
Suara dentingan notifikasi terdengar, Vincent mengeluarkan ponselnya untuk melihat pesan masuk yang tertera di layar. 'Kakak udah sampai?' Vincent pun membalas pesan yang ternyata dari hyera dan mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di depan rumah temannya.
Vincent menatap kaca di spion mobilnya sembari merapikan rambutnya yang mungkin saja berantakan. "Hahaha ... masih gak nyangka gue dateng ke pernikahan mantan," ledeknya pada diri sendiri.
"Ayo, Kak. Aku udah siap."
Vincent pun menoleh, "Ay-" Perkataannya seakan tertelan kembali. Matanya pun membulat. Terkejut dan juga kagum dengan penampilan Hyera yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Cantik," gumam Vincent yang terpesona dengan kecantikan Hyera yang benar-benar memukau.
Gaun pendek di atas lutut bernuansa hitam dengan hiasan renda yang menerawang. Kalung Mutiara yang menghiasi leher jenjangnya yang putih nan mulus itu. Rambut coklatnya yang digerai menjuntai ke bawah dengan tambahan sentuhan curly pada bawah rambutnya dan tidak lupa hiasan cantik yang menghiasi rambutnya, total membuat Vincent terpana dengan penampilan Hyera pada malam ini.
"Ha, kakak ngomong apa? Gak kedengeran."
Vincent menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum manis. Senyum yang membuat Hyera kembali jatuh cinta kepada pria di hadapannya ini. "Ternyata pilihan saya membelikan gaun ini buat kamu gak salah. Kamu terlihat berbeda banget malam ini. Benar-benar cantik."
Blushh ... pipi Hyera memerah bak kepiting rebus.
"Yuk kita berangkat sekarang," ucap Vincent sambil membukakan pintu untuk Hyera.
Hyera menatap ke arah Vincent dan memberi senyum manisnya. "Terima kasih, Kak."
***
"Wahh ... pestanya mewah banget." Hyera berdecak kagum sembari menatap sekeliling. Pesta ini seperti menggambarkan impian Hyera saat ia akan menikah nanti.
Aishh ... udah mikirin nikah aja. Calonnya aja belum ada. Dodol banget sih lo.
"Ayoo, kita ke sana," ajak Vincent sambil menunjuk ke arah pasangan yang mengadakan pesta.
Hyera mengangguk. Ia langsung mengalungkan tangannya di lengan Vincent yang membuat pria tersebut langsung menatap Hyera.
"Biar terlihat natural, Kak," jelas Hyera yang tahu maksud dari tatapan Vincent kepadanya.
Vincent tersenyum. Dia langsung mengusap rambut Hyera pelan. "Good girl."
Mereka berdua berjalan menghampiri pasangan tersebut. Semakin dekat, membuat jantung Hyera berdegup kencang. Ia benar-benar gugup setengah mati.
Semoga gak ada masalah.
Sang mempelai wanita menoleh dan melihat kedatangan mereka. "Hai ... Vincent. Ternyata kamu datang ya." ucap wanita tersebut sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
Hyera menatap kagum ke arah wanita tersebut. Ternyata mantannya Vincent begitu cantik dengan paras wajah bak seorang putri kerajaan yang begitu anggun dan classy. Matanya yang bulat besar nan indah, hidung yang mancung, dan tidak lupa bibirnya yang unik saat ia tersenyum karena membentuk hati.
Pantesan aja gagal move on, mantannya aja kayak bidadari.
"Tentu aja saya datang. Oh ya, Jesya, kenalin. Ini pacar saya, namanya Hyera," ucap Vincent memperkenalkan Hyera dengan senyum bangga.
Wanita yang bernama Jesya itu menatap Hyera. Raut wajahnya pun berubah. Tidak sehangat saat ia menatap Vincent tadi. "Ohh ... hai, Hyera. Salam kenal ya." ucap Jesya tersenyum.
Hyera menyadari bahwa senyum yang dilontarkan wanita itu terasa palsu.
Kenapa dah? Kok gue ngerasa nih cewek kayak gak suka sama gue.
"Sayang," manja Hyera kepada Vincent.
Vincent langsung menoleh. Hyera mengedipkan mata sebelahnya, seperti memberi kode. Hal itu membuat Vincent langsung mengerti. "Kenapa, hmm?" tanya Vincent tersenyum sambil mengelus rambut Hyera dengan lembut.
"Capek ..." ucap Hyera sambil cemberut menggemaskan.
Vincent langsung mencubit kedua pipi Hyera karena merasa gemas. "Sayangku ini udah capek ya?"
Hyera mengangguk. "Tapi aku juga lapar, sayang."
"Ekhemm ..." Jesya berdehem.
Vincent langsung menoleh ke arah Jesya sembari mengelus tangannya Hyera di lengannya. "Maaf ya. Kayaknya Hyera udah capek. Kalau gitu saya undur pamit. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian berdua selalu diberkati oleh Tuhan dengan kebahagiaan." ucap Vincent dengan tulus. Bagaimanapun, sudah saatnya ia benar-benar melupakan wanita yang saat ini sudah menjadi milik orang lain.
