ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 10


__ADS_3

Sudah sebulan Hyera tinggal dengan Vincent, tetapi hubungan mereka pun masih tetap sama saja. Vincent masih menganggap dirinya hanya sebatas adik kecilnya saja.


Adik kecil apaan? Cuman beda 5 tahun doang padahal


Mengingat kenyataan tersebut, membuat Hyera kesal. Ia bingung harus berbuat apa supaya hati Vincent bisa luluh kepadanya dan melupakan mantannya itu. Mengingat mantannya Vincent, Hyera sudah tidak pernah lagi bertemu dengan wanita itu semenjak di hari pernikahannya. Baguslah kalau seperti itu, Hyera juga tidak mau bertemu dengan wanita itu.


Saat ini Hyera sedang berada di kafe yang dekat dengan kampusnya. Ia datang ke kampus karena ingin bertemu dengan dosen pembimbingnya yang ternyata membatalkan pertemuannya karena ada urusan mendadak.


Nyebelin banget! Main batal-batalin aja. Kalo gitu kan mending gue ngelanjutin nonton drakor.


"Ehmm ... ini beneran Hyera kan?"


Hyera menoleh. Matanya langsung membulat terkejut. Ternyata yang bertanya itu adalah mantannya Vincent, Jesya.


"Wahh ... beneran Hyera. Kebetulan banget kita ketemu di sini," ucap Jesya dengan senyum yang mengembang cantik. Matanya pun menyipit dengan lucu.


Yaelah ... jangan senyum kek. Kan gue tambah minder sama kecantikan lo, huh.


"Hehehehe ... iya."


Setelah itu Jesya terdiam. Matanya terus saja menatap ke arah Hyera. Menatap dirinya dari ujung kaki sampai kepala. Merasa ditatap seperti itu membuat Hyera merasa tidak nyaman.


"Aku boleh nanya sama kamu gak?" tanya Jesya yang tiba-tiba saja mengeluarkan aura serius.


"Yaa, boleh. Emangnya mau nanya apa?" tanya Hyera bingung.


"Kamu beneran pacarnya Vincent 'kan?" tanyanya langsung to the point.


Jantung Hyera langsung berdegup kencang karena pertanyaan Jesya.


Astaga! Kaget gue, ******!


"Y-yaaiyalah aku pacarnya Vincent. Kok nanyanya kayak gitu sih!" jawab Hyera yang mulai kesal.


"Yaa ... gak habis pikir aja gitu."


"Gak habis pikir gimana maksudnya?" tanya Hyera yang merasa bahwa wanita di hadapannya ini seperti merendahkan dirinya.

__ADS_1


Jesya kembali menatap Hyera seperti sebelumnya, kemudian tersenyum remeh. "Yang aku tau, tipe cewek Vincent tuh cewek dewasa dan anggun. Gak seperti kamu yang kayak, hmm ... kayak bocah."


"Apa? bocah!" teriak Hyera tidak terima.


Gak jelas banget dah nih cewek. Tuh mulut minta disumpel pake cabe 1 kilo. Lemes banget kayak bajaj.


Walaupun sebenarnya memang dandanan ia sekarang seperti anak-anak. Memakai hoodie berwarna pink yang dibalut dengan jumpsuit jeans pendek dan memakai sneakers berwarna putih. Tapi kan tetap saja pakaiannya masih wajar saja dipakai olehnya. Tidak terlihat seperti anak kecil.


Hyera terus saja mengumpati wanita di hadapannya ini di dalam hati. Setelah itu, ia menghembuskan napasnya dan menatap Jesya dengan pandangan meremehkan.


"Hm ... gini ya. Sebenarnya tuh aku juga gak tau kenapa Vincent bisa menyukai aku yang kayak gini. Aku juga udah pernah coba berdandan seperti wanita dewasa nan anggun seperti kamu, tapi hal itu malah buat Vincent gak suka. Dia malah lebih suka aku yang seperti ini. Apa adanya," ucap Hyera jeda. "Apalagi berdandan seperti ini malah membuat Vincent tambah suka sama aku karena menurutnya aku ini keliatan cantik, imut, dan seksi dalam waktu bersamaan," lanjutnya diiringi senyum tengilnya.


Mendengar perkataan Hyera, raut wajah Jesya mengkeruh. Senyumnya yang tadi terukir di wajah cantiknya perlahan luntur. Matanya pun memicing tajam seperti sebilah pisau. Melihat reaksi itu, membuat Hyera tertawa kemenangan di dalam hatinya.


Mampus lo! Hyera dilawan.


"Hmm ... ok kalau gitu ya sudah. Aku juga gak terlalu peduli," ujar Jesya yang salting karena merasa kalah telak dengan gadis di hadapannya itu.


