ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 15


__ADS_3

"Kak, pelan-pelan dong! Perih banget," rengek Hyera sambil mencengkram boneka Tata untuk menyalurkan rasa sakitnya.


"Iyaa, Hyera. Ini kakak udah pelan-pelan kok. Tahan yaa, bentar lagi selesai kok," ucap Vincent yang masih mengobati luka yang ada di dahi Hyera.


Gadis itu terus meringis kesakitan membuat Vincent tidak tega, tetapi ia harus melakukan agar luka gadis itu tidak terinfeksi.


Sedangkan, Hyera sendiri yang memang sedari tadi menahan sakit, juga sedang menahan diri untuk tidak berteriak. Saat ini Jantungnya berdegup dengan kencang karena wajah Vincent yang begitu dekat dengan wajahnya.


Hyera bisa melihat fitur wajah orang yang ia sukai itu dengan jarak yang begitu dekat. Mata coklatnya yang cantik, bulu matanya lentik, rahang yang begitu tajam, hingga tidak sengaja pandangannya pun jatuh pada bibir Vincent yang terlihat merah merekah.


"Ya ampun, bibirnya kak Vincent menggoda banget buat dikecup. Pasti manis deh rasanya," batin Hyera yang di mana sedang membayangkan dirinya ******* bibir kakak kesayangannya tersebut.


Pikiran yang seperti itu membuat semburat merah merona bak tomat muncul di kedua pipinya Hyera. Vincent yang melihat pipi gadis dihadapannya sangat merah membuat dirinya panik bukan main.


"Hyera! Ini pipi kamu kenapa merah banget? Kamu demam ya? Pasti efek dari luka kamu nih," ujar Vincent khawatir, membuat Hyera tersadar dari lamunannya dan menatap Vincent bingung.


"Ha, kenapa, Kak?"


Vincent mengusap wajahnya kasar dan menatap Hyera dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. "Tuh, kan. Kamu lingung kayak gini. Pasti kamu demam. Maafin kakak yang udah bikin kamu menderita kayak gini."


Hyera menggelengkan kepalanya dan terlihat begitu panik karena melihat Vincent seperti ingin menangis. "Ya ampun, Kak. Aku gak papa kok. Coba sini cek dahi aku. Gak panas 'kan? Berarti aku baik-baik aja. Udah, jangan sedih kayak gini. Aku juga ikutan sedih tau," kata Hyera lembut, mencoba menenangkan pria yang dihadapannya ini dengan menempelkan punggung tangan Vincent ke arah dahinya.


Hati Hyera terasa hangat saat melihat bagaimana melihat pria yang ada dihadapannya ini begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Beneran kamu gak papa?"


Hyera mengangguk yakin. "Iya, seratus persen aku gak papa, Kak."

__ADS_1


Vincent mengembuskan napasnya lega dan tersenyum lembut ke arah Hyera sambil mengelus rambut gadis itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Tapi, Hyera. Tetep aja kakak merasa bersalah sama kamu. Seharusnya kakak peka saat kamu menelpon kakak tadi."


Hyera tersenyum, kemudian mengusap tangan Vincent menenangkan. "Daritadi kakak minta maaf mulu ih. Padahal itu juga bukan kesalahan kakak. Kejadian ini tuh udah jadi takdir aku, Kak. Jadi, jangan merasa bersalah lagi ya? Kalo minta maaf mulu, aku beneran marah sama kakak!" ancam Hyera yang malah terdengar menggemaskan di pendengaran Vincent, hingga membuat pria tersebut tertawa.


"Hahahaha ... iya, iya, kakak gak minta maaf lagi kok."


"Nah gitu dong. Bagus!" pekik Hyera senang sambil memberi jempol ke arah Vincent.


Melihat tingkah Hyera, membuat Vincent rasanya ingin mendekap gadis itu ke dalam pelukannya karena sangat menggemaskan. "Hyera, kakak boleh minta sesuatu sama kamu?"


"Apaan, Kak?" tanya Hyera.


"Kakak boleh peluk kamu gak?"


Deg. Jantung Hyera kembali berdegup dengan kencang. Seketika otaknya terasa ngeblank. Lidahnya pun terasa kelu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Vincent, dan tentu saja pipinya kembali memerah.


