
Ayla masuk ke dalam rumah sambil bersenandung riang. Saat memasuki kamarnya, matanya membulat terkejut. "Hyera!"
Hyera yang sedang tiduran di atas kasur, langsung bangkit dari tidurnya dan memeluk temannya itu erat. "Ayla! gue kangen banget sama lo."
Ayla yang merasa sesak dipeluk oleh Hyera dengan erat, langsung melepaskan diri. "Yakk ... ini kenapa ada barang-barang lo semua di kamar gue? Lo kabur dari rumah?"
Hyera mengangguk mengiyakan. Ayla langsung terduduk lemas. Merasa tidak percaya apa yang baru saja sahabatnya itu katakan. Hyera menghampiri Ayla yang sudah seperti orang linglung.
"Ay ... gue tinggal sama lo ya buat saat ini sampai gue dapet kerjaan? Abis itu gue nanti pindah. Jadi, buat sementara gue di sini dulu ya?" pinta Hyera memohon.
Ayla menatap Hyera yang memasang wajah dengan puppy eyes. "Ihh, gak usah natap gue kek gitu. Geli tau." Ayla langsung mendorong wajah hyera dari hadapannya.
"Tapi boleh kan, Ay?
Ayla mengangguk. Hal itu membuat Hyera senang bukan main. Dia langsung memeluk sahabatnya itu lagi. "Huhuhu ... makasih banget ya, Ay. Gue sayang banget sama lo. Love you."
"Iya-iya, love me too, ujar Ayla sambil menepuk kepala Hyera dengan lembut.
Hyera melepas pelukkannya. "Yuk, Ay. Kita makan. Gue baru aja abis beli makanan buat makan malam. Lumayan, pizza dua loyang kesukaan lo."
"Wihh ... sahabat gue ini manis banget ya. Yuk, kita makan. Abis itu kita beresin barang-barang lo bareng-bareng."
Hyera menatap Ayla terharu. Ia sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Ayla. Meskipun sudah dibuat repot, tetapi sahabatnya itu masih saja mau membantu dan menyambutnya dirinya dengan tangan terbuka.
Akhirnya setelah berpikir Panjang, Hyera memutuskan untuk melanjutkan hidupnya kembali. Setelah dipikir-pikir juga, ngapain memutuskan untuk mati? Kurang kerjaan sekali. Lebih baik ia tetap melanjukan hidupnya dengan belajar yang benar, menjadi orang yang sukses, kemudian membahagiakan diri sendiri dengan hasil jerih payahnya, dan untuk soal biaya kuliah dan hidupnya, lebih baik ia mencari pekerjaan sampingan saja. Ia sudah tidak sudi lagi lagi memakai uang dari orang yang memang sejak awal tidak menginginkan dirinya.
***
Setelah selesai makan, kedua gadis tersebut mulai membereskan dan menaruh barang-barang milik Hyera di ruangan sebelah kamar Ayla dan untuk sementara, posternya tidak akan Hyera pasang karena ia udah berjanji bahwa ia akan memasangnya kembali saat ia udah mempunyai tempat tinggal sendiri. Meskipun Hyera tidak yakin apakah ia bisa mendapatkan tempat tinggal untuk dirinya sendiri dalam waktu dekat. Saat ini mereka berdua berada di dalam kamar Ayla.
"Ayla," panggil Hyera yang saat ini posisinya sedang tiduran di atas Kasur milik Ayla sambil menatap langit-langit.
Ayla hanya berdehem. Dia sedang memakai skincare wajah di depan kaca rias.
"Lo ada rekomendasi tempat buat gue kerja gak?" tanya Hyera.
__ADS_1
Ayla menoleh. "Lo mau kerja, Ra? Kuliah lo gimana?"
Hyera merubah tidurnya menjadi tengkurap, sambil memeluk boneka Chimmy. "Gue masih kuliah kok. Gue kerja part time aja deh. Lumayan buat nambah-nambah penghasilan. Lagian juga gue tinggal skripsian ini. Jadi, bisalah ya."
"Uang dari ibu lo emangnya gak cukup?"
"Seperti yang udah gue ceritain sebelumnya, gue gak sudi pake uang dia lagi. Idih sok-sokan mau jadi ibu yang baik, padahal cuma topeng aja. Cih," gerutu hyera menumpahkan kekesalannya.
Ayla langsung menghampiri Hyera, lalu menepuk punggungnya menenangkan. "Sabar ya, Ra."
