ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 11


__ADS_3

"Akhh, capek banget," keluh Vincent sambil merenggangkan otot-otot tangannya.


Saat menoleh, matanya tidak sengaja tertuju pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Ha? Udah jam sepuluh aja. Hyera udah balik belum ya?"


Karena penasaran, Vincent beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar, pergi menuju ke kamar Hyera. Memastikan apakah gadis itu sudah pulang atau belum.


Tok.. tokk... Tok...


"Hyera! Kamu ada di dalam gak?" panggil Vincent.


Tidak ada sahutan. Vincent mencoba memanggil gadis itu kembali, tetapi tetap sama. Tidak ada jawaban. Ia memegang knop pintu dan memutarnya dan ternyata pintu kamar gadis itu tidak terkunci.


"Ha? Ternyata belum pulang," ucapnya terkejut saat mengetahui Hyera belum pulang.


Rasa khawatirnya pun langsung menghampiri dirinya. Vincent mengambil telepon genggamnya dan mencoba menghubungi Hyera.


Maaf nomor yang anda ti-


"Akhh ... pake segala mati ponselnya. Ke mana dia?" lirih Vincent yang benar-benar khawatir.


Tidak lama, ponselnya pun berdering. Tertera di layar bahwa ada nama Jesya.


"Ngapain dia nelpon gue?" gumamnya bingung.


Akhirnya Vincent pun menjawab panggilannya. "Kenapa nelpon?" tanyanya langsung to the point.


"Kamu cepat datang ke sini deh! Alamatnya udah aku kirim lewat pesan."


"Ha? Ngapain?" tanya Vincent.


"Ckck, ini pacar kamu ada di sini sekarang."


Vincent terlihat bingung dengan perkataannya Jesya. Pacar?


"Sejak kapan gue punya pacar?" batin Vincent bertanya-tanya.


"Hallo, Vincent. Kamu dengar aku gak?"


Vincent langsung tersadar dari melamunnya dan menjawab kembali panggilan dari jesya.

__ADS_1


"Emang ada apa dengan dia, Jes?"


"Ini, pacar kamu mabuk."


"Apa? Mabuk?"


"Iyaaa ... ini kamu banyak nanya deh. Mending langsung ke sini aja secepatnya!"


"Iya-iya, saya akan ke sana sekarang."


Vincent pun mematikan sambungan panggilannya. Ia kembali berpikir, tetapi tidak lama ia menyadari maksud kata 'pacar' dari perkataannya Jesya. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari keluar rumah tanpa mengganti pakaiannya ataupun mengambil mantelnya. Padahal udara malam sangat dingin. Ia tidak memperdulikan dirinya karena yang dipikirannya saat ini hanya tertuju pada gadis mungilnya.


***


"Di mana, Hyera?" tanya Vincent kepada Jesya saat melihat wanita itu sedang berbincang dengan temannya.


"Ahh, dia ada di lantai atas. kayaknya mabuk dia udah parah banget," ujar Jesya memberitahu.


"Kenapa dia bisa ada di sini, Jesya?" tanya Vincent dingin.


"Apa? Dia gak bilang apa-apa sama kamu?" tanya Jesya terkejut.


Vincent pun mengernyitkan dahinya bingung. "Bilang apa?"


Ahh ... ternyata Hyera bohongin gue.


"Yaudah kalau gitu, saya ingin membawanya pulang." Vincent pun ingin berjalan menuju lantai atas, tetapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh Jesya.


"Kamu gak mau ngobrol-ngobrol atau minum-minum dulu gitu sama aku," tawar Jesya dengan nada lembut.


Vincent menurunkan tangannya Jesya dari lengannya dan menatapnya datar. "Tidak, terima kasih."


Setelah mengatakan hal tersebut, Vincent berlalu dari hadapannya Jesya. Wanita itu menatap punggung Vincent yang semakin jauh dari pandangannya dengan pandangan sendu.


***


Sesampainya di lantai atas, Vincent mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan gadis manis tersebut.


Akhh, Ternyata ada di situ.


Vincent berjalan menghampiri meja gadis itu yang terletak di ujung ruangan. Keadaan Hyera bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Wajahnya benar-benar memerah karena efek mabuk. Vincent mendekatkan diri ke arah Hyera yang sepertinya tidak sadarkan diri. Bau alkohol langsung menusuk penciumannya.

