
Afifah terus melangkahkan kaki nya, entah kemana ia akan melangkahkan kaki nya,
"Fifah," Dzaky yang tak sengaja berpapasan dengan Afifah menarik tangan nya,
Afifah tak mempedulikan siapa yang ada di hadapan nya, dengan segera Afifah meletakkan kedua telapak tangan nya di wajah nya,
"Fifah kenapa?" tanya Dzaky penuh kekhawatiran,
Afifah hanya menggeleng tanpa jawaban,
Dzaky menurunkan kedua tangan Afifah, tampak air mata mengalir dari kedua pelupuk mata nya,
"Fif, kamu kok nangis, siapa yang berani lakui ini ke kamu?" Dzaky terlihat sangat khawatir,
Afifah menghapus air mata nya,
"Ky, kamu janjikan gak bakal ninggali Fifah, Dzaky janjikan bakal slalu ada buat Fifah, Dzaky gak bakal kecewai Fifah kan?" Afifah menundukkan wajahnya,
Dzaky tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Afifah barusan,
"Fif, ana pernah bilangkan kalau kita akan menjadi seperti mubtada dan khobar dimana ada mubtada pasti ada khobar kita gak bakal berpisah dan terpisahkan,"
Spontan lengkungan indah terbentuk di bibir Afifah,
"Yaudah kamu balik ke asrama ya, soal nya ana mau ke maktabah cari buku buat ujian besok," Dzaky meninggalkan Afifah dengan segera,
Dengan segera Afifah kembali ke asrama, ia tengah di sibukkan dengan loster ujian tampak nya Afifah benar-benar tak ingin mempedulikan Ammar lagi,
"Hai Fif." sapa Kesya
Afifah hanya tersenyum dan meneruskan pelajaran nya,rampak wajah sumringah nya bergelora, Kesya tampak bahagia dengan apa yang di lihat nya.
Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 22.00, Afifah merebahkan tubuh nya ke ranjang sejenak ia menatap langit-langit ruangan, hingga akhir nya tertidur pulas.
Kesya mendekati Afifah sambil menatap nya,
"Andai kamu tau Fif, Ammar begitu sayang sama kamu tidak ada wanita lain yang di cintai nya kecuali kamu dan ibu nya, apa kamu akan memaafkan Ammar kembali?" Kesya menghela nafas nya dan menyusul Afifah yang tengah berada di dalam dunia mimpi.
Waktu terus berjalan Afifah telah memakai seragam nya, dengan segera Afifah dan Kesya pergi menuju kelas nya.
Tak sengaja mereka berpapasan dengan Ammar, Fauzan, dan Dzaky.
"Sebentar lagi," Fauzan tersenyum jail kepada Kesya,
Sontak Kesya terpaku di tempat,
"Fauzan apaan sih, malu." ujar nya,
Afifah mendongakkan wajah nya, bertemulah tatapan mata Afifah dengan tatapan Ammar tanpa di sengaja, Afifah tak terlalu mempedulikan Ammar dengan segera ia mengalihkan tatapan nya, sambil tersenyum manis kepada Dzaky.
"Ketika kamu menatap mata ini hati ini terasa jatuh," Dzaky menundukkan wajah nya karena tersipu,
'Dan ketika Dzaky mengatakan itu, hati ini terasa sakit,' Ammar menatap Afifah yang masih memperhatikan Dzaky,
"Yuk Fif, ujian lima belis menit lagi," dengan segera Kesya menarik tangan Afifah,
__ADS_1
Ammar terus menatap kepergian Afifah begitu pula Dzaky.
'Fif, jika benar kita berjodoh tentulah ana akan menjadi orang yang paling bahagia di bumi ini,' Dzaky tersenyum manis,
'Fif, ana pengen liat kamu bahagia dan ana yang memberikan kebahagiaan itu, tapi ana bisa apa kalau kenyataan nya bukan ana pilihan terakhir kamu,' Ammar segera meneruskan langkah nya yang terhenti.
