ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 12


__ADS_3

Sinar pagi menembus kaca jendela hingga cahayanya mengenai wajah Hyera. Merasa terganggu dengan cahaya yang menerpa wajahnya, ia pun akhirnya membuka matanya perlahan.


"Hooaammm ...." Hyera bangun dari tidurnya sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.


"Aishh ... pusing banget!" keluh Hyera sambil memijat keningnya pelan.


Dirasa sakitnya sudah mereda, ia menoleh, Menatap dirinya di pantulan kaca.


"Ha? Kok gue bisa ada di kamar sih? Gak mungkin kan Kak Vincent yang bawa gue ke kamar? Ketahuan dong gue," ujar Hyera yang sedikit panik di nada bicaranya.


"Auahh ... nanti nanya aja sama Kak Vincent," Hyera turun dari kasurnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang dirasanya sangat lengket dan bau.


Tunggu dulu? Hyera kembali mengendus baju yang dipakainya dan mencium ada bau lain yang tercampur dengan bau alkohol. Baunya seperti bau muntahan.


Kenapa bisa ada bau muntah di baju gue? Gak mungkin 'kan semalam gue muntah?


***


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Hyera turun ke bawah dan berjalan menuju ke ruang makan, di mana sudah ada Vincent yang sedang memakan sarapannya.


"Selamat pagi, Kak," sapa Hyera lalu duduk di kursi.


"Uhhuukk ... Uhuukk ...."


"Ya ampun, Kak. Nih minum dulu airnya." Hyera langsung mengambil gelas berisi air putih, lalu memberikannya kepada Vincent.


"Kakak gak papa?" tanya Hyera khawatir sambil memegang pundak Vincent.


Vincent menoleh. Menatap ke arah Hyera yang kemudian ia membuang muka ke arah lain. Tangan Hyera pun ia pegang dan diturunkan dari pundaknya.


"Gak papa," jawab Vincent singkat.


Hyera pun mengernyitkan dahinya bingung. Merasa bahwa sikap Vincent terhadapnya sedikit berbeda, tetapi Hyera tidak ambil pusing. Ia mengambil roti yang ada di atas meja dan mengoleskannya dengan selai coklat, lalu memakannya.


"Oh ya, Kak, Hyera mau nanya."


"Hmmm," sahut Vincent tanpa menoleh ke arah Hyera.


Sebenarnya Hyera agak ragu untuk bertanya, tetapi ia harus melakukannya agar menemukan jawaban dari pertanyaan yang terus saja berputar di otaknya.


"Ehmmm ... Hyera mau nanya, s-semalam Kakak yang bawa Hyera ke kamar ya?" tanya Hyera gugup.


Vincent berhenti mengunyah makanannya, lalu menatap manik mata Hyera dengan tajam. "Iya."


Mampus gue.

__ADS_1


"Ekhh ... i-itu, Kak, a-aku a-aaku--"


"Kamu kenapa bohong sama kakak?" tanya Vincent to the point.


Hyera terdiam. Otaknya berusaha berpikir untuk mencari alasan. "Ehmm, bohong apa ya, Kak?"


Vincent berdecak kesal lalu membuang muka. "Udahlah, kalo kamu gak mau jujur. Kakak juga gak peduli," ucapnya lalu berdiri dari duduknya dan pergi.


Hyera menundukkan kepalanya. Matanya pun mulai memanas. Dadanya pun terasa sesak. Kalau tahu seperti ini, lebih baik ia jujur saja dari awal. Menyesal juga sudah tidak ada gunanya lagi karena sudah kejadian.


"Nih, kamu minum air lemonnya. Biar pengar kamu membaik," ucap Vincent datar sambil menaruh segelas air lemon di atas meja.


Hyera menoleh dan langsung meraih lengan Vincent saat pria itu ingin pergi lagi. "Kak, maafin Hyera." ucapnya lirih menahan tangis.


Vincent menoleh dan menatap Hyera lekat. Tangannya pun terulur ke arah kepalanya Hyera sambil mengusapnya lembut. "Kakak berangkat kerja dulu ya. Hari ini kamu istirahat aja. Gak usah ngelakuin apa-apa dulu."


Belum sempat Hyera membuka suaranya, Vincent menurunkan tangannya dari kepala Hyera, lalu berjalan meninggalkan Hyera yang menatap kepergiannya dengan pandangan nanar.


Hyera merundukkan kepalanya, menatap kakinya. Mulutnya pun tidak hentinya mengeluarkan kata-kata umpatan yang tentu saja umpatan itu ditujukan untuk dirinya. Sekarang dia bingung harus bagaimana agar Vincent tidak marah lagi kepadanya.


***


"Jadi, bagaimana keputusannya, Pak Vincent?"


