ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 14


__ADS_3

Vincent keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan pakaian yang sudah tidak karuan. Dasi yang sudah longgar di lehernya dan juga dibagian kerah kemejanya yang sudah terlepas dua kancing. Ia benar-benar panik dan juga merasa bersalah dengan Hyera


Bagaimana tidak? Saat ia ingin memulai makan malamnya. Tiba-tiba saja bibi menelpon dirinya dan mengatakan bahwa ternyata Hyera sudah menyiapkan dan memasak sendiri makan malam untuk dirinya.


Ia pun baru menyadarinya saat kembali mengingat bagaimana gadis itu menelponnya. Bagaimana gadis itu menanyakan kapan dirinya pulang dan mengatakan bahwa dirinya sudah menyediakan makan malam dengan nada yang sangat begitu antusias.


Sungguh, ia merasa bodoh sekali karena secara tidak langsung dirinya sudah menyakiti perasaannya Hyera.


"Hyera. Kamu ada di dalam gak?" tanya Vincent sambil mengetuk pintu kamarnya Hyera.


Tidak ada sahutan. Vincent pun mencoba membuka knop pintunya yang ternyata tidak dikunci. Vincent mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan gadis itu yang ternyata memang tidak ada di kamarnya. Vincent langsung turun dan berlari menuju dapur karena mungkin saja gadis itu berada di sana.


Saat dirinya melewati meja makan, ternyata gadis itu berada di sana. Duduk di kursi dengan kepalanya yang sudah bertumpu di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja.


Vincent menatap ke arah meja yang ternyata sudah berisi banyak makanan yang dia yakini makanan tersebut adalah makanan buatannya Hyera.


"Hyera," panggil Vincent pelan.


Mendengar namanya dipanggil, Hyera bangun dan menoleh ke arah suara. Vincent menatap khawatir ke arah Hyera. Ia bisa melihat bahwa bola mata gadis itu memerah karena menangis. Hal itu membuat perasaan bersalah Vincent semakin bertambah.


"Loh, kakak udah pulang? Katanya mau makan malam sama klien?" tanya Hyera bingung yang kemudian langsung membuang buka untuk menghapus jejak air matanya yang masih menempel pada wajahnya.


Vincent berjalan pelan ke arah meja makan dan duduk di kursi yang berada di samping Hyera. Dia menatap ke arah meja makan yang berisi makanan dan kembali menatap wajahnya Hyera.


"Haha iya, makan malamnya gak jadi. Makanya kakak pulang," kata Vincent yang tangannya langsung mengelus lembut rambut milik Hyera. Dia mencoba tersenyum meskipun dadanya terasa sesak.


"Oh, Berarti kakak belum makan malam?"


Vincent mengangguk mengiyakan. senyum di wajah Hyera mengembang. Manik matanya pun berbinar dengan cantik.


"Kalau kakak belum makan malam. kakak coba deh makanan ini," kata Hyera sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja.


"Ini kamu yang masak?"


Hyera mengangguk. "Iya, Kak. Ini Hyera yang masak. cobain yaa ...."


mendapat persetujuan dari Vincent, dengan semangat Hyera mengambil piring dan mengambil nasi dan juga lauk yang telah iia buat, kemudian ia berikan kepada Vincent.

__ADS_1


"Kakak cobain ya," kata Vincent yang kemudian menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


Vincent mengunyah dengan pelan. mencoba meresapi rasa pada masakan yang dibuat oleh Hyera. Hyera yang berada di sampingnya, sudah menatapnya was-was. gadis itu sangat khawatir karena takut rasa makanannya yang tidak enak.


"Bagaimana kak, enak gak masakannya Hyera?"


Vincent mencoba menelan makanannya, setelah itu menoleh ke arah Hyera.


"Enak kok, Hyera. Kakak suka," kata Vincent yang kemudian melakukan suapan keduanya.


sebenarnya Vincent berbohong. masakannya benar-benar tidak enak. Rasanya begitu asin, membuat lidah Vincent terasa kebas, tetapi ia tetap menyuapkan makanannya karena tidak ingin membuat gadis itu kembali sedih.


Uhhuukk.. Uhhuuukk..


"Ya ampun kakak. makannya pelan-pelan dong. jadi tersedak 'kan," omel Hyera yang kemudian langsung menuangkan air putih ke dalam gelas.


