah memeluk Ammar, jujur Afifah sangat terkejut.
"Kamu kenapa?" Ammar membalas pelukan Afifah,
"Gelap," jawab Afifah yang tetap memeluk Ammar.
"Tunggu disini, jangan kemana-mana," Ammar melepas pelukan Afifah dan segera beranjak pergi.
"Ammar.." Afifah merasa takut,
__ADS_1
Kini seutas cahaya berada dalam ruangan itu,
Ammar menghampiri Afifah,
"Kamu dapat lilin dari mana?" tanya Afifah sambil menggenggam erat tangan Ammar.
Ammar tersenyum sambil memegang kedua belah sisi wajah Afifah.Tatapan nya pun semakin dekat mungkin hanya berjarak dua senti saja antara wajah Afifah dan Ammar.
"Sayang.. jangan takut ada aku yang akan slalu berada di sisimu," Ammar mencoba menenangkan Afifah,
"Tapi.." elak Afifah,
"Sttt.. tidak akan ada yang melukai mu saat kamu berada dalam dekapan ku," kini jari telunjuk Ammar mendarat di bibir mungil milik Afifah.
Deg..
Degupan jantung Afifah mulai tak karuan, tapi biarlah dia tak peduli yang terpenting saat ini ada orang di dekatnya.
Ammar merebahkan tubuhnya mungkin Ia merasa lelah.
Sementara Afifah masih merasa takut, dengan lembut Ammar menariknya kedalam dekapannya, begitu hangat tatapan Ammar.
"Kamu tidur, aku bakal jagai kamu," ujar Ammar sambil membelai halus wajah Afifah.
Afifah memejamkan matanya, sementara Ammar terus membelainya hingga Afifah tertidur pulas.
"Benar-benar indah makhluk ciptaan mu ya rob," Ammar tersenyum sambil mengecup Afifah dan ikut terlelap dalam keheningan malam.
~♡~
Bersambung..
__ADS_1
Yang baper minggir!