ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 2


__ADS_3

Vincent merasa gusar dengan raut wajah yang begitu cemas. Sedari tadi ia duduk di lorong rumah sakit dan sesekali menghentakkan kakinya pelan karena khawatir. Saat ini ia sedang menunggu seorang gadis yang sebelumya hampir saja ia tabrak yang saat ini sedang diperiksa oleh dokter.


Sebelumnya, Vincent sudah menghubungi kembali Jordan dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menghadiri rapat karena harus membawa gadis yang hampir saja ia tabrak itu ke rumah sakit dan menyuruh sahabatnya untuk menggantikan dirinya sebagai perwakilan dari perusahaan. Untung saja pihak dari perusahaan Yeobi Inc. tidak keberatan dengan hal tersebut dan akhirnya berhasil membuat kesepakatan untuk bekerja sama.


"Bagaimana keadaannya, Cen?"


Vincent menoleh ke arah suara yang ternyata berasal dari sahabatnya, Jordan. Pemuda berwajah manis yang menawan dan kharismatik itu ternyata menyusul selepas dirinya selesai melakukan rapat. Vincent menggelengkan kepalanya hingga membuat Jordan menghembuskan napasnya pelan lalu duduk di samping Vincent. Ia juga menepuk pelan pundak sahabatnya itu dan mencoba menenangkan.


"Tenang, gadis itu bakalan baik-baik aja," ujar Jordan mencoba menghibur Vincent yang raut wajahnya sudah kusut.


Hening. Vincent tidak membuka mulut sama sekali. Tak lama dokter keluar dari ruangannya, membuat Vincent langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri dokter tersebut.


"Dok, bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik aja?" tanya Vincent yang sudah tidak sabar.


Dokter itu tersenyum dan berkata. "Iyaa, gadis itu baik-baik aja. Mungkin dia pingsan karena masih syok atas kecelakaan yang menimpa dirinya."


Vincent pun akhirnya bisa menghembuskan napasnya lega yang kemudian senyumnya terbit di wajah tampan'nya. "Terima kasih, Dok, informasinya. Boleh saya lihat gadis itu sekarang?"


Dokter mengangguk. "Boleh, bahkan dia udah bisa dibawa pulang sekarang."


Vincent mengangguk mengerti, kemudian ia berjalan memasuki ruangan gadis itu dirawat dengan Jordan yang mengikuti di belakangnya. Saat memasuki ruangan, ia terlihat bingung karena isi ruangannya kosong.


"Kenapa, Cen?" tanya Jordan.


"Kemana dia?"


Jordan mencoba mendorong tubuh Vincent yang menghalangi jalan masuk. Memastikan sendiri perkataan Vincent di depan matanya. "Lah ... iya, mana tuh orang? Cepet banget hilangnya."


Cklek ... Vincent dan Jordan menoleh ke arah kamar mandi yang di mana pintunya pun terbuka, menampilkan seorang gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi. Vincent berjalan menghampiri dan bahkan ia menyentuh kedua bahu gadis tersebut. Hal itu membuat gadis tersebut terkejut bukan main. "Saya kira kamu hilang tadi."


"A-aku abis dari kamar mandi. Kebelet banget soalnya hehehe."


Vincent tersenyum. Bahkan ia tertawa kecil karena melihat wajah gadis itu yang terlihat konyol namun menggemaskan. "Yuk ... saya antar kamu pulang."


Gadis itu terlihat terkejut. "Ehh ... gak usah, aku bisa pulang sendiri kok."


Vincent menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Biarin saya anterin kamu pulang. Saya masih merasa bersalah sama kamu dan takut kamu kenapa-kenapa juga nanti di jalan. Gak boleh ada penolakan!"


Mendapat persetujuan dari gadis tersebut, Vincent langsung menggenggam tangannya lalu membawa gadis itu keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Gue ikut ya, Cen?"


Vincent menoleh dan menatap Jordan datar. "Gausah! Mending lo pulang aja. Cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi, abis itu tidur."


Setelah mengatakan hal tersebut, Vincent benar-benar pergi meninggalkan Jordan sendirian di ruangan tersebut.


"Yakk! Dikira gue bocah kali dibilang kayak gitu," sungut Jordan kesal.


***


Suasana di mobil begitu hening. Tidak ada yang memulai percakapan. Sesekali Hyera melirik ke arah pemuda yang berada di sampingnya. Lumayan buat cuci mata.


"Nama om siapa?" tanya Hyera mencoba membuka percakapan.


Pemuda yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya, menoleh ke arah Hyera. "Om?" tanyanya balik.


"Iyaa ... Om, namanya siapa?"


Pemuda itu terlihat tertawa miris. "Emangnya saya keliatan tua banget ya? Sampai-sampai kamu manggil saya om."