Ujian hari ini berjalan dengan baik, Afifah keluar mendahului Kesya,
"Fifah," ujar Ammar,
Afifah menghentikan langkah nya,tanpa menoleh kearah Ammar,
"Fif, hati kamu sakit?" Ammar mengalihkan pandangan nya,
"Sedikitpun tidak, karena Fifah sadar, Fifah kehilangan orang yang hanya mempermainkan Fifah, sedangkan Ammar kehilangan orang yang benar-benar mencitai Ammar, hati Fifah sakit itu pernah terjadi tapi, merasakan apapun sekarang tidak Mar," Afifah meninggalkan Ammar dengan segera,
'Mungkin ana harus benar-benar mengikhlaskan Fifah, mungkin hati nya benar-benar kecewa, dan ana bukan orang yang pantas untuk nya, biarkan Fifah menjadikan Dzaky pilihan terakhir nya, kebahagiaan Fifah bersama Dzaky bukan ana,' Ammar menghembuskan nafas nya sambil meneruskan langkah nya.
Afifah membalikkan badan nya,
'Bahkan berusaha untuk memperbaiki pun tidak, dia justru pergi sudahlah Fif, bukan kamu cinta sejati nya, dia membatalkan pernikahan nya bukan karena mencintai Fifah, tapi karena tidak mencintai Aisyah, dan memiliki orang yang lebih baik dari Aisyah tapi bukan Afifah orang nya,' Afifah tersendu.
~♡~
Ujian telah selesai kini mereka telah kembali kerumah masing-masing,
"Fif," panggil Bu Ikha
"Ya bun," sahut Afifah yang baru saja selesai merias diri nya,
"Yuk, turun ke bawah, ada tamu," Bu Ikha meninggalkan Afifah dengan segera dan turun ke bawah,
"Kenapa ada Ammar?" gumam Afifah,
Afifah duduk di sebelah bunda nya,
"Sayang, ini Ammar orang yang akan ayah jadikan suami kamu," jelas pak Dhani.
Sontak tatapan mata itu kembali bertemu,
"Fifah gak mau di jodohin, Fifah punya pilihan sendiri dan bukan Ammar orang nya, Fifah gak cinta sama Ammar sedikit pun tidak." Afifah meninggalkan meja makan dengan penuh kekesalan.
"Hmm, maaf semua nya ya, Fifah sebenar nya gak begitu kok, tapi gak tau kenapa akhir-akhir ini sering gitu," jelas Bu Ikha kepada keluarga Ammar.
"Kita bisa maklumi kok," jawab abi Ammar,
'Ternyata cinta itu benar-benar udah pudar dari hati kamu Fif, bahkan secepat ini, Fif, ana masih mencintai kamu,' Ammar tersemyum kepada kedua orang tua Afifah.
Berbeda dengan Afifah yang lebih memilih untuk mengurung diri nya di dalam kamar,
-FLASH BACK-
Afifah terjatuh kedalam dekapan Ammar, kini tatapan itu begitu dekat,
"Kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku temui, tapi, bukan karena cantik aku mencintai kamu,"
__ADS_1
Afifah memejamkan mata nya,
"Tapi karena tatapan kamu yang slalu buat aku mati berdiri saat ke dua tatapan ini saling bertemu," Ammar melepaskan Afifah dan meninggalkan nya,
"Mar, i love you," Afifah tersenyum manis,
Ammar hanya sedikit menoleh kebelakang,
"Aku gak bakal ninggali kamu apa lagi buat kamu kecewa." jawab Ammar sambil melanjutkan langkah nya,
Afifah hanya menggelengkan kepala nya dengan jawaban yang di dapatkan nya.
"Argh..."
Afifah memukul meja yang berada di dekat ranjang nya,perlahan ia membuka note nya.
For A♡
Kita pernah saling mencintai,
Kita pernah saling memiliki,
Kita pernah saling menjaga,
Kita pernah saling takut akan kata kehilangan,
Kita pernah saling berjuang,
Rasa kita pernah bersatu,
Tatapan kita pernah saling bertemu,
Kita pernah memiliki rasa yang sama saat itu semua terjadi,
Tapi itu dulu,
Tidak dengan sekarang,
Itu hanya kenangan yang tak perlu di ingat terlebih di ulang,
Kini kita hanya dua jiwa yang terpisah,
Kamu dan aku tanpa ada kita,
Kita hanya harus melupakan,
Dan menganggap tidak ada yang berarti dari masalalu itu...
Afifah menutup lembar note itu sambil memejamkan mata nya.
~♡~
Bersambung....
Perpisahan dan perkataan yang mengakhiri segala nya bukan berarti mengakhiri rasa, hanya saja rasa itu harus di lupakan, karna tidak semua masalalu yang kembali akan sama seperti sedia kala...
__ADS_1
Mohin krisan nya, yang baper awas minggir!
Just kidding semoga menikmati ya readers tercinta😘