ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 7


__ADS_3

Sudah hampir berjalan sebulan Hyera bekerja part time di kafe Lullaby. Kuliahnya pun juga tetap berjalan lancar dan selama itu juga hubungannya dengan Vincent berjalan dengan baik. Bahkan Vincent sudah menganti sapaan untuk dirinya bukan lagi "saya" melainkan menjadi "aku". Tentu saja itu paksaan dari Hyera yang mau tidak mau harus Vincent usahakan. Di lain sisi, Hyera sedih karena Vincent hanya menganggapnya dirinya sebagai adik kecilnya saja.


Gak papa deh dianggap jadi adek. Yang penting masih bisa deket.


Kring!!


Suara bel terdengar, menandakan ada seseorang yang datang. Hyera pun menoleh ke arah pintu dan betapa terkejut dirinya ternyata yang datang adalah sahabat karibnya Vincent.


"Hai, Hyera," sapa Jordan tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Hyera.


Hyera pun tersenyum dan membalas sapaannya. "Hai juga, Kak Jordan. Silahkan duduk, Kak."


Jordan pun duduk diikuti Hyera yang mengeluarkan buku dan juga pulpen dari saku untuk mencatat pesanan Jordan.


"Mau pesan apa, Kak?" tanya Hyera ramah.


"Gue pesan ice americano ya," jawab Vincent tanpa mengalihkan pandangannya dari Hyera.


Hyera pun menulis pesanan milik Jordan. "Wah, pagi-pagi udah minum es aja. Nanti sakit perut aku gak mau tanggung jawab ya, kak?" celetuknya yang mencoba mencairkan suasana.


Jordan hanya tertawa mendengar perkataan Hyera yang membuat gadis itu tertegun. Ia terpukai dengan visual dari pemuda dihadapannya ini. Memiliki mata indah dan eye smile yang sangat menggemaskan saat tersenyum. Memiliki suara yang lembut saat berbicara, membuat siapa saja yang melihat dan mendengar suaranya akan langsung jatuh cinta.


Ya ampun, pagi-pagi udah disuguhi yang manis-manis.


"Hey, Hyera. Kenapa melamun?"


Hyera mengerjapkan matanya tersadar, "Ah iya. Maaf, Kak. Ditunggu sebentar ya."


Hyera langsung berbalik dan berlari kecil. Ia pun memukul kepalanya karena merasa malu. Jordan menatap kepergiannya Hyera, kembali tertawa kecil.


Lucu banget.


Kring!!


Jordan menoleh, sekedar melihat siapa yang datang. Melihat siapa yang dating, matanya langsung membulat terkejut.


Jesya?


Jordan panik. Ia langsung berjalan menuju ke dapur, tempat di mana Hyera berada. Ia ingin mencegah Hyera untuk bertemu dengan Jesya. Jesya tidak boleh sampai melihat Hyera di tempat ini. Soalnya pada saat itu Jesya sempat bertanya kepada dirinya. Mempertanyakan, siapakah Hyera sebenarnya.


Tentu saja demi membantu sahabatnya itu, ia berbohong kepada Jesya bahwa Hyera adalah seorang wanita karir yang sukses. Tentu saja Vincent tahu kebohongan sahabatnya itu dan juga sempat kesal karena kenapa berbohong seperti itu, tetapi akhirnya Vincent menerima kebohongan itu karena memang Jordan sendiri tidak sengaja mengatakan hal tersebut.


"Loh ... Kak Jordan ngapain di sini? Aku baru aja mau antar pesanan kakak," bingung Hyera, apalagi melihat raut wajah Jordan yang terlihat panik, membuat dirinya bertanya-tanya.


"Hyera ikut gue ya?" ajak Jordan


"Tapi aku lagi kerja, Kak," jawab Hyera. Ia benar-benar bingung sekali.


"Udah lo ikut gue. Soalnya di luar ada Jesya," ujar Vincent memberi tahu.


"Kak Jesya?"


Jordan mengangguk. Membuat Hyera langsung panik bukan main. "Yaudah yuk, Kak, kita pergi." Hyera langsung menarik tangannya Jordan dan keluar melalui pintu belakang.