Vincent terdiam. raganya memang ada, tetapi pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Melihat sahabatnya yang sepertinya sedang tidak fokus, Jordan pun berdehem dengan cukup keras. Hal itu membuat Vincent tersadar. "Akhh ... iya, kenapa?" tanyanya linglung.


"Hmm, untuk keputusannya saya serahkan saja kepada Pak Jordan. Saat ini saya sedang tidak enak badan. Jadi saya undur pamit. Selamat siang," ucap Vincent yang langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan pergi dari ruangan rapat tersebut.


Semua yang berada di ruang rapat langsung berdiri dan merundukkan kepalanya hormat. Jordan pun menatap kepergian Vincent dengan tanda tanya. Ia tahu bahwa ada yang sedang menganggu pikiran sahabatnya itu.


"Jadi bagaimana, Pak Jordan?"


Jordan pun menoleh. Ia mengambil berkas yang ada di atas meja dan membacanya dengan seksama. "Berkas ini saya pelajari terlebih dahulu. Untuk keputusannya, nanti saya kabarin bapak nanti."


***


"Kenapa lo?" tanya Jordan saat memasuki ruangan Vincent. Melihat sahabatnya itu tergeletak mengenaskan di sofa.


Vincent pun membuka matanya dan bangkit dari tidurannya. "Gue gak papa."


Jordan berjalan menghampiri Vincent dan duduk di sampingnya. "Oh ya, Cen. Gue mau ngasih tau lo sesuatu."


"Apaan?"


"Kemaren malem pas gue dateng ke klub, gue kayak liat Hyera di sana dah," ujar Jordan yang langsung membuat Vincent menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung.

__ADS_1


"Ngapain lo ke klub?"


"Ahh ... elah, kayak lo gak tahu aja gue ngapain ke sana," ujar Jordan sambil menepuk pundak Vincent sambil memainkan alisnya.


Vincent mengalihkan wajahnya dan memutar matanya malas.


"Ehh, itu gimana?"


"Gimana apaan? Lo kalo ngomong tuh jangan setengah-setengah, Jojon," ujar Vincent.


Jordan berdecak kesal, "Itu, si Hyera kemaren malem beneran dateng ke klub?"


"Ck, Iya beneran dia ke sana."


"Lah, ngapain? Sepenglihatan gue ya, Hyera tuh kayaknya bukan gadis yang suka dateng ke tempat begituan deh." ujar Jordan tidak percaya.


Vincent menoleh. "Dia dateng ke tempat begituan karena di undang sama Jesya ke sana."


"Serius lo?" kata Jordan terkejut, "Jesya mantan lo itu 'kan?"


"Emangnya siapa lagi kalo bukan mantan gue, Jojon," ujar Vincent kesal.


"Ohh ... ya juga ya. Eh, kok bisa sih?"


"Gue gak tahu, Jo. Itu pun gue taunya dari Jesya sendiri gara-gara dia nelpon gue buat jemput Hyera di sana." ucsp Vincent menjelaskan.


Vincent mengembuskan napasnya, "Seharusnya Hyera jujur aja dari awal kalau dia mau datang ke sana. Jadinya 'kan bisa gue cegah dia buat gak pergi."


Jordan menepuk pundak Vincent pelan, "Sabar ya, Cen. Gue tau pikiran lo ke ganggu banget gara-gara Hyera gak jujur sama lo. Makanya dari tadi lo gak fokus sama rapat tadi."


Vincent merunduk sambil memijat keningnya perlahan. "Sebenarnya bukan itu aja sih yang ganggu pikiran gue."


"Lah, ada lagi?"


Cincent terlihat ragu untuk cerita kepada Jordan. "Sebenarnya, semalam gue hampir kelepasan."


Jordan mengernyitkan dahinya bingung. "Kelepasan ngapain? Berak di celana?"


Vincent berdecak kesal dan memukul bahu sahabatnya itu dengan kencang. "Enggak kek gitu juga, Setan. Maksudnya, gue hampir aja begituan sama Hyera."


Jordan mengaduh kesakitan. "Biasa aja anjir mukulnya!" Ucapnya sambil mengelus bahunya yang terasa nyut-nyutan, tidak lama ia berhenti mengelus dan menatap Vincent terkejut. "Tunggu, tadi lo bilang apa? Hampir begituan sama Hyera? Ini yang lo maksud tuh seperti yang gue pikirkan sekarang 'kan?"


Anggukan kepala dari Vincent membuat Jordan tercengang.


"ANJIIRR ... VINCENT SAMA HYERA BEREPRODUKSI!"

__ADS_1


"BEREPRODUKSI APAAN WEHH ... DAN TOLONG GAK USAH TERIAK! KEDENGARAN SAMPAI LUAR, GUE MALU, BANGSAT!"


__ADS_2