A2 Kekasih Halalku

A2 Kekasih Halalku
~Halalkan Jika Masih Cinta~


__ADS_3

Malam tiba Afifah tampak menjauhkan dirinya dari Ammar,


"Sayang...." Ammar mencolek pipi Afifah,


Namun tak adarespon untuk hal itu,


"Kamu kenapa sih?" tanya Ammar bingung,


"Kamu yang kenapa Mar!" Afifah berseru,


"Sayang aku gak ngerti," Ammar mencoba menjelaskan,


Dengan perlahan Afifah menghembuskan nafasnya,


"Kamu ngerti Mar, tapi kamu yang gak mau memahaminya," Tatapan Afifah kini semakin dingin,


Ammar terdiam kini pandangannya kosong, jujur saja ia memang tak mengerti dengan apa yang di maksud Afifah saat ini,


"Aku mau keluar kamu mau ikut?" tawar Ammar,


Afifah melirikkan matanya,


"Gak usah, nanti terganggu pertemuannya sama kekasih lama!" tukas Afifah dan pergi begitu saja,


"Kekasih lama?" tanya Ammar pada dirinya sendiri,


Kini ia mengerti apa maksud Afifah,


"Afifah!" panggil Ammar,


"Pergi aja!" sahut Afifah penuh kekesalan,


"Sayang, aku bisa jelasi semuanya!" teriak Ammar,


"Udah pergi aja cari Milan, aku udah faham," ucap Afifah,


Ammar mendekati pintu kamar mandi,


"Sayang buka pintunya," pinta Ammar dengan lembut,


Namun tak ada jawaban apapun dari sang empu,


"Fif, aku gak akan kembali kepada Milan!" Ammar mencoba menjelaskan,


"Untuk apa bertahan jika rasa lama masih ada," kini air mata mulai membanjiri kedua pipi Afifah,


"Fif...." Ammar memejamkan matanya,


"Halalkan dia jika kamu masih mencintainya, jangan jadikan aku penghalang untuk cinta kalian," tukas Afifah lembut,

__ADS_1


"Fifah," panggil Ammar kembali,


"Mar, aku mau sendiri, jangan ganggu aku!" pinta Afifah,


"Oke kalau itu mau kamu, aku gak akan memaksakan," Ammar mulai melangkah untuk menjauh dan pergi,


'Cinta memang gak pernah salah hanya saja kita yang salah memberikan cinta!' Kini air mata benar-benar membanjiri kedua pipi Afifah,


Sementara itu Ammar pergi entah kemana,


Afifah membuka pintu kamar mandi menuju jendela kamar, benar pikirannya bahwa Ammar akan pergi,


"Pergilah jika dengan itu kamu dapat menemukan cinta yang sesungguhnya, aku ikhlas!" Afifah tersenyum sembari menghapus air matanya.


~♡~


Hari telah berganti namun sosok Ammar belum juga muncul, apa Ammar benar-benar ingin mengejar cinta masalalunya?


Apakah Ammar akan menepati janjinya kepada Milan, beberapa tahun silam?


Entahlah itu semua tak penting untuk Afifah,


Afifah menatap dalam foto Ammar yang tengah di pegangnya,


"Jujur aja sebenarnya hati ini gak pernah ikhlas saat ada orang lain yang mendekati kamu ... tidak sedikitpun keikhlasan itu ada di benak ini saat orang lain bertegur sapa denganmu, lalu sekarang aku harus ikhlas untuk melepaskanmu kedalam pelukan orang lain? apa aku kuat? dan setega itukah kamu?" Afifah menahan isak tangisnya sambil memeluk foto Ammar dengan erat.


[Mar ... kamu dimana? aku minta maaf atas keegoisan aku tadi malam, tolong kembali walau cintamu untukku harus terbagi antara diri ini dan orang lain,Mar ... maafkan aku!]


"Arghhhhh!" Afifah membanting semua note booknya dan beberapa bingkai foto yang berkaitan dengan Ammar.


"Semuanya salah! bahkan cintapun salah! gak ada yang adil di dunia ini!" Afifah menjatuhkan dirinya kelantai.


FLAS BACK ....


"Fifah ini Milan pacar aku, dan Milan ini Afifah temen aku," Ammar memperkenalkan Afifah kepada Milan.


"Hai Afifah," sapa Milan dengan senyum manisnya.


Sementara itu Afifah hanya tersenyum sepertinya ada luka yang tengah disembunyikannya.


FLASBACK ON ....


"Mar kamu jahat!" teriak Afifah.


Afifah menatap gadgetnya, sepertinya ada pesan yang diterimanya.


[Sayang ... maaf ya aku gak pulang semalaman, soalnya tadi malam setelah aku beli sesuatu buat kamu aku ke jebak macet setelah itu hujan deras, dan mobil mogok karena banjir nya terlalu tinggi, kamu jangan cemas ya aku gak papa kok ... kamu gak egois kok, sayang ... jangan sekali-kali kamu berpikir bahwa aku akan kembali kepada masalaluku,


Hidupku kini hanya untukmu, dan tujuanku hanya untuk membahagiakanmu, tak seorangpun yang bisa menggantikanmu, karena kamu terlalu sempurna untuk di duakan terlebih di gantikan, sayank ... hidupku milikmu, dan tanpa mu aku tidak bisa hidup lantas untuk apa aku harus mencari orang lain?] seketika Afifah diam tak berguming,

__ADS_1


Dengan segera ia membereskan kekacauan yang terjadi, tiga puluh menit berlalu terdengar suara klakson mobil dari halaman rumah dengan cepat Afifah berlari dari kamarnya menuju lantai bawah, tepat di ambang pintu.


"Ammar!" teriak Afifah sembari berlari kedalam dekapan Ammar,


Ammar tersenyum dan membalas pelukan itu,


"Apa yang terjadi?" tanya Ammar sambil mengecup kening Afifah,


"Aku cinta kamu, jangan pergi aku gak bakal kuat hidup tanpa kamu," rintih Afifah,


Ammar kembali tersenyum,


"Kamu ngomong apa sih? Fifah sayang ... kamu taukan bidadari Al-fatih siapa? jadi jangan berpikir bahwa akan ada orang lain yang akan menjadi bidadariku," jelas Ammar.


Kini Afifah tersenyum dan melepaskan pelukannya,


"Ini buat kamu ...." Ammar memberikan selembar kertas kepada Afifah dan segera masuk.


Dengan perlahan Afifah membuka lembar kertas itu, sementara Ammar hanya memperhatikannya dari ambang pintu.


Untukmu ....


Bidadariku jangan pernah berpikir bahwa aku akan mencintai orang lain dalam hidupku,


Sebab aku tau memenangkan hati itu bukanlah sebuah hal yang mudah,


Dan memaafkan itu tak semudah membalikkan telapak tangan,


Bukan hanya itu ....


Aku juga tidak bisa mencintai orang selain kamu,


Jadi tolong,


Jangan berpikir buruk tentangku,


Karna itu akan melukaimu sayang,


Jangan pikirkan lukaku,


Sebab ....


Lukaku akan sembuh dengan sendirinya ketika bibirmu kembali tersenyum tanpa kebohongan.


Kini benar senyuman itu kembali merekah di wajah Afifah, dengan segera Afifah membalikkan badannya, Ammar yang melihat itu hanya tersenyum manis sembari menarik Afifah kedalam pelukannya,


"Aku hanya mencintaimu sayang .... karena bidadari tak pantas untuk di duakan apalagi di gantikan." Kini pelukan keduanya terlihat sangat erat.


~♡~

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2