ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 17


__ADS_3

"Hahahaha ... ini lucu banget. Kenapa bisa kayak gitu deh?" tanya Hyera yang masih diselingi tawa.


Saat ini Hyera bersama Jordan sedang menonton video-video yang ada di tablet milik pria tersebut. Vincent sendiri sebenarnya juga ikutan menonton dan duduk di sebelah Hyera, tetapi keberadaannya itu seperti tidak dianggap. Awalnya tabletnya itu berada di tengah-tengah, namun makin lama tablet tersebut makin bergeser hingga hanya Hyera dan Jordan saja sibuk dengan benda tersebut.


Vincent menatap kesal ke arah dua manusia itu yang masih sibuk dengan dunianya. Hyera dengan keinginan tahuannya, sedangkan Jordan yang dengan sabar dan bersikap manis memberitahu apa yang ditanyakan oleh gadis itu.


Apalagi melihat dengan santainya Jordan mengusap rambut Hyera dan gadis itu terlihat malu-malu saat sahabatnya itu mengerling kepadanya. Benar-benar membuat Vincent melihatnya menjadi gerah.


Brakkk ...


Suara gebrakan, membuat Hyera dan Jordan mengehentikan kegiatan mereka dan menoleh ke arah Vincent.


"Kenapa lo, Cen?" tanya Jordan bingung.


Hyera sendiri hanya terdiam dan cukup terkejut saat mendengar suara gebrakan tersebut yang kencang.


Vincent menatap sengit ke arah Jordan, kemudian menatap Hyera nanar tetapi ada kilatan kesal di matanya. Setelah itu, pria tersebut bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Hyera dan Jordan di ruang tv.


"Kak Jordan, itu kak Vincent kenapa deh?" tanya Hyera dengan nada khawatir.


Jordan hanya mengedikkan bahu. "Mana gue tau. Lagi pms kali tuh bocah."


Hyera memukul bahu pria tersebut dengan gemas. "Apaan sih, Kak. Yakali kak Vincent pms."


"Gak usah mukul gue juga, bocah. Kalo lo khawatir, datengin gih!" suruh Jordan yang masih mengusap bahunya. Sudah dua kali ia terkena pukulan dari gadis yang ada di sampingnya ini.


Nih cewek bener-bener ya.


"Gak papa nih aku samperin aja kak Vincentnya? Tapi takut ... tadi mukanya serem banget kayak mau makan orang," ucap Hyera lirih, diselingi rengekan.


Jordan menghembuskan napas dan menatap Hyera lembut. "Iyaa, gak papa. Samperin aja orangnya. Kali aja dengan lo samperin dia, suasana hatinya jadi mendingan."


Hyera terlihat berpikir mendengar saran dari Jordan. Gadis itu sebenarnya ingin mendatangi pria tersebut, tetapi hatinya meragu. Hyera kembali menatap Jordan dan pria itu menganggukkan kepala, menayakini bahwa sarannya itu tidak ada salahnya untuk dilakukan.


"Yaudah deh, aku samperin dulu kak Vincentnya," putus Hyera pada akhirnya.

__ADS_1


Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan tertatih-tatih menuju ke arah kamar Vincent.


Jordan menatap kepergian Hyera dengan pandangan tidak terbaca. Setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, pria itu tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya.


"Ada-ada aja lo berdua."


***


"Kak Vincent," panggil Hyera sambil mengetuk pintu kamar pria tersebut.


Sudah beberapa kali itu mengetuk dan memanggil namanya, namun tidak ada sahutan dari Vincent. Akhirnya, Hyera memberanikan buka kamar Vincent yang ternyata tidak terkunci. Gadis itu masuk perlahan dan menoleh sekeliling dan tidak menemukan keberadaan Vincent di kamar tersebut.


Awalnya Hyera ingin keluar, tetapi pendengarannya menangkap suara air yang ternyata berasal dari kamar mandi.


"Ahh ... lagi mandi ternyata," gumam Hyera menatap ke arah pintu kamar mandi.


Hyera terlihat bingung, apakah lebih baik ia menunggu di dalam kamar atau di luar saja.


"Nunggu di kamar aja kali ya? Males banget gue kalo turun lagi ke bawah, apalagi dengan kondisi kaki gue yang pincang gini," ucap Hyera yang akhirnya memutuskan untuk menunggu Vincent di dalam kamar pria tersebut.


Gadis itu menoleh dan menemukan sebuah majalah yang tergeletak di samping tempat ia duduk.


"Baca ini ajalah, daripada gue cengo gak jelas nungguin kak Vincent keluar dari kamar mandi."


Hyera pun mengambil majalahnya dan melihat-lihat isi dari majalah tersebut. Isinya yang didominasi dengan hal-hal berbau bisnis, membuat Hyera yang membacanya terheran-heran dengan kalimat-kalimat yang tertulis di dalamnya.


Meskipun begitu, gadis itu tetap melanjutkan membacanya hingga tidak menyadari bahwa pintu kamar mandi terbuka dan muncul Vincent dari sana dengan bertelanjang dada dan hanya menutupi asetnya itu dengan handuk.