__ADS_1


Gadis itu sepertinya meminumnya dengan porsi yang banyak. Vincent hanya bisa menghela napasnya dan menatap Hyera dengan pandangan nanar.


***


"Yakk, Hyera! Kamu ternyata berat juga ya," keluh Vincent saat sudah sampai ke dalam rumahnya.


Sesampainya di ruang tv, ia pun menaruh Hyera secara perlahan di atas sofa. Mencoba untuk tidak membangunkan gadis itu. Setelah menaruhnya, Vincent pun duduk di atas karpet dan menatap Hyera lekat. Tangannya terulur untuk merapihkan rambut yang menutupi wajah Hyera.


"Kamu kenapa gak jujur sama kakak kalo ternyata kamu bukan datang ke acara ulang tahun, tetapi ke acaranya Jesya?" tanya Vincent lirih.


Tidak ada respon dari Hyera. Gadis itu sepertinya tidur dengan nyenyak. Vincent menghembuskan napasnya lagi dan beranjak dari duduknya, tetapi tiba-tiba saja ada yang menarik lengannya hingga tubuhnya langsung terjatuh di atas badannya Hyera, membuat gadis itu membuka matanya dan menatap Vincent lekat.


"Kak," panggil Hyera lirih.


"I-iyaa, Hyera. Kenapa?" tanya Vincent gugup.


Tidak ada jawaban dari Hyera. Gadis itu masih menatap Vincent lekat hingga membuat Vincent gugup setengah mati. Apalagi posisinya sekarang ini seperti mengukung tubuh gadis itu. Tetapi rasa gugupnya tergantikan dengan keterkejutan. Ia tidak menyangka apa yang terjadi.


Tiba-tiba saja Hyera mencium bibirnya. Bukan hanya itu saja, bahkan gadis itu mulai ******* bibirnya, meskipun sangat berantakan. Sepertinya ciuman ini pertama kalinya untuk gadis itu.


Vincent tidak merespon ciuman tersebut. Pikirannya pun sudah melayang entah kemana, tetapi ia kembali tersadar saat gadis itu sudah mengalungkan tangannya pada lehernya dengan tubuh gadis itu yang sudah menempel dengan tubuhnya. Gadis itu semakin agresif menciumnya.


Akhirnya Vincent membalas ciuman gadis itu karena bagaimana pun juga ia adalah pria normal. Vincent ******* bibir Hyera dengan lembut. Lidahnya sudah bermain dengan lidah Hyera, saling menyalurkan salivanya masing-masing. Suasana sekitarnya pun sudah mulai memanas.


Tangan kanannya Hyera pun turun ke dada bidang Vincent dan mencoba membuka kancing bajunya. Mata Vincent langsung terbuka. Ia langsung menghentikan ciumannya. Tangannya menghentikan aksinya Hyera hingga membuat gadis itu menatap sendu ke arah Vincent. Napasnya pun tersengal-sengal dengan Keringat yang sudah membasahi wajahnya.


"Kak."


Vincent menggelengkan kepalanya. Ia langsung bangkit dari posisinya dan duduk kembali atas karpet.


"Enggak, Hyera. Kamu mabuk," ujar Vincent menolak saat gadis itu menarik tangan Vincent.


"Kakak."


"Kakak bilang enggak, Hyera," bentak Vincent tanpa sadar.


Hyera menggelengkan kepalanya, "Bukan gitu, Kak." ucapnya masih setengah sadar.


Vincent pun menoleh ke arah Hyera, "Maksudnya?"


Entah mengapa tiba-tiba saja firasatnya merasa tidak enak dan benar saja dugaannya, gadis itu muntah dan mengenai wajah dan pakaiannya. Setelah melakukan itu, Hyera kembali tidur dan kali ini benar-benar tertidur. Vincent membuka matanya dan tersenyum masam. Ia pun mencoba membangunkan gadis itu, tetapi usahanya sia-sia. Gadis itu benar-benar sudah tertidur dan bahkan napasnya pun terlihat beraturan, menandakan bahwa gadis itu sekarang sudah berada di dunia mimpinya.

__ADS_1


Vincent menatap pakaiannya dan kembali menatap Hyera. Kemudian dia menghembuskan napasnya kasar sambil memijat keningnya.


"Sial!"


__ADS_2