ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 3


__ADS_3

"Yakk ... Hyera! Bangun dong. Kebo banget sih," teriak Alya, membangunkan Hyera di pagi hari.


Hyera hanya mengubah posisi tidurnya, tetapi tidak kunjung membuka matanya.


"Bangun, Hyera!" ucap Ayla sambil menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu.


"Gak mau!" berontak Hyera yang menarik kembali selimutnya hingga menutupi keseluruhan tubuhnya yang membuat Ayla berdecak kesal. "Kenapa? Emangnya lo gak ada kelas?"


"Ada kok," sahut hyera.


"Terus?" tanya Ayla sambil membuka gorden kemudian jendela agar cahaya dan udara pagi bisa masuk ke dalam kamar.


"Mau bolos aja gue. Masih ngantuk."


Ayla hanya mengelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu yang memang sulit untuk bangun pagi. "Yaudah, jagain rumah gue ya? Gue mau berangkat ke kampus."


Hyera hanya berdehem saja sebagai jawaban. Ayla pun mendekati Hyera, lalu ....


"Yakk ... Ayla! Sakit bokong gue bego!" ucap Hyera yang langsung bangun dari tidurnya sambil mengusap bokongnya yang terasa panas.


Ayla langsung lari keluar kamarnya dan tertawa kencang. Hyera pun mendengus kesal. Ia tidak lagi mengantuk karena rasa kantuknya sudah hilang seketika.


Ayla sialan!


***

__ADS_1


"Aishh ... lapar banget," racau Hyera sambil mengelus perutnya yang terus saja berbunyi.


Hyera berjalan menuju kulkas dan membukanya. Memeriksa apakah masih ada makanan yang bisa ia makan. "Gak ada apa-apa. Yaudah deh, bikin mie aja," ucapnya sambil berjalan menuju wastafel.


Hyera sebenarnya tidak bisa masak. Keterampilan memasaknya sangat parah. Hanya sahabatnya saja yang bisa memasak, tetapi sahabatnya itu justru pergi tanpa memasakkan makanan untuknya.


Menyebalkan.


Daripada ia masak sendiri yang kemudian membuat kekacauan di dapur sahabatnya. Lebih baik ia membuat mie karena hanya makanan itu saja yang bisa ia buat. Lagipula, ia takut keracunan dengan makanannya sendiri kalau ia benar-benar nekat untuk memasak.


"Yeayy ... selesai," ucapnya senang saat melihat masakan yang ia buat sudah matang dan siap untuk disantap


Hyera pun membawa mangkuk mie ke meja makan dan mulai memakannya dengan khidmat. Tidak perlu menunggu lama, isi mangkuknya pun sudah habis.


"Huaaa ... kenyang banget," Hyera langsung membawa mangkuk kosongnya ke wastafel dan mencucinya.


Jujur saja, Hyera sangat lelah dengan kehidupannya selama ini. ayahnya yang sudah meninggal saat ia berumur 3 tahun karena kecelakaan di tempat kerja. Setelah ayahnya sudah tiada, ibunya juga pergi entah ke mana. Meninggalkan dirinya dengan bibinya dan sudah sampai sebesar ini pun, ia tidak pernah sekalipun melihat ibunya menampakkan dirinya di hadapannya lagi. Walaupun setiap bulan ia selalu mendapatkan kiriman uang untuk dirinya dan biaya pendidikannya, tetapi tetap saja ia membutuhkan sosok seorang ibu dan menginginkan kasih sayang dari sosok orang yang sudah melahirkan dirinya di dunia ini. Terkadang ia berpikir, apakah ia sudah melakukan kesalahan yang fatal sehingga ibunya itu meninggalkan dirinya? Memikirkan hal itu kembali, tanpa sadar sebulir air mata menetes dan Hyera langsung segera menghapusnya.


"Ngapain nangis sih? Cengeng banget lo, Hyera," ucapnya sambil tertawa lirih.


Setelah perasaannya mulai tenang, ia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu keluar. Tidak lupa ia mengunci pintunya dan menaruhnya di dalam salah satu sepatu di rak. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk keluar dari rumah itu. Ia akan memulai hidup mandirinya mulai sekarang.


"Semangat, Hyera!" ucapnya menyemangati dirinya.


***

__ADS_1


"Darimana aja lo? Bagus ya masih punya muka ternyata buat menampakkan diri di rumah ini setelah semalam gak pulang."


Baru saja Hyera ingin masuk ke dalam kamarnya, suara yang sangat ia benci terdengar. Tanpa menghiraukan perkataan bibinya, ia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Ia langsung membuka lemari, kemudian mengeluarkan semua pakaiannya dari sana. Ia mengambil koper di bawah kasurnya dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Ia juga tidak lupa mengambil boneka kesayangannya, Tata dan Chimmy di dalam pelukkannya dan juga mencabut semua poster yang menempel di temboknya dan menggulungnya bersama dengan poster lainnya. Merasa semua barangnya sudah dikemas, ia pun membuka kunci kamarnya dan pergi keluar. Bibinya yang sedang berada di depan televisi, menoleh ke arah Hyera yang kemudian matanya langsung melotot terkejut.