***


"Aishh, kenapa bisa kayak gini sih?" ujar Vincent pusing. Pria itu pun berdiri dan melonggarkan dasinya karena merasa gerah. Ia berjalan menuju jendela dan menatap keluar.


Cklekk ... Vincent menoleh. Tak lama matanya membulat terkejut dengan kehadiran seseorang yang tidak ia duga.


"Hyera? Kenapa ke sini?"

__ADS_1


Jordan dan Hyera pun duduk di sofa. Jordan membuka suara, "Gue yang bawa dia ke sini."


"Kenapa?" tanya Vincent bingung.


"Tadi gue ketemu sama Jesya di kafe tempat Hyera kerja."


Vincent terlihat terkejut, "Terus gimana? Jesya ketemu Hyera gak?"


"Untungnya enggak, Cen. Gue buru-buru bawa Hyera kabur. Terus karena gak ada tujuan, akhirnya gue bawa dia aja ke sini."


Vincent menghela napasnya dan menatap Jordan sedih. Ditatap seperti itu, Jordan pun bertanya. "Kenapa lo natap gue kayak gitu?"


"Masalahnya tadi Jesya kesini, Jo."


"Lah, ngapain dia ke sini?" tanya Jordan.


Vincent berjalan mendekati sofa dan duduk. "Dia bilang, kalau perusahaannya sekarang bekerja sama dengan perusahaan gue."


Jordan terlihat terkejut. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Jadi Yeobi Inc itu adalah perusahaannya Jesya? Pantesan aja pas rapat waktu itu yang dateng juga cuma perwakilannya aja.


"Nah itu, gue sempat tanya ke dia kenapa pas rapat waktu itu dia gak bisa dateng. Alasannya karena dia mau fokus mempersiapkan pernikahannya dan karena sekarang perusahaan kita udah bekerja sama, dia bilang bakalan sering datang ke sini."


Jordan pun menambahkan, "dan kemungkinan besarnya, dia bakalan sering juga dateng ke tempat kerjanya Hyera buat sekedar duduk-duduk aja. Benarkan?"


Vincent mengangguk, "Kemungkinan besarnya sih iya."


"Wahh ... Vincent, gue gak tau mau ngomong apa. Harga diri lo sekarang lagi dipertaruhkan," ujar Jordan yang tidak bisa berkata-kata lagi.


Vincent pun menghembuskan napasnya kasar. Ia pun bersandar di sofa, mencoba berpikir untuk mencari solusi. Hyera yang sedari mendengarkan, memilih diam saja. Di satu sisi ia kasihan melihat Vincent, tetapi di satu sisi lainnya ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Vincent pun mengangkat kepalanya dan menatap Jordan dan Hyera bergantian. "Gue ada ide."


"Apaan?" tanya Jordan penasaran.


Hening. Tidak ada yang membuka suara. Vincent pun menatap Hyera lekat. Ia tahu bahwa gadis di hadapannya ini pasti terkejut dengan perkataannya. Mau bagaimana lagi? Hanya ide itu saja yang terlintas di pikirannya.


"Bagaimana, Hyera. Kamu mau tinggal sama kakak?" tanya Vincent lembut.


Hyera meneguk ludahnya gugup. Tangannya gemetar dengan jantungnya yang berdegup dengan kencang. Kakinya pun terasa lemas seperti jelly.


"Te-terus pekerjaan aku gimana, Kak?" tanya Hyera. Tentu saja ia tidak mau kehilangan pekerjaannya itu.


"Untuk pekerjaan, kamu bisa kerja di rumah kakak aja. Tenang, kakak bakalan bayar kamu dua kali lipat dari gaji kamu di kafe."


Lumayan juga gajinya, tapi risikonya juga berat banget. Hati gue yang gak bakalan aman-aman aja.


"Bagaimana? Kamu mau 'kan?" tanya Vincent penuh harap.


Hyera terlihat berpikir, tak lama dia pun mengangguk. "Iya, Kak. Aku mau tinggal sama Kakak."


Huhuhu ... semoga jantung ini masih bisa berdetak selama tinggal sama kak Vincent.


***


"Aku masuk ya, Kak. Mau packing barang aku dulu," ujar Hyera saat sudah sampai di depan rumah Ayla.


"Mau kakak bantuin?"


