
Terdengar suara bel berbunyi, menandakan bahwa kelas sudah berakhir. Terlihat seorang gadis cantik sedang merenggangkan otot tangannya ke atas sambil menguap. Setelah itu, gadis tersebut membereskan barang-barangnya dan memasukannya ke dalam tas. Tidak lupa ia membalas sapaan teman-temannya yang berpamitan untuk pulang duluan atau sekadar menyapa.
"Hyera, mau main ke rumah gue gak? Mumpung hari ini gue lagi bahagia. Mau buat masakan dengan resep baru dan lo bakalan jadi orang pertama yang makan," ajak Ayla dengan semangat. Senyum manisnya terukir di wajah cantiknya. Pipinya yang chubby dengan mata yang menyipit lucu, membuat visual wajahnya seperti boneka hidup yang menggemaskan.
Gadis yang bernama Hyera itu menoleh, "hari ini enggak dulu, Ayla. Gue harus beli barang-barang yang disuruh sama nenek lampir dulu di supermarket. Kapan-kapan aja ya gue ke rumah lo nya."
Ayla mengangguk mengerti. "Oke deh, gue tunda dulu buat masakan spesialnya. Kalo gitu, gue balik duluan ya. Bye-bye, Hyera."
Setelah mengucapkan kata perpisahan, Ayla berjalan keluar dari kelas dan meninggalkan Hyera sendirian di dalam kelas yang sudah sepi. Hyera menggelengkan kepalanya sembari menatap kepergian sahabatnya itu yang sudah menghilang dari pandangannya. Merasa barang-barangnya sudah masuk ke dalam tas, ia mengalungkan tali tasnya pada pundak kirinya dan berjalan menuju ke pintu.
Ketika sudah sampai di luar kelas dan ingin menutup pintu, Hyera kemudian tersadar akan sesuatu dan menepuk keningnya, "aish, tadi kenapa gak sekalian aja gue ajak ayla buat ikut? Lumayan 'kan bisa bantuin gue bawa belanjaan nanti. Bego banget sih lo, Hyera."
Dengan perasaan kesal karena tidak terpikiran hal tersebut, Hyera menutup pintu dengan keras sehingga terdengar suara dentuman yang cukup kencang. Untung saja keadaannya sudah benar-benar sepi. Kalau tidak, bisa-bisa ia terkena omelan orang-orang karena melakukan kegaduhan.
***
"Halo, kenapa, Jo?" tanya seorang pria ketika menjawab panggilan di ponselnya.
Saat ini pria tersebut sedang mengendarai mobilnya, menyelusuri jalanan menuju perusahaan yang di mana sudah ia bangun dan jalanin selama 5 tahun, Beanterry Corp. Sebuah perusahan yang bergerak di bidang teknologi, di mana produk utamanya adalah Smartphone, Laptop, dan alat elektronik rumah tangga lainnya.
"Yak ... Vincent! Di mana lo sekarang?"
Pria yang bernama Vincent itu langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Terkejut ketika sahabatnya itu berteriak nyaring kepadanya. Setelah itu, ia menempelkan kembali ponselnya di telinga. "Ini gue lagi dalam perjalanan, Jordan."
__ADS_1
Penelpon yang bernama Jordan itu kembali berteriak, membuat Vincent kembali menjauhkan ponselnya dari telinga. "Lo gimana sih, Cen! Kenapa masih di jalan?"
"Bisa gak lo nelpon gue tuh gak perlu pakai teriak-teriak segala? Ini gue harus konsentrasi ya ngendarain mobilnya. Lo mau teman lo ini mati, ha!" ujar Vincent kesal.
"Sorry-sorry, gue kelepasan. Abisnya kalo ngomong sama lo tuh bawaannya pengen ngegas aja gue hehehe ," ujar Jordan sambil terkekeh tanpa merasa bersalah sama sekali.
Vincent memutar matanya malas. "Bodo amat, Jojon."
"Lo gak lupa kan kalau hari ini ada rapat sama perusahaan Yeobi Inc?" tanya Jordan di seberang. Selaku Manager, ia harus mengingatkan kembali ke sahabatnya itu bahwa ada rapat nanti dengan perusahaan besar yang ingin bekerja sama dengan perusahaan milik Vincent.
"Iya, gue inget. Ini aja gue lagi usahain buat nambah kecepatan biar sampai ke kantor tepat waktu."
"Hati-hati, Cen. Takut gue lo nabrak orang nanti."
"Halo, Jordan!"
"Kenapa?"
"Kayaknya gue hampir aja nabrak orang deh."
"Ha? Bagaim-"
Perkataan Jordan terputus karena Vincent langsung mematikan sambungan panggilannya. Pria tersebut menaruh ponselnya di dashboard, kemudian membuka pintu dan keluar dari mobilnya untuk mengecek keadaan orang yang hampir saja ia tabrak.
__ADS_1
***
Di samping itu, jantung Hyera rasanya mau meledak. Di depannya, sebuah mobil hampir saja menabrak tubuhnya. Belanjaan yang dibawanya pun sudah tergeletak dengan isian yang sudah berserakan mengenaskan di aspal. Hyera menyentuh dadanya dengan jantung yang masih berdegup dengan kencang.
"Hei, kamu baik-baik aja 'kan?"
Hyera tetap bergeming. Orang tersebut menyentuh pundak Hyera sembari menatap wajah gadis tersebut yang terlihat sudah pucat pasi.
"Wajah kamu pucat banget," ucap orang tersebut cemas.
Serasa jantungnya sudah kembali berdetak normal, Hyera mulai tersadar. Ia pun bersiap-siap ingin memarahi kepada orang yang hampir saja menabrak dirinya. Ia mendongkakkan kepalanya ingin menatap orang tersebut. Namun kata-kata umpatan yang ingin ia lontarkan tidak jadi ia keluarkan. Matanya terbelalak dengan mulutnya yang terbuka sedikit. Manik matanya bertubrukkan langsung dengan manik mata coklat milik orang tersebut.
"Maaf, saya hampir aja menabrak kamu tadi. Saya antar ke rumah sakit ya? Saya takut terjadi sesuatu sama kamu."
"Wow ..." jerit Hyera dalam hati.
Ia benar-benar dibuat terpukau. Di hadapannya ada seorang pria yang wajahnya begitu tampan. Ah salah, bukan tampan lagi, tetapi benar-benar tampan. Bisa dikatakan wajah tersebut telihat sangat sempurna untuk seorang manusia. Visual yang sempurna di segala sisi dengan alis yang tebal, hidung yang mancung nan indah, dan tatapannya yang tajam tetapi jika dilihat lebih jelas, tatapan itu adalah tatapan yang membuat siapapun langsung jatuh cinta padanya. Tatapan itu yang akhirnya dapat membuat jantungnya kembali berdegup dengan kencang.
"Apakah aku udah di Surga?" lirih Hyera yang masih menatap wajah pria yang ada di hadapannya dengan pandangan kagum.
Orang tersebut terlihat bingung dan berkata. "Hei ... sadar! Kamu itu masih hidup. Kenapa bisa kamu ngomong kayak gitu?"
"Tapi kenapa aku bisa melihat bidadara Surga?" gumam Hyera.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, kepalanya tiba-tiba saja terasa sakit yang kemudian pandangannya pun menjadi kabur. Hyera kehilangan kesadarannya. Entahlah bagaimana nasibnya nanti, tetapi Satu hal yang pasti, dari kejadian inilah sebuah babak baru dari dunia percintaan Hyera pun dimulai.