ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 13


__ADS_3

Hyera mencoba untuk tetap fokus mengerjakan skripsinya yang saat ini sudah mencapai bab 4. "AAAAAKKHH ... GAK FOKUS GUEE!" Teriak Hyera sambil mengacak rambutnya frustasi.


Dengan perasaan kesal, ia langsung menutup laptopnya dan berjalan ke luar dari kamarnya. Langkahnya berjalan menuju ke arah dapur dan pandangannya pun tertuju kepada Bi Minah yang sedang mencuci piring. Saat itu juga, sebuah ide terlintas dipikirannya. Ia pun mulai berjalan mengendap menghampiri Bi Minah dengan senyum tengilnya yang terbit di wajah cantiknya.


"Dorr!!"


Tubuh Bi Minah terlonjat karena terkejut. Saat menoleh, ia mendapati Hyera yang menatap dirinya dengan cengiran tanpa dosanya itu.


"Ya ampun, Nak Hyera. Bisa gak sih sekali-sekali sifat jahilnya tuh dikurangin? Gak kasian kamu sama jantung bibi yang udah tua ini," ucapnya sambil mencubit pipi Hyera gemas.


"Heheheh ... maaf. Udah kebiasaan, jadinya agak susah buat dihilangin."


Bibi hanya menggelengkan kepalanya, "Jadi, ada apa nih?"


"Eohh ... itu, Bi, Hyera mau nanya," katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Makanan kesukaan kak Vincent itu apa ya?"


"Hmm ..." gumam Bi Minah sambil mencoba berpikir. "Seingat bibi, tuan muda sangat menyukai makanan seafood. Semua jenis-jenis makanan laut, dia sangat menyukainya," jelas Bi Minah.


"Ohh ... gitu ya," ucap Hyera mengangguk mengerti.


"Emangnya kamu mau ngapain?" tanya Bi Minah Penasaran.


"Itu, Hyera mau coba masak makanan kesukaannya kak Vincent. Sebagai tanda ucapan terima kasih aja karena udah mau nampung Hyera di rumah ini," jelas Hyera berbohong. Tidak mungkin juga ia berkata jujur bahwa alasan ia melakukan hal itu karena ingin menembus dosanya kepada Vincent.


"Yaudah, Bi, Hyera mau mulai masaknya sekarang aja. Kayaknya bentar lagi kak Vincent udah mau pulang," ucap Hyera sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 18.30


"Oh ya, kalau begitu, mau bibi bantuin gak?" tawar Bi Minah


"Gak usah. Hyera mau masak sendiri aja karena Hyera mau membuat masakan spesial untuk Kak Vincent dengan hasil racikan Hyera sendiri."

__ADS_1


"Ok deh kalo gitu. Bibi bantu siapin bahan-bahannya aja ya. Nak Hyera mau membuat apa buat makanan tuan muda?" tanya bibi.


"Tunggu, Bi, Hyera mau coba cari di internet dulu makanan apa yang mudah buat Hyera." Hyera mengambil ponselnya dari kantung celananya dan membuka situs pencarian pada internet.


Masakan Seafood yang Mudah Dibuat


Setelah beberapa menit ia menscroll layar ponselnya, akhirnya ia memutuskan untuk membuat ikan bakar, cumi tepung goreng, dan udang goreng saus tiram. Hyera pun memberitahu apa yang ingin ia buat kepada Bi Minah yang kemudian beliau pun mulai mencarikan bahan-bahannya di tempat persediaan bahan masakan. Sembari menunggu, Hyera berjalan menuju meja makan dan mempelajari resep-resep masakan yang akan ia buat.


"Nih, Nak Hyera. Bahan-bahannya udah bibi taro di atas meja." Hyera mengalihkan pandangannya dari layar teleponnya, menatap ke arah Bi Minah.


"Ahh ... iya, makasih banyak ya, Bi. Sekarang Bi Minah terserah deh mau ngapain. Nanti kalau Hyera butuh bantuan, Hyera bakalan panggil Bi Minah."


"Siap, Nak Hyera. Kalo begitu, bibi ke kolam ikan aja. Mau menggantikan tugas, Nak Hyera, buat memberi makan ikan-ikan."


Setelah mengatakan hal tersebut, Bi Minah akhirnya pergi meninggalkan dapur.


"Yakkk ...Hyera. Kamu pasti bisa!" ucapnya mencoba menyemangati dirinya sendiri.


"Ahh iya baru inget. Gue 'kan alergi seafood. Nanti buat nyicipinnya gimana ya?" gumam Hyera kebingungan.