"Heh, Hyera! Mau ngapain lo bawa barang sebanyak itu?" teriak bibinya lantang.


Hyera menoleh dan menatap bibinya tajam. "Hyera mau pergi dari Neraka ini!"


"Apa? Neraka? Berani-beraninya lo bilang rumah gue Neraka!" ujar bibinya murka. Wajahnya pun sudah memerah karena gejolak amarahnya.


"Emangnya kenyataannya kayak gitu kok. Rumah ini udah kayak Neraka buat gue!" pekik Hyera.


"Dasar anak gak tau diri lo. Emangnya lo mau pergi kemana? Mau jadi gelandangan lo di jalanan, Ha!" sindir bibinya, memandang Hyera dengan pandangan menusuk.


Hyera tersenyum remeh, "Mau Hyera jadi gelandangan atau gak, it's not your business." Setelah itu, Hyera langsung berjalan sambil menarik kopernya, berjalan menuju pintu keluar.


"Heh anak kurang ajar! Asal lo tau. Sejak awal tuh ibu lo gak pernah mengharapkan kehadiran lo di hidupnya. Jika bukan karena ayah lo yang mencegah ibu lo itu buat gak gugurin kandungannya, lo gak bakalan ada di dunia ini. Lo itu adalah kutukan bagi ibu lo yang memang sejak awal gak menginginkan seorang anak!"


Deg, jantung Hyera berpacu dengan kencang. Tubuhnya bergetar dengan napas yang memburu. Air mata yang tergenang di pelupuk matanya sudah siap kapan saja untuk meleleh. Akhirnya ia bisa mendengar sebuah fakta kebenaran yang selalu menghantui pikirannya selama bertahun-tahun. Sebuah kebenaran yang menjadi alasan kenapa ibunya selama ini memutuskan untuk meninggalkannya dan tidak pernah kembali lagi sejak kejadian yang menimpa ayahnya hingga menewaskan beliau.


Bohong jika Hyera baik-baik saja mendengar kebenarannya. Nyatanya, fakta tersebut dapat membuat dirinya benar-benar terguncang. Hyera yang selama ini berusaha untuk kuat, akhirnya kalah juga. Fakta itu benar-benar membuat mentalnya langsung down.


Dengan sisa kekuatan yang ada, Hyera menoleh ke arah bibinya. Untuk pertama kalinya, ia menyunggingkan senyum tulus untuk bibinya itu. "Makasih, udah ngasih tau kebenarannya ke gue. Alasan dibalik adek lo itu gak pernah pulang lagi ke sini. Hahaha lucu banget," ujar Hyera sambil tertawa. Entahlah, ia menertawakan keadaan yang ada atau menertawakan dirinya yang menyedihkan ini. Sepertinya fakta yang kedua lebih benar.


"Oh ya, gue juga mau bilang makasih sama tante karena udah mau menampung anak yang gak diinginkan ibunya ini buat tinggal di rumah tante selama bertahun-tahun. Tapi maaf aja ya, gue udah gak bisa lagi nih tinggal di rumah tante. Selain alasan gue yang sebelumnya, gue ngerasa gak pantes aja tinggal di rumah orang yang sama aja gak menyukai kehadiran gue. So, i better go right? Ok lah, gue kabulin nih. Dadah, semoga hidup tante bahagia ya," sarkas Hyera dengan pandangan terluka.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, Hyera benar-benar keluar dari rumah tersebut-meninggalkan bibinya yang sudah berdiri kaku karena mendengar penuturan Hyera yang benar-benar langsung menohok hatinya itu. Jauh di lubuk hatinya, bibinya merasa bersalah karena tidak sengaja mengatakan sebuah fakta yang benar-benar menyakitkan hati gadis itu.


Di samping itu, Hyera akhirnya jatuh bersimpuh di aspal. Tangis yang sedari tadi ditahannya, akhirnya meluncur dengan bebas. Ia berteriak, mengeluarkan semua unek-uneknya dalam bentuk tangisan kencang. Dirinya benar-benar hancur berkeping-keping. Semua pertanyaan-pertanyaan yang terus saja berputar di otaknya, akhirnya memiliki jawabannya juga. Mengetahui hal tersebut, hyera sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tetap bertahan kah? Atau lebih baik mati saja? Tetapi untuk saat ini, Hyera hanya ingin menangis sekencang-kencangnya untuk mengurangi beban di hatinya sebelum memutuskan apakah ia lanjut hidup atau tidak.


__ADS_2