
"Kamu tuh masih sakit, Hyera. Gak usah ngapa-ngapain dulu," larang Vincent yang langsung mengambil sapu yang berada di tangannya Hyera.
"Gak mau. Siniin sapunya, Kak!" rengek Hyera yang mencoba meraih sapunya tetapi Vincent langsung membuangnya ke lantai bawah.
Hyera menatap Vincent dengan pandangan terkejut. "Kok dibuang sih sapunya?"
"Ya lagian kamu ngeyel banget dikasih taunya. Dibilangin gak usah ngapa-ngapain, tetep aja ngotot," omel Vincent sambil melipat tangannya di depan dada.
Hyera berdecak kesal dan mulai berjalan tertatih ke arah tangga. Saat ingin menginjakkan tangga pertama, tubuhnya terhuyung dan hampir saja terjatuh jika saja Vincent tidak langsung meraih tubuhnya. Biar bagaimanapun, tubuh Hyera memang masih terasa lemas dan keadaan fisiknya yang belum sembuh total
"Tuh, 'kan dibilang juga apa? Baru turun satu tangga aja udah sempoyongan kamu," omel Vincent yang terselip rasa khawatir, tetapi Hyera tidak menyadarinya dan memukul bahu Vincent dengan kesal. "Udah, ihh! Jangan ngomel-ngomel mulu. Masih pagi tau."
Vincent menggelengkan kepala dan menyentil dahi Hyera hingga membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Diem kamu! Mau turun, 'kan? Sini kakak bantuin kamu turun."
Hyera mengiyakan dan hanya pasrah saja ketika tubuhnya saat ini sudah berada di punggungnya Vincent dan membawa dirinya menuruni tangga perlahan. Ia menjatuhkan kepalanya di pundak Vincent sehingga dirinya bisa mencium aroma dari shampoo dan parfum yang meruak dari tubuh pria tersebut.
Nyaman banget. Jadi pengen tidur lagi.
"Asikk ... udah kayak pengantin baru aja lo berdua."
Hyera mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang baru saja mengatakan hal tersebut yang ternyata adalah sahabatnya Vincent, Jordan yang sedang duduk di sofa ruang tv dan menatap mereka dengan pandangan menggoda, sehingga membuat Hyera merundukkan kepala dengan semburat merah merona di pipinya karena malu. Sedangkan Vincent sendiri, ia tidak memperdulikan perkataan dari Jordan dan tetap berjalan ke arah sofa yang kemudian menurunkan Hyera perlahan di atas sofa dengan mendudukinya di sebelah Jordan.
Setelah menurunkan Hyera, Vincent berjongkok di hadapannya gadis itu sambil mengelus tangan Hyera yang berada di atas pahanya. "Kamu mau makan apa? Biar kakak buatin buat kamu," tanyanya lembut.
Hyera mendongak dan menatap ke arah Vincent. " Terserah kakak aja."
"Terserah ya ... yaudah, tunggu. Kakak bikinin makanan sama jus favorit kamu dulu, dan buat Jordan. Jagain Hyera. Jangan digangguin anaknya!" pinta Vincent yang langsung diacungkan jempol oleh Jordan.
Setelah itu, Vincent berjalan menjauhi mereka berdua, menuju ke ruang dapur. Saat Vincent sudah menghilang di balik tembok, Jordan perlahan mendekati Hyera. Pria itu menatap Hyera lamat-lamat yang kemudian menghela napasnya.
"Ra, masih belum ada progres?"
__ADS_1
Hyera menoleh dan menatap Jordan bingung. " Ha? Progres apaan, Kak?"
Jordan tersenyum miring, kemudian bersandar di sofa sambil menatap langit-langit. "Gak perlu disembunyiin. Gue tau kalo lo tuh suka kan sama Vincent."
Perkataan dari Jordan membuat sekujur tubuh Hyera menegang. Jordan menoleh ke arah Hyera dan menatap gadis itu dalam. "Kenapa? Kok gugup gitu? Tebakan gue bener ya berarti?"
"Aa ... akhh, en-gga kok. Siapa yang gugup coba," elak Hyera yang langsung membuang wajahnya.
Melihat tingkah Hyera yang sedang salting, membuat dirinya tidak dapat menahan lagi untuk tidak tertawa. "Hahahaha ... lucu banget sih lo, Hyera."
Hyera menoleh cepat dan langsung membekap mulut Jordan. "Ssstt ... ketawanya biasa aja dong, Kak. Ngeledek banget."
Jordan memegang kedua tangan Hyera dan melepaskannya dari mulutnya. "Iyaa, iyaa. Ini udah gak ketawa lagi kok. Abisan lo lucu."