Bego banget sih! Pastinya dia gak mau lah. Lo siapanya anjir minta-minta kayak gitu


"Hmm, boleh kok kak Vincent kalo mau peluk aku."


Perkataan Hyera yang seperti itu, membuat Vincent langsung menoleh ke arah gadis itu dan menatapnya dengan pandangan tidak percaya dan sedikit senang.


"Eh, beneran? Kalo gak mau juga gak papa kok. Abaikan aja perkataan kakak tadi. Anggap aja angin la-"


Perkataan Vincent terhenti karena tiba-tiba saja Hyera langsung memeluk dirinya. Gadis itu menyelungsupkan wajahnya di dada Vincent. "Kak Vincent bawel banget daritadi. Padahal udah aku iyain, tetep aja sok-sokan gak mau. Dasar tsundere!"


Vincent pun tertawa kencang mendengar perkataan Hyera yang asal ceplos itu. Akhirnya Vincent membalas pelukannya Hyera dan mendekapnya dengan erat. Dagunya ia jatuhnya di atas pundak Hyera dan mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Vincent merasa senang dan juga nyaman dengan pelukan ini. Terasa begitu menyenangkan dan menenangkan.

__ADS_1


Beberapa menit sudah berlalu, tetapi mereka masih betah dalam posisi berpelukan seperti itu. Lebih tepatnya buat Vincent, sedangkan Hyera sendiri ternyata sudah berada di dunia mimpinya sejak saat Vincent terus saja mengusap punggungnya hingga membuat gadis itu mengantuk dan akhirnya jatuh tertidur.


Vincent tersenyum saat menatap wajah dari gadis yang ada di dekapannya yang begitu cantik, manis, lucu, dan menggemaskan. Semua hal itu ada pada gadis itu membuat Vincent sangat betah menatapnya.


Vincent menatap ke arah jam dinding dan ternyata sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sepertinya kegiatan berpelukan ini harus ia sudahi meskipun ada perasaan tidak rela untuk menyudahi kegiatan tersebut, tetapi hal itu harus ia sudahi, karena ia tidak mau Hyera tidur dalam posisi yang tidak nyaman.


Pelan-pelan Vincent merebahkan tubuh Hyera dan menaruh kepala Hyera ke arah bantal dengan hati-hati agar gadis itu tidak terbangun. Kemudian, Vincent menarik selimut dan menyelimuti gadis itu mencapai lehernya. Lamat-lamat ia menatap wajah Hyera yang tertidur dengan sangat teduh. Bahkan gadis itu tersenyum hingga membuat Vincent pun ikut tersenyum.


"Pasti kamu lagi mimpi indah ya? Penasaran kakak, kamu mimpiin apa," gumam Vincent yang tangannya mengelus pipi Hyera dengan lembut.


Vincent pun akhirnya bangkit, yang kemudian merundukkan kepalanya untuk mencium kening Hyera.


"Selamat malam, Hyera. Kakak sayang kamu."


Setelah mengatakan hal itu, Vincent keluar dari kamar Hyera dan menutup pintunya dengan pelan.


"Huffttt ... bener-bener menggemaskan," gumam Vincent tersenyum yang kemudian turun dari tangga satu persatu.


Vincent berjalan ke arah meja makan yang ternyata makanan sisanya sudah tidak ada di atas meja. Mungkin sudah dibersihkan oleh bibi karena melihat piring-piringnya yang sudah tidak menyisakan makanan karena Vincent sendiri benar-benar menghabiskan makanan tersebut. Dirinya tidak ingin membuat kecewa kembali Hyera hingga membuat dirinya mau tidak mau untuk menghabiskannya. Lagi pula rasa masakannya tidak terlalu buruk. Hanya terlalu asin saja. Selebihnya tidak ada yang kurang.


Vincent meraih ponsel yang ada di atas meja makan dan mengecek apakah ada pesan masuk atau penting lainnya mengenai pekerjaannya. Matanya menatap ke arah notif pesan masuk dari Jesya. Ia terlihat ragu untuk membuka pesannya tetapi pada akhirnya ia pun membukanya.


Setelah membaca isi pesan tersebut. Vincent mengetik pesan balasan untuk Jesya. Selesai mengetik, ia langsung mematikan ponselnya dan berjalan menuju ke kamarnya.


...Jesya...


^^^Terserah^^^

__ADS_1


^^^Saya ikut aja apa mau kau^^^


__ADS_2