Suami dari Jesya menepuk pundak Vincent pelan. "Terima kasih sudah hadir di pernikahan kami."
Vincent mengangguk lalu berjalan pergi, meninggalkan pasangan tersebut tanpa melepaskan tangan Hyera dari lengannya. Hyera sempat menoleh ke belakang karena ingin melihat reaksi dari mantannya Vincent. Hasilnya?
Astaga, serem banget tatapannya. Kayak mau ngulitin gue.
***
Mesin mobil sudah mati. Saat ini mereka berdua sudah berada di depan rumah Ayla. Hyera berdiam sebentar. Ia sebenarnya ingin memastikan sesuatu. "Kak Vincent."
Vincent menoleh. "Iya, kenapa, Ra?"
Hyera terlihat ragu, tetapi ia mencoba memberanikan diri. "Gimana perasaan Kakak sekarang?"
Vincent mengernyitkan dahinya bingung. "Perasaan saya?"
__ADS_1
Hyera mengangguk. "Iya gimana perasaan Kakak saat datang ke pernikahan orang yang dulunya pernah ada hubungan spesial sama Kakak?"
Vincent terdiam. Mengetahui hal itu membuat Hyera merasa bersalah. "Ehh, gak usah dijawab kalo Kakak gak nyaman sama pertanyaan aku."
Vincent tersenyum, "Gak papa kok." Vincent pun bersandar di kursi mengemudi, "Perasaan saya ya." Terdiam sebentar. "Entahlah, saya juga bingung dengan perasaan saya sekarang."
Hyera mencoba untuk mendengarkan tiap kata yang dilontarkan Vincent dengan seksama.
"Di satu sisi, saya merasa hampa, tetapi di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orang yang dulu pernah bersama saya bisa bahagia. Meskipun bukan dengan saya, setidaknya melihat dia bahagia, membuat saya juga ikut bahagia."
Hyera tertegun dengan perkataan Vincent. Tidak menyangka bahwa pria yang ada di hadapannya ini begitu dewasa dalam menyikapi masalahnya.
"Emm ... kalo Hyera boleh tahu, kalian putus karena apa ya?"
"Saat itu, kami ingin merayakan anniversary kami yang ke-empat tahun. Pada hari itu juga, saya udah siap ingin melamarnya di hari spesial tersebut, tetapi hal itu tidak terjadi. Dia tiba-tiba minta putus tanpa memberi saya kejelasan apapun. Setelah itu, keesokan harinya dia menghilang tanpa memberi kabar maupun berpamitan. Benar-benar hilang seperti ditelan bumi," Vincent menjeda sebentar perkataannya. "Setelah satu tahun berlalu, tiba-tiba saya mendapatkan undangan bahwa dia akan menikah dengan orang lain."
Tanpa sadar Hyera menitikkan air matanya. Ia seperti merasakan apa yang dirasakan oleh Vincent. Rasanya begitu menyakitkan saat harus berpisah dengan orang yang benar-benar disayang. Apalagi, perpisahan mereka bisa dikatakan tidak baik karena dari pihak wanitanya meninggalkan Vincent begitu saja. Tanpa sadar Hyera langsung memeluk Vincent. Pria tersebut tidak menolak. Bahkan ia membalasnya pelukan tersebut dengan erat.
"Kakak yang kuat ya. Mungkin aja, dia emang bukan orang yang tepat buat Kakak. Tuhan pasti akan mengirimkan orang yang tepat untuk Kakak suatu saat nanti. Tenang aja, Kak, Hyera yakin bahwa hal itu pasti akan terjadi."
Vincent melepas pelukannya dan menatap Hyera lekat. Tangannya terulur menyentuh pipi Hyera. Ia seka air mata gadis itu dengan jarinya. "Kan seharusnya yang sedih kakak, kok malah kamu yang nangis."
Hyera cemberut, "Gak tau nih, tiba-tiba aja air matanya turun."
Vincent mengacak rambut Hyera gemas. "Kamu gemesin banget sih, Hyera."
Hyera menepis tangan Vincent dari kepalanya. "Jangan diacak-acak juga dong kak rambut aku."
Hyera pun merapihkan rambutnya dengan tangannya. Vincent terus saja menatapnya yang tak lama ia membuka suara. "Hyera."
Hyera menoleh. "Iya, Kak?"
"Kakak benar-benar nyaman banget sama kamu."
Blushh ... pipi Hyera memerah. "Hehehe Beneran, Kak?" Hati Hyera berbunga-bunga saat mendengar perkataan dari Vincent. Ia merasa seperti sudah selangkah lebih maju untuk bisa mendapatkan hati pria yang ia sukai ini.
Vincent mengangguk. "Iyaa Kakak udah nyaman banget sama kamu. Kamu udah kakak anggap sebagai adik kecil kakak sekarang."
Jangan tanya bagaimana perasaan hyera sekarang. Mendengar perkataan yang langsung meluncur mulus dari mulut Vincent, membuat dirinya tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.
Hahaha dianggep adek kecil dong. Sedih banget.
__ADS_1