"Lucu, lucu, dikira badut kali aku dibilangin lucu mulu," dumel Hyera yang langsung membuang wajah dan melipat tangan di depan dadanya.
Jordan menggelengkan kepala melihat tingkah Hyera yang seperti anak kecil. "Yaudah, maafin gue yaa?"
Hyera tidak menggubrisnya dan tetap membuang muka.
"Beneran? Gimana caranya?" tanya Hyera dengan tatapan curiga.
"Sinii, gue bisikin rencananya. Dijamin, rencananya bakalan berhasil seratus persen."
Hyera mengernyitkan dahinya dan masih menatap ke arah Jordan dengan pandangan was-was, tetapi tetap saja gadis itu mendekat dan mulai mencodongkan tubuhnya agar Jordan dapat membisikkan rencananya itu.
"Jadi, rencana gue adalah-" perkataan Jordan yang digantung membuat Hyera gemas dan segera memukul pahanya Jordan. "Cepetan ih, sok-sokan misterius banget."
Jordan mengaduh kesakitan dan mengusap pahanya yang panas akibat pukulan dari Hyera yang tidak main-main. "Iyaa, iyaa. Gila ya lo! Pukulannya gak main-main," dumel Jordan.
"Cepetan. Jangan banyak intro. Rencananya apaan sih, Kak?" tanya Hyera yang mengabaikan dumelan Jordan sehingga membuat pria tersebut berdecak kesal tetapi tetap melanjutkan perkataannya. "Jadi gini, rencana gue tuh adalah lo sama gue pura-pura saling jatuh cinta dan lagi menjalankan masa pdkt."
__ADS_1
"HA??"
***
Di lain tempat, Vincent sudah menyelesaikan masakannya untuk sarapan Hyera. Sandwich isi daging cincang dan segelas jus strawberry, kesukaannya Hyera.
Pria itu menata kembali sandwichnya agak terlihat menggugah selera sehingga membuat Hyera napsu untuk memakannya. Setelah selesai menata, Vincent membawa makanan dan minumannya menuju ke ruang tv, di mana gadis itu berada.
Selama perjalanan menuju ruang tv, sayup-sayup ia mendengar tawa dari Jordan dan Hyera yang terdengarnya mereka sedang melakukan hal yang seru.
"Ngobrolin apaan dah sampe ketawa-ketawa gitu?" gumam Vincent bingung.
Setelah sampai di ruang tv, Vincent dapat melihat apa yang dilakukan Jordan dan Hyera. Mereka berdua saat ini sedang duduk berdempetan dan menatap serius ke arah ponsel milik Jordan.
Melihat hal yang mereka lakukan, entah kenapa membuat Vincent tidak suka. Ada perasaan kesal di dalam dirinya melihat Jordan dan Hyera berdekatan seperti itu.
"Hyera, ini sarapannya. Di makan dulu yuk," pinta Vincent sambil menaruh makanan dan minuman di atas meja dan kemudian duduk di atas karpet.
Pandangan Hyera teralihkan dari ponsel Jordan dan menatap ke arah Vincent. "Oh, ok deh. Kak Jordan, aku mau makan sarapan dulu ya. Nanti nontonnya kita lanjutin lagi."
Jordan menoleh ke arah Hyera. "Ah, iya. Kamu sarapan dulu sana, pasti udah laper banget kamu. Mau aku suapin?"
Mendengar perkataannya Jordan membuat Vincent tersedak air liurnya sendiri. Ditambah ia melihat Hyera yang bertingkah malu-malu dan mengiyakan perkataan Jordan.
Apa-apaan ini? Perasaan baru ditinggal sebentar kok udah kayak gini mereka berdua.
"Yuk, sini aku bantuin kamu buat duduk," ujar Jordan yang membantu Hyera untuk turun dari sofa dan duduk di atas karpet.
"Makasih, Kak Jordan," ucap Hyera tersenyum ke arah Jordan yang kemudian pria itu membalas tersenyum dan mengusap kepala Hyera lembut. "Anything for you. Sini, aku potongin sandwichnya biar kamu bisa makan dengan mudah."
Hyera mengangguk dan menatap ke arah Jordan dengan mata yang berbinar saat pria itu sedang memotong sandwichnya. Kegiatan yang mereka lakukan tidak luput dari perhatian Vincent yang sedari tadi sedang menahan kesal karena merasa dirinya seperti nyamuk.
__ADS_1
Tetapi dibalik dirinya yang kesal karena tidak dianggap keberadaannya, ada terselip rasa cemburu saat melihat Hyera menatap sahabatnya itu dengan pandangan yang selama ini gadis itu perlihatkan untuk dirinya selama ini.
Ah, sial! Kok gue jadi gini sih? Sialan lo, Jordan!