"Ohh ... bagus dong kalo gitu. Emang seharusnya kayak gitu kan? Gak kepo sama hubungan orang lain, meskipun itu mantan sendiri," sindir Hyera yang masih mempertahankan senyumnya.


"Bisa kok!" ucap Hyera spontan.


Mampus gue! Minta izin ke Kak Vincent-nya gimana coba? Nih mulut gak bisa banget diajak kerja sama.


"Oh, kalau gitu, nih alamatnya," ucap Jesya menyerahkan kertas bertulisan alamat klub suaminya. "Ok. Sampai ketemu besok, Hyera." ucap Jesya lagi sambil menepuk pundak Hyera pelan, lalu berjalan anggun menuju pintu keluar.


Hyera pun menatap kertas di tangannya dengan pandangan sendu. Menyesali keputusan yang dibuatnya itu.


***


Keesokkannya


Selesai mandi, Hyera berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia menatap isi lemarinya dan mengambil salah satu dress. Sebuah dress berwarna biru muda yang sangat sederhana. Hyera berpikir akan terasa aneh memakai dress ini mengingat nanti acaranya pasti sangat meriah.


Auahh ... yang penting gue dateng.


Hyera pun memutuskan untuk memakai dress tersebut. Setelah pakaiannya sudah terpakai di tubuhnya, ia berjalan menuju meja rias dan berdandan. Make up-nya pun juga tidak terlalu mencolok. Ia mencoba menyesuaikan dandanannya dengan dress yang dipakainya dan rambutnya pun ia biarkan terurai indah. Setelah selesai berdandan, ia pun menatap dirinya di pantulan kaca.

__ADS_1


"Perfect!" ucapnya merasa bangga.


Ia pun berjalan menuju ke sudut pintu, membuka kotak dan mengeluarkan sepatu heels yang pernah dibelikan oleh Vincent. Merasa tidak ada yang kurang, ia berjalan keluar dari kamar dan pergi menuju ke kamarnya Vincent. Saat sudah di depan kamar Vincent, jantung Hyera langsung berdegup dengan kencang. Ia pun memberanikan diri mengetuk pintu kamarnya, lalu masuk ke dalam.


Terlihat Vincent sedang duduk di meja kerjanya. Matanya tidak lepas dari kertas yang sedang dipegangnya. Hyera berjalan perlahan, menghampiri Vincent.


"Hmm ... Kak Vincent." panggil Hyera gugup.


"Iya kenapa, Hyera?" ucap Vincent, setelah itu dia mendongkak menatap Hyera. Saat itu juga ia mengernyitkan dahinya bingung. "Kamu mau kemana? Kok dandannya kayak gitu?"


"Ekhh ... Itu, Hyera mau datang ke acara ulang tahun teman, Kak."


Sorry kak gue bohong


"Ohh ... mau dateng ke ulang teman. Kalo gitu, yuk, kakak anterin kamu ke sana." Vincent sudah mau beranjak dari duduknya, tetapi langsung Hyera cegah. "Gak usah, Kak. Hyera naik taksi aja ke sananya."


"Lohh ... gak papa kakak anterin."


"Enggak, Kak. Hyera gak mau nyusahin Kakak. Lagian juga Hyera udah pesan taksinya kok," ujar Hyera jujur sambil menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan bahwa ia memang memesan taksi online.


Vincent menghembuskan napasnya. Ada sesuatu yang menganjal di hatinya yang membuat dirinya tidak ingin membiarkan Hyera pergi sendiri, tetapi ia mencoba untuk mengabaikannya saja.


"Yaudah kalo gitu, hati-hati ya, Hyera. Kalo ada apa-apa, langsung telpon kakak," ucap Vincent sambil mengelus lembut rambut Hyera.


"Iya-iya, Kak. Lagian juga Hyera udah besar. Bukan anak kecil lagi," ujar Hyera


"Tapi kan tetap aja kakak khawatir, Hyera," ujar Vincent lirih. Terlihat dari manik matanya yang menampilkan bahwa pria tersebut benar-benar khawatir.


"Iyaa ... Hyera bisa kok jaga diri. Jadi Kakak gak perlu khawatir," ucap Hyera mencoba meyakinkan.


"Iyaa ... terserah Hyera aja," ucap Vincent akhirnya mengalah.


"Yaudah kalau gitu, Hyera pergi dulu. Udah mau telat soalnya. Bye-bye, Kak!" Setelah melambaikan tangannya pada Vincent, Hyera pun langsung berjalan ke arah pintu dan keluar.


Sepeninggalan Hyera, Vincent pun melamun. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Sebuah firasat yang di mana dirinya merasa ada sesuatu yang buruk terjadi nantinya, tetapi ia tidak tahu firasat seperti apa itu.


"Udahlah. Palingan cuma perasaan aja," ucap Vincent yang mencoba mengabaikan perasaannya itu. Setelahnya, ia pun melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.

__ADS_1


__ADS_2