Vincent masih terbatuk-batuk tetapi matanya tidak sengaja menatap ke arah punggung tangan Hyera yang terlihat merah-merah. dia langsung meraih tangan Hyera dan menarik lengan baju Hyera yang menutupi lengan tangannya. Betapa terkejutnya dirinya melihat banyaknya bercak-bercak merah di tangan gadis itu.


Reflek, hyera langsung menarik tangannya dan menurunkan lengan bajunya untuk menutupi tangannya.


"Ekhh ... H-Hyera, balik y-ya kak ke kamar," kata Hyera gugup yang langsung balik badan untuk pergi.


"Hyera kamu gak papa?" tanya Vincent panik.


Hyera tidak menjawab. gadis itu terus saja menangis. Vincent langsung menarik dagu gadis itu untuk bisa menatap ke arahnya yang membuat poni Hyera terkibas sehingga luka yang coba Hyera sembunyikan akhirnya terlihat.


"Hyera, dahi kamu kenapa bisa terluka?" tanya Vincent menyelidik. Hatinya seperti dicambuk dan terasa perih saat melihat keadaan Hyera yang begitu menyedihkan. Ia benar-benar membuat gadis mungil ini menderita karenanya.


Hyera langsung menepis tangan Vincent yang menyentuh dahinya lalu langsung berdiri. rasa sakit pada kakinya langsung menyerang tetapi hyera mencoba menahannya.


"hyera gak papa kok, Kak. Udah ya, aku balik ke kamar."


Vincent yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, langsung berdiri.


"HYERA! KAKAK TAU YA KALAU KAMU BOHONG!!"


Hyera yang mendengar perkataannya Vincent, jantungnya berdegup dengan kencang. tangannya gemetaran dengan air matanya kembali mengalir.

__ADS_1


Vincent berjalan menghampiri Hyera dan memutar badan gadis itu agar berhadapan dengannya. Ia mencengkeram bahu Hyera dengan kencang dan menatap gadis itu dengan tatapan tajam.


"Jawab pertanyaan kakak. Kenapa kamu bisa luka-luka seperti ini?" tanya Vincent yang mencoba meredam amarahnya karena tidak ingin membuat gadis dihadapannya merasa takut.


Hyera langsung mendongkakkan kepalanya. Manik matanya menatap manik mata milik Vincent. "Aku gak sengaja jatuh dari tangga pas pengen ngambil obat alergi aku, Kak."


"Kenapa alergi kamu bisa kambuh?"


Hyera merunduk. Tidak berani menatap manik matanya Vincent yang masih menatapnya tajam. "Alergi aku kambuh karena aku mencicipi masakan ak-" ucapan Hyera terputus karena tiba-tiba saja Vincent memeluk tubuhnya.


Memeluknya dengan sangat erat. Hyera juga bisa merasakan bahwa bahunya terasa basah.


"Kakak?" kata Hyera pelan.


"Maafin kakak ya. Seharusnya kakak peka saat kamu menelpon tadi."


Hyera menggelengkan kepalanya. Ia membalas pelukannya, mencoba menenangkan Vincent dengan menepuk punggungnya pelan.


"Kakak gak salah apa-apa kok. Aku nya aja yang ceroboh."


Vincent melepaskan pelukannya dan menatap Hyera lembut. "Tetap aja, kakak khawatir sama kamu. Jangan diulangi lagi ya?" pinta Vincent memohon.


Hyera mengangguk semangat. Vincent langsung mengangkat tubuh Hyera ke punggungnya.


"Yak, kakak, ngagetin banget sih," pekik Hyera terkejut.


Vincent hanya tertawa. "Ayo, ke kamar kamu sekarang. Kakak obatin luka kamu."


Semburat merah muncul di kedua pipinya Hyera seperti tomat. Dia menyenderkan kepalanya di punggung Vincent dengan nyaman sambil menutup matanya. Senyumnya mengembang dengan cantik. Hati Hyera menghangat dan ia semakin jatuh cinta kepada Vincent. Jatuh-sejatuhnya.


Saat mereka berdua sudah masuk ke dalam kamarnya Hyera. Telepon genggam milik Vincent yang tergeletak di atas meja makan bergetar beberapa kali. Setelah itu, layarnya menampilkan sebuah pesan masuk.


...Jesya...


Karena makan malam kita tadi batal.


Aku mau makan malam selanjutnya gak batal lagi.

__ADS_1


Kali ini aku yang pilih ya tempatnya.


See you ☺️


__ADS_2