Hyera lamgsung mengibaskan tangannya dan meggelengkan kepala. "Gak usah, Kak. Kakak tunggu sini aja. Aku gak lama kok."


Hyera langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Vincent yang melihat tingkah Hyera, hanya tertawa kecil.

__ADS_1


***


"Ra, lo beneran pergi?" tanya Ayla sedih.


Hyera yang sudah selesai mengemas barang - barangnya, langsung menoleh ke arah Ayla.


"Iya, Ayla."


"Kemana? Kok gue gak boleh tahu?" tanya Ayla yang bingung dan juga cemas karena sahabatnya ini pergi tetapi tidak memberitahu dirinya akan pergi ke mana.


Iya ... Hyera tidak memberi tahu Ayla kalau ia akan tinggal di rumah Vincent. Entahlah, ia hanya ingin merahasiakannya saja dari sahabatnya dan ini juga demi kebaikkannya Vincent.


"Iya, lo gak boleh tahu. Tapi yang pasti, gue gak bakalan pergi jauh kok."


"Terus pekerjaan lo gimana? Kuliah lo juga, Ra?"


"Kalo kuliah, gue tetap lanjut kok. Lagian juga kan gue bentar lagi mau lulus. Bakalan jarang ke kampus dan untuk pekerjaan, gue berhenti, Ay," jelas Hyera.


"Loh ... kenapa?" tanya Ayla yang semakin terlihat sedih hingga membuat Hyera yang melihatnya menjadi tidak tega.


"Gak papa. Gue mau berhenti aja." ucapnya Hyera tersenyum.


Ayla langsung memeluk Hyera dan Hyera pun membalasnya. "Pasti gue bakalan kangen sama lo, Ra."


"Yakk ... gue gak pergi jauh kali. Kita juga bakalan bisa ketemu. Meskipun gak bisa setiap hari."


"Tapi kan tetap aja, nanti gue bakalan kangen sama lo. Rumah ini kan jadi rame juga karena lo, Ra," lirih Ayla.


"Utututu ... lucunya sahabatku ini," ucap Hyera sambil menepuk kepala Ayla pelan.


Ayla pun melepas pelukannya. "Janji ya sama gue, kalo kita masih bisa ketemuan?"


Hyera mengangguk, "Iya, Ay. Gue janji."


Ayla menghapus air matanya yang baru saja menetes. "Aih, gue jadi nangis kan. Udahlah, lo cepetan pergi. Sebelum gue berubah pikiran buat ngurung lo di sini selamanya."


"Aishh ... yaudah, bye-bye, Ayla jelek," ledek Hyera


"Bye-bye, Hyera dugong," balas Ayla yang tidak mau kalah sambil memeletkan lidahnya.


"Yakk, nak saja lo ngatain gue dugong!" teriak Hyera tidak terima.


***


Vincent yang sedang bersandar di mobilnya langsung menoleh karena mendengar langkah kaki. "Wow barang kamu banyak juga ya, Ra."


"Hehehehe ...."


Vincent hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bawaan Hyera yang banyak. "Yaudah, sini koper sama barang kamu ditaruh di belakang aja."


Hyera menyerahkan kopernya dan juga posternya kepada Vincent. Pria tersebut menaruh barangnya di bangku belakang.


"Itu, bonekanya gak mau juga ditaruh belakang?" tawar Vincent


Hyera pun memeluk Tata dan Chimmy dengan erat. "Enggak, Kak. Aku gak mau pisah sama mereka."


"Hahahaha ... ada-ada aja kamu, Ra. Yaudah yuk, kita berangkat." Vincent pun membukakan pintu untuk Hyera.


"Terima kasih, Kak." Hyera masuk dan duduk. Pintunya pun tertutup.


Hyera membuang nafasnya beberapa kali. Mencoba meredakan rasa gugupnya. Ia tidak tahu pasti bagaimana nasibnya nanti untuk ke depannya, selama tinggal Bersama Vincent. Semoga saja jantungnya masih bisa berdetak dengan normal karena yang pasti mulai dari sekarang ia akan sering bertemu dengan Vincent.

__ADS_1


Huhuhu ... deg-degan, tapi senang juga sih bisa satu rumah sama kak Vincent. Simulasi berumah tangga dulu, kali aja di masa depan kejadian. Aamiin ....


__ADS_2