
Mereka pun makan dengan teratur dan kini berkumpul di ruang tamu untuk menyelesaikan apa yang tadi tengah di bahas Hanif
"Kamu serius han...? Mau lamar Sirah...? " (Tanya sang Abi terang-terangan)
"InsyaAllah bi... itupun kalau abi setuju...! "
"Kalau Abi sih setuju-setuju saja... tergantung kamu dan calon kamu aja...! "
"Jadi Abi nge restuin...? " (Tanya Hanif antusias)
"InsyaAllah kalau kamu benar-benar serius...! " (Balas sangat Abi)
"InsyaAllah serius bi.. gimana kalau Gita percepat prosesi nya aja...? " (tanya Hanif lagi-lagi membuat semua orang yang ada di ruangan itu terbelalak kaget dengan penuturan nya tersebut)
"Apa....? " (Sahut mereka bersamaan karena tak percaya dengan kata-kata yang harus aja terucap dari bibir Hanif)
"Kenapa...? Gak setuju... aku kan nanya pendapat kalian...? "
__ADS_1
"A.. a.. pa itu gak terlalu terburu-buru kak...? " (Tanya Sirah gugup karena dialah sasaran nya kali ini)
"Kenapa... kamu gak mau di hitbah sama aku...? " (protes Hanif karena kini calon nya lah yang angkat bicara)
"Bukan gitu kak.. hanya saja... Ini seperti terlalu singkat kak... Bisa gak tunggu kakak selesai kuliah dulu... sekalian aku masih mau melanjut kan cita-cita aku sembari menunggu kedatangan kakak...?"
Hanif tampak mencerna Ucapan Sirah
"Setuju aja kak... ngebet banget pen nikah...! " (Ara semakin jahil terhadap sang abang)
"Bukan ngebet Ra... bukan nya lebih cepat itu lebih bagus... toh ini juga ibadah yang di anjurkan
"Kalau abi sama umi sih terserah kamu sama calon kamu aja nak... toh juga ini adalah
niat baik... untuk apa di tolak...! "(Jelas sang Abi juga sekaligus jawaban sang umi karena mereka hanya menginginkan yang terbaik bagi anak mereka)
" Sirah bicara sama ayah dan bunda Sirah dulu ya Om... Tan... jika mereka setuju Sirah akan kabarin ke sini...! "
__ADS_1
"Baiklah nak... yang penting kau tidak keberatan dan hal ini tidak menjadi masalah
bagi kamu serta tidak memberatkan diri kamu... karena pernikahan adalah hal yang paling sakral yang harus benar-benar butuh kesiapan mental dan fisik yang kuat...! " (jelas sang Umi)
"Iya Tan... InsyaAllah...! " (jawab Sirah lembut)
"Ya sudah... kalau begitu Umi sama Abi masuk kamar duluan ya... kalian ngobrol aja...! "
"Iya mi...! " (Sahut Ara dan Hanif secara bersamaan)
Setelah berkata demikian Umi dan Abi mereka pun meninggal kan mereka yang masih asik bercengkramah di ruang tamu tersebut
"Han... boleh gak aku ngomong sama Ara bentar ke depan...? " (Izin Arif yang kini baru mengeluarkan suara nya setelah beberapa saat menjadi penonton antara pembahasan yang baru saja di lakukan keluarga tersebut)
"Mau ngomong apa coba kalian... Jangan-jangan...? "
"Jangan berfikir yang aneh-aneh Han... aku gak akan ngapa-ngapain adik kamu.. hanya saja aku ingin bicara berdua saja dengan dia saat ini... jika kamu mengizinkan nya...! " (Ucap Arif hati-hati)
__ADS_1
"Ya aku sih terserah dia.. dia mau kamu ajak ngomong berdua atau gak ya itu hak dia... lagian kamu juga tau sendiri kan dia wanita yang seperti apa...? "(Ucap Hanif memperingat kan karena Ara adalah wanita yang sangat susah untuk di ajak bercengkrama selama beberapa tahun di tinggal Hanif ke Mesir)