ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 9


__ADS_3

Pukul 07.00


Tokk!! Tokk!!!


"Hyera, bangun!" panggil Vincent dari luar kamar.


Hyera merasa terusik dengan panggilan tersebut, tetapi tidak kunjung membuka matanya. Bahkan ia menaikkan selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya.


Tokk!! Tokk!!! Tok!!


"Bangun, Hyera! Kakak masuk nih ya?"


Hyera tidak mengubrisnya. Hal itu membuat Vincent kesal. Ia pun membuka knop pintunya dan masuk perlahan. Ia sempat terkejut dengan isi kamar Hyera yang di mana setiap temboknya didominasi oleh foto-foto seorang pria yang menurutnya memiliki fitur wajah yang sama semua. Vincent berjalan mendekati kasur dan mendapati tubuh gadis itu yang terbungkus selimut tebal.


"Hyera, bangun!" ucap Vincent tegas sambil menggoyangkan tubuh Hyera.


"Hmm ... satu jam lagi, Kak," nego Hyera


Gadis ini benar-benar!


"Gak ada! Kamu harus bangun sekarang!"


"Kakak berisik deh."


Mendengar perkataan Hyera membuat Vincent kesal. Vincent langsung menarik selimut yang menutupi gadis tersebut. "Kamu kalau gak mau bangun, kakak kelitikin ya!" ancam Vincent.


Hyera hanya menanggapinya dengan berdehem. Ia semakin meringkukkan badannya seperti bayi sambil memeluk guling dengan erat.


Vincent berjalan menghampiri Hyera, bersiap untuk menjalankan ancamannya. Tetapi sayang sekali, karena tidak berhati-hati, kakinya tersangkut dengan selimutnya Hyera dan jatuh menindih tubuh gadis tersebut. Untung saja kedua tangannya menompang tubuhnya, sehingga ia seperti mengukung tubuh Hyera. Jantungnya berdegup dengan kencang. Napasnya pun memburu. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Hyera hingga bibirnya pun hampir mencium pipinya Hyera.


Merasa ada angin yang berembus di lehernya, membuat Hyera menggeliat dan mengubah posisi tidurnya. Hal itu membuat wajah Hyera benar-benar berhadapan dengan wajahnya Vincent. Pria itu meneguk ludahnya gugup dengan matanya yang tanpa sadar melihat ke arah bibirnya Hyera yang terlihat kenyal dan juga lembut. Terus memandangnya hingga membuat dirinya tanpa sadar memajukan wajahnya dan beberapa senti lagi bibirnya mendarat di bibirnya Hyera. Sekali lagi, merasa ada angin yang menerpa wajahnya, akhirnya Hyera pun membuka matanya. Saat matanya sudah benar-benar terbuka, betapa terkejutnya ia melihat wajah Vincent begitu dekat dengannya.


"AKKKHH!!!"


Tanpa sadar Hyera berteriak dan mendorong tubuh Vincent hingga membuat pria tersebut terdorong dan jatuh ke lantai.


"YAKK, HYERA!! AKHH ..." teriak Vincent kesakitan karena tubuhnya terbentur ke lantai.


Hyera pun sempat linglung, tetapi setelah itu ia kembali sadar. "Ehh, Kak Vincent gak papa?" tanya Hyera, menghampiri Vincent yang tergeletak di lantai.


Vincent pun langsung menatap Hyera tajam, membuat Hyera menciut seperti anak kucing yang ketakutan.


Mampus gue!


***


"Kak." Panggil Hyera memelas

__ADS_1


"Cepet dikerjain, Hyera!" pinta Vincent tanpa mengubris panggilan Hyera kepadanya.


"Kakak tega sama Hyera?" tanya Hyera, menatap Vincent seperti anak kucing.


Sedangkan yang ditatapnya hanya memberikan tatapan datar. "Cepetan Hyera. Kakak mau berangkat kerja nih."


"Kak! Mending Hyera bersihin toilet deh daripada harus berurusan sama kucing," rengek Hyera sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


Vincent menghembuskan napasnya lelah. "Hyera."


Hyera pun berdecak, lalu menatap ke arah kandang kucing. Ia bergidik ngeri melihat kucingnya itu terus saja menatap dirinya dengan tatapan tajam.


"Kak, tolong keluarin kucingnya dong. Hyera takut," pinta Hyera kepada Vincent.


Vincent berjalan ke arah kandang kucing. Ia pun mengeluarkan kucingnya dan menggendongnya. Sampai digendongannya, Vincent pun menciumi kucingnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang. Hyera yang melihat kucing nyebelin itu diperlakukan Vincent sangat manis, membuatnya sedih.


Enak banget jadi kucing. Bisa diiciumin gitu sama kak Vincent. Kan pengen.


"Ngapain kamu liatin kucingnya kayak gitu? Katanya takut?" tanya Vincent yang melihat Hyera terus saja menatap kucingnya.


Hyera pun gelagapan dan langsung membuang muka. Tangannya pun melambai ke arah Vincent seperti mengusir. "Udahlah, Kak. Mending Kakak pergi deh!"


Vincent mengernyitkan dahinya, "Kamu ngusir kakak?"


Hyera berdecak kesal, "Iya ... aku nyuruh kakak pergi. Soalnya aku mau bersihin kandangnya. Aku gak mau diliatin. Risih."


"Yaudah kakak pergi deh. Kamu bersihinnya yang benar ya, Hyera!" Setelah mengatakan hal itu, Vincent pun pergi meninggalkan Hyera yang termangu.


Hyera menyentuh pucak kepalanya dan menoleh ke arah Vincent yang sudah semakin jauh dari pandangannya.