"Ahh ... Enggak kok. Gak keliatan tua. Malahan keliatan muda, terus juga sangat tampan," celetuknya tanpa sadar. Setelah menyadari perkataannya, Hyera langsung menepuk mulutnya.


Astaga nih mulut, gak punya harga dirinya banget sih. Main nyeplos aja.


Haa, syukurlah dia gak dengar.


"Ah ... enggak kok, gak ngomong apa-apa."


Pria itu tersenyum, lalu menatap Hyera lembut. "Nama saya Vincent. Kamu jangan panggil saya om. Panggil saya kakak aja."


"Ohh, kalau gitu, nama aku Hyera, Kak."


"Hyera? Nama yang sangat manis."


"Aihh, kakak bisa aja deh," ucap Hyera tersipu dan juga tanpa sadar memukul lengan Vincent.


Meskipun pelan, hal itu membuat Vincent terkejut. Menyadari apa yang sudah ia lakukan, Hyera langsung panik. "Ya ampun, Kak. Hyera tadi reflek mukulnya. Maaf yaa ...."


Bego banget sih lo, Hyera. Bikin malu aja.

__ADS_1


"Hahahah ... Gak papa kok, santai aja."


Setelah itu, suasananya kembali hening. Tidak ada percakapan lagi. Tak lama, mobil Vincent sudah sampai di depan rumah Hyera. Gadis itu membuka seatbelt dan bersiap untuk keluar. Sebelum keluar, ia langsung teringat akan sesuatu.


"Kak."


"Kenapa, Hyera?" tanya Vincent.


"Sebelum kakak bawa aku ke rumah sakit, kakak bawa belanjaan aku gak?" tanya Hyera dengan perasaan was-was.


Raut wajah Vincent langsung berubah. Hyera merasa perasaan gak enak. "Yahh ... Hyera, maaf. Kayaknya belanjaan kamu kakak tinggal di jalanan deh."


Mampus!!!


"Kak, sekarang putar balik. Jangan sampai nenek lampir itu melihat aku di sini," pinta Hyera dengan jantung yang sudah berdetak dengan kencang. dirinya benar-benar panik total.


"Apa? Nenek lampir?" tanya Vincent bingung dan linglung karena Hyera kembali masuk ke dalam mobilnya dan memakai seatbelt kembali.


"Ya ... Pokoknya gitulah. Susah buat jelasinnya, tapi yang pasti dia adalah orang yang paling menyebalkan, Jadi, tolong putar balik sekarang, Kak!" pinta Hyera dengan nada panik.


"Emang kamu mau kemana?"


"Anterin aku ke rumah teman aku aja, Kak."


Akhirnya mobil Vincent sudah menjauhi rumahnya. Hal itu membuat Hyera bisa bernapas lega.


"Kalo boleh tau, yang kamu maksud si nenek lampir itu siapa?" tanya Vincent penasaran.


"Nenek lampir itu sebenarnya tante aku, Kak."


"Kok kamu bisa panggil tante kamu nenek lampir?"


Hyera langsung memutar tubuhnya, menghadap ke Vincent. "Nih ya, Kak. sebenarnya tuh tante aku bisa dibilang kayak iblis. Kerjaannya kalau gak nyuruh-nyuruh, pasti marah-marah gak jelas. Rasanya tuh ya, Kak, mau aku tabok tuh orang sangking kesalnya. Untung orang tua, jadinya aku tahan aja," ucapnya dengan menggebu-gebu. "Aishh ... Pokoknya tuh nenek lampir nyebelin banget! Mau aku kubur hidup-hidup tuh orang biar tau rasa."


Vincent yang mendengarnya merasa speechless. Merasa tidak percaya dengan gadis yang berada di sampingnya ini ternyata tidak sependiam yang ia pikirkan.


"Hmm, sebelum ke rumah teman kamu, mau mampir ke suatu tempat dulu gak buat makan?" tawar Vincent kepada Hyera.


Mendengar kata "makan" membuat kobaran api yang ada di dalam tubuh Hyera meredup. Gadis itu menoleh ke arah Vincent dengan mata berbinar. "Boleh deh, Kak. Aku juga udah banget laper hehehe."

__ADS_1


Vincent tersenyum mendengar perkataan Hyera. Ternyata membuat gadis itu kembali tenang hanya dengan menawarkan makanan. Salah satu fakta yang sepertinya harus Vincent ingat mengenai gadis yang berada di sampingnya.


Vincent sempat berpikir, apakah setelah ini ia masih bisa bertemu kembali dengan gadis ini? Entahlah Vincent juga tidak bisa menjamin hal itu bisa terjadi, tetapi Vincent berharap bahwa ia bisa bertemu lagi dengan Hyera. Gadis dengan paras yang cantik memesona, mata yang indah, hidung mancung, bibir yang tipis dan memiliki lesung pipit di kedua pipinya yang terlihat saat tersenyum-sudah membuat Vincent ingin mengenal gadis itu lebih dekat.


__ADS_2