Vincent mengernyitkan dahinya bingung melihat keberadaan Hyera yang ada di kamarnya. Pria itu pun berjalan menghampiri gadis itu yang masih fokus dengan majalah yang ada di pangkuannya. Vincent tertawa kecil saat melihat raut wajah Hyera yang terlihat bingung dengan mulutnya yang terus saja mengoceh kecil seperti anak kecil. Benar-benar menggemaskan.


Hyera kemudian tersadar karena menyadari ada bayangan yang mendekati dirinya. Gadis itu mendongak dan matanya langsung menatap ke arah manik mata milik Vincent.


"Astaga!" pekik Hyera kencang karena terkejut, membuat Vincent juga berjingkrak terkejut karena pekikan dari gadis itu.


"Hyera, kamu kagetin kakak aja deh."

__ADS_1


Tentu Hyera tidak terima dikatakan seperti itu. Apa-apaan? Padahal Vincent sendiri yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Saat ingin memprotes, tatapannya tidak sengaja melihat ke arah tubuh pria tersebut.


Hyera meneguk ludahnya dan tiba-tiba kedua pipinya terasa panas hingga ke kedua telinganya. Jantung gadis itu berdegup dengan kencang dengan napas memburu.


Vincent yang melihat Hyera membeku seperti patung, membuat pria itu semakin mendekatinya dan berjongkok di hadapan Hyera. Apalagi melihat keringat yang mengucur membasahi wajah gadis itu, membuat Vincent khawatir. Segera ia mengambil tisu yang ada di meja samping sofa dan dengan telaten ia mengelap keringat yang ada di wajah gadis tersebut.


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Hyera menahan napasnya. Apalagi jarak wajahnya dengan wajah Vincent begitu dekat. Sial, bisa-bisa Hyera mati muda kalau dapat serangan seperti ini.


"Kak Vincent," panggil Hyera pelan.


"Iya ... kenapa, Hyera?" tanya Vincent lembut.


"Ehh ... kak Vincent tadi kenapa gebrak meja gitu? Sakit gak tangannya?"


Gerakan tangan Vincent terhenti. Pria itu menatap dalam ke arah Hyera. Vincent sendiri sebenarnya tidak tahu dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja merasa kesal saat melihat Jordan melakukan hal yang biasa ia lakukan ke Hyera. Apalagi melihat Hyera tidak menolak diperlakukan seperti itu oleh sahabatnya, membuat hatinya terasa panas dan dirinya ingin melempar sesuatu untuk meluapkan emosinya.


"Gak papa kok, Hyera. Tadi mood kakak lagi jelek aja. Maaf ya, pasti kamu kaget banget," ucap Vincent merasa bersalah.


Hyera menggelengkan kepala. "Iyaa, aku emang kaget banget tadi, cuma yaudah. Kakak juga gak perlu minta maaf. Kalo emang kakak ada masalah, cerita aja sama aku. Kan, kakak sendiri yang udah anggap aku sebagai adek," jelas Hyera yang pada kata terakhirnya ia memelankan suara. Hatinya kembali terluka saat mengucapkan kata terakhir tersebut. Benar-benar kenyataan yang menyebalkan.


Sedangkan Vincent sendiri, entah kenapa ia merasa tidak suka saat Hyera mengatakan kata terakhir tersebut. Hati kecilnya seperti menolak untuk menerimanya, tetapi ia tidak tahu kenapa. Padahal dari awal, dirinya sendirilah yang menganggap Hyera seperti adik. Namun, kenapa tiba-tiba ada penolakan di hatinya? Sepertinya sedang tidak ada yang beres dengan dirinya.


"Hmm ... kak Vincent,"


Vincent tersentak dan menoleh ke arah Hyera. Ia baru menyadari kalau dirinya ini sedari tadi melamun. "Iyaa, kenapa lagi?"


"Ituu ... kak," ucap Hyera ragu.


Vincent mengernyit. "Itu kenapa?"


"Anuu ... emangnya kakak gak kedinginan yaa?" tanya Hyera gugup. Pipinya kembali memanas hingga muncul semburat merah merona seperti tomat.


Mata Vincent terbelalak. Ia kemudian menatap tubuhnya dan menatap kembali ke arah Hyera dengan pandangan horor. Segera ia bangkit dari jongkoknya dan memutar tubuhnya. Ia memukul kepalanya dan merutuki kebodohannya itu. Bahkan, telinganya sampai memerah karena malu. Bisa-bisanya ia bertelanjang di depan gadis itu. Meskipun hanya atasannya saja, tetapi tetap saja hal itu membuatnya malu.


"Eh, kakak Vincent gak perlu malu ..." Hyera menjeda perkataannya. "... badan kakak bagus kok. Badannya berotot dan perutnya kotak-kotak gitu. Kereenn!"

__ADS_1


Rasanya Vincent ingin melompat saja ke laut mendengar perkataan polos dari mulut gadis tersebut.


__ADS_2