Hyera menoleh, lalu tersenyum. "Tenang aja, gue mah kuat. Bukan cewek lemah hahaha."
Ayla terlihat berpikir. "Ra, lo kayaknya bisa kerja di tempat gue deh."
Mata Hyera langsung berbinar. "Seriusan lo?"
Ayla mengangguk. "Tapi jadi pelayan kafe. Gak papa, kan?"
Hyera mengangguk semangat. "Gak papa, Ay. Yang penting gue kerja. Makasih banget ya udah mau bantu gue."
"Iya sama-sama. Udah yuk, sekarang kita tidur." ajak Ayla.
***
"Mulai sekarang kamu udah boleh kerja di sini."
Hyera terlihat senang sekali. Akhirnya dia bisa kerja. "Terima kasih ya, Pak. Sudah mau menerima saya." ucap Hyera sambil merundukkan kepalanya.
"Iya sama-sama," ucap Pak Aldo, selaku pemilik kafe sambil tersenyum hangat.
"Sekali lagi terima kasih ya, Pak."
Pak Aldo mengangguk dan pergi meninggalkan hyera menuju ruangannya.
Hyera menghampiri Ayla dengan senyum yang terus mengembang. "Selamat ya, Hyera," ucap Ayla kepada Hyera dengan bahagia.
__ADS_1
"Huhuhu ... senang banget gue, Ay," pekik hyera bahagia sambil melompat-lompat kecil.
"Hahaha ... iya-iya. Yuk, kita ke belakang. Udah ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakan," ujar Ayla sambil menaik-turunkan alisnya menggoda.
Hyera tertawa dengan kelakuan sahabatnya itu kemudian mengangguk lalu berjalan mengikuti Ayla di belakang.
***
Tokk!! Tokk!!
"Masuk." Pinta seseorang dari dalam ruangan.
Setelah dipersilahkan masuk, seorang wanita masuk dengan pakaian formal khas sekretaris berjalan menghampiri meja atasannya sambil membawa sebuah undangan di tangannya.
"Maaf mengganggu waktunya. Saya ingin memberikan ini kepada, Bapak."
Orang itu hanya mengangguk. Pandangannya tetap berfokus pada berkas di tangannya. Setelah sekretarisnya menaruh undangan di meja atasannya. Wanita itu pun keluar. Melihat sekretarisnya sudah benar-benar keluar, orang tersebut langsung mengambil undangannya dan membaca isi dari undangan tersebut.
"SIALAN!"
Orang itu langsung menggebrak meja. Melihat ada vas kecil di hadapannya, tidak segan-segan ia mengambilnya dan melemparnya ke arah pintu. Pada waktu yang bersamaan, pintu terbuka, menampilkan sosok pemuda tampan. Melihat sebuah vas melayang ke arahnya, secepat kilat pemuda itu langsung merunduk.
Astaga. Muka gue hampir aja kena tuh vas.
Memastikan sudah aman, pemuda itu bangkit dari merunduknya. Ia menatap ke arah di mana vas itu mendarat dengan pandangan meringis, kemudian ia menoleh dan menatap kesal ke arah sahabatnya.
"Yakk ... Vincent! Lo gila ya? Hampir aja wajah tampan gue babak belur kena vas," kata Jordan kesal.
Vincent langsung menoleh, lalu tangannya mengambil undangan yang ada di atas meja dan menyerahkannya kepada Jordan. "Baca ini!"
Jordan berjalan menghampiri Vincent dan mengambil undangan yang ada di tangan sahabatnya itu. "Emang isinya apaan sih sampai bikin lo emosi banget."
Jordan pun mulai membaca isi undangan tersebut. Seketika raut wajahnya berubah, lalu ia menatap sahabatnya itu dengan pandangan kasihan.
"Udah yuk, Cen. Mending lo ikut gue dah. Setelah baca nih undangan, keknya lo butuh sesuatu yang bisa nenangin suasana hati lo."
__ADS_1
Vincent mengangguk dengan lesu. Pikirannya langsung kacau setelah membaca isi dari undangan tersebut. Benar-benar sebuah kejutan yang luar biasa. Tidak tahu pasti apa isi dari undangan tersebut, tetapi karena nama yang tertera di undangan tersebut, sebuah kilatan masa lalu yang ingin Vincent hilangkan dari pikirannya, kembali berputar seperti kaset.
Bajingan!