"bodo amat deh, itu urusan nanti aja. Gue 'kan ada obatnya. Nanti kalau kambuh, tinggal ke kamar aja buat minum obatnya," ucapnya senang. "Pinter banget sih lo, Hyera. Bangga gue."


Hyera pun melanjutkan kembali memasaknya. Tentu saja, memasak itu tidak semudah yang ia bayangkannya. Jarinya yang tergores oleh pisau saat memotong. Tangannya yang terkena percikan minyak sehingga tangannya pun melepuh. Wajahnya yang sudah kotor karena tepung. Sekarang bagian terakhir. Ia harus mencicipinya. Tanpa ragu, ia langsung mengambil potongan udang menggunakan sendok.


"Hmm, ini kurang garam kayaknya. Hambar banget." Hyera langsung menaburkan garam ke atas masakannya, lalu ia aduk. Saat mengaduk, dia mulai meringis kesakitan. Rasa gatalnya sudah mulai terasa, tetapi ia mencoba untuk menahannya.


Hyera tahu bahwa waktunya sudah tidak akan cukup lagi buat ia mengambil obatnya di kamar, karena sebentar lagi Vincent akan pulang. Jadi, Lebih baik ia menahannya saja. Lagi pula, sebentar lagi masakan buatannya sudah jadi. Tinggal menuangkan ke atas piring lalu menghiasnya dengan cantik.


"Oh iya, gue harus hubungi Kak Vincent dulu, buat mastiin dia udah sampai di mana," kata Hyera yang langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Vincent.

__ADS_1


Suara dering terus terdengar yang tidak lama terdengar suara di seberang sana.


"Iyaa.. kenapa, Hyera?"


"Kak Vincent. Kakak udah sampai mana ya? Soalnya makan malam hari ini udah aku siapin," ucap Hyer bersemangat. Senyumnya terus saja mengembang dengan mata yang menyipit lucu. Jantungnya pun berdegup dengan kencang. Dirinya sudah tidak sabar untuk memberi surprise kepada Vincent.


Tetapi sayangnya keinginannya itu tidak bisa terwujud hingga membuat senyum di wajah cantiknya itu memudar. Pancaran matanya yang awalnya berbinar, mulai meredup.


"Maaf ya, Hyera. Hari ini kakak gak bisa pulang cepat. Kakak ada makan malam dengan klien kakak."


Mata Hyera mulai berkaca-kaca. Hatinya berdenyut. Seperti ada sesuatu yang menusuknya sangat dalam, hingga membuatnya terasa sesak dan meyakitkan.


"Gitu ya kak. K-kalau begitu, Hyera makan d-duluan ya kak," kata Hyera yang suaranya bergetar menahan tangis.


"Are you okay, Hyera?"


"Gak papa kok, Kak. Santai aja. Udah dulu ya, Hyera udah lapar. Mau makan. Semoga sukses ya kak makan malamnya."


Tanpa mendengar jawaban dari Vincent, Hyera langsung mematikan sambungannya.


Tubuhnya langsung merosot ke bawah. Air matanya pun keluar dengan deras. Rasa sakit dan juga gatal pada kulitnya makin menjadi. Kulit yang awalnya putih, muncul ruam merah yang terasa sangat panas dan perih.


Tetapi hal itu bukan apa-apa. Rasa sakit pada hatinya jauh lebih menyakitkan dari pada rasa sakit dari alerginya itu. Ia merasa usahanya menjadi sangat sia-sia.


Ia ingin marah, tetapi buat apa? Ia juga bukan siapa-siapanya Vincent. Ia hanya seorang gadis yang menumpang dan juga kerja di rumahnya. Jadi, ia gak punya hak apa-apa.


Tetapi, kenapa rasanya sakit sekali? Dada Hyera mulai sesak dengan napas yang tersengal-sengal. Mungkin ini dikarenakan salah satu efek dari alerginya tersebut.


Mau tidak mau, ia harus meminumnya dan memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju kamarnya sambil mengelus tangannya yang gatal.

__ADS_1


Hyera mulai menaiki tangga satu per satu. Mungkin karena tidak fokus, jari kelingkingnya terpentok sehingga membuat dirinya tidak seimbang, mengakibatkan ia terjatuh berguling dari tangga atas ke bawah. Keningnya pun juga kepentok ujung tangga sehingga meninggalkan luka dengan darah yang mengalir deras.


Dengan posisi yang terlentang di lantai, Tangis Hyera pun semakin kencang dengan didampingi rintihan kesakitan. Sungguh, ia merasa hari ini adalah hari yang paling sial untuknya.


__ADS_2