Kak Vincent aneh deh. Sebelumnya nyebelin, tapi tadi bersikap manis kek gitu. Maunya apa sih? Dasar bunglon tampan!


***


Setelah selesai membersihkan kandang kucing, Hyera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang baunya sangat naudzubillah.


20 menit berlalu, dia keluar dari kamar dan berjalan menuju ke dapur. Di dapur, dia melihat Bi Minah sedang sibuk memasak makanan.


"Selamat pagi, Bi Minah," sapa Hyera ceria.


Bibi terlihat terkejut, "Ya ampun, Nak. Kamu tuh ya bikin bibi kaget aja," ucapnya sambil mencubit pelan pipinya Hyera lembut.


Hyera pun tertawa, "Hehehehe ... maaf. Oh ya, ada yang bisa Hyera bantu gak?" tanyanya menawarkan diri.


"Enggak usah, Nak. Ini aja udah mau selesai. Kamu ke ruang makan aja, kayaknya tuan muda udah ada di sana," ujar Bi Minah dengan lembut.


Hyera mengangguk, "Yaudah kalau gitu, Hyera bantu bawa makanannya aja ya ke ruang makan."

__ADS_1


"Gak usah. Biar bibi aja yang bawa. Bi Minah mencoba untuk meraih nampan makanan yang ada di tangannya Hyera.


Hyera menggelengkan kepalanya, "Gak papa, Bi. Hyera cuma mau bantu kok."


Sebelum Bi Ninah membuka suara, Hyera pun kembali menyela, "Gak boleh gitu ih, Hyera ngambek nih sama Bi Minah kalo kayak gini!"


Bi Minah pun hanya bisa menghela napasnya karena mengetahui bahwa gadis di hadapannya ini sangatlah keras kepala.


"Yaudah, kalo kamu maksa mah bibi bisa apa." Hyera hanya tertawa mendengar perkataan Bi Minah.


***


"Selamat makan, Kak Vincent." Setelah menaruh piring berisi makanan, Hyera pun duduk.


Vincent menatap bingung ke arah Hyera. Merasa dirinya ditatap, Hyera menatap balik ke arah Vincent. "Kenapa liatin aku, Kak?"


"Ini kamu yang masak?" tanya Vincent.


Hyera menatap ke arah makanan dan balik lagi menatap ke arah Vincent. Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Enggak kok, Kak. Kenapa emangnya?"


Vincent mengangguk mengerti lalu memakan makanannya. "Gak papa. Kakak cuma khawatir aja kalo kamu yang masak."


Hyera tersenyum malu, senang karena merasa dikhawatirkan sama Vincent.


"Kakak takut makanannya nanti rasanya gak karuan kalo kamu yang masak." lanjut Vincent dengan santai.


Senyumnya di wajah Hyera luntur. Dia langsung menatap tajam ke arah Vincent. Bibirnya pun mengerucut kesal. "Kakak nyebelin!!"


Vincent langsung tertawa melihat respon Hyera yang menurutnya sangat lucu. Ia langsung mencubit pipi Hyera gemas. "Jangan ngambek. Kakak cuma bercanda kok."


Hyera langsung membuang muka dan memulai memakan makanannya. "Bodo amat!" ucapnya ngambek.


Hyera memasukkan makanannya lagi ke mulut dengan suapan besar, sehingga pipinya menjadi mengembung lucu. Melihat Hyera seperti itu, membuat Vincent tidak tahan untuk tidak menguyel-uyel pipi chubby Hyera. "Kenapa kamu lucu banget sih, Hyera," ucapnya gemas.


Hyera mencoba memberontak dengan memegang kedua tangan Vincent yang menangkup wajahnya, mencoba melepaskannya. Tetapi karena aksinya itu, entah mengapa wajahnya menjadi lebih dekat dengan wajahnya Vincent. Vincent yang menyadari hal itu pun berhenti, tetapi tidak juga melepaskan tangannya dari wajah Hyera. Manik matanya menatap tepat ke arah manik mata hitam legam milik Hyera yang di mana gadis itu pun juga menatap balik ke arah mata coklatnya Vincent dan larut di dalamnya.


Cukup lama mereka bertatapan, akhirnya Vincent pun sadar dan melepas tangannya dari wajah Hyera. Ia berdehem gugup begitu juga dengan Hyera yang langsung lanjut memakan makanannya. "Ekhmm ... cepat abisin makanannya, kakak mau berangkat kerja dulu."


Hyera hanya menganggukkan kepalanya, tetapi tidak menatap ke arah Vincent. Pria itu tidak mempermasalahkannya. Ia langsung berdiri dari duduknya dan pergi. Baru tiga langkah, Vincent kembali menoleh ke arah Hyera. Merasa Vincent menatap ke arahnya, Hyera pun menoleh.


"Jangan lupa, kerjakan tugas kamu di rumah ini," ujar Vincent mengingatkan


Sekali lagi, Hyera hanya mengangguk. Vincent kembali berdehem, berbalik dan berjalan dengan langkah besar.


Merasa Vincent sudah hilang dari pandangannya, Hyera pun menghembuskan nafasnya lega. Ia mengibaskan wajahnya yang terasa panas dan mengambil gelas di meja dan meminumnya. Rasanya jantungnya mau meledak tadi. Tidak menyangka bahwa dirinya bisa menatap wajah Vincent dengan dekat. Bahkan tadi embusan napasnya pun menerpa wajahnya.


Bahkan begitu dekatnya tadi, mereka bisa saja berciuman. Mengingat pikiran kotornya, Hyera langsung lari ke arah kamarnya dengan kedua tangannya yang menangkup wajahnya yang sudah memerah.

__ADS_1


"HUAAA HYERA MALU